Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
74. TAKDIR YANG KEJAM


__ADS_3

Alina masih terduduk dibawah sembari menangis. Sedangkan Mirna disampingnya mencoba menenangkan Alina. Hingga tiba-tiba muncul Adi yang dibawa oleh beberapa perawat disana menuju ruang inap. Mirna lalu membantu Alina bangun untuk pergi bersama mendampingi Adi menuju ruangan.


Arkana mencoba meraih tangan Alina namun Alina menepisnya lalu memilih pergi dengan Mirna menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu pergi. Arkana terdiam disana, ia sebenarnya sudah bisa membayangkan respon Alina akan seperti ini.


Namun, yang tidak Arkana bayangkan yaitu cara Alina mengetahui kebenaran ini. Alina harus mengetahui kebenaran ini dari orang lain. Orang yang sebenarnya menjadi salah satu penyebab semua ini terjadi.


Arkana kemudian menghampiri ruang inap Adi dan hanya bisa melihat dari kaca di pintu. Terlihat Alina masih menangis disamping kasur sang ayah yang masih belum siluman. Mirna yang menyadari kehadiran Arkana kemudian menghampirinya keluar.


"Untuk apa lagi kamu disini?"


"Saya mau lihat Alina, dan memastikan Pak Adi baik-baik saja."


"Akting anda bagus sekali ya ... keluarga kamu yang menyebabkan ini semua, masih sok perhatian kepada kami," ucap Mirna sinis.


"Yang pasti saya bukan orang yang tidak tahu malu seperti anda ... permisi." Arkana pun pergi setelah melirik ke arah Alina yang ada didalam.


Arkana benar-benar kehilangan arah. Ia tidak tahu sekarang apa yang harus dilakukannya. Ia tidak bisa kembali pulang karena ayahnya, tetapi kembali ke apartemen dan melihat apa yang telah disiapkan Alina tadi membuat hatinya lebih sakit. Setelah beberapa saat, Arkana memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Sebelum ke rumah sakit tadi, Alina sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Alina juga sudah menyiapkan banyak masakan yang bisa Arkana panaskan saat makan nanti. Kini isi kulkas Arkana lebih hidup, dapurnya pun terasa hangat karena terus Alina gunakan.


Terlalu banyak jejak Alina di apartemennya. Meskipun baru beberapa hari, tetapi Alina sudah memberikan perubahan besar didalam apartemennya. Bukan hanya apartemen, Alina bahkan sudah mengubah Arkana.


Arkana yang dingin dan acuh, kini menjadi pribadi yang lebih hangat dan bisa mengungkapkan rasa perhatiannya kepada orang yang disayanginya. Dalam waktu singkat Alina berhasil mengubah Arkana menjadi lebih baik.


"Ma .... " Arkana menelepon Rose.

__ADS_1


Dari suaranya saja Rose bisa merasakan apa yang sekarang sedang dirasakan Arkana, "Mama kesana?" tanya Rose pada anak bungsunya.


Arkana diam untuk beberapa saat, lalu menjawab, "Iya."


Disaat seperti ini, Arkana membutuhkan Rose. Ia sangat tahu apa yang akan terjadi jika ia membiarkan pikiran liarnya yang mendominasi isi kepalanya. Karena itu Rose sangat dibutuhkan sekarang. Arkana jelas keturunan John Miller, ada sisi keras dan liar dalam dirinya.


Jika tidak ada seseorang yang menahannya, Arkana bisa melakukan hal yang akan disesalinya kelak. Sebelumnya bayangannya tentang Alina berhasil menahannya mengendarai motornya lebih kencang, kini Arkana butuh ibunya.


Dengan cepat Rose pergi menuju apartemen Arkana dan diantar supirnya. Baskara yang kebetulan melihat dari kejauhan sudah mengira ini berhubungan dengan Arkana. Karena sebelumnya Arkana sudah mengatakan padanya akan berbicara langsung kepada Alina malam ini.


"Tolong cepet ya Pak, saya takut Arkana melakukan sesuatu."


Adi masih belum sadarkan diri. Namun, Alina sudah berhenti menangis dan lebih tenang. Mirna masih disana dan terlihat sedang memainkan ponselnya di sofa. Alina kembali mengingat apa yang terjadi tadi.


