
Kea pun akhirnya mengangguk lemas, ia benar-benar kelelahan.
Sampai akhirnya Kea tak dapat menahan rasa sakit ditubunya saat menuruni tangga, ia kembali merasa mual dan pusing ketika melihat kebawah, perempuan itu bahkan mulai menyadari dunianya berputar sebelum akhirnya kegelapan dan teriakan kedua temannya sebagai pengantar terakhirnya.
Disaat ia merasa tubuhnya terjerembab kelantai, dengan bagian perut yang ikut kram, Kea merasakan ketakutan yang luar biasa.
Apa ketakutannya terjadi?
***
Kea tergugu dipelukan mamanya, rasanya masih terbayang dengan jelas bagaimana tatapan-tatapan menghakimi yang ia terima setelah sadar tadi.
Kea terisak ketika suara dokter UKS terngiang dikepalanya. Ia hamil, dan sialnya lagi, ia pendarahan sehingga harus dibawa kerumah sakit.
Kea kian meremas baju mamanya kala ingatannya berputar kerespon kedua temannya. Kedua sahabat Kea sejak SMP itu bahkan menatapnya kosong penuh kekecewaan.
Lalu ucapan Sheril berdengung dikepalanya, "Gue baru tau kenapa Sandi benci banget sama lo Ke, gak salah sih dia, lo itu emang ******, memanfaatkan keadaan buat nutupi keburukan lo"
Lalu-
"Kea!"
"Kea, hei, denger mama" Teriak Kelli saat Kea seperti orang ketakutan, putri kesayangannya itu bahkan mungkin tak menyadari kalau telah menyakiti bahunya dengan cengkramannya itu.
Sekilas, Kelli seperti melihat Kea diumur tujuh tahun lalu, Kea yang depresi karena tak punya teman, Kea yang tempramen dan Kea yang ketakutan.
"Kea" Panggil Kelli pelan,
Kea menatap mamanya dengan mata basah, kaca mata sudah dilepas ketika perjalanan kerumah sakit tadi dan sekarang ntah dimana, Kea pun tak peduli.
"Kea" Panggil Kelli sambil menangkup pipi tirus Kea, "Kea kesayangannya mama sama papa, Kea punya mama sama papa, Kea gak sendiriam sayang, Kea punya kami, Kea hebat, Kea yang terbaik, tenang ya sayang" Bisik Kelli memberi sugesti.
Kea yang awalnya menangis tergugu tak dapat mengontrol tangisnya pun perlahan mereda, ia mengerjap kan matanya yang buram tanpa kaca mata, ia berusaha menatap mamanya.
"Kea hamil ma.."
"Iya sayang, iya.. Gak papa, Kea tau artinya nggak?"
Kea menggeleng didalam pelukan Kelli,
"Artinya Kea bakal punya pendukung baru nantinya, Kea bakal punya orang lain selain mama sama papa, Kea gak bakal kesepian lagi, "
"T-tapi dia anak sandi hiks" Kea kembali menangis.
"Stt,, Gak papa, sayang, gak papa, Sandi pasti sayang kalian, Sandi pasti seneng ya kan"
__ADS_1
"Tapi, karena dia- Kea gak punya teman ma hiks, S-sheril sama Ninda marah sama Kea" Adu Kea sesenggukan.
"Kea dikeluarin dari sekolah hiks, Kea gak boleh ikut ujian ma.. Kea gak boleh ikut lulus bareng temen-temen hiks hiks"
"Sebentar lagi Kea ujian ma.. Kea ujian hiks"
"Mereka nyalahin Kea ma, hiks.. mama" Tangis Kea semakin parah.
Kelli menatap sedih anaknya, air matanya sudah menggenang diujung pelupuk mata. Sejak lalu, ini lah yang ia takutkan. Kea yang terpuruk, Kea yang putus asa, Kelli tak ingin siklus hidupnya terulang, ia tak ingin Kea merasakan kesakitan yang sama, Kelli tak ingin Keanya mengalami penyesalan yang sama. Kelli tak ingin, ia tak ingin.
Tapi apalah daya dirinya, tak ada yang mampu Kelli lakukan selain memeluk Kea semakin erat direngkuhannya.
***
Kai merasakan tubuhnya tremor begitu mendapat kabar kalau anak dan istrinya dirumah sakit. Ia baru saja selesai meeting dengan kliennya, dan pikirannya semakin kacau saat Kelli mengatakan faktanya.
Kea hamil.
Putri kesayangannya hamil, Ya Tuhan, Kai bahkan dapat membayangkan apa yang akan dialami putrinya nanti, kilasan-kilasan masa lalunya berputar dan berdengung dikepalanya. Tangisan, amarah, dan makian menjadi satu. Kai ketakutan, ia ketakutan akan apa yang akan dialami Keanya nanti. Kai tak ingin semua kejadiannya terulang kembali. ia tak ingin.
***
Sandi tak tau apa masalah dan salahnya ketika ayah mertuanya datang dan menghajarnya didepan semua karyawannya.
Setelah Sandi terpekur kesakitan akibat tak ada yang berani menolongnya, selain karena Sandi tak memiliki hubungan baik dengan para montir selain Joni, mereka juga tak berani menahan atau mencegah jika bos besar sendirilah yang bertindak.
"Pulang kamu" Desis Kai berