
"Kamu mau kemana?" tanya Arkana heran melihat kelakuan Alina.
"Keluar kan? emang kenapa sih?"
"Kita keluar bukan mau liburan, Alina Prameswari ... " ucap Arkana.
Alina kemudian cemberut dan kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Arkana yang melihat perubahan mood Alina lalu menyusul ke kamar. Arkana mengetuk pintu kamar perlahan, "Al, udah ga usah ganti ayo berangkat."
Keduanya kini sudah didalam mobil Arkana, dan Alina tetap mengganti pakaiannya. Arkana menyadari Alina yang masih cemberut, sesekali melirik nya dan kembali menyetir. Hingga tiba-tiba ia mengarahkan mobilnya ke layanan drive thru restoran cepat saji.
Alina yang sejak tadi memainkan ponselnya menyadari ada yang terjadi dari perjalanan mereka. Ia pun mendongakan kepalanya dan melihat ke arah Arkana. Dengan santai Arkana mulai memesan makanan yang ingin dia pesan lalu bertanya kepada Alina, "Giliran kamu Al, mau pesan apa?"
Terlihat senyum tipis mulai muncul di wajah Alina. Arkana diam-diam sepanjang jalan tadi memikirkan bagaimana caranya membuat Alina tidak cemberut seperti sekarang. Ternyata Arkana berhasil memunculkan senyuman tipis di wajah Alina.
Perjalanan mereka cukup jauh, namun kini mood Alina sudah kembali baik berkat ice cream yang Arkana belikan untuk Alina. Didalam mobil mereka mendengarkan musik sembari menikmati pemandangan di sepanjang jalan menuju rumah sakit.
Di rumah, seperti biasanya Baskara bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tiba-tiba sebuah wadah berisikan kuas tidak sengaja tersenggol oleh tas Baskara dan membuat semua kuas-kuas itu berhamburan di lantai. Sudah lama rasanya Baskara tidak menyentuh kuas dan cat warna miliknya.
Beberapa orang yang biasa memesan lukisan padanya, beberapa ditolak oleh Baskara karena ia tidak punya waktu untuk itu. Saat merapikan kuas-kuasnya, muncul Rose dari belakang. Rose juga akhirnya membantu anak sulungnya itu merapikan kuas-kuas kesayangannya.
"Jangan memaksakan diri Bas," ucap Rose seraya mengambil beberapa kuas yang berhamburan di lantai.
"Aku ga memaksakan diri Ma, akhirnya kan emang harus kayak gini."
"Dari awal Mama sudah merasa, ini bukan tempatmu Bas."
"Mama mau kamu lakuin hal-hal yang kamu sukai, jangan karena terpaksa kayak sekarang," lanjut Rose menatap dalam mata anaknya.
Jujur, sampai sekarang pun aku gatau jalan yang cocok untukku yang mana, Ma.
__ADS_1
Setelah berhasil melewati perjalanan panjang, Sampai lah Arkana dan Alina di rumah sakit tujuan mereka. Tepat didepan rumah sakit terdapat pemandangan laut yang indah. Udaranya terasa berbeda disana daripada di kota.
Keduanya pun melangkah kan kaki masuk kedalam dan mencari dokter yang ingin Arkana temui. Bagian administrasi disana sudah memberitahu dokter itu dan meminta Arkana tunggu sebentar. Keadaan rumah sakit ini memang selalu sepi. Mungkin hanya beberapa pasien reguler yang datang.
"Ini rumah sakit yang ngeluarin surat kesehatan Kak Kai?" tanya Alina merasa familiar dengan logo yang terpampang di belakang meja administrasi. Arkana hanya merespon dengan anggukan. Hingga tiba-tiba dokter yang ia cari pun muncul dihadapan nya.
"Arkana Benjamin Miller." Benar saja, dokter itu mengenali Arkana.
"Dokter kenal saya?" tanya Arkana merasa asing dengan dokter itu.
"Tentu, siapa yang tidak tahu kepala perusahaan yang sempat bekerja sama dengan saya."
"Rumah sakit tempat saya bekerja dahulu, lebih tepatnya," lanjut sang dokter.
Arkana dan Alina akhirnya diajak ke ruangannya. Hari ini cenderung lebih sepi dari biasanya, sehingga saat itu ia tidak ada jadwal konsultasi dengan pasiennya. Dengan perlahan Arkana dan Alina masuk ke ruangan sang dokter.
Berbeda dengan tampilan dari luar, rumah sakit ini sebenarnya sudah melakukan semampu mereka untuk membuat rumah sakit terlihat modern. Bisa dilihat dari ruangan dokter yang terlihat modern. Sang dokter itu hanya tersenyum melihat ekspresi kebingungan yang keluar dari Arkana dan Alina setelah masuk.
"Mereka jelas melakukan kesalahan disini ... mereka memilih memperbaiki dalamnya tanpa melihat bagian luar yang sangat kuno," ucap sang dokter.
Tidak mau terlalu banyak membuang waktu, Arkana pun bertanya langsung ke inti dari kedatangannya kesana. Semua hal mengenai proses medical check up yang dilakukan Kai, dan alasan ia melakukannya. Termasuk dengan siapa dia kesana.
Dokter itu tersenyum, seperti sudah tahu maksud kedatangan Arkana kesana. Panggil saja dokter Arifin, dokter yang membantu Kai melakukan proses medical check up nya. Dokter Arifin bahkan menandatangani hasil dari proses itu.
"Hal itu tidak pernah saya lupa."
"Karena berkat itu pertama kalinya saya mendapatkan pekerjaan di rumah sakit besar di kota." Arifin kembali mengingat hari itu.
Kai datang bersama dengan Agus. Seseorang yang bertanggung jawab langsung terhadap hutang-hutang Mirna saat itu, ia juga yang diminta langsung oleh John Miller untuk mendampingi Kai melakukan proses medical check up itu.
__ADS_1
John Miller adalah kekuatan yang tidak bisa semudah itu diabaikan oleh sembarang orang. Mendengar bahwa ia akan mendapatkan posisi di sebuah rumah sakit besar di kota membuat dokter Arifin yang saat itu putus asa dengan pekerjaannya di rumah sakit pinggir kota sebuah harapan besar.
Syaratnya mudah, hanya melakukan proses check up terhadap seorang remaja yang hasilnya diserahkan langsung kepada John Miller. "Ada sebuah proses yang hasilnya tidak saya tuliskan di laporan kesahatan yang saya laporkan kepada pihak rumah sakit," ungkap Arifin.
"Hasil itu langsung saya berikan kepada Tuan Miller sebagai imbalan posisi di rumah sakit besar."
"Anda adalah orang pertama yang dengan terbuka menceritakan ini kepada saya, kenapa?" tanya Arkana penasaran.
"Saya ternyata orang yang pengecut ... saya tidak sanggup menahan beban dari rahasia yang saya simpan," jelas Arifin.
Hal itu juga yang menjadi alasan keluarnya Arifin dari rumah sakit besar dan memilih mengabdikan dirinya di rumah sakit lamanya.
"Lalu, hasil apa yang anda rahasiakan?" tanya Arkana.
"Tes kecocokan organ hati."
"Saya melalukan tes kecocokan organ hati dari remaja itu dengan seseorang yang dikenal Tuan Miller." Saat itu Arifin tidak tahu siapakah seseorang yang menjadi kenalan Tuan Miller.
Mendengar itu jelas mengganggu Arkana. Ia seperti sudah bisa menduga kemana semua ini akan berakhir. Alina yang mendengarkan itu masih kebingungan dan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Yang Alina pikirkan sekarang yaitu perasaan Kai saat itu.
Kai mulanya hanya ingin membantu ibunya melunasi hutang-hutangnya. Namun harus berakhir melakukan semua hal yang tidak familiar baginya, dan ia harus melaluinya seorang diri.
"Apa hasilnya cocok?" tanya Arkana ingin memperjelas semuanya.
"Jika hasilnya tidak cocok, sepertinya saya tidak akan mendapatkan posisi di rumah sakit besar itu."
"Lalu setelah menyerahkan hasilnya kepada Tuan Miller, apa yang anda lakukan?"
"Saya hanya menunggu arahan selanjutnya ... saya tidak pernah melihat anak itu lagi," ucap Arifin.
__ADS_1
Alina menatap Arkana menunggu penjelasan darinya. Namun, saat itu Arkana sendiri pun masih mencoba memproses semua informasi yang ia dapatkan saat itu. Arkana jelas tidak bisa menyalahkan dokter Arifin yang juga tidak tahu apapun selain mengerjakan tugasnya.