Salah

Salah
S-1 Masukan


__ADS_3

"Maaf mas, kenapa tadi teriak, dan juga, ini mas uda dari tadi kok gak keluar juga mobilnya?" Kata Seorang ntah siapa, mungkin penjaga parkir gadungan. Ntahlah Sandi tak peduli dia siapa.pikirannya sedang kacau sekarang.


Tapi Sandi mengangguk kan kepalanya, lalu bergumam maaf dan mulai mengeluarkan mobilnya, untuk melanjutkan perjalanan.


"Kita kedokter nanti" Desis Sandi yang diabaikan Kea sepenuhnya.


***


"Kea" Desis Sandi ketika lagi-lagi Kea mengabaikannya.


Ini sudah tiga hari berlalu semenjak mereka pulang dari Bandung, dan Sandi masih tak henti-hentinya merayu Kea untuk kedokter. Laki-laki itu tak bisa tidur tenang dengan banyak kemungkinan buruk dikepalanya ketika Kea benar-benar tak berniat meminum pil pencegah kehamilan yang ia berikan maupun resep dokter yang diam-diam ia konsultasikan.


"Kea, lo harus dengerin gue sekali ini aja, kita kedokter ya."


"Awas" Desis Kea saat Sandi menghalangi langkahnya yang akan turun tangga.


"Nggak, sebelum lo ikut gue kedokter." Tegas Sandi.


Kea menggelengkan kepalanya, "Ini uda tiga hari San, gak ada guna juga tau nggak" Tekan Kea.


Sandi berdecak, "Yaudah, yang penting kita kedokter ya Ke, kita-


"Dan Biarin lo makin semena-mena sama gue?" Tanya Kea datar.


Sandi diam, laki-laki menatap mata Kea lurus. "Maksud lo?"


Kea tersenyum, "Lo sadarkan nggak sih San sama kelakuan lo tiga hari terakhir?" Tanya Kea gamang, "Lo kayak orang kesetanan, lo bener-bener ketakutan bahkan untuk suatu hal yang belum pasti. " Kata Kea lagi.


"Lo tau apa artinya?" Kea maju selangkah, mendekti Sandi. "Artinya lo bener-bener bajingan San. Lo nggak mau mempertanggung jawabkan apa yang lo lakuin. Lo Bajingan!" Desis Kea dengan mata memerah.


Sandi menggeleng, "Kea, bukan gitu, gue tetep bakal tanggung jawab tapi-


"Kalau lo tanggung jawab? So what?" Tanya Kea mengerjapkan matanya kala matanya terasa buram.


"Kea.. Lo harus tau apa dampak dari masalah ini, kalau-


"Kalau lo tau dampaknya buruk? Kenapa lo masih lakuin? Kenapa lo masih paksa gue?" Kata Kea gamang,


"Gue tau San, gue tau, Masalah ini bakal berdampak buruk kalau gue bener-bener hamil. Tapi kalau gue bener-bener ikut lo buat cegah kehamilan dan lain sebagainya. Apa lo bisa jamin dan janji untuk gak bakal ulangi hal yang sama?" Kata Kea pelan.


Sandi terdiam.


"Apa lo bisa janji sama gue, nggak kan? Apa lo bisa janji buat gak ninggali gue yang uda lo hancurin ini? Gak kan? Malah gak menutup kemungkinan justru gue yang lo jadiin pelampiasan nantinya. " Kea mengusap air mata dipipinya. "Lo bakal makin gencar nyakitin gue, berbuat semau lo karena lo ngerasa bebas dan gak memiliki kerugian apapun."


"Jadi bisa nggak lo gak usah memperbudak gue? Dan bisa, lo pikirin dampak berkelanjutan apa yang lo lakuin sama gue?" Kata Kea mendorong Sandi pelan.

__ADS_1


Perempuan itu lalu menuruni anak tangga dengan mata yang masih basah. Meninggalkan Sandi yang terdiam kaku.


***


"Kamu kenapa Ke?" Tanya Kai begitu mendapati putri kesayangannya itu duduk didepannya dengan mata merah.


Kelli yang awalnya sibuk menyiapkan nasi goreng untuk sarapan itu pun menghentikan kegiatannya. Ia Menatap putri semata wayangnya dengan raut kekhawatiran yang begitu kentara.


"Sayang?" Panggil Kelli mengusap kepala Kea. Begitupun Kai yang langsung mendekati anak dan istrinya.


Kea yang mendapat perlakuan kedua orang tuanya pun kian terisak, perempuan itu tak lagi berusaha menahannya. Ia menangis sejadi-jadinya dipelukan mamanya diiringi usapan lembut papanya.


"Kea-


"Hiks, ma, pa, hiks Kea gak mau ngomong hiks apa-apa" Kata Kea memotong kembali kalimat tanya papanya. Ia hanya ingin menangis. Kea hanya ingin mencurahkan tangisnya. Kea hanya ingin dukungan. Ia tak bisa lagi menahannya.


Sandi yang melihat keluarga kecil itu saling menenangkan pun kian membisu. Ia menggenggam kuat pagar tangga, Sandi merasa begitu bersalah. Apa yang dikatakan Kea memang benar, Jika ia tau dampaknya seharusnya ia berpikir sebelum melakukannya. Seharusnya ia tak menyakiti Kea begitu dalam waktu itu.


Tapi, bukankah ia juga benar. Kehadiran anak akan membuat mereka kian sulit disaat posisi, kondisi dan perasaan mereka masih seperti ini.


Sandi mengusap wajahnya. Ia tak pernah merasa sestres ini sebelumnya. Ia tak mungkin lagi memaksa Kea, bukan kah ia begitu egois saat masih saja memaksa Kea?


Tak lagi ada yang bisa Sandi lakukan selain berharap. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya setelah sekian lama. Sandi berharap banyak untuk setiap doanya.


***


Kea menoleh, perempuan berkaca mata itu tersenyum menatap mamanya. "Ma?" Panggilnya.


"Boleh mama gabung kan?" Tanya Kelli lembut.


Kea mengangguk, Ia menggeser duduknya, memberi gestur untuk mamanya agar duduk disebelahnya.


"Kea kenapa? Kok banyak ngelamun?" Tanya Kelli lembut,


Kea melirik mamanya,


"Kea gak mau cerita ada masalah apa sama mama hm?" Tanya Kelli lagi, perempuan berdarah tionghoa itu mengusap rambut Kea pelan, memberinya kenyamanan luar biasa pada Kea yang memang butuh sandaran.


"Ma?" Panggil Kea pelan sambil berusaha menahan tangisnya sendiri.


"Ya, sayang, "


"Apa menurut mama aku salah kalau aku hiks- aku mau kasih Sandi pelajaran untuk mempertanggung jawabkan apa yang dia lakuin?" Kata Kea sesenggukan.


Kelli diam saja, ia tetap membelai rambut Kea tanpa niatan menyela. Ia ingin mendengarkan permasalahan Kea dengan tenang tanpa terlarut emosi.

__ADS_1


"A-aku hiks, aku capek ma.. Sandi itu bajingan hiks, Sandi jahat, dia jahat ma .. Dia nyalahin Kea untuk semua yang terjadi sama kami, dia jahat hiks, " Tangis Kea semakin tak terbendung.


"Kea cuma mau dia tau apa akibat kelakuan dia, Kea gak mau diatur hiks-atur ma" Tangis Kea semakin menjadi dipundak Kelli.


Kelli diam saja, ibu satu anak itu membiarkan Kea meredakan tangisnya dulu, dan begitu tangisan Kea mulai terkontrol, barulah Kelli mengeluarkan suaranya.


"Emang apa yang Sandi lakuin dan apa yang berusaha Kea kasih tau ke Sandi hm?"


Kea bangkit dari posisinya, ia menatap mamanya dengan mata basah. "S-sandi, i-itu" Kea tampak ragu mengatakannya.


Dan Kelli dengan sabar meyakinkannya. "Jangan takut sayang, mama gak bakal ngehakimi Kea kok"


Kea menatap mamanya, "Sandi paksa Kea buat cegah hiks, cegah kehamilan" Bisik Kea berbisik diujung kalimatnya.


Kelli terdiam kaku, matanya membulat.


"Kehamilan?"


Kea mengangguk, "Kea gak mau, Kea gak mau Sandi atur Kea gitu ma, Kea mau Sandi tau akibat perbuatannya."


"Dan Kea ambil resiko kalau mungkin saja Kea Hamil? Sayang.. Masalah ini itu-


"Ma.. Kea gak suka Sandi berbuat sesukanya."


"Kea, tapi Kea juga harus tau apa akibatnya. Kea tau, hamil diusia muda itu gak segampang yang kayak kamu pikir, mama pernah ada diposisi Kea. Mama pernah hancur diusia Kea, Mama pernah ngalaminnya, Sayang. Dan kamu tau, Akibat dari kebodohan mama adalah buat Kea ada diposisi ini" Kata Kelli dengan mata penuh penyesalan.


"Mama yang buat Kea ngalamin hal ini, mama yang buat Kea gak bisa denger dari kecil, mama juga yang buat Kea gak bisa lihat dengan jelas, mama hiks, mama jahat sayang, dan mama gak mau Kea ulangi hal yang sama keanak Kea nanti hanya karena Kea benci Sandi, hanya karena Kea-


"Mama hiks" Kea merangkul mamanya, "Mama kenapa ngomong gitu hiks, Kea sayang mama"


Kea tersedu, kedua perempuan beda usia itu menangis bersama, menangisi takdir mereka yang kelam.


"Jadi.. Kea mau kan pikirin semuanya lagi denganjernih?"


Kea terdiam dalam tangisnya, ia hanya memeluk mamanya, menerima masukan itu dengan hati yang ketakutan.


Apa kah jalan yang ia ambil salah?


***


Menurut kalian mana yang bener?


Kea atau Sandi.


Keduanya ada sisi baik dan buruknya sendiri kan?

__ADS_1


__ADS_2