Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
75. MENCARI BUKTI


__ADS_3

Paginya Rose cukup kaget melihat keadaan kulkas Arkana yang rapi dan banyak masakan dan bahan makanan. Ini pertama kalinya Rose melihat anaknya se rajin ini. Arkana yang melihat dari jauh kemudian mengatakan jika itu ulah Alina.


Mendengar itu Rose hanya bisa tersenyum. Baru sebentar Alina berada disana, keadaan apartemen Arkana benar-benar berbeda. Alina ternyata memang sepenting itu ada didalam kehidupan Arkana. Rose bisa merasakannya dengan jelas.


Rose menyajikan salah satu menu makan malam yang Alina masak semalam untuk sarapan mereka. Menurut Rose, Alina bahkan memasak lebih baik dari pada dirinya. Arkana mengangguk mengiyakan.


"Aduh jangan terlalu jujur gitu dong kamu ... udah ini cepet dimakan, mau ke kantor kan?" tanya Rose.


"Hari ini berangkat siang, ada yang mau diurus dulu."


"Mama aku anter ke rumah sekalian ya," ucap Arkana.


Sementara di rumah sakit, Adi sudah siluman. Alina sedang berada di ruangan dokter untuk mendengarkan penjelasannya mengenai keadaan ayahnya. Dokter mengatakan jika lukanya tidak terlalu parah, untungnya Pak Adi berhasil menghindar dari dampak yang lebih parah nantinya.


Bahkan jika memungkinkan Pak Adi bisa pulang hari ini. Namun, Alina kembali memastikan jika kecelakaan ini tidak akan berefek apapun pada keseharian ayahnya. Dokter yang menangani Pak Adi pun meyakinkan Alina jika ayahnya akan baik-baik saja jika menuruti anjurannya untuk istirahat total selama seminggu.


Alina merasa lega dengan penjelasan sang dokter. Ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkannya lagi. Lagipula sekarang ini Alina sudah melarang ayahnya melakukan liputan ke lapangan. Sehingga akhir-akhir ini Adi hanya menerima laporan berita dari anak buahnya lalu mengeditnya dan merilis beritanya.


Kini yang Alina cukup khawatirkan yaitu tentang bagaimana memberitahukan kepada ayahnya bahwa Kai sudah meninggal. Dirinya sendiri pun masih belum bisa menerima kenyataan ini. Sepertinya Alina akan mengatur perasaannya lebih dulu, lalu setelahnya memberitahukan ini kepada ayahnya.


Alina hanya perlu menutup mulut ibunya yang bocor itu agar tidak memberitahu hal ini kepada ayahnya. Alina tetap pada pendiriannya untuk tidak percaya sepenuhnya dengan perkataan dan perilaku ibunya. Disaat seperti ini Alina masih sempat mengingat Arkana.


Arkana berhasil menorehkan goresan dalam hati Alina. Alina bahkan membenci dirinya sendiri yang masih memikirkan keadaan Arkana bahkan setelah apa yang dilakukan keluarganya kepadanya.


Sebelumnya Alina selalu yakin, jika memang keluarga Miller benar bersalah atas ini ia hanya akan membenci seluruh anggota keluarga Miller. Namun nyatanya, ada satu orang yang tidak bisa Alina benci yaitu Arkana. Perasaannya sudah terlalu dalam.

__ADS_1


Pak Adi hanya perlu satu kali lagi kontrol dari dokternya lalu bisa segera pulang. Tari sudah berjanji akan mengantar Alina dan ayahnya sampai rumah. Tari bahkan rela pulang lebih dulu dari kantornya hanya untuk menjemput Alina.


Saat ini Alina belum memberitahukan kebenaran tentang Kai kepada Tari. Alina merasa ia perlu memastikan banyak hal baru bisa mengambil keputusan nantinya. Meskipun memang sudah jelas, masih ada sesuatu di diri Alina yang ingin meyakinkan hatinya jika Arkana tidak bersalah dalam hal ini.


Arkana fokus mencari tahu lokasi kejadian penabrakan Adi semalam. Ia mencoba menghubungi polisi yang menangani kasus ini, sekaligus menanyakan tepatnya lokasi kejadian itu. Arkana menyusuri sepanjang jalan sembari memikirkan kemungkinan yang terjadi disana saat itu.


Saat itu Adi sedang berjalan sendiri menuju rumahnya dari kantor. Karena jaraknya yang tidak begitu jauh, Adi memang kerap kali pulang dengan berjalan kaki. Kebetulan hari itu salah satunya.


Menurut keterangan saksi, Adi sempat menghindar sehingga tidak membuatnya mendapatkan luka yang fatal. Sayangnya pihak saksi tidak sempat melihat plat nomor mobil itu karena sudah malam dan minimnya penerangan.


Setelah mendapatkan informasi itu, Arkana menyusuri sepanjang jalan itu untuk mencari kemungkinan terpasangnya cctv disekitar situ. Arkana lalu menemukan minimarket tidak jauh dari lokasi kejadian. Ia pun menanyakan terkait cctv mereka.


Sayangnya mereka tidak punya cctv yang menghadap ke jalanan. Tetapi, semalam ada truk pengirim makanan yang datang. Arkana lalu meminta nomor telepon supir truk itu, karena menurut pekerja minimarket mereka hanya menggunakan satu truk pengirim saja.


Selanjutnya Arkana serahkan kepada Satrio untuk mengurus sisanya. Arkana kemudian kembali mencari kemungkinan keberadaan cctv yang lain. Tiba-tiba Arkana memikirkan Alina.


"Alina sama ayahnya udah keluar dari rumah sakit belum ya?" gumam Arkana.


Hari ini rencananya ada pihak investor yang akan mengunjungi LifeCare, jadi Arkana akan menyudahi penyelidikannya sampai disini. Sebelumnya ia juga sudah meminta nomor telepon polisi yang memegang kasus ini. Arkana meminta untuk segera dihubungi jika ada kemajuan.


Sepanjang perjalanan menuju kantornya, Arkana terus berpikir. Rasanya tidak mungkin jika ini ulah ayahnya. John Miller memang sosok yang menakutkan dan disegani, kekuatannya memungkinkan dia untuk melakukan apa yang dirinya inginkan.


Namun sampai menabrak orang, secara diam-diam dan kabur. Itu bukan tipikal perbuatan ayahnya. Lagipula ayahnya tidak memiliki alasan kuat untuk mencelakai ayahnya Alina. Saat mengusir Alina ia memang memiliki alasan karena Arkana dan Alina semakin mendapat berbagai petunjuk yang mengarah padanya saat itu.


Karena itu Arkana bertekat untuk mencari bukti jika bukan John Miller lah yang mencelakai ayahnya Alina. Saat ini Satrio sudah berhasil mendapatkan rekaman cctv semalam. Sisanya tinggal mereka coba telusuri dari situ selama bukti lain belum didapatkan.

__ADS_1


Alina sedang membereskan barang-barang ayahnya. Adi juga sedang berganti pakaian dan mereka pun sudah siap pulang. "Al, Tari udah sampe emang?" ucap Adi dari dalam kamar mandi.


"Udah ... Tari nunggu di parkiran, tanggung soalnya mau naik kita juga udah siap-siap pulang."


"Ayo ... ayo ... udah semua dibawa kan Al?" tanya Adi.


"Udah, ayo ... awas hati-hati Yah."


Sesampainya dirumah, Alina dan Tari membantu Adi untuk masuk ke dalam rumah. Dengan hati-hati Alina mengantar ayahnya ke kamar dan menidurkannya. Kemudian Alina pun keluar dan menemui Tari yang menunggunya di ruang tamu.


"Ah ... yaudah deh."


"Kenapa Al?" tanya Tari kaget melihat Alina yang tiba-tiba seperti itu.


"Ada beberapa baju sama barang-barang yang ketinggalan di apartemen Mas Arkana," ucap Alina.


"Lah terus gimana? tinggal ambil aja, Al."


Alina kemudian menggelengkan kepalanya, ia berkata jika dirinya tidak bisa kembali kesana. Ada suatu hal yang membuat Alina tidak bisa kembali kesana. "Kamu bisa ambilin ga?" Alina meminta Tari untuk mengambilkannya barangnya yang tertinggal di apartemen Arkana.


"Masa nyelonong masuk sih, ga sopan tau."


"Telepon dulu lah orangnya ... dia juga udah ngerti kok pasti kenapa aku gabisa ambil kesana," jelas Alina.


"Oke deh, nanti aku telepon Arkana."

__ADS_1


__ADS_2