
Alina memutuskan untuk menginap semalam dirumahnya. Karena itu ia pun menghubungi Arkana untuk tidak perlu menjemputnya. Setelah mengabari Arkana, Alina pun kembali ke ruang tamu berbicara dengan ayahnya.
"Terus ... Ayah kasih uang ya dia minta?"
"Ayah belum bisa kasih sebelum dia buktiin dimana Kai."
"Ayah ga bodoh, Al." lanjut Adi meyakinkan Alina kalau dirinya dan Mirna tidak ada hubungan lebih dari yang dibayangkan Alina.
Tidak mungkin rasanya Adi kembali dengan mantan istrinya setelah apa yang terjadi dengan keluarga mereka akibat ulah mantan istrinya itu. Adi hanya lebih berhati-hati sekarang terhadap Mirna. Mengetahui kalau ada kemungkinan Mirna tau dimana Kai, membuat Adi mau tidak mau harus lebih ramah kepada wanita itu.
Mendengar pengakuan Mirna tentang Kai sedikit membuat Alina penasaran. Meskipun kemungkinan Mirna benar tahu tentang Kai itu kecil, tetapi tidak ada salahnya juga untuk ditanyakan. Lagipula, Alina juga curiga kalau hutang Kai itu semua berasal dari Mirna.
Sementara di rumah sakit, Baskara datang mengunjungi Dokter Indra. Sepanjang jalan ada beberapa suster yang mengenalnya. Baskara cukup sering dirawat di rumah sakit itu, sehingga ia bisa dengan bebas berada disana tanpa dilihat aneh oleh orang lain.
"Dokter Indra ada kan?" tanya Baskara kepada suster yang ada di stasiun perawat.
"Ada ... sudah buat janji dulu?"
"Udah, bilang aja Baskara."
Baskara disambut baik oleh Dokter Indra yang kebetulan sedang luang. Seperti sudah kebiasaan Dokter Indra pasti mengecek kondisi Baskara lebih dulu sebelum mereka mulai mengobrol. Sama seperti yang ia lakukan kepada Arkana.
Bukan hanya bertugas sebagai dokternya Baskara, Dokter Indra juga secara tidak langsung bertanggung jawab terhadap Arkana. "Jadi, ada apa tiba-tiba mau ketemu saya?" tanya Dokter Indra meletakkan stetoskopnya di atas meja.
"Dokter tahu sesuatu kan?" Baskara tidak berbasa-basi soal ini.
"Kalian ini ... kenapa hal ini terus yang dibahas."
__ADS_1
"Meskipun saya tahu, saya sudah di sumpah untuk tidak membocorkan informasi itu, Bas," ungkap Dokter Indra.
Dokter Indra adalah satu-satunya yang bisa Baskara percaya saat ini. Selama ini ia tidak pernah berpihak kepada siapapun, Dokter Indra selalu bermain netral. Dokter Indra juga selalu adil memperlakukan dirinya dan Arkana. Mengetahui kalau Dokter Indra tidak akan membocorkan informasi itu membuat Baskara lega.
Satu minggu setelah operasi besarnya berlangsung. John Miller tidak biasanya berada di ruang inap Baskara tanpa Rose disampingnya. Kali ini ia bersama beberapa orang yang terlihat asing dimata Baskara.
Meskipun belum benar-benar sadar, tetapi ia mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Disana John meminta orang-orang itu untuk segera membereskan semuanya, sampai tidak ada jejak sedikit pun.
Anak itu tidak punya identitas apapun, juga tidak ada keluarganya ... yang terjadi pada dirinya bukan tanggung jawab saya. Saya harap kalian mengerti apa yang saya maksud.
Tidak hanya itu, John Miller sempat mengatakan sesuatu yang membuat Baskara yakin kalau anak yang dimaksud ayahnya itu adalah Kai.
Kalian sudah pastikan Arkana tidak tahu tentang ini kan ... dia tidak akan diam jika teman barunya yang menggantikan posisinya.
Arkana memang tidak pernah membicarakan tentang Kai kepada keluarganya. Namun, Tuan Miller memiliki banyak mata dimanapun. Terutama yang berkaitan dengan keluarganya.
