
Kea meraih tangan Sandi yang terjuntai, seperti orang ketakutan, Kea memeluk Sandi sambil menangis. Mata perempuan itu bergerak liar dan tangannya mencengkram punggung Sandi, memeluk laki-laki itu dengan posesif.
Kea benar-benar seperti orang dengan gangguan jiwa.
Sandi melepas pelukan Kea, tapi Kea kembali memeluknya. "S-san, lo gak ninggalin gue kan, kata mama hiks, kata mama-
"Ayo gugurin Ke"
Kea terpekur dipelukann Sandi ketika laki-laki itu membalas pelukannya.
"Ayo gugurin dia Ke," Bisik Sandi dengan suara bergetar. Kea tercekat.
***
Sandi memejamkan mata setelah satu kalimat yang ia tahan sejak tadi akhirnya keluar.
"Kea- Lo, denger gue kan Ke?" Bisik Sandi memeluk Kea semakin erat, merasakan guncangan bahu Kea dipelukannya. Ia menutup telinga akan tangisan Kea yang semakin berdengung.
"Kea, dengerin gue" Bisik Sandi melepas pelukan mereka, laki-laki itu agak menunduk agar mesejajarkan posisi mereka karena Kea yang masih duduk dibrankarnya.
"Kita gugurin ya Ke, gue-ah nggak, kita belum siap untuk jadi orang tua, gue-
Sandi tak sanggup melanjutkan kalimatnya ketika dadanya terasa sesak saat melihat wajah Kea yang sudah basah oleh air mata.
"L-lo bilang, lo bakal tanggung jawab hiks" kata Kea tak fokus, matanya bergerilya kesekitar. Perempuan itu berusaha menenangkan kejiwaannya yang terguncang sendiri.
Sandi memegang kedua sisi wajah Kea agar perempuan itu fokus menatapanya dan mendengar baik-baik apa yang akan ia ucapkan.
"Kea, ini bukan masalah tanggung jawab, ini masalah kesiapan Ke, lo tau, lo sendiri adalah korban dari ketidak siapan orang tua lo untuk punya lo. Dan apa lo mau ngulang hal yang sama untuk anak kita Ke?" Tanya Sandi serius.
Kea menggeleng, "Ng-nggak" Katanya tersengal.
"Nah, jadi kita gugurin aja ya Ke, Lo juga-
"Nggak! Gue gak mau!"
"Kea!"
"Memangnya, kalau gue gugurin hiks, apa yang-yang berubah nantinya?" Potong Kea membuat Sandi terdiam.
"G-gue tetep dikeluarin dari sekolah, g-gue tetep gak bisa sekolah, gue hiks, gue tetep gak punya temen, gue tetep dipandang rendah. L-lo tau San, lo itu egois hiks" Kea menunduk, menangis dengan napasnya yang tersengal-sengal.
Sandi menjambak rambutnya sambil menahan makiannya. "Gue!" Katanya menunjuk dirinya sendiri, "Gue egois? Heh, asal lo tau Ke, yang egois itu elo. Elo!" Bentak Sandi.
__ADS_1
"Gue uda berapa kali bilang, minum pilnya bangsat, minum!"
Kea semakin menangis, "Gue gak tau-
"Gak tau? Apa yang lo gak tau hah! Gak tau kalau masalahnya bakal serumit ini gitu? Iya! Asal lo tau Ke, gue egois buat diri lo juga, gue nyuruh lo itu gue uda mikir Ke, gue uda pikirin semuanya mateng-mateng. Gue uda mikirin semua konsekuensinya. Gue tau. Tapi lo- " Sandi menunjuk wajah Kea.
"Lo gak tau apa-apa, lo cuma ngandelin emosi menggebu lo, lo cuma manfaatin dendam lo, Tapi akhirnya lo juga kan yang nyesel, Iya kan?" Ejek Sandi,
Kea meremas seprainya tak berniat menjawab.
"Ayo gugurin dia"
Kea menggeleng.
"Kalau lo gak mau gugurin dia, gue gak mau ambil resiko"
Lalu keheningan menyergap mereka cukup lama, Sandi berusaha menjernihkan pikirannya sedangkan Kea masih menangis terisak dibrankarnya.
"Urus masalah yang lo buat itu sendiri, gue bakal urus perceraian kita, gue bakal ngomong sama orang tua gue dan orang tua lo. " Kata Sandi akhirnya.
Kea mendongakkan kepalanya, ia menatap Sandi dengan tatapan tak terbaca. "Lo mau hiks nyeraiin gue diwaktu gue hamil anak lo hah"
"Lo yang mau itu" Kata Sandi dingin.
"Gue hamil san, anak lo"
"Egois"
"Lo yang lebih egois"
"Lo gak boleh ninggalin gue"
"Lo gak berhak ngatur gue Ke, "
"Lo harus tetep sama gue hiks"
"Dan gue gak bakal lakuin hal bodoh itu untuk kedua kalinya." Desis Sandi tajam. "Gue uda kasih pilihan buat lo, Gugurin atau Cerai, Gugurin atau gue bakal ninggalin lo, dan kalau lo milih pilihan yang kedua, lo tau artinya kan? Lo bakal sendiri, gak akan ada yang mau sama manusia gak guna kayak lo lagi" Kata Sandi serius.
Kea mengusap mata rabunnya, ia lalu terkekeh diantara banyaknya air matanya yang jatuh. "Kalau gitu- Gue semakin yakin buat gak mau gugurin anak ini. Gue mau" Kea menatap Sandi dengan tatapan yang berubah bengis. "Lo ngerasain apa itu yang namanya terkekang, dan yang pastinya tanpa kedua pilihan yang lo kasih. "
Sandi menipiskan bibirnya, "Dan gue anggap lo pilih, pilihan yang pertama." Kata Sandi bengis.
Laki-laki itu lalu menarik lengan Kea, mencabut selang infus yang masih tertancap itu, menimbulkan teriakan kesakitan Kea. Seolah tuli, Sandi tak memperdulikan teriakan Kea. Ia lalu melepas jaketnya, memakainya pada tubuh Kea yang masih memakai seragam.
__ADS_1
"S-san mau apa lo?" Tanya Kea menahan isakannya.
Sandi menoleh, tatapan laki-laki itu keji, persis seperti tatapan ketika laki-laki itu menabraknya dulu.
"Menyelesaikan masalah" Katanya datar, ia lalu menarik Kea turun dari brankar. Kea yang terkejut langsung jatuh kelantai.
Sandi menyentaknya, memaksa Kea untuk bangkit walaupun perempuan itu sudah meringis dan mengernyit sambil memegangi perut bagian bawahnya. Sandi tak peduli, ia hanya ingin menyelesaikan masalahnya.
"S-san, sakit" ringis Kea mencengkram tangan Sandi yang sayangnya diabaikan laki-laki itu.
Ketika Sandi menarik pintu kamar rawat itu, disaat yang bersamaan tamparan keraslah yang ia dapat.
"Pa-pa?" panggil Sandi tergagap. Bukannya papanya sedang di Bandung. lalu, lalu bagaimana bisa, bingung Sandi panik.
Dan Kebingungan Sandi itu terjawab ketika ia mendapati kakek dan juga orang tua Elsa dibelakang papanya. Menandakan kedua orang tua Sandi baru sampai beberapa menit yang lalu bersama rombongannya.
"Mabuk-mabukkan, balap liar, main perempuan, pelaku percobaan pembunuhan dan sekarang- Kamu mau bunuh anak kamu sendiri." Kata Surya datar. Sandi menciut, tangannya masih mengganggam Kea yang kini terisak-isak dibalik punggungnya.
"Pa-"
"Papa kecewa sama kamu San, benar-benar kecewa." Kata Surya kian datar.
"Papa gak tau bagaimana papa harus mendidik kamu lagi San," Kata Surya gamang, laki-laki dewasa itu tampak sangat putus asa dan kecewa dalam sekali waktu pada anak semata wayangnya. Begitupun mamanya yang kini ikut terisak.
"Kalau kamu gak bisa menjadi sosok sempurna untuk Geano, gak bisa jadi suami yang mencintai Kea. Apa gak ada tergerak hatimu untuk jadi sosok ayah yang mencintai anakmu kelak. Menjadi pahlawan untuk anakmu kelak?" Tanya Surya membuat Sandi terpekur.
"Papa gak maksa kamu-
Kalimat Surya terhenti kala ia melihat darah yang menetes kelantai dibalik punggung Sandi.
"Kea?" panggil Kai khwatir.
Sandi membalikkan tubuhnya dan saat itu jugalah, Kea langsung masuk dalam pelukannya dengan tubuh yang sangat lemas. "P-perut aku sakit S-san" Adu nya sebelum memejamkan matanya. Jatuh kedalam pelukan Sandi seutuhnya.
Sandi tertegun, Tangannya mengepal.
ia marah
Marah ntah kepada siapa.
***
Dipersilahkan kepada semua readers untuk mengeluarkan pemikran dan komentar bijaknya.
__ADS_1
Bay the way, aku tuh suka speechles kalau baca komen kalian. Kayaknya kalian mulai bisa ambil sudut pandang gak cuma dari Kea ataupun Sandi doang ya.
Dan parahnya, Aku jadi kayak bangga gitu punya pembaca kayak kalian wkwkwk.