Semua kejadian Ini terlalu tiba-tiba hingga Alina lupa siapa yang ada di hadapannya sekarang. Sosok ibu yang selalu Alina benci kini berada di pihaknya. Alina masih meragukan ketulusan Mirna, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain berterima kasih sudah membantu ayahnya di rumah sakit.


Karena memang bukan tidak mungkin John Miller melakukan hal itu. Tuan Miller akan melakukan segala cara jika ada seseorang yang mengganggu nya. Ia saya bisa mengusir Alina dengan cara seperti itu. Ia juga bisa saja sengaja menyuruh orang untuk menabrak ayah Alina.


"Sebentar lagi saya pulang ya, Al."


"Ada urusan pekerjaan tidak bisa ditinggal, kamu gapapa kan sendiri?" tanya Mirna kepada Alina.


"Gapapa, makasih."


Rose terlihat terburu-buru menaiki lift menuju unit apartemen Arkana. Terdengar dari suara Arkana tadi, ia tidak baik-baik saja. Nalurinya sebagai seorang ibu, rasanya ingin segera menemui Arkana dan menenangkannya.

__ADS_1


Sesampainya di depan unit apartemen Arkana, Rose pun memencet bel. Namun tidak lama Arkana langsung membuka pintunya, seperti sudah menunggu sang ibu sejak tadi. Begitu melihat Arkana, Rose langsung memeluknya erat.


Arkana pun membalas pelukan ibunya lebih erat. Hari-hari ini rasanya terlalu berat baginya. Terutama Arkana harus terus mengontrol emosi dan perasaannya selama ini. Ia tidak punya banyak waktu untuk membiarkan semuanya lepas.


Dari sana Rose sudah merasa jika Arkana pasti sudah memberitahu Alina tentang apa yang sebenarnya terjadi. Arkana yang seperti ini pasti mendapat penolakan dari Alina. Tentu saja, siapa yang tidak sakit hatinya mengetahui seseorang yang selama ini dicari nya ternyata sudah meninggal.


Terlebih lagi sosok yang menjadi penyebabnya adalah keluarga dari seseorang yang dicintai. Kebenaran itu terlalu sakit bagi Alina untuk bisa menerimanya dengan baik. Tidak mudah baginya untuk menerima itu. Alina pasti membutuhkan waktu.


"Kalo aja aku ga bodoh ... kalo aja aku jaga diri, dari awal ini ga bakal kejadian Ma."


Arkana menunjukan sisi lemahnya kepada sang ibu yang akan selalu mendukung dan ada disisinya. Rose terus menenangkan Arkana, "Ga ada yang tau takdir, Nak." Rose mengelus punggung Arkana lembut, "Ini diluar kontrol kita sebagai manusia," ucap Rose.


"Takdir kalian berdua emang terlalu kejam, tapi kita gatau Ar ... dibalik ini Tuhan punya rencana apa buat kamu sama Alina."


"Alina pasti bisa menerima, tapi kasih dia waktu," tutur Rose.


Rose pun menginap di apartemen Arkana untuk malam ini. Rose perlu membantu Arkana menenangkan dirinya, ia tidak bisa meninggalkan anaknya seorang diri. Lagi pula Arkana sendiri menolak untuk pulang karena kehadiran ayahnya.


Ketika sudah cukup tenang, Arkana sempat bertanya kepada Rose apakah ayahnya ada dirumah hari ini. Menurut Rose, John Miller berangkat ke luar kota sore tadi. Ia akan berada disana untuk beberapa hari. Rose bahkan sempat mengajak Arkana pulang selagi ayahnya tidak ada dirumah.


"Mama liat ada seseorang yang menemui Papa ga hari ini?" tanya Arkana serius.


"Kalo yang dateng ke rumah ga ada ya ... Menghubungi lewat telepon pun kayaknya kemungkinannya kecil Al."


"Seharian tadi dia sama beberapa pengawal dirumah main golf di taman belakang," lanjut Rose.

__ADS_1


Harus diselidiki ... apa bener Papa yang nyuruh seseorang buat nabrak Pak Adi? 


__ADS_2