Salah

Salah
S-2 Salah (Papa) bagian 2


__ADS_3

Pagi itu, suasana meja makan terasa sunyi dan asing. Sandi yang biasanya heboh dengan masakan paginya kini hanya membuat roti panggang dalam diam.


Begitupun dengan Aiko, gadis kecil Sandi yang biasanya cerewet menanyakan semua barang-barang sekolah, kaus kaki, pena ataupun barang-barang sepele lainnya pada sang papa kini duduk diam dengan lesu, matanya bengkak karena banyak menangis. sesekali bahkan masih terdengar cegukan dan isakannya sisa tadi malam.


"Makan lah" Kata Sandi meletakkan roti panggangnya didepan Aiko.


Aiko tak menoleh, gadis itu hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya dari sang papa.


"Kamu nanti ada les Piano kan?" Tanya Sandi serak, tampaknya bekas ratapannya tadi malam membuat tenggorokannya kering.


Menghela nafas getir saat Aiko tak merespon ucapannya, Sandi akhirnya diam,


Dan pagi itu, menjadi pagi paling mencekam selain saat seminggu kepergian Kea dulu.


***


Aiko tak bersemangat menjalani hari-harinya disekolah, ditempat les ataupun dimanapun ia berada.


Sudah 3 hari ia dan papa saling mendiamkan semenjak pertengkaran mereka kala itu.


Jujur saja, Aiko menyesal telah menyakiti sang papa dengan kata-katanya yang keji.


Papa adalah sosok pahlawan dalam hidupnya, laki-laki berwajah bule yang mirip dengannya itu tak pernah sekalipun menaikkan nada suaranya ketika berbicara dengannya, laki-laki yang dulu dikenal sangat emosional itu bahkan selalu berbicara dengannya dengan nada lembut. Dubanding membentak dan memarahi, Papa lebih cenderung menutupi emosi nya untuk diri sendiri dibanding melampiaskanny, Terkadang, Aiko memergoki papanya yang akan meninju dinding ataupun duduk diam diruang sepi untuk meluapkan emosinya yang terkontrol ketika dihadapannya.


Papa, adalah sosok papa yang paling sempurna dalam hidupnya. Aiko bahkan tau, sangat tau kalau Papa adalah orang yang paling bersedih saat kepergian sang mama sembilan tahun yang lalu.


Saat membaca sebuah buku berjudul One second after, dimana ada dialog antara ayah tunggal dan anak sulungnya yang membahas kepergian sang mama.


Aiko Menyadari, ia mungkin kehilangan sosok mama, kehilangan sosok pelindung dan penyayang dalam hidupnya. Tapi papanya kehilangan istri, kehilangan sosok pendamping hidup, kehilangan bagian hidupnya, kehilangan sebagian cintanya, kehilangan penyeimbang hidupnya.


Aiko mengaku salah, tapi ia bingung harus bagaimana mengucapkannya.


"Aiko-chan, jangan melamun"


Aiko mengerjap, ia lalu menatap teman sebangkunya yang juga merupakan satu-satunya teman yang betah berteman dengannya walaupun sang papa sudah beberapa kali menegurnya.


Dia adalah Sakura, sama seperti namanya, Sakura adalah gadis ceria yang cantik, ia juga tak mudah tersinggung, dan lebih bersikap humble pada siapapun.


"Ah, gomen(Maaf)" Kata Aiko pelan, lalu kembali menunduk untuk membaca buku pinjamannya dari perpustakaan sekolah.


"Apa hubungan mu dengan otousan mu belum membaik?" Tanya Sakura hati-hati.


Aiko kian menunduk enggan menjawab, Aiko mungkin berkewarga negaraan Indonesia, memiliki darah campuran Belanda dan Tionghoa dari orang tuanya, tapi sifat Aiko benar-benar ciri khas orang Jepang sekali, kalem, tak banyak bicara dan begitu tertutup. Padahal, Aiko termasuk salah satu siswa populer yang sangat populer dikalangan teman sekolahnya.


"Cobalah untuk mengaku salah, kalian hanya mempunyai satu sama lain, jangan karena hal sepele kamu akan kehilangan kebersamaan mu dengan otousan mu" Kata Sakura,


Aiko terdiam, ia memikirkan ucapan Sakura, ah, Sakura memang mengetahui masalahnya, siapa lagi kalau bukan Papa Aiko tersayang yang memberi tahunya. Pasti papanya itu menjejali Sakura dengan banyak hal agar terus mau mengawasinya.


"Aku tidak berbicara pada mu untuk menghakimi, tapi aku hanya berpikir, betapa sayangnya otosanmu pada mu, beliau bahkan rela mengurangi jam kerjanya untuk menemui ku diam-diam selama ini untuk mengetahui keadaanmu disekolah."


Aiko semakin diam, Gadis itu menahan tangis saat membayangkan wajah papanya, hanya membayangkan saja, rasa rindunya sudah tak dapat terkontrol.


"Ah, Aiko-chan. Jangan bersedih. Sebelum kamu semakin larut pada kesedihanmu, bagaimana kalau kita juga memberi kejutan untuk Kekasihmu diulang tahunnya besok"


Aiko mendongakkan kepalanya, "Ulang tahun, ah, aku melupakannya" Kata Aiko memukul kepalanya pelan, bagaimana ia bisa lupa akan ulang tahun kekasihnya sendiri.


Masalah ia dan sang papa benar-benar menyita waktu dan pikirannya.


Sakura tersenyum senang,"Jadi~ bagaimana rencana kita besok"


Aiko ikut tersenyum, ada sebuah rencana yang terpantri dalam kepalanya.


***


Sore itu sepulang sekolah, Aiko dan Sakura pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli mantel baru yang nantinya diberikan kepada Ryoma sebagai hadiah ulang tahun.


"Aiko-chan, apa kamu benar-benar yakin membeli mantel disini?" Tanya Sakura takjub saat mereka memasuki store pakaian remaja dengan brand lokal yang cukup ternama di Jepang.


"Ha'i, aku dengar brand ini cukup bagus untuk remaja laki-laki" Sahut Aiko tak fokus, gadis itu memilah mantel dengan kualitas terbaik itu dengan jeli.


"Ayo kita ke stand makanan dulu, aku lapar" Kata Aiko begitu mereka keluar dari lantai yang penuh pakaian mewah itu. Sakura mengiyakan, mereka lalu menuju tempat makan yang sering mereka kunjungi saat keluar bersama.


"Apa kamu nggak menyesal menghabiskan dua puluh ribu Yen untuk satu barang yang terlihat simpel ini?" Tanya Sakura masih mencoba menyangkal ketika akhirnya Aiko mengambil satu mantel dengan warna krim yang bagus tadi.


Sakura tau, Aiko termasuk anak orang kaya, tanpa harus berteman dekat dengan gadis bule itu saja Sakura dan semua orang akan tau kalau Aiko Geano termasuk anak orang kaya, pakaian dan semua hal yang melekat pada tubuhnya adalah barang-barang branded yang terkadang tak cocok dimiliki anak SMA seperti mereka.


Aiko tertawa, "Tentu saja nggak, lagian, kualitasnya bagus, sebentar lagi musim Salju, pasti cuacanya sangat dingin, aku hanya ingin terbaik untuk- Bukan kah itu Ryoma?" Tanya Aiko mengerutkan kening saat melihat sang kekasih yang berdiri tak jauh dari mereka, sedang berbincang sebelum akhirnya memasuki sebuah cafe yang ada dipusat perbelanjaan itu.


Aiko tak akan seheran itu jika saja Ryoma sendiri atau pergi bersama teman laki-lakinya yang lain. Tapi, Aiko tak habis pikir saat Ryoma tampak santai dan akrab dengan seorang gadis yang baik Aiko ataupun Sakura kenal dengan baik. Honomi, Gadis terpopuler kedua setelah Aiko itu tampak nyaman bergandengan tangan dengan kekasihnya.


"Aiko-


Sakura bingung harus beraksi seperti apa, ia juga terkejut oleh fakta yang mereka lihat barusan. Ryoma berselingkuh.


"Ryoma mengirimi ku pesan kalau ia akan menemani okasannya belanja sore ini" Kata Aiko tenang, namun Sakura menangkap nada getar diujung kalimatnya.


"Apa aku sudah dibohongi?" Tanya Aiko terkekeh pelan, mata hijaunya mulai memerah. "Aku akan menghampirinya" Kata Aiko tanpa bisa dicegah.


Sakura berlari hendak menahan tapi emosi gadis bule itu sudah tak dapat terkontrol, tolong ingatkan kalau ia bukan hanya mewarisi wajah sang papa, atau mewarisi sifat lemah lembut mendiang sang mama. Aiko mewarisi sifat emosional dan ego tinggi kedua orang tuanya.


"Sumimasen," Kata Aiko tersenyum tipis saat melihat keterkejutan pasangan muda itu.


"A-aiko Chan" Gagap Ryoma.


"Hm" Balas Aiko datar, mata hijau nya mulai dilapisi sesuatu yang bening itu berpendar.

__ADS_1


"Sejak kapan kalian berkencan? oh, atau lebih tepatnya sejak kapan kalian bersekongkol untuk mengkhianatiku" Tanya Aiko pelan.


Ryoma mengalihkan tatapannya, remaja itu tampak begitu gugup, sedangkan Honomi menungkikkan alisnya tak terima, "Apa yang kamu maksud, Aku dan Ryoma sudah berpacaran sejak kami SMP, dan aku-


"SMP? wah?" Aiko menghapus air matanya yang jatuh dengan kasar.


"Yah, apa masalahnya untukmu, ah, Aiko-chan, Aku tau kamu ngefans dengan Ryoma, tapi bisakah kamu tak mengganggu-


"Wait? Fans?" Tanya Aiko linglung, "Wah, apa aku sebodoh itu? Ryoma-kun, kamu bilang pada pacarmu ini kalau aku fans mu? Cih, drama bodoh apa yang kamu perankan sebenarnya Ryoma Tanaka yang terbodoh. Aku- " Aiko tak dapat menahan rasa campur aduk dalam dirinya.


"Apa kamu tau- A-aku bahkan bertengkar dengan papaku untuk membelamu, menghabiskan uang berpuluh-puluh ribu Yen hasil tabunganku untuk membelikanmu hadiah. T-tapi kamu-


Brak


Aiko agak berjengit saat Ryoma tiba-tiba memukul meja dengan keras, membuat mereka menjadi tontonan semua pengunjung cafe yang agak ramai hari ini.


"Aiko-chan, bisakah kamu dengar. Aku dan Honomi sudah berpacaran sejak SMP, dan yah, kamu sekedar mainanku, jadi tolong berhenti mengungkit hal-hal bodoh yang tak perlu aku tau, itu tidak penting untukku dan perlu aku perjelas, Aku tak tertarik denganmu selain senang menjadikanmu mainan, lagi pula siapa yang akan betah berhubungan dengan cewek manja sepertimu, yang selalu ingin dinomor satukan dalam segala kondisi, yang selalu mendapat pengawasan dari otusan kuno mu itu"


"Apa maksudmu, Otousanku adalah laki-laki terbaik dalam hidupku, dia gak b*jingan kayak kamu. Sialan!"


"Yah, yah, terserahmu. Baka dan kebetulan yang bagus kita bertemu, aku sudah muak dua tahun bersama mu, jadi mari kita akhiri hubungan bodoh ini. Cih, bahkan didua tahun kau menjadi selingkuhan ku, kau masih tak mau memberikanku ciuman- Plak


Aiko menampar Ryoma dengan keras, Ia menatap mantan kekasihnya itu penuh dendam. "S*alan, jadi itu yang kamu harapkan dariku, bodoh... Aku membencimu B*jingan, kamu bahkan lebih b*jingan untuk disebut b*jingan asal kamu tau hah! Dan kamu Honomi, kamu dengar sendirikan betapa busuknya pikiran pacarmu itu. Cih" Aiko menghentakkan tangannya.


Gadis itu lalu berjalan cepat keluar dari cafe, menangis terisak tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang menatapnya.


Ketika Aiko kian tak mampu menahan tangisnya, gadis itu berlari dengan mata buram, namun gerakannya terhenti saat seseorang menarik lengannya, membuat tubuhnya berbalik dan memeluk seseorang.


Aiko kian menjadi, itu papanya. Laki-laki terbaik yang sudah ia sakiti terlalu dalam. "Papa hiks, "


"Stt, papa disini,"


"Huks, papa, papa huhu"


"Iya sayang iya, papa disini, papa disini sama Aiko, dan selalu sama Aiko sampai kapan pun. jangan nangis ya, papa ikut sedih"


"Hiks"


***


Malam itu menjadi malam yang canggung untuk sepasang ayah dan anak itu.


Aiko menangis berjam-jam dipelukan sang papa begitu mereka sampai dirumah, dan kali ini Sang papa tak berkomentar apapun.


Laki-laki itu hanya menciumi pucuk kepala anak gadisnya sebagai usaha menenangkan. "Stt, bayi gendut gak boleh nangis lagi ya"


Aiko mengeratkan pelukannya, panggilan itu, panggilan menyebalkan itu sudah lama sekali tak ia dengar, dan Aiko merindukannya. "Papa hiks,"


"Stt, bayi gendut papa" Kata Sandi sayang.


Aiko mengangguk dengan wajah basah, mata bengkak dan wajah lusuhnya membuat hati Sandi berdenyut tanpa diminta.


"Tapi janji jangan nangis lagi ya,"


Aiko kembali mengangguk, ia menghapus air matanya kasar, "Mana h-hadianya huks" Aiko berusaha mengontrol tangisnya dan mencoba bersemangat.


"Papa belum siapin hadiah, tapi nanti kalau kamu beneran berhenti nangis baru papa kasih hadiah apapun, sekarang, papa mau kasih kamu tebak-tebakan dulu."


Aiko berdesis jengkel disela tangisannya saat sang papa tertawa menggodanya.


Sandi tersenyum geli, papa muda itu lalu mengambil dua kertas yang sejak semalam ia siapkan dinakas. "Coba dibuka, nanti dalamnya ada hadiahnya deh" Kata Sandi sambil memberikan dua kertasnya.


Aiko mengerucutkan bibirnya, tapi gadis itu segera mengambil salah satunya. Dan begitu ia membukanya, Tangisannya kian menjadi.


'Papa minta maaf'


Sandi menggeleng saat Aiko kian tergugu dan hendak memeluknya. Laki-laki itu memberi perintah untuk membuka semua kertasnya.


Dikertas kedua.


'Aishiteru bayi gendut'


"Huks papa huks, maafin Aiko hiks" Aiko memeluk papanya dengan tangisn yang kian menjadi, dan Sandi tak tahan untuk terus menahan tangis, laki-laki itu ikut tergugu dipelukan putrinya.


"Aiko sayang papa hiks, maafin Aiko"


"Papa juga sayang Aiko, sayaang banget."


Lama keduanya menangis bersama, melepas rindu. Mereka mungkin tak saling mengungkit masalah, tapi. Dengan mereka saling mengakui kesalahan satu sama lain. Keduanya merasa lebih baik.


**


Pagi itu, Menjadi pagi yang mencerahkan setelah tiga hari keluarga Geano itu mengawali pagi dengan suram. Seolah mereka sepakat untuk mengawali hari dengan kebahagian baru.


Sandi pun sibuk memasak sarapan pagi dengan kebisingan dapur yang ntah bagaimana duda satu anak itu lakukan. Dan Aiko, si gadis cantik Geano itu sedang berteriak heboh mencari buku-buku yang tiga hari lalu ia lempari saat marah.


"Dimananya pa, tapi gak ada dikamar!" Teriak Aiko dari lantai atas.


"Ada sayang, di nakas kamu"


"Gak ada pa, ih"


"Ada,"


"Nggak pa ih.. Mana sih, bantuin dulu dong pa, disitu ada catetan presentasiku tau"

__ADS_1


"Cari dulu"


"Papa ih"


"Ya ampun"


"Ah, makasih papa"


"Papa! sepatu sekolahku kok hilang sebelah, semalam papa taruh mana"


"Pa, bantuin aku kepang rambut dulu dong, kayaknya kawai"


"Pa"


Sandi menghela nafas, ia lalu menyusun sarapan mereka, terkadang disituasi seperti ini, Sandi langsung mengingat almarhum istrinya. Biasanya Kea akan menyiapkan sarapan dengan enak, lalu akan mengomel ketika ia meminta pasangkan dasi, dan akan menggerutu tertahan saat gadis kecil mereka heboh dengan barang-barangnya.


Sandi tersenyum, kenangan itu sulit sekali ia lupa kan.


"Papa"


"Ya ampun apa lagi Bayi gendut? Uda kita ngepangnya nanti aja, kita sarapan dulu-


"Papa,"


Sandi tersentak saat Aiko memeluknya secara tiba-tiba.


"Aku punya hadiah buat papa, coba buka" Kata Aiko manis.


Sandi mencibir sambil menerima kotak persegi itu dengan dumelan. "Halah, gaya mu aja yang-


Sandi tertegun saat mendapati figura kecil dengan lukisan yang mirip fotonya dan Kea yang dikoyak Aiko waktu itu terpampang didepannya.


"Sayang-


"Waktu aku habis koyak foto itu, aku liat papa ngelemnya dan letakin foto itu lagi dinakas kamarku hiks" Aiko menghapus air matanya.


"Tapi gak rapi hehe hiks" Kata Aiko mencoba tertawa, "Jadi malamnya aku lem ulang. Aku nyesel banget" Kata Aiko.


"Hampir satu maleman aku lem, tapi gagal, malah tanganku yang lengket." Aiko menghapus air matanya.


"Aku bingung harus ngembaliin foto itu gimana agar jadi sempurna kayak awal. Karena foto itu sumber kebahagian dan semangatku"


Sandi menahan getaran bibirnya


"Jadi, besok sorenya sepulang sekolah aku kerumah uncle Akira buat cari solusi. Habis itu uncle Akira sama Aunty Ayumi saranin buat aku ngelukis ulang." Aiko tersenyum, "Papa tau, walaupun dari dulu aku suka musik sama balet, tapi aku juga anak papa, anak dari Sandi Geano si Arsitek terkenal di Jepang hehe, Anak dari Sandi Geano si pahlawan super yang suka gambar, walaupun lukisan ku gak sebagus punya papa tapi-


Grep.


Aiko tergugu saat papanya menariknya kepelukannya.


"Maaf pa, hiks maaf, Aku sayang papa, beneran sayang papa, papa yang terbaik dalam hidupku, makasih selalu ada buat aku, makasih uda mau ikut gantiin sosok mama buat aku, makasih pa. Makasih, papa, papa terbaik pokoknya hiks, maafin Bayi gendutmi ini ya, Aku sayang papa "


"Lukisan ini, lukisan terbaik yang pernah papa dapatkan, makasih sayang, makasih bayi gendutnya papa. Papa lebih-lebih sayang sama Aiko, Aiko jangan tinggalin papa ya, Aiko jangan nangis lagi ya, hati papa sakit banget kalau Aiko nangis kayak semalam"


"Papa huks"


"Bayi gendutnya papa"


Mereka saling berpelukan, sebelum sebuah suara perut Aiko memecah keheningan.


"Laper, "


Sandi terkekeh, ia lalu menarik Aiko kekursi makan. Meletakkan salad sayur didepan si gadis.


"Mirip punya mama" Kata Aiko menahan tangisan yang hampir kembali tumpah.


Sandi terkekeh,


"Walaupun rasanya nano-nano dan gak seenak punya mama, tapi ini beneran mirip buatan mama" Kata Kea menyuapkan salad itu kemulutnya.


Sandi mengangguk, ia ikut menguyah sarapannya dengan air mata jatuh.


"Pa, aku kangen mama"


"Papa juga"


"Aku ngerasa mama disini, aku benaran kangen mama"


Sandi terkekeh, "Papa juga"


Keduanya saling pandang, "Papa ngikutin aku terus" Kata Aiko terisak.


Sandi terkekeh, lalu keduanya kembali diam, mereka menatap hal yang sama, satu kursi kosong diantara mereka.


Dan seolah sebuah layar imaji membawa mereka kemasa lalu, dimana mereka masih bisa melihat dan memeluk kehangatan dari sipemiliki kursi kosong itu.


Yang selalu sibuk dipagi hari, membantu sikepala keluarga memakai dasi, menolong sikecil yang banyak tanya, sosok yang selalu semangat disepanjang hari, sosok yang menjadi alasan mereka menahan lapar sampai dirumah, sosok yang membuat suasana meja makan kecil ini penuh kenangan. Sosok yang sangat mereka rindu.


Aiko mendorong kursi makannya, membuat Sandi terbangun dari ingatannya.


Aiko lalu memeluk leher papanya dari belakang, Dan Sandi memejamkan matanya.


Mereka tersenyum, senyum bahagia yang berselimut Rindu.


***

__ADS_1


Bagaimana perasaanmu dibab ini?


__ADS_2