
Setelah beberapa lama tidak pulang, pagi ini Tuan Miller pulang dan ikut sarapan dengan anggota keluarganya yang lain. Hal pertama yang ia lakukan yaitu memuji Baskara yang mulai rajin datang ke perusahaannya dan memulai melakukan beberapa pekerjaan disana.
Dilanjutkan dengan memuji ini dan itu, tetapi semuanya tentang Baskara. Rose sesekali memberi respon hangat kepada pujian John Miller kepada anak sulungnya itu. Namun, sesekali melihat kearah Arkana untuk melihat ekspresinya.
Seperti biasa, Arkana sama sekali tidak merasakan apapun. Ekspresi di wajahnya pun tidak berubah dan tetap tenang. Seakan-akan sudah tidak peduli lagi dengan pujian yang terus memihak Baskara. Sedangkan dirinya selalu di pihak yang salah.
Tiba-tiba John Miller mengatakan sesuatu kepada Arkana, "Gimana akhir-akhir ini, Ar?" Sebuah pertanyaan yang mengangetkan semua orang yang ada disana, bahkan Arkana sendiri. Ia yang semula akan menum tiba-tiba menurunkan cangkirnya perlahan.
"Gimana akhir-akhir ini, Ar?"
"Maksud Papa?" tanya Arkana menaruh curiga dengan hal tidak biasa ini.
"Iya ... Papa pikir kamu sedang melakukan hal yang menarik akhir-akhir ini."
Arkana tersenyum tipis merasa tersindir, ternyata benar selama ini ayahnya bukan diam karena tidak tahu justru ia tahu semuanya.
"Well ... semua baik, it's been so fun lately."
"Oh, bagus kalo gitu ... Papa jadi ga sabar mau tau akhirnya gimana," ucap John Miller.
John Miller sangat tidak menyukai siapapun yang membangkang terhadap perintahnya, apalagi menantangnya seperti yang dilakukan Arkana. Mungkin karena itu banyak pihak yang memperingati Arkana untuk tidak melanjutkan ini.
Namun bukan Arkana namanya jika mengikuti perkataan orang-orang. Justru semakin diperingati, Arkana akan semakin semangat melakukannya. Hal ini pernah terjadi di masa remajanya.
Arkana sempat berada di suatu kondisi lelah menjadi kotak P3K untuk kakaknya. Ada kalanya saat itu Arkana akan bermain dengan orang-orang yang sebenarnya tidak baik baginya. Arkana akan mulai minum-minum dan melakukan hal yang berbahaya bagi dirinya.
Pengalamannya disana lah yang mengawali Arkana menyukai motor. Orang-orang itu yang mengajari Arkana motor dan balapan di jalanan. Tidak jarang tubuhnya akan penuh luka karena terjatuh dijalanan.
John Miller tentu tidak diam saja melihat Arkana yang membangkang seperti itu. Sudah beberapa kali ia dihukum, bahkan dikurung didalam gudang sempit dibelakang rumah selama beberapa hari. Namun tetap saja tidak membuat Arkana berhenti.
__ADS_1
Didalam pikirannya saat itu adalah bagaimana caranya ia bisa berhenti menjadi kotak P3K Baskara. Berhenti mendonorkan sesuatu dan berhenti melakukan berbagai macam transplantasi apapun.
Alina sempat bertemu Arkana setelah kejadian tadi di meja makan. Alina terus memperhatikan Arkana dalam diam. Sampai Arkana menyadari dirinya sejak tadi diperhatikan oleh Alina, "Kenapa sih?" tanyanya.
"Engga ... Tuan Miller udah bisa baca rencana kita ya?" tanya Alina khawatir.
"Ga usah khawatir, kita jalanin semua rencana yang ada aja."
Namun begitu, Alina masih terlihat tidak nyaman dan gelisah, "Al sini dengerin saya ... meskipun harus melewati cara paling berbahaya tetep saya lakuin, kamu bisa pegang kata-kata saya." Arkana menatap mata Alina dalam untuk meyakinkannya.
Secara otomatis tubuhnya bergerak meraih Alina kedalam pelukannya. "Kita baru mau mulai Al, jangan nyerah dulu sebelum kita coba ... kali ini pasti berhasil, pasti .... " Hal yang tidak disadari Arkana, selama ia menenangkan Alina secara tidak langsung ia pun meyakinkan dirinya sendiri.
Arkana kemudian seperti biasa berangkat ke kantor, kali ini ia menggunakan mobilnya. Di tempat parkir kebetulan ia bertemu dengan Baskara yang ditemani pengawalnya. Arkana sama sekali tidak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju mobilnya.
"Ar ... kalo ada yang bisa gue bantu .... " Belum sampai Baskara menyelesaikan kata-katanya Arkana langsung menolak apapun bantuan Baskara. Tidak perlu ada orang lagi yang ia ikut sertakan dalam hal ini. Arkana tidak yakin bisa menjamin keamanan semuanya.
"Thanks ... tapi gue bisa tanganin sendiri." Arkana masuk kedalam mobil dan pergi mendahului Baskara.
Banyak yang dipikirkan Alina saat ini, termasuk apa yang terjadi di meja makan tadi pagi. Tuan Miller secara tidak langsung memperingati Arkana tentang apa yang akan dilakukannya. Meskipun Arkana meresponnya dengan tenang, Alina justru dibuat gelisah.
Arkana yang selalu berpikir semua akan baik-baik saja, semua akan aman-aman saja selama ada dirinya justru Alina takut Arkana sendiri lah yang akan terluka nantinya. Terlalu banyak tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
"Lagi mikirin apa Al?" tanya Bi Iyah.
"Gapapa kok Bi ... aku baik-baik aja," jawab Alina tersenyum.
"Sangat jelas keliatan kalo ada yang kamu pikirin ... kalo mau cerita bisa sama Bi Iyah ya."
"Iya tenang aja, pasti cerita kok nanti," jawab Alina.
__ADS_1
Di kantornya Arkana langsung meminta Satrio ke ruangannya untuk membahas sesuatu. Arkana meminta kepada Satrio untuk memeriksa ulang detail rencana mereka. Ia tidak mau ada kegagalan pada rencana mereka nanti.
Semuanya harus dipikirkan dan dilakukan dengan matang. Arkana juga terus memantau pergerakan Agus melalui sambungan cctv pada laptopnya. Diketahui beberapa kali Pak Agus mencoba datang kesana, tetapi kembali pulang dan tidak bertemu anaknya.
Namun setelah diperhatikan hanya hari itu saja ia dijemput oleh mobil salah satu orangnya John Miller. Hari berikutnya Agus pulang mengendarai mobilnya sendiri yang ia parkirkan tidak jauh dari sana.
Secepatnya mereka harus mulai bergerak agar salah satu dari anaknya menghubungi Agus lebih dulu. Arkana yakin jika salah satu anak Agus yang sering ia temui memiliki kontaknya. Karena setelah ditanyai kepada rumah penampungan lama, tidak pernah ada kunjungan resmi dari Agus kepada anak-anaknya.
Berarti pertemuan yang sering mereka lakukan itu karena ada sebuah kontak diantara mereka. Arkana berpikir jika ini bagiannya Alina. Alina perlu memastikan apa benar salah satu anak Agus pernah melakukan kontak dengan ayah mereka.
"Tapi kalo gitu, apa dia ga langsung ngabarin ayahnya kalo mereka pindah?"
"Berarti ada kemungkinan yang awalnya justru dari Agus, dan dia selalu mengganti nomornya."
"Gue pastiin dulu ya biar semuanya jelas," ucap Satrio kemudian pergi ke ruangannya.
Alina sedang berada di kebun bunga untuk menanam bibit bunga baru disana. Rose memutuskan untuk memperluas area kebun untuk menanam lebih banyak variasi bunga. Lagipula kini ada Alina yang akan membantu mengurus kebun ini.
"Saya dengar kamu sama Arkana sering ngobrol di sini ya?" tanya Rose yang jelas membuat Alina kaget.
"Ah ... maaf Bu kalau lancang."
"Aduh gapapa Al, sering-sering aja kesini ... saya senang Arkana ada teman untuk ngobrol," tutur Rose.
"Arkana itu ya, dulu kalo bosen ya mainnya disini sendirian," lanjutnya.
Rose sendiri tidak ingat jelas sejak kapan Arkana suka duduk-duduk dan berdiam diri di kebun bunga itu. Tetapi menurutnya itu lebih baik dari pada Arkana keluyuran di luar rumah seperti dulu.
"Saya itu khawatir banget kalo Arkana udah keluyuran diluar rumah, gitu-gitu juga kan anak bungsu saya," tutur Rose tertawa tipis.
__ADS_1
Kadang aku ga sadar kalo Mas Arkana itu anak bungsu dirumah ini, mungkin karena Mas Arkana terlalu serius dan selalu memasang wajah ga mau ngobrol sama siapapun.