
Dan Sandi tak mau melewatkan kesempatan itu, satu hari ini saja, biarkan ia melepas rasa rindunya pada isterinya. Sebelum ia harus ditampar kenyataan kalau ia harus sadar diri bahwa sebenarnya ialah yang menghancurkan Keanya. Bahkan, sejak dulu.
Sandi membaringkan Kea ketempat tidur masih dengan memeluknya. Sandi benar-benar merindukan Keanya.
***
Sandi masih sibuk berkubang pada mesin mobil pelanggan bengkel ketika Joni -rekan kerja yang cukup baik padanya- menepuk pundaknya.
"San"
"Hm?"
"Ada temen lo itu nyariin" Beritau Joni, "Ini mesin biar gue yang urus, lo temui temen lo dulu itu"
Sandi berdecak, "Temen gue siapa elah? Mario? Beni?Deni? Suruh masuk aja lah"Kata Sandi agak kesal.
Joni menepuk pundak Sandi sekali lagi, "Uda sana temui, kayaknya penting soalnya-" Joni agak mendekatkan tubuhnya, "Mau bahas masalah lo sama isteri lo katanya" Bisik Joni.
Sandi yang awalnya terkesan cuek, langsung menatap Joni penuh tanya. "Siapa?" Tanyanya datar.
Joni kembali berbisik, "Robi" Kata Joni, "Orangnya dibengkel luar, dan kayaknya lo harus ganti baju dulu buat ngomong sama dia, kalau bisa cari tempat ngobrol yang nyaman, jangan disini ntar anak-anak makin menjadi-jadi" Kata Joni menasehati, pemuda kisaran umur 23 itu menatap Sandi serius, pasalnya, hubungan Sandi dan pekerja lain memang tak ada akurnya walaupun sudah hampir setahun bekerja dinaungan yang sama.
Apalagi semenjak beredar kabar kalau Kea yang sedang mendapat penanganan khusus di RSJ, teman-teman kerja Sandi makin sering mengejeknya. Mereka memaki Sandi seolah mereka lupa siapa Sandi dan Kea sebanarnya. Padahal jika Sandi mau mengadu pada Kai, mungkin dengan sekejab mata mereka tak lagi bisa mencicipi pekerjaan layak didunia montir selama masih dikisaran kawasan ini.
Hanya Joni yang berpikiran terbuka, pemuda itu bahkan beberapa kali memberi Sandi wejangan. Karena mau bagaimana pun, Sandi tetaplan pemuda yang masuh butuh bimbingan tanpa penghakiman.
Dan Sandi juga tak ragu untuk membicarakan masalahnya pada rekan kerjanya itu, dan karena itu, pastilah Joni tau, siapa Robi dikehidupan rumah tangga Sandi dan Kea.
"Jangan pakai kekerasan San, ngomong tenang. Dengerin apa maunya, jangan ceroboh dan buat lo nyesel berkelanjutan" Kata Joni lagi.
Sandi mengangguk, "Thanks bang" Kata Sandi lalu mencuci tangannya dan berganti pakaian. Yah, ia harus menemui Robi dan berbincang dengan kepala dingin.
***
"Gue turut berduka buat meninggalnya anak lo" kata Robi memecah keheningan setelah cukup lama mereka duduk berhadap-hadapan disebuah kafe tak jauh dari bengkel.
Sandi menoleh, menatap mantan saingan balapannya itu dengan tenang, "Ya" Katanya datar, bukan berniat sombong dan kaku tapi sejujurnya Sandi masih agak sensitif jika ada yang membahas Angela walaupun sudah hampir empat bulan berlalu kepergian gadis kecil itu.
Yah, empat bulan, dan sudah selama itu juga Kea sakit, dan sudah selama itu juga Sandi kehilangan minatnya dalam kehidupan.
"Gue benar-benar gak tau, kehadiran gue waktu itu buat keluarga lo berantakan."
Sandi mengangguk, "Bukan salah lo, gue yang salah karena termakan amarah. Padahal setelah gue pikir ulang. Itu cuma masalalu , lagian Kea juga niat balas dendam sama kejahatan gue dulu." Kata Sandi.
Robi terdiam, "Gue gak nyangka lo bisa ngomong kayak gini kegue tanpa saling pukul. Gue- Gue minta maaf, gue waktu itu cuma kemakan kesel karena Yuda sakit dan dia terus manggilin Kea. Gue panik karena gue gak pernah ngurus Yuda yang sakit. Yang ada dikepala gue waktu itu adalah datang ke Kea dan nagih janjinya buat balik sama Yuda. but, kayak yang lo tau. Gue kaget karena gue baru tau kalau dia uda nikah sama lo, bahkan sebelum perjanjian itu kita buat. So- Gue bener-bener minta maaf sama lo San." Robi menarik nafas pelan.
__ADS_1
"Gue tau gue kekanak-kanakan, dan itu pasti juga nyentil harga diri lo sebagai suami. Jadi sekali lagi, gue minta maaf San"
Sandi mengangguk, "Gue juga minta maaf waktu itu mukul lo"
Robi terkekeh, ia mengangguk, "Gue denger Kea dirawat karena masalah itu?"
Sandi kembali menatap Robi, ia agak tak suka saat Robi menanyakan Kea, tapi ia berusaha tenang. "Ya, dan keadaanya mulai membaik disebulan terakhir, dia mulai bisa ngontrol emosinya dan mulai bisa nerima kenyataan kalau Angela uda gak ada."
"Angela?"
"Anak kami"Kata Sandi, ada nada getir disuaranya dan Robi menyadari itu.