Semua ini ternyata lebih rumit dari yang dirinya bayangkan. Ditambah lagi sekarang ada Alina. Arkana tidak bisa dengan gegabah memulai semuanya. Banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan, apalagi banyak yang mengingatkan untuk jangan mengusik masalah ini.
"Kalo masalah ini cuma tentang gue kayaknya akan lebih leluasa ... sekarang ada Alina yang harus dipikirin juga." gumamnya seorang diri.
Tiba-tiba Satrio datang mengetuk pintu ruangannya. Satrio bertanya tentang laki-laki yang sering datang dan langsung masuk ke ruangannya Arkana. Namun, Arkana meyakinkan Satrio jika orang itu tidak akan se nekat itu untuk melakukan sesuatu hal disini.
"Penampilannya gabisa dipercaya, Ar."
"Lo yakin dia ga berbahaya?" Satrio mengkhawatirkan sahabatnya itu karena kenal dengan seseorang seperti Tama.
"Aman ... lo ga perlu khawatir."
__ADS_1
Sampai saat ini Arkana sendiri masih belum yakin dengan motif Tama. Hanya saja selama lelaki itu tidak melakukan hal yang aneh, Arkana tidak akan mengambil tindakan apapun. Arka hanya mengikuti alur yang dibuat Tama selama ini.
Arkana lalu melihat ponselnya dan baru menyadari pesan dari Alina. Mengingat apa yang terjadi sebelumnya, Arkana kemudian menelepon Alina untuk memastikan sesuatu.
"Halo iya, Mas kenapa?"
"Ga ada apa-apa kan?" tanya Arkana tiba-tiba.
"Hah, maksudnya? ga ada apa-apa kok," ucap Alina tidak mengerti kenapa Arkana tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Saya hari ini ga ke apartemen ... seandainya mau lari lagi, larinya ke arah rumah aja meskipun agak jauh."
"Ih apasih ... ga akan kayak kemaren, udah ah sibuk nih." Alina kemudian menutup teleponnya sepihak.
Raut wajah Arkana kesal, tidak menyangka ada hari dimana ia diperlukan seperti itu oleh seorang wanita. Belum ada sampai saat ini wanita menutup teleponnya lebih dulu padanya. Arkana lalu tersenyum tipis, "Hah ... emang dari awal berani banget ni anak."
Hari ini Arkana pulang lebih terlambat dari biasanya. Satrio juga sudah pulang lebih dulu meninggalkan Arkana seorang diri di ruangannya. Setelah berpikir lama, hal pertama yang harus dirinya pastikan yaitu asisten pribadi ayahnya yang kartu namanya ia dan Alina temukan waktu itu.
Seingatnya asisten itu sudah lama berhenti, sehingga ada kemungkinan Arkana bisa lebih mudah menemuinya tanpa harus melewati ayahnya. Namun, tetap saja Arka harus berhati-hati dengan banyaknya mata yang disiapkan John Miller untuk mengawasinya.
Setelah memutuskan apa yang harus dilakukannya, Arkana akhirnya pulang. Saat mengambil motornya di parkiran, ia merasa ada seseorang yang mengawasinya. Namun, setelah memastikan tidak ada siapapun disana Arkana pun segera menyalakan motornya dan pergi.
Dirumahnya Alina masih belum bisa menceritakan apa yang ditemukannya kepada Adi. Alina merasa jika Adi tidak boleh dulu tahu tentang apa yang dirinya lakukan sekarang. Semakin banyak yang tahu, semakin rumit nantinya.
Saat itu tiba-tiba Alina berpikir untuk bertemu dengan Mirna. Alina ingin memastikan perkataan ibunya itu. Tidak ada yang tahu saat ini Mirna berbohong atau memang mengetahui sesuatu. Karena itu Alina mencoba menghubungi Mirna melalui ayahnya.
Alina beralasan akan bertemu dengan Mirna dan meminta maaf atas apa yang dilakukannya saat itu. Alina berkata kepada ayahnya jika kali ini ia ingin mencoba memperbaiki hubungannya dengan sang ibu. Terlihat mencurigakan memang, tetapi akhirnya Adi memberikan nomor Mirna kepada Alina.
__ADS_1