
Suara mobil ambulans memecah keheningan malam, melaju dengan sangat cepat menuju UGD rumah sakit terdekat. Semua orang yang berada di tempat kejadian panik, salah satunya Tari. Tari sebagai saksi mata harus berada disana dan dimintai kesaksian tentang apa yang dilihatnya tadi.
Tari yang masih syok hanya melihat ke arah percikan darah yang masih membekas di jalanan. Satrio yang mengetahui itu kemudian menelepon pengacara perusahaan mereka untuk menemani Tari yang seorang diri di tempat kejadian.
Adi yang panik tidak tahu harus melakukan apa. Yang dipikirkannya hanya keselamatan Alina. Ia pun menancap gas mobilnya menuju rumah sakit. Sama hal nya dengan Rose dan Baskara. Rose tampak sangat panik dan terus menangis mengkhawatirkan Arkana.
Akhirnya mobil ambulans itu sampai juga didepan UGD. Alina terus menangis sembari terus menggenggam tangan Arkana yang penuh dengan darah. Seluruh pakaian Alina kini dipenuhi darah Arkana. Meskipun dirinya sedikit terluka, tetapi Alina tidak menghiraukannya.
Alina terus memanggil nama Arkana yang tidak sadarkan diri. Sebelum dibawa oleh ambulans Arkana masih sadarkan diri dan mengusap air mata Alina. Membuat pipi Alina juga dipenuhi darah milik Arkana.
Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat. Sesaat setelah pelaku berhasil mendekat dan menusukan pisau yang dibawanya, Arkana memutarkan tubuh Alina yang menutupinya. Jika tidak begitu saat ini yang terbaring di UGD adalah Alina.
Arkana dengan cepat menyadari niat orang jahat itu dan memeluk Alina erat menghindarkannya dari serangan pelaku. Sesaat setelah orang itu berhasil melakukan kejahatannya, dia kabur dan sempat berpapasan dengan Tari yang sedang berjalan menuju Alina.
Luka yang mengenai Arkana cukup dalam, membuat Arkana kehilangan banyak darah. Alina menahan tubuh Arkana yang lemas dipangkuannya. Alina terus menangis melihat Arkana seperti itu. Dengan tangannya yang masih gemetar, Arkana menghapus air mata Alina sampai akhirnya kehilangan kesadarannya.
Sesampainya ditempat kejadian Tari yang kaget pun teriak, kemudian berlari menghampiri Alina yang menangis. Tari tidak tahu harus berbuat apa ia melihat banyak darah dimana-mana. Alina lah yang mencoba menenangkan Tari dan memintanya segera menelepon ambulans.
Alina terus mencoba membangunkan Arkana dengan memanggil namanya. Tetapi Arkana tidak menjawabnya, Alina hanya bisa menangis dan memeluk Arkana dipangkuannya. Tari menyadari lutut Alina yang terluka dan meminta Alina memperhatikannya.
Alina mengabaikan lukanya dan terus berusaha membangunkan Arkana, sampai ambulans yang dipanggil Tari datang. Tidak membutuhkan waktu lama orang-orang disekitar mulai berdatangan, bersamaan dengan mobil ambulans.
__ADS_1
Dengan sigap mereka mengangkat Arkana dan membawa Alina masuk kedalam mobil ambulans. "Tari, kamu disini gapapa kan? ga ada saksi lain selain kamu, please ... " ucap Alina seraya menangis. Tari pun mengiyakan kemauan Alina dan memilih disana menunggu polisi untuk datang dan memberikan keterangannya.
Berulang kali pihak dokter harus melakukan penyelamatan alat pacu jantung untuk Arkana. Nyawanya kini berada di ujung tanduk. Dirinya terlalu banyak kehilangan darah, ditambah lagi riwayat kesehatannya yang kurang baik menambah semuanya.
Alina yang panik hanya terus menangis dari balik ruangan. Alina bisa melihat dengan jelas bagaimana tim dokter terus mencoba menyelamatkan Arkana yang berada di masa kritisnya. Hingga Satrio pun datang menghampiri Alina dan menenangkannya.
"Mas Arkana ... Mas ... please jangan tinggalin Alina, jangan .... "
"Mas Arkana, itu gimana tolongin ... please dokter, Mas Satrio ... " Tangisan Alina terus menjadi melihat banyaknya darah yang keluar.
Satrio memeluk Alina dari belakang menenangkannya yang tidak berhenti menangis. Tiba-tiba terdengar suara ramai dari belakangnya. Rose dan Baskara tiba lalu dengan kebingungan mencari Arkana.
Alina pun bangun saat melihat Rose yang baru saja datang, "Bu Rose ... " ucap Alina.
"Arkana sekarang dimana Al?"
"Masih ditangani sama dokter Bu, tadi ... tadi ada yang nyerang tiba-tiba terus .... " Alina tidak bisa meneruskan ceritanya, keadaannya masih syok dan lemas karena kejadian tadi.
"Udah, udah Alina ... Arkana pasti selamat kok pasti."
Tidak lama Adi pun datang menghampiri Alina. Untuk pertama kalinya Adi bertemu langsung dengan Rose. Namun, melihat situasi sekarang dan keadaan Alina Adi bisa meredan perasaannya. Kini Alina berada diperlukan ayahnya.
__ADS_1
Butuh waktu lama hingga operasi Arkana selesai. Mereka semua menunggu dengan perasaan gelisah didepan ruang operasi. Baskara merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Saat dulu Arkana selalu yang menjadi penolongnya saat kondisinya kritis, kali ini saat keadaannya berbalik Baskara tidak bisa melakukan apapun.
Satrio yang duduk tepat disebelah Baskara juga mencoba menenangkannya, "Arkana pasti gamau liat semua orang sedih kayak gini, Mas." Satrio menepuk pundak Baskara, "Saat ini yang penting kita harus bisa tangkep siapapun yang lakuin ini ke Arkana," ucap Satrio.
Saat semua orang panik dan buru-buru ke rumah sakit, John Miller hanya berdiam di ruangannya. Ia duduk di kursinya sembari meminum minumannya, tetapi tangannya tiba-tiba bergetar. Rasa marahnya tidak bisa ia tahan lagi.
Pertama mendengar apa yang terjadi kepada Arkana. John Miller tidak kalah terkejutnya dengan yang lain, tetapi ia memilih untuk memendamnya dan masuk kedalam ruangannya. John Miller dengan cepat meminta anak buahnya untuk mencari pelaku penusukan kepada Arkana.
John Miller sampai membanting gelas yang dipegangnya, membuat Bi Iyah yang kebetulan lewat kaget. Bi Iyah bisa merasakan jika Tuan Miller pasti saat ini sedang khawatir terhadap Arkana. Hanya saja dia tidak ingin menunjukannya kepada semua orang.
Setelah melewati proses operasi kurang lebih selama tiga jam, tim dokter pun keluar. Mereka mengatakan jika Arkana mengalami dua kali gagal jantung sehingga perlu dilakukan penyelamatan pacu jantung. Hal itu yang menyebabkan proses operasi yang mereka lakukan menjadi lebih lama.
Seluruh tubuh Rose lemas mendengar hal itu, dengan sigap Baskara memeganginya dari belakang. Meskipun begitu, Arkana sosok yang kuat sehingga ia bisa bertahan meskipun masih dalam keadaan kritis. Untuk saat ini Arkana akan berada di ruang ICU.
Tim dokter akan terus mengamati kondisi Arkana. Mereka meyakinkan pihak keluarga kalau tidak perlu terlalu khawatir. "Arkana anak yang kuat, dia pasti bisa sadar dan kembali kepada keluarganya." Salah satu dokter yang mengoperasi Arkana meyakinkan Rose.
Mereka pun hanya bisa melihat dari jauh saat Arkana dipindahkan ke ruang ICU. Adi pun mengajak Alina untuk pulang bersamanya. Namun, Alina menolak. Ia ingin berada disana menemani Arkana. Melihat Alina yang seperti itu Rose kemudian menghampirinya.
"Al, saya tahu kamu sangat sayang sama Arkana ... tapi jangan gini ya, kamu pulang dulu istirahat."
"Besok kan bisa datang lagi kesini, kamu harus pikirin kesehatan kamu juga ya," lanjut Rose.
__ADS_1
Entah sebuah firasat atau apa lah itu, tadi pagi sebelum pergi Arkana sempat menitipkan Alina pada ibunya. Arkana sempat mengatakan jika ibunya harus menjaga Alina karena Alina sudah menjadi bunga-bunganya selama ini.
"Mama akan jagain Alina, Ar. Jangan khawatir," gumam, Rose.