Salah

Salah
S-1 Amukan


__ADS_3

"Ayo" Ajak Sandi menarik Kea, malas membalas teriakan Elsa. Karena Sandi tau, masalah itu akan berlanjut sampai tahap perselisihan antar orang tua. Dan ujung-ujungnya nanti juga Sandi dan orang tuanyalah yang salah. Yah, nasib menjadi cucu dan anak tertua dari Geano, selalu dituntut mengalah dan sempurna.


Saat Sandi dan Kea sudah akan melangkah, teriakan Elsa sempat menghentikan keduanya.


"Lagian lo jangan sok berkuasa deh San, Ngurus isteri aja lo gak bisa, apalagi ngurus perusahaan nantinya. Dih, dih, Menyedihkan!"


Dan Kea merasa, kelanjutan dari masalah ini akan berakhir buruk padanya karena Sandi yang berdesis marah dan genggamannya yang terlalu kuat dilengannya.


***


"Puas lo?" Tanya Sandi berang setelah mereka sampai di kamar hotel. Hari ini mereka memang akan menginap dihotel, mengingat keadaan yang baru saja terjadi tak memungkinkan keduanya menginap dirumah kakeknya.


Kea melepas cengkraman tangan Sandi dilengannya. Ia lalu mendongak untuk balas menantang mata Sandi yang sudah memancarkan emosi yang menumpuk.


"Puas? Apa maksud lo? Kalau puas buat sepupu sia*an lo itu kapok, gue belum puas asal lo-


Plak


Kea memegang pipinya yang menjadi sasaran tangan ringan Sandi. Ini bukan merupakan tamparan pertama Sandi, tapi ntah kenapa Kea merasa tamparan kali ini begitu menyakitinya. Tidakkah Sandi ingin mengetahui kejadian sebenarnya?


Mungkin dulu, Kea tak akan masalah jika ada yang mengatainya tuli dan buta, tapi semenjak ia mengenal Sandi, Kea tak ingin direndahkan. Ia ingin bangkit, ia tak ingin dipandang sebelah mata sebagaimana Sandi menatapnya. Kea tak suka. Kea ingin menjaga harga dirinya. Tidakkah Sandi tau?


Sesaat Kea terkekeh sendiri, Sandi tau? Kenapa Kea bisa berpikir konyol. Tentu saja Sandi tak tau, laki-laki itu mungkin malah senang jika Kea direndahkan dan dimaki-maki oleh orang lain. Yah, Sandi tetaplah Sandi.


"Bukannya gue cuma nyuruh lo diem dan gak usah ladeni siapapun yang nyapa lo?" Desis Sandi, yah, Sebelum mereka masuk kerumah kakek Sandi pagi tadi, Sandi memang sempat memperingatinya untuk tidak terlalu dekat dan meladeni keluarganya yang menyapa mereka.

__ADS_1


"Tapi dia yang mulai-


"Lo itu bodoh atau tuli parah si Ke? Gue rasa waktu gue ngomong sama lo tadi alat dengar gak guna lo ini kepasang dengan rapi, apa lo emang sengaja, Sengaja cari masalah sama keluarga gue yang lain. Biar gue semakin disalahin, biar gue semakin dipojokin, biar gue semakin gak dianggap berguna sama mereka semua. Iya! Itu yang lo mau kan! Gue menderita, gue tertekan itu kan yang lo-


Plak


Kali ini Sandi yang terdiam, Kea menamparnya sambil menahan tangis, napas perempuan itu mulai memburu menandakan emosinya yang mulai diluar kendali.


"Lo berani nampar gue?" Tanya Sandi dingin, laki-laki bermarga Geano itu maju mendekati Kea, mengukung perempuan berkaca mata itu saat Kea sudah terjebak oleh dinding kamar.


"Gue tanya! Lo berani nampar gue hah!" Teriak Sandi menggebu.


Kea mengkerut, tapi ia berusaha menatap mata Sandi dengan sedikit mendongak. "Yah, gue berani, mau apa lo hah!"


"Lo juga hancurin mimpi gue bangs*t, jangan selalu nyalahin gue, lo juga ikut andil untuk semua kehancuran ini, lo itu-


"Gue apa!" Teriak Sandi, "Asal lo tau Ke, dari awal lo yang narik gue kekehidupan lo, dari awal lo yang buat gue terjebak dipernikahan menjijikkan ini, dari awal yang gak mau mengakhiri hubungan ini ya Elo, Elo Ke!" Amuk Sandi menumbuk dinding disebelah wajah Kea. Kea memejamkan matanya, perlahan pertahanannya runtuh. Perempuan itu terisak-isak.


"Dan asal lo tau Ke, Semua orang selalu ngehakimi gue buat semua kebodohan lo. Semua orang berpikir kalau gue yang salah, semua orang berpikir kalau gue yang bajingan. Padahal, padahal semua masalah ini yang buat rumit itu elo! Elo ke, Elo! Heh, Gue kerja, Gue Kerja Ke, gue lepasin semua kesenangan gue karena gue harus tanggung jawab sama lo, gue harus lepas sekolah gue karena akal busuk lo. Gue-" Sandi menunjuk dirinya sendiri.


"Gue, nyokap bokap gue, direndahin saudara-saudara gue yang lain karena lo. Harga diri gue diinjek-injek Ke. Lo denger itu, Harga diri gue diinjek-injek bangsat! Gue dianggap gak mampu, Gue selalu dapat penghakiman karena lo" Sandi menunjuk wajah Kea dengan jarinya.


"Gu-e hiks, apa salah gue hah, lo direndahin, lo disalahin, itu karena memang lo yang rendah hiks, karena memang lo yang salah-


"Wow, Jadi setelah buat gue ada dititik kayak gini, lo masih berani bilang gue yang salah? Heh, kalau lo gak tuli, kalau lo gak buta, kalau lo gak bodoh, kalau lo gak lemah. Setidaknya masalah ini gak gue tanggung sendiri. Setidaknya gue gak dapet penghakiman gue sendirian. Gue, semakin keliatan rendah dimata orang lain karena mereka ngeliat lo berharga Ke. Karena mereka liat lo kayak Berlian. Mereka selalu nganggap lo suci, sedangkan Gue- Sampah! Mereka gak tau- Pada kenyataannya, lo yang sampah!" Teriak Sandi menunjuk kepala Kea.

__ADS_1


"Gue hiks,"Kea menunjuk dirinya sendiri, "Gue memang berlian, Lo- Lo memang sampah, Lo yang udah buat gue kehilangan masa kecil gue San, lo yang uda buat gue hidup dibayang-bayang bullian, Lo yang uda buat gue ketergantungan psikiater dari kecil. Lo memang sampah! Lo memang bajingan, lo memang- Hmmpp" Kea mendorong dada Sandi saat laki-laki itu menciumnya.


"Gue- Sampah ya Ke? " Kata Sandi datar setelah ciuman mereka terlepas. "Kalau gue sampah, terus lo apa? Bangkai" Ejek Sandi.


"Kayaknya gue perlu ngasih lo pelajaran untuk membedakan apa itu sampah dan Bangkai deh Ke, tapi sebelum itu, kenapa gak kita manfaatin kamar hotel yang uda disewain mama sama papa kan?" Kata Sandi melirik tempat tidur luas dibelakang mereka.


Kea menggeleng, "Jangan Gila lo san, gue gak- Hmp"


Dan hari itu, Kea membenarkan firasatnya. Akhir dari masalah siram menyiram jus itu akan berakhir buruk padanya, Dan semoga tak kian bertambah buruk untuk kedepannya.


***


Kea bangun saat matahari sudah lengser keperaduannya. Perempuan itu masih menangis ketika Sandi menghampirinya dengan nampan makan malam.


Laki-laki itu menghela napas, lalu meletakkan nampan itu didepan Kea. Menatapnya sebentar sebelum kembali keluar dan kembali membiarkan Kea larut dalam tangisannya.


Sandi menutup pintu kamar hotel, laki-laki itu mengusap wajahnya dengan frustasi, dalam diam, ia menyesali perbuatannya. Menyesalinya untuk yang kedua kalinya...


***


Masih yakin sama pilihan timnya,


Dibab semalam kok banyak yang oleng ke Sandi, kenapa?


Kea sedih loh, wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2