Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
30. WANITA ITU DATANG


__ADS_3

Alina melihat seseorang yang sama sekali dia tidak harapkan kedatangannya. Wanita yang sudah meninggalkannya bertahan-tahun lalu. Pergi membawa kakak yang paling Alina sayangi. Sekarang untuk apa dia datang?


"Alin ... kok ngomongnya judes amat sama Mama."


"Ayah mana, biasa pulang jam berapa dia?" tanya Mirna.


"Ayah masih kerja, lagipula anda ngapain kesini cari ayah?"


Mirna berjalan mendekati Alina berniat memeluknya. Dengan cepat Alina menepis kedua tangan Mirna yang sudah terbuka. Melihat perlakuan anaknya itu, Mirna tertawa. "Kamu masih kesel karena saya pergi ninggalin kakak kamu?"


Hari itu Alina sedang berjalan menuju sekolahnya dan tidak sengaja bertemu dengan Mirna bersama seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Alina kemudian menghampirinya dan bertanya kemana kakaknya, karena sudah lama mereka tidak bertemu.


Namun, dengan tenang dan tanpa rasa bersalah Mirna berkata, "Saya gatau ... sana kamu!" Dengan kasar Mirna mendorong Alina dan menyuruhnya pergi. Itu terakhir kali Alina bertemu ibunya.


Mengabaikan Mirna yang masih berdiri didepan rumah, Alina pun segera masuk dan tidak mendengarkan apapun yang dikatakan ibunya itu. Tari tidak tahu harus melakukan apa, memutuskan untuk ikut masuk bersama Alina.


Perkataan ibunya hari itu masih membekas dengan jelas dikepalanya. Sejak saat itu Alina tidak berhenti untuk mencari keberadaan kakaknya. Bahkan sampai hari ini. Dan dengan santai nya Mirna datang kerumahnya dan menanyakan ayahnya.


Setelah selesai menyiapkan lauk untuk ayahnya, juga sekalian bersih-bersih, Alina dan Tari pun keluar. Tidak disangka ternyata ibunya masih disana. Mirna benar-benar menunggu Alina keluar.


"Sebenarnya mau apa sih? Jujur sama aku."


"Ayah kamu mana? saya ada urusannya sama ayah kamu, bukan sama kamu ... " ucap Mirna.


"Udah ga ada urusannya sama ayah kan, ga cukup anda pergi ninggalin kami ... terus sekarang mau ngapain lagi?"


Mirna masih menolak menjawab pertanyaan Alina. Mirna hanya mau bertemu dengan Adi, ayah Alina. Sebelum memutuskan untuk berpisah, hampir setiap hari keduanya bertengkar. Masalah utamanya yaitu uang. Mirna yang selalu boros dan memiliki gaya hidup tinggi tidak bisa dicukupi kebutuhannya oleh Adi.


Sampai akhirnya Adi memergoki Mirna berselingkuh, saat itu lah Adi menceraikan Mirna. Awalnya Kai juga ingin tinggal dengan ayah mereka, tetapi Mirna bersikeras anak-anak harus dibagi. Kai tidak tega jika Alina yang ikut dengan ibu mereka, sehingga Kai lah yang mengalah dan ikut Mirna.

__ADS_1


"Kakak kemana? masa anda sebagai ibunya gatau sama sekali dia dimana?" tanya Alina, suaranya sudah bergetar tetapi masih bisa menahan air matanya untuk jatuh.


"Kan sudah saya bilang ... ga tau, ga tau ... dia pergi, ga pulang-pulang lagi, terus yaudah saya juga pergi."


Alina tidak tahan melihat ibunya lagi. Apalagi mendengar jawaban tidak bertanggung jawab dari Mirna, membuat Alina sangat marah tetapi tidak mau hingga Mirna melihat Alina menangis. Dengan cepat Alina menarik tangan Tari pergi menuju mobil dan segera pergi dari sana.


Air mata Alina tumpah didalam mobil. Tari kemudian segera menyalakan mobilnya dan pergi menjauh dari sana. Mereka pergi meninggalkan Mirna yang masih berdiri didepan rumah Alina. Entah sampai kapan dia akan menunggu Adi disana, Alina tidak perduli.


Sepanjang perjalanan Alina terus menangis. Tari ingin sekali menenangkannya tetapi Alina terus menyuruhnya untuk terus pergi menjauh. Hingga kira-kira jarak mereka cukup jauh dari sana, Tari pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Tari meraih Alina dan memeluknya erat. Membiarkan Alina menangis dengan puas dipelukannya. Alina dan Tari sudah bersahabat sejak kecil, sehingga Tari sangat tahu betul bagaimana perlakuan Mirna sebagai ibu kepada Alina dan kakaknya.


Bukan hanya istri yang buruk, Mirna juga ibu yang buruk bagi Alina dan Kai. Mirna hampir tidak pernah hadir di acara penting kedua anaknya itu. Mirna juga jarang sekali memasak. Alina dan Kai kadang harus makan dirumah Tari.


Tari membiarkan Alina puas menangis, sampai akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Alina tidak mau temannya di bar melihat matanya bengkak karena menangis. "Bengkak banget ga ini mataku?" tanya Alina kepada Tari, sembari melihat pantulan nya di kaca.


Setelah beberapa saat Alina pun tenang dan tidak menangis lagi. Ini pertama kalinya Alina menangis sejadinya, mungkin beberapa hari ini banyak hal yang membuatnya ingin menangis. Puncaknya saat Alina melihat Mirna didepan rumahnya.


Pekerjaan yang menumpuk seharian ini, ditambah kondisinya yang belum benar-benar fit membuat Arkana sangat kelelahan. Ia sampai tertidur di ruangannya. Satrio yang melihat itu kemudian kembali dengan hati-hati ke ruangannya.


Tiba-tiba ponsel Arkana berbunyi. Ia pun terbangun dan segera melihat ponselnya, ternyata telepon itu dari Rose. Arkana sempat ragu untuk menjawab telepon itu, sepertinya ibunya sudah mengetahui kebohongannya.


"Iya Halo, Ma."


"Bisa ya kamu bohongin Mama ... tadi Dokter Indra ke rumah," ucap Rose, tidak habis pikir dengan kelakuan anak bungsunya itu.


"Iya beres ini aku langsung pulang."


Buru-buru Arkana menutup telepon dari ibunya, dan kembali menyelesaikan pekerjaannya. Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Hampir semua karyawannya yang lain sudah pulang, kecuali Satrio. Arkana melihat ruangan Satrio masih menyala.

__ADS_1


Arkana pun pergi menghampiri Satrio di ruangannya. "Udah beres?" tanyanya, "Bar?" lanjut Arkana mengajak Satrio mampir ke bar favorit mereka untuk menenangkan pikiran dan tubuh mereka. Satrio langsung mematikan komputernya dan membereskan tasnya.


Mereka pun bergegas pulang dan pergi menuju bar. Arkana dan Satrio pergi dengan mobil mereka masing-masing. Mobil mereka melaju kencang dijalanan ibukota.


Alina dan Tari sudah berada di bar sejak beberapa saat yang lalu. Mereka saling bercerita tentang masalah dan keluhan masing-masing bersama dengan teman mereka yang seorang bartender disana. Lagi-lagi Alina mengingat kejadian hari ini dirumahnya.


"Aku tuh nyariin Kai kemana-mana, tapi dia tanpa rasa bersalah masih bisa happy-happy dan malah nyariin orang yang dia kecewain gitu."


"Kesel banget sih ... ga peduli banget dia sama Kai." Air mata Alina kembali membasahi pipinya.


Tari dan teman mereka mencoba menenangkan Alina. Efek dari minuman yang diminumnya sudah sepenuhnya memengaruhi Alina. "Udah jangan diingat-inget lagi napa, Al." Tari menepuk-nepuk pundak Alina.


Arkana dan Satrio akhirnya sampai di bar setelah memparkirkan mobil mereka. Satrio masih ada perlu sebentar, sehingga Arkana pun masuk duluan. Dengan mudah ia mendapatkan kursi kosong karena keadaan bar yang tidak terlalu ramai.


Setelah memesan minuman, Arkana mengeluarkan ponselnya dan fokus dengan itu. Tidak lama Satrio menyusul Arkana, tetapi menyadari sesuatu yang terjadi di meja bartender. Arkana lalu menyadari Satrio melihat ke arah meja bartender.


"Kenapa?" tanya Arkana.


"Engga ... dari tadi gue masuk, itu cewe nangis mulu disitu."


"Dijaga mata lu, udah punya pacar juga masih kemana-mana matanya," tegur Arkana kepada Satrio.


Tidak lama minuman pesanan mereka pun sampai. Arkana dan Satrio asik mengobrol dan sedikit membicarakan tentang kesepakatan kerja yang mereka berhasil dapatkan. Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara riuh dibelakang mereka.


Alina bersikeras pulang meskipun Tari halangi. Keadaannya bukan lah keadaan yang bisa pulang begitu saja. Tari jelas mengkhawatirkan Alina, kedua matanya masih sembab karena banyak menangis hari ini. Saat bangun dari kursinya Alina tidak sengaja menabrak pelayan disana dan terjatuh mengenai beberapa kursi.


Beberapa orang disana menghampiri Alina dan memastikan apa ia baik-baik saja. Satrio juga ikut menghampiri Alina. Dari kejauhan Arkana mengenali sosok wanita itu. Dengan cepat Arkana meraih ponsel dan tasnya lalu berjalan menuju Alina.


"Sorry ... sorry, aduh gimana nih maaf ya saya ga sengaja."

__ADS_1


Alina yang panik berdiri dengan tidak seimbang, ketika hampir terjatuh kembali tangannya diraih oleh Arkana. "Kamu gapapa?" tanya Arkana memegangi Alina erat. Khawatir dengan Alina, Arkana pun segera membawanya keluar.


__ADS_2