Saat Takdir Bertemu

Saat Takdir Bertemu
60. TURUN GUNUNG


__ADS_3

Hari ini bersama Satrio, Arkana pergi ke sebuah rumah sakit di pinggiran kota. Rumah sakit yang mengeluarkan surat pemeriksaan kesehatan yang dimiliki Kai. Dua hari lalu Arkana meminta Satrio untuk mencari rumah sakit yang tertulis di surat itu.


Arkana sebenarnya belum memberitahukan hal ini kepada Alina. Lagi-lagi Arkana ingin memastikan semuanya aman sebelum mengajak Alina bersamanya. Terlihat tidak banyak orang disana, rumah sakit ini memang pantas berada di pinggiran kota.


Meskipun begitu mereka memiliki fasilitas yang cukup baik untuk melakukan medical check up. Keduanya pun berjalan menuju bagian pendaftaran untuk memastikan surat pemeriksaan kesehatan yang mereka miliki benar dari tempat ini.


Sembari menunggu antrian, Arkana melihat seorang dokter yang cukup familiar di matanya. Mulanya ia ragu, "Apa dokter dibawah LifeCare ya?" gumamnya. Akhirnya giliran mereka pun tiba dan Satrio yang maju, selagi Arkana mencoba mengikuti dokter itu.


Dengan perlahan ia mengikuti dokter itu untuk memastikan siapa namanya. Hingga tiba-tiba dokter tersebut masuk kedalam ruangannya. Disana Arkana melihat nama dokter itu kemudian memfoto nya.


Arkana pun kembali ke loby untuk menunggu Satrio. Dari kejauhan Satrio menganggukan kepalanya kepada Arkana memberikan isyarat bahwa benar surat itu keluar dari rumah sakit ini. Tetapi mereka tidak bisa memberikan detail informasi pasien dan walinya.


Setelah mendapatkan cukup informasi, keduanya pun kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Sedangkan harus ada yang dilakukan Arkana, yaitu mencari nama dokter tadi di list dokter LifeCare.


Di hari yang sama Alina dan Tari membuat janji untuk pergi bersama. Kebetulan hari itu Alina dan Rose akan ke acara yayasan yang jaraknya tidak jauh dari tempat magang Tari. Selagi menunggu Rose menyelesaikan urusannya Alina akan bertemu dengan Tari sebentar.


Banyak hal yang terjadi dan Alina tidak bisa terus menyembunyikan apa yang sedang dikerjakannya dari Tari. Hanya Tari sekarang tempat Alina bisa menceritakan semuanya. Sejak kejadian hari kelulusannya Alina masih belum bisa sepenuhnya percaya kepada ayahnya.


Dilantai bawah kantor magang Tari kebetulan ada sebuah cafe sehingga mereka berdua akan bertemu disana. Alina datang lebih dulu, sedangkan Tari akan segera menyusulnya setelah pekerjaannya selesai. Selagi menunggu Tari, Alina tidak sengaja melihat Arkana sedang berjalan seorang diri.


Alina baru menyadari jika selama ini ia tidak pernah benar-benar memperhatikan Arkana. Ini pertama kalinya Alina melihat Arkana dari kejauhan. Caranya berjalan dengan tangan kanan didalam saku celananya dan tangan kirinya membawa tablet kesayangannya.


"Ga nyangka Mas Arkana kayak gitu ya kalo jalan dari jauh ... ga pernah merhatiin se detail itu." Alina terfokus melihat Arkana dari kejauhan. Arkana tidak langsung masuk kedalam kantornya melainkan berdiri ditengah jalan seperti menunggu seseorang.


Alina yang masih memperhatikan kemudian berhitung dengan perlahan, "Satu ... dua ... tiga ... Mas Satrio .... " Ternyata benar saja, Arkana menunggu Satrio yang berjalan cukup jauh dibelakangnya. Melihat tebakannya benar Alina tertawa tipis.


"Mereka kayak sibuk banget, dari mana ya?" gumam Alina seorang diri.

__ADS_1


"Habis beli makan siang kah?" Terlihat di tangan Satrio membawa plastik yang isinya mirip kotak makanan.


Tidak lama Tari pun datang dan mengangetkan Alina yang masih memperhatikan Arkana hingga ia masuk kedalam kantornya. Alina tidak bisa memalingkan pandangannya dari Arkana, sosok lelaki yang selama ini selalu ada disisinya.


"Bener kan ... disini bisa liat Arkana."


Alina kaget setelah Tari datang dengan diam-diam dari arah belakang, "Ih kaget banget Tari ... " ucap Alina.


"Lagian merhatiinnya gitu banget kayak baru pertama aja."


"EmangĀ  baru pertama merhatiin gini," ucap Alina jengkel.


Tari sudah memesankan makan siang untuk keduanya. Sehingga mereka akan mengobrol sembari makan siang bersama. Hari ini kebetulan Tari tidak banyak pekerjaan karena itu ia bisa meluangkan waktunya untuk mendengarkan cerita Alina.


Cerita yang tidak cukup jika diceritakan hanya melalui sambungan telepon. Alina akhirnya memaksa Tari untuk meluangkan waktunya hari ini. Alina tidak tahu akan punya waktu kapan bisa kembali keluar.


Berjalan dengan cepat Arkana dan Satrio buru-buru ke ruangan Arkana. Sapaan dari beberapa karyawan lain kepada mereka sampai diabaikan. Langkah mereka semakin cepat seiring semakin dekatnya pintu ruangan Arkana berada.


"Cepet ... cepet Sat keluarin nanti keburu dingin," lanjut Arkana.


Dengan perlahan Satrio mengeluarkan kotak makanan dalam plastik yang ia bawa sejak tadi. Ternyata semenjak di rumah sakit mereka sudah sangat kelaparan.


Sengaja mengejar waktu karena jarak yang cukup jauh, mereka melewatkan sarapan dan langsung pergi menuju rumah sakit di pinggiran kota tadi. Rasa lapar mereka bahkan tidak bisa ditahan oleh persediaan almond yang selalu tersedia di mobil Arkana.


"Obrolin tentang info tadinya nanti abis makan aja Sat ... lemes banget gue ga kuat."


"Siapa juga yang mau obrolin sekarang ... lo lagian enak ga perlu nyetir balik kesini." Bahkan saat makan keduanya masih sempat saling berdebat tentang siapa yang lebih lapar diantara mereka.

__ADS_1


Meskipun satu sekolah, namun Satrio tidak begitu dekat dengan Kai. Karena beda kelas dan Satrio juga tergabung di OSIS sekolah, ia cukup jarang bersama Arkana selama di sekolah. Meskipun begitu, demi sahabatnya Satrio selalu memberikan waktunya untuk membantu Arkana mencari Kai sejak dulu.


"Hidup kamu kayak drama tau ga sih Al." Komentar pertama yang keluar dari mulut Tari setelah mendengar cerita Alina. Beberapa hari kebelakang memang hidupnya seperti sebuah drama. Terutama saat bertemu dengan Pak Agus kemarin. Belum pernah selama Alina hidup melihat seseorang di ancam dengan sebuah pisau di lehernya.


"Aku juga ngerasa kayak gitu, Tari."


"Tema dramanya mungkin apa ya ... action, thriller, misteri," ucap Alina.


"Romance juga ada ga tuh?" ledek Tari kepada Alina.


Meskipun hidup Alina bagaikan drama, tetapi disampingnya ada Arkana yang selalu memastikan keamanan Alina. Arkana bahkan rela cedera dan masuk rumah sakit untuk menyelamatkan Alina.


"Apa sih Tari ... Mas Arkana tuh emang baik aja orangnya, persis sama mamanya," tutur Alina.


"Ngomong-ngomong di cerita kamu ga ada Baskara ya?" tanya Tari, mempertanyakan keberadaan Baskara yang hampir tidak banyak muncul di cerita Alina.


"Mas Arkana aja sengaja ga cerita ke Bu Rose apalagi Baskara ... jadi pantes aja dia gatau tentang ini."


Masih asyik mengobrol tiba-tiba Rose menelepon Alina. Urusannya ternyata selesai lebih cepat, sehingga mereka harus pulang sekarang. Lagipula Tuan Miller tiba-tiba meminta Rose segera pulang.


Tidak punya pilihan lain, Alina pun pamit untuk pulang lebih dulu kepada Tari. Tari berjanji kapan-kapan akan menjemput Alina kesana untuk menghabiskan waktu bersama. Masalah yang dimiliki Alina sekarang yaitu akses kendaraan umum yang sulit.


Karena itu ia menjadi kesulitan untuk pergi kemana pun. Tukang ojek online yang disarankan Bi Iyah tidak se kompeten itu ternyata. Ia sering kali mengamalkan janji yang telah mereka buat di hari sebelumnya.


"Makasih ya Tari ... bener janji main kesana ya jemput aku."


"Ga enak rasanya selalu nebeng orang yang mau turun gunung ... " ucap Alina sembari tertawa.

__ADS_1


Alina selalu mengibaratkan rumah keluarga yang berada di atas bukit itu sebagai gunung. Sehingga ia akan menyebutnya turun gunung saat Alina perlu ke kota. Sebenarnya sudah beberapa kali Alina menanyakan alasan keluarganya membuat rumah diatas bukit kepada Arkana.


Namun jawabannya selalu saja, "Ga usah ikut repot urusan rumah orang lain." Sebuah jawaban yang jelas sekali keluar dari seseorang bernama Arkana Benjamin Miller.


__ADS_2