Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
71. TAMAN HIBURAN


__ADS_3

Alina menunggu Arkana yang sedang mengantri tiket masuk, sedangkan dirinya menunggu di kejauhan. Setelah menunggu beberapa saat mereka pun bisa masuk. Hal pertama yang ingin Alina lakukan yaitu membeli hiasan bando.


Arkana melirik Alina sinis, sangat jelas jika ia tidak mau memakai hal seperti itu. Tetapi Alina tetap memaksanya, sehingga Arkana tidak punya pilihan lain selain mengiyakan keinginan Alina.


Alina yang penuh semangat memilih dua bando yang cocok untuk keduanya. Ia memakaikan bando telinga rubah untuk Arkana, dan telinga kelinci untuknya. Sesaat setelah memakaikan itu kepada Arkana, Alina tertawa dengan puas lalu mendorong Arkana ke depan kaca.


"Lucu banget ... hahahaha."


"Kapan dilepasnya nih?" tanya Arkana dengan ekspresi datar.


"Pas di mobil, mau pulang ... udah ayo." Alina menarik tangan Arkana lalu mereka pun mulai berkeliling.


Senyum di wajah Alina sejak mereka datang tadi tidak juga memudar. Terlihat jelas jika Alina sangat bahagia bisa pergi ke taman hiburan bersama Arkana. Dengan agresif Alina menarik tangan Arkana kesana dan  kemari untuk mencoba berbagai wahana.


Arkana hanya pasrah dibawa kemana pun oleh Alina. Yang ada didalam pikirannya saat ini yaitu membuat Alina bahagia, sebelum Alina tahu kebenaran yang sebenarnya. Karena saat Alina mengetahuinya, Alina akan sangat kecewa dan marah padanya.


Mereka sampai di sebuah antrian panjang menuju wahana roller coaster. Tanpa Alina sadari sejak tadi tangannya masih menggenggam Arkana. Ketika mereka hampir sampai di antrian terdekat, tangan Alina mulai berkeringat. Arkana yang jelas merasakan itu hanya tersenyum tipis dan meledek Alina.


"Takut ya?"


"Apaan ... gini doang sih kecil," ucap Alina menolak mengakui jika dirinya ketakutan.


"Terus ini kenapa?" tanya Arkana sembari menaikkan tangan mereka yang saling menggenggam, "Basah banget ini dalemnya."


Dengan cepat Alina melepas genggaman tangannya lalu membalikkan badannya. Entah ia malu atau marah, tetapi reaksi Alina barusan terlihat sangat lucu dimata Arkana.

__ADS_1


Akhirnya kini giliran mereka yang naik ke wahana itu. Secara otomatis Alina kembali menggenggam tangan Arkana. Mereka memilih tempat duduk yang tidak begitu menyeramkan. Alina tetap tidak mau melepas genggamannya sampai wahana roller coaster itu dimulai.


Kini Alina terduduk lemas di pinggiran. Energi nya seperti tersedot habis di wahana tadi. Arkana memberikannya minum untuk menenangkan Alina yang masih ketakutan. Tiba-tiba ponsel Arkana berbunyi dan itu dari Satrio. Sebelum pergi mengangkat teleponnya Arkana mengelus lembut kepala Alina.


"Halo iya, Sat gimana udah ketemu?" tanya Arkana.


"Masih belum ada clue apa-apa, Ar."


"Tapi masih kita usahain cari ... lo tenang aja," ucap Satrio.


"Oh iya tadi Baskara juga nanya ke gue tentang ini, menurut lo gimana?"


"Baskara juga punya orang-orang yang bisa dipercaya, kalo memungkinkan cari bareng aja gapapa kok gue," ucap Arkana.


Tadi pagi sebelum pergi, Arkana meminta Satrio mencari kemungkinan lokasi keberadaan makamnya Kai. Awalnya Satrio cukup syok mendengar hal itu, dan menanyakan apakah Arkana baik-baik saja. Namun, Arkana memastikan jika dirinya akan baik-baik saja jika Satrio berhasil menemukan makamnya.


Arkana pun kembali ke tempat dimana Alina menunggunya tadi. Namun, Alina tiba-tiba menghilang. Arkana mencoba menelepon Alina tetapi tidak kunjung diangkat. Arkana menjadi panik dan mencari Alina kemana pun. Ia takut jika ini salah satu perbuatan ayahnya lagi.


Hingga saat Arkana melewati antrian wahana rumah boneka terlihat seorang wanita dengan bando kelinci. Arkana lalu mendekati si pemilik bando itu dan menepuk pundaknya dari belakang, "Jangan asal ngilang gitu dong." Alina lalu berbalik dan mengeluarkan ekspresi manja yang membuat Arkana tidak bisa marah kepadanya.


"Aku pengen banget naik ini, tapi antriannya panjang banget."


"Bisa-bisa keburu tutup kalo ga ambil antrian dari tadi," lanjutnya.


Kini Arkana sudah kehilangan dan hanya mengikuti kemauan Alina saja. Benar saja perkiraan Alina, tidak lama setelah Arkana sampai disana mereka langsung mendapat giliran masuk ke dalam wahan rumah boneka.

__ADS_1


"Wah ... udah lama banget ga naik ini, terakhir naik sama Kak Kai." Alina menggumamkan lagu yang dimainkan didalam wahana itu.


Sedangkan raut wajah Arkana kini tidak bisa digambarkan dengan baik. Hatinya sakit saat Alina menyebutkan nama Kai. Ia merasa jika akhirnya akan seperti ini seharusnya ia tidak mengajak Alina mencari Kai bersama. Dengan begitu, Arkana tidak akan mencintai Alina sedalam ini.


Arkana menatap Alina sendu, sedangkan mata Alina sedang berbinar melihat seisi wahana yang menjadi kenangannya dengan Kai.


Kenapa harus gini sih, Al. Saya ga yakin akan bisa menghadapi respon kamu setelah kamu tahu kebenarannya. 


Sudah lelah menaiki bermacam-macam wahana disana, kini Alina mengeluh cacing di perutnya demo meminta segera diisi makanan. Kebetulan ada semua resto keluarga didalam taman hiburan itu dan selalu menjadi pilihan para pengunjung karena rasanya yang enak.


Arkana pun mengajak Alina kesana. Mereka berencana akan menghabiskan seharian ini bermain di taman hiburan. Sehingga daripada memilih makan diluar, mereka pun memutuskan makan di resto keluarga itu.


Alina diam-diam memotret Arkana yang sedang sibuk membaca buku menu. Arkana yang menyadari itu kemudian mencoba menutupi wajahnya, "Ih jangan ditutupin, buat kenang-kenangan tau." Alina memaksa Arkana.


"Nanti kita foto sama-sama ya ... kita kan belum pernah foto sama-sama," ucap Alina.


"Buat apa sih?"


"Foto itu akan kerasa berharga ketika orang didalamnya udah ga sama-sama kita, makanya aku pikir foto itu penting."


Arkana kemudian berdiri untuk memesan makanan. Lagi-lagi ia harus mengantri, selama itu Arkana terus berpikir kapan waktu yang tepat untuk memberitahu Alina tentang Kai. Arkana bahkan sempat berpikir apa Alina tidak perlu tahu.


Namun, akan sangat jahat jika Arkana tidak mengatakan kebenaran ini kepada Alina. Dirinya hanya tidak sanggup dengan respon yang akan diberikan Alina nanti. Arkana tidak siap jika Alina akan pergi darinya. Jelas tidak mungkin Alina memilih tetap bersamanya bahkan setelah tahu kebenarannya.


Hari ini Arkana berhasil membuat Alina benar-benar bahagia. Ia tidak cukup hati untuk menceritakan kebenarannya hari ini. Karena itu sama saja merenggut kebahagiaan Alina yang susah payah Arkana bangun.

__ADS_1


Arkana diliputi dilema. Ia bahkan sampai meminta bantuan Baskara mengenai ini. Arkana ragu tentang memberitahukan hal ini kepada Alina. Tetapi, menurut Baskara akan lebih sakit jika Alina mengetahuinya dari orang lain sedangkan ia tahu jika Arkana juga sudah tahu tentang hal ini.


"Lo harus kasih tahu hal ini secara langsung Ar ... jangan jadi pengecut, ini saran gue sebagai kakak lo."


__ADS_2