
"Menurut lo? Cuma lo yang bisa ragu?"
Kea tergagap, ia tak mampu menjawab ketika hatinya berdenyut. Sandi memang iblis. Bagaimana bisa ia meragukan anak yang ia kandung saat laki-laki itu sendiri lah yang mengambil mahkotanya. Saat hanya laki-laki itulah yang menyentuhnya.
"Pertama bukan berarti terakhir kan?" Ejek Sandi seolah mengerti pemikiran Kea.
Kea memaksa jari-jari tangannya mengepal saat ia merasakan dadanya bergemuruh, Kea pernah merasakan kebencian, tapi ia belum pernah merasakan kebencian sampai ditahap ia membenci Sandi saat ini.
***
"Lo bisa sendiri?" Tanya Sandi saat Sandi membukakan pintu mobil untuknya.
Kea mengerjap. Agak terkejut karena Sandi tiba-tiba berbicara padanya setelah pembicaraan panjang mereka semalam. Omong-omong sekarang Kea sudah diperbolehkan pulang dan tadi Sandi menanyakan kemampuan Kea untuk berjalan kerumah.
"Ekhem" Kai berdehem, agaknya menegur Sandi akan tawaran tak masuk akal menantunya itu. Saat dirumah sakit saja Kea dibantu kursi roda dan sekarang Kea harus berjalan sendiri. Yang benar saja menantunya itu. Kai bahkan sudah akan kembali protes dengan tajam jika saja Kelli tak memegang lengannya dan memberi kode untuk tak kembali membuat keributan.
Sandi ikut berdehem, ia menatap Kea penuh permusuhan, namun saat papa Kea mulai menatapnya tajam, Sandi tiba-tiba mendekat kearah kea. Kea cukup terkejut namun ia tak bisa mundur karena perutnya masih terasa kram jika banyak bergerak.
"Ayo main drama" Bisik Sandi pelan ketika ia meletakkan tangannya diantara betis dan leher Kea. Sandi menggendongnya.
Kea agaknya masih terkejut dengan perlakuan Sandi sehingga tak begitu memikirkan ucapan laki-laki itu. Tapi main drama? Apa Sandi gila? Ah, Sandi kan memang gila. Kea mendengus dan mencoba menahan kram diperutnya saat Sandi melangkah cepat ketika menaiki tangga.
"Lo mau buat gue keguguran!" Desis Kea tajam saat Sandi menjatuh kannya keranjang tempat tidur mereka dengan sedikit agak kasar.
"Niat awalnya sih gitu," Desis Sandi tak kalah tajam, laki-laki itu lalu menatapnya, "Gue males berurusan sama keluarga lo ataupun keluarga gue kedapannya. Jadi ayo main drama tentang keluarga bahagia didepan mereka." Kata Sandi memelankan suaranya saat ia mendengar ada suara langkah menuju kamar mereka.
Kea masih bingung saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampilkam mamanya dan juga mama Sandi yang mentap mereka dengan senyum simpul.
"Gitu dong San, peduli sama isteri lagian Kan Kea masih hamil." Kata mamanya tersenyum senang.
Sandi berdehem.
Dan Kea mendengus pelan saat akhirnya tau apa maksud kalimat Sandi sebelumnya.
__ADS_1
"Hm" Kata Sandi mengusap rambut pendek Kea. Kea agak tersentak tapi ia tak mengatakan apa-pun. Kea malas menanggapi Sandi karena ia benar-benar kehilangan minat untuk satu hal itu ketika sakit diperutnya kadang masih terasa.
"Kea kenapa sayang? perut kamu sakit lagi?" Pertanyaan Kelli yang terdengar khawatir itu membuat pandangan mereka semua tertuju pada Kea.
Kea menggeleng, "Cuma Agak kram sedikit ma" Kata Kea pelan.
"Ya ampun, yaudah kamu istirahat dulu aja. Pasti efek pendarahan semalam" Kata Mama Sandi ikut khawatir.
"Iya Ke, kamu istirahat aja dulu, nanti kalau sakitnya makin parah atau ada gejala pendarahan lagi bilang sama mama ya." Kata Kelli.
Sandi yang melihat betapa khawatirnya kedua perempuan dewasa itu pun mendengus jengah. Bahkan sekarang mamanya dengan sayang membantu Kea berbaring ditempat tidur.
"Kamu sehat-sehat ya sayang" Kata mama Sandi lembut.
"Iya M-ma" Kata Kea agak kagok. Walaupun sejak menikah ia memang memanggil orang tua Sandi dengan panggilan mama papa, tapi Kea tetap belum terbiasa untuk itu. Ia bahkan sesekali masih keceplosan memanggil mama Sandi itu dengan sebutan 'tante'. Perlakuan orang tua Sandi memang sangat-sangat berbanding terbalik dengan sikap orang tua Kea pada Sandi yang terkesan sangat Apatis. Itu juga sebabnya Sandi begitu merasa tetekan dan tak betah dirumah Kea ini.
"San, kamu jagain Kea dulu dan bla-bla-bla" Sandi tak begitu mendengarkan ucapan mamanya karena ia begitu malas. Tapi tak ayal laki-laki itu tetap mengangguk ketika mama dan juga mama Kea meminta tanggapannya.
"Enak banget jadi lo ya" Kata Sandi memulai pembicaraan. Ia tau Kea masih bisa mendengar suaranya karena perempuan itu belum melepas alat bantu dengarnya.
"Diperhatiin tanpa ada yang ngungkit masalah dan kelakuan lo"
Kea tak menggubris, tapi perempuan itu sudah membuka matanya dan menatap Sandi penuh kebencian.
"Ck, bahkan lo masih bisa sesantai ini waktu lo bahkan gak berani ngeyakini gue , anak siapa itu" Kata Sandi mengejek.
Kea memegang telinganya, hendak melepas alat bantu dengarnya saat lagi-lagi suara Sandi menusuk pendengaran dan juga hatinya.
"Gue harap lo keguguran, malah kalau perlu mati aja ditidur lo" Kata Sandi, "Dan Bay the way, Gue males ngurus dan ngakui anak haram kayak lo dihidup gue" Tambahnya sebelum laki-laki itu membalikkan badan dan ikut berlalu dari kamar mereka..
Meninggalkan Kea yang kini tertegun dengan tangan yang masih terpaku ditelinga.
Kea biasa dimaki, Kea juga biasa dicela sejak ia kecil karena kekurangannya, tapi ntah kenapa kali ini, Kea rasa ucapan Sandi begitu menghunus jantungnya.
__ADS_1
Bahkan, Kea tak menyadari, air matanya jatuh dengan bebas begitu saja.
***
"Kata dokter kandungan Kea uda masuk satu bulan ya" Kata Mama Sandi memulai pembicaraan.
Mama Kea menghela napas, "Iya" Katanya terdengar gamang.
"Jadi gimana sama sekolah Kea Kai, aku gak tega waktu Kea nangis karena pengen ikut ujian akhir tahun ini- "
"Sekolah bahkan uda ngirim surat pengeluaran Kea semalam dan aku uda coba sebisa ku untuk ngomong sama gurunya Kell, tapi yah.. Aku gak bisa buat apa-apa" Kata Kai terdengar sedih.
Sandi yang mendengarnya tersenyum culas, Kea yang keluar sekolah tapi Sandi yang senang, Ntah Kenapa Sandi merasa begitu puas dengan satu fakta itu.
"Apa itu artinya , Kea bakal ngalami hal yang sama kayak kita-
Kai memeluk Kelli yang kini menangis, sedangkan orang tua Sandi dan juga Sandi hanya bisa menonton adegan memilukan itu dengan nanar.
Saat Sandi masih terfokus pada mertuanya, Sandi merasa mamanya yang kini juga menangis menggenggam tangannya. "Janji sama mama San, Kamu ubah sikapmu dan sayang sama Kea dan anakmu. Janji sama mama. Kea uda ngorbanin banyak hal dalam hidupnya buat kamu.. Jadi kamu harus jaga dia"
Sandi menngernyit tak setuju, Kea mengorbankan hidupnya untuk dirinya. Cih, mamanya tak tau saja bagaimana gilanya Kea itu pada kenyataannya.
Tapi lagi.
Sandi mengangguk meng iyakan, ia tak tega melihat mamanya yang menangis itu.
Mama Sandi itu tersenyum, ia lalu memeluk Sandi, berbisik pelan. "Usia kandungan Kea itu trimester awal. Kamu harus banyak dampingi dia ya San. Janji sama mama pokoknya. "
Lagi Sandi mengangguk. Kali ini dengan decihan sinis dalam hati. Merasa geli dan jijik dalam sekali waktu saat membayangkan ia harus mengurus anak sialam itu dimasa depannya.
***
Sorry for typo.
__ADS_1