"Sorry"
"Lo ngomong maaf mulu, gue kesannya jadi risih banget Rob" decak Sandi.
Robi tertawa pelan, tapi setelahnya ia kembali serius, "Tapi Kea beneran uda baikkan kan?"
Sandi mengangguk, "Yah, dia uda mulai baikkan, uda bisa diajak komunikasi juga, sama temen-temannya juga mulai mau ngobrol. Kayaknya dia uda bener-bener baik, asalkan gak ada gue disekitarnya" Kata sandi miris yang membuat Robi diam.
Yah, Kea memang sudah sehat secara mental walaupun masih mendekam dirumah sakit jiwa. Itu disebabkan, Sandi dan keluarga ingin Kea mendapat penanganan yang maksimal sebelum benar-benar pulang.
Dan diseminggu terakhir, Sandi bahkan sudah melihat Kea tertawa terbahak ketika bercerita dengan Sheril dan Ninda. Yah, Kea baik-baik saja. Asal tak bertemu dengannya. Oleh karena itu, Sandi bahkan tak berani memunculkan sedikitpun bagian tubuhnya didepan Kea. Tak sepeduli apapun ia rindu pada Perempuan berkaca mata itu. Sandi tak pernah muncul.
"Sorry San"
Robi tertawa, "Anj*ng" Makinya tertawa.
"Tapi- Lo bilang tadi Yuda sakit? Sakit apa?" kata Sandi menyandarakan punggungnya kekursi.mencoba rileks.
"Lo yakin nanyain kabar mantan pacar istri lo?" Ejek Robi jenaka.
Sandi mendengus, "Gue basa-basi doang sebenarnya"
Robi tertawa lagi, "Yuda gak sakit apa-apa, waktu itu cuma demam, galau putus cinta juga kayaknya. Atau culture shock juga, dia kuliah di Belanda, kaget kayaknya."
Sandi berdecak, "Ke Belanda? Lo juga?"
Robi menggeleng, "Gue gak sepinter Yuda omong-omong. Gue kuliah di Surabaya"
"Dan balik cuma buat ngomong ini sama gue?" Kata Sandi tak percaya.
Robi mengangguk, "Gue gak mau ngerasa bersalah seumur hidup gue San. Gue mau semuanya lurus. Gue gak mau jadi tokoh antagonis dikehidupan orang lain."
Sandi mengangguk, "Thanks," Kata Sandi tulus.
__ADS_1
"Gue gak nyangka lo berubah banyak San"
"Apa maksud lo?"
"Lo berubah, lebih dewasa nangani masalah, lebih tenang juga, hilang uda sikap tempramen lo"
Sandi tersenyum, "Gue biasa aja, omong-omong lo beneran kuliah di Surabaya, Gimana sama Tiger" Tanya Sandi mengubah topik. sungguh, dipuji oleh orang yang sama-sama lelaki, itu aneh, terasa sangat aneh.
Robi berdecak, "Gue uda dewasa San, gak penting geng-gengan lagi, Waktunya susun rencana masa depan kan. Kalau lo, gimana? Masih stuck kerja atau lo ada rencana lain?"
Sandi menatap Robi, "Gue ambil paket C, gue mau lanjutin pendidikan. Yah, setidaknya gue gak harus dapet ijazah SMP doang kan."
Robi mengangguk, dan sore itu mereka habiskan untuk berbicara dan bertukar pikiran. Sandi benar-benar menepati janjinya. Ia akan merubah sikapnya.
***
Hari sudah gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika Sandi menyelinap masuk kedalam ruangan Kea. Kegiatan ini sudah biasa, bahkan para perawat yang mejaga Kea juga membiarkan Sandi melakukan aksinya. Walaupun hal itu sudah melanggar aturan rumah sakit, tapi mereka tampak diam, juatru terkesan biasa saja. Mungkin keluarga Kea dan sandi sudah membicarakan ini pada pihak rumah sakit.
"Hei, selamat malam Ke" Bisik Sandi sambil menarik kursi tunggu kesebelah ranjang Kea.
"Maaf baru jenguk, kata mama kamu uda bisa pulang besok ya?" Kata Sandi menciumi tangan Kea.
"Maaf ya, aku gak guna banget jadi suami kamu, gak pernah liat kamu. padahal aku kangen banget sama kamu. Aku cuma gak mau kamu sakit lagi karena liat aku" Sandi menunduk saat air matanya jatuh. Ah, semenjak ia kehilangan Angela, tampaknya ia semakin cingeng sekarang.
"Tadi, Aku ngomong sama Robi, dan kamu pasti gak nyangka kalau aku gak mukul dia. Aku uda berubah Kea.. " Sandi tergugu sambil menciumi tangan Kea.
"Maafin aku ya"
"Ya" Bisikan itu membuat Sandi berjengit. Mata berairnya menatap Kea yang kini menatapnya dengan mata sayu.
"Kea?"
"Ya?"
"Kamu-" Nafas Sandi tercekat, selama empat bulan kea dirawat, baru kali ini perempuan itu menatapnya tanpa menjerit.
"Kenapa kamu baru dateng sekarang? Mau ngulangi hal yang sama?" Tanya Kea datar.
Sandi tertawa, ia menggeleng dengan air mata yang bercucuran. Hatinya menyeruak haru. Dan tanpa Sandi pikirkan dua kali, ia mencium bibir Kea. Menyalurkan rasa harunya.
Keanya menerimanya.
Keanya sembuh..
***
__ADS_1
Eps kali ini isinya dialog utuh antara Sandi dan Robi, tapi kalau kalian baca perlahan, kalian bakal tau apa kesulitan dan apa yang dialami Sandi selama empat bulan terakhir.