
Kea menatap mobil Sandi yang perlahan mundur, lalu mengarahkan lampu kearahnya. Kea masih tak mengerti kenapa mobil Sandi terus mundur. Bukannya maju,
Tapi perlahan, matanya membulat kaget saat dengan laju tinggi mobil itu maju dan mengarah kedirinya.
Kea berusaha bangkit, tapi ia kembali terjatuh karena tubuhnya yang gemetaran.
Sedangkan Sandi tersenyum, "Selamat jalan Kea" desisnya dengan mata merah.
***
Sandi memejamkan matanya sambil meremat setir kemudi dengan erat kala teriakan dan suara debaman tabrakan mobil menghantam tubuh Kea yang sekarang ntah berguling Kemana. Sandi tak tau dan ia tak mau tau.
Laki-laki itu hanya menduga-duga, mungkin, Sekarang Kea sudah mati dengan besimbah darah, mungkin Kepalanya sudah pecah karena terhantam kap mobil dengan keras, atau mungkin tulangnya remuk karena terpental jauh ntah kemana. Mungkin, Mungkin saja.
Tapi kemungkinan apapun itu, Sandi yakin, Kea tak mungkin hidup, Yah, seharusnya, bukankah Kea memang tak layak hidup? Bukankah Kea memang tak pantas menghirup udara segar dunia? Bukan kah Kea memang pantas mati?
Tapi, semakin ia yakin kemungkinan itu terlaksana, Sandi kian merasakan tubuhnya tremor marah, keringatnya menetes tak tau waktu, laki-laki itu menjambak rambutnya. Pikirannya kacau. Sandi berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kea memang pantas mati. Gadis lemah itu memang pantas mati. Seharusnya Sandi langsung melarikan diri, Seharusnya Sandi langsung cuci tangan dan pura-pura tak tau apa-apa. Seharusnya..
Seharusnya...
"Bangsat!" Sandi memaki kesal, ia membuka pintu mobilnya dengan terburu. Laki-laki itu tak lagi memperdulikan kakinya yang gemetar. ia menelusuri pinggiran jalan untuk mencari tubuh rinkih yang terlempar beberapa meter dari mobil nya itu.
Dan, Sandi terdiam, ia dapat melihat tubuh kecil dengan posisi telungkup itu bersimpah darah, Darah menetes ntah dari mana, membuat genangan disekitar tubuhnya dan memberikan rasa ngeri.
"K-ke?" Sandi membalikkan tubuh Kea,
Bagai tubuh tak bertulang, Tubuh Kea terlentang dengan mudah, menampilkan mukanya yang seperti disiram aliran darah, kaca matanya ntah dimana sedangkan rambut Gadis itu telah lepek karena cairan anyir berwarna merah.
"K-ke" Sandi menarik kepala Kea kedadanya.
"Kea!" Teriaknya gemetaran.
"Kea! Bangun anjing!" makinya kian memeluk tubuh Kea yang bahkan ntah masih bernapas atapun tidak.
"Kea! Gue bilang bangun!" Teriaknya lagi. Kian mendekap kepala Kea.
"Ke, hiks, bangu-un anjing akhhh" Sandi tak lagi memperdulikan tubuhnya yang ikut berbau anyir, Laki-laki itu memeluk Kea dengan rasa ketakutan, Dan untuk pertama kalinya, laki-laki berhati dingin dan bersikap angkuh itu meneteskan air mata untuk mengekspresikan perasaannya. Dan hal itu ia berikan pada musuhnya sendiri.
__ADS_1
***
Plak!
Bugh!
Bugh!
"Bajingan kamu, Kamu apakan lagi anak saya sialan! Hah, kamu, kamu kan yang nabrak dia. Kamu! Kamu yang-
"Kai! Tenang Kai! Kai!"
"Tenang? Tenang gimana Surya! Lo gak denger anak gue koma didalam hah! Lo gak denger hah, lo budek hah! " Kai memberontak saat Surya menahan tubuhnya ketika akan kembali menghajar Sandi yang kini terduduk dilantai dengan pandangan kosong.
"Gue ngerti Kai, tapi ini rumah sakit!" bentak Surya, papa Sandi itu bahkan mendorong dada Kai ketika Laki-laki dewasa itu ingin kembali menyerang anaknya yang terdiam kaku.
"Lo- Akhhh," Kai berteriak frustasi, papa Kea itu lalu terduduk lemas sambil menangis. Tak memperdulikan bagaimana image kaku nya tersemat. Ia hanya mengharapkan mukzijat untuk putrinya.
Sedangkan Kelli sudah seperti mayat hidup yang tak mampu melakukan apapun, bahkan suara tangisannya pun terdengar begitu pilu, begitupun Mia, mama Sandi itu ikut menangis sambil memeluk Kelli.
pasalnya, tadi sandi hanya mengatakan Kea kecelakaan tanpa menjelaskan kronologinya bagimana. Namun, Surya tak berani langsung menarik kesimpulan saat ia juga melihat bagaimana terpuruknya anaknya itu. Ini aneh, dan terasa janggal untuk Surya dan mungkin untuk semua orang. Tapi ayah satu anak itu berusaha menutupuinya dengan baik.
Sedangkan Sandi hanya diam, Laki-laki itu diam dalam artian sebenarnya. Bajunya penuh darah Kea yang mengering, wajahnya penuh lebam Karena pukulan papa Kea.
Ia Benar-benar tak memperdulikan banyak hal, rasanya kalimat dokter yang mengatakan kalau Kea Koma sebelumnya lebih menakutkan dari apapun .
Tadi, begitu Sandi menyadari kalau Kea masih bernapas. ia langsung membawa Kea kerumah sakit. Dan tentu saja, Sandi langsung menghubungi orang tua nya untuk memberi tau orang tua Kea karena banyaknya prosedur rumah sakit yang membutuhkan bubuhan tanda tangan walinya.
Dan bahkan sampai sekarang, Sandi masih bungkam. Ia tak tau perasaannya sendiri. Apakah ia merasa bersalah? Atau kasihan? Sandi menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaan yang mengganggunya itu.
"Sandi!"
Sandi mendongakkan kepalanya, dan matanya langsung berhadapan dengan mata papanya. Dulu, ia tak pernah segugup ini jika berhadapan dengan Surya. Ia adalah tipe anak pembangkang yang bersikap seenaknya. Sandi bahkan lupa bagaimana ia berbicara dengan santai tanpa emosi pada papanya itu. Dan sekarang, Papanya menatapnya dengan teduh disituasi mencekam begini, ntah kenapa Sandi merasa begitu tersentuh sekaligus gugup.
"Ikut papa!" kata Surya tenang tanpa menghilangkan kesan tegasnya.
Sandi terdiam sebentar, ntah apa yang ada dipikirannya, tapi laki-laki itu bangkit dengan sempoyongan dan mengikuti langkah papanya.
__ADS_1
"Pakai" Surya memberikan jaketnya, Sandi hanya mengamatinya.
"Bajumu darah semua, jangan buat orang lain takut." kata Surya menjeleskan.
Sandi mengangguk, walaupun sedikit ada rasa gengsi, tapi ia juga membenarkan apa yang dikatakan papanya dalam hati. Sandi mengambilnya, lalu memakainya.
Mereka berhenti dilorong rumah sakit yang sepi. sekarang hampir jam 5 pagi, suasana rumah sakit masih sangat sunyi bagai tak berpenghuni.
"Kea kenapa?"
Sandi menoleh begitu papanya menyuarakan suaranya.
"Kecelakaan." sahut Sandi gamang.
"Gimana kronologinya?"
"Dia jumpaan sama pacarnya keklub, berantem terus ditabrak mobil dijalan." Kata Sandi mengedikkan bahunya.
Surya menatap datar Sandi,"Klub? kamu pikir papa percaya?"
"Dan apa papa pikir, Aku perlu rasa percaya papa?" tanya Sandi ikut tajam, kedua pasangan ayah dan anak itu saling menguarkan aura intimindasinya masing-masing.
"Sandi!"
"Aku uda jawab, papa nggak percaya. Oyaaa.. jelas aja. Sejak kapan seorang Geano Surya percaya sama anaknya sendiri. "
"Sandi!"
"Aku capek, mau pulang" kata Sandi melangkah pergi.
"Terus kenapa kamu yng bawa Kea kerumah sakit? bukan Pacarnya."
Sandi menghentikan langkahnya, ia menatap papanya sekilas, "Mungkin, kasihan" sahutnya santai.
****
Kasihan ya?
__ADS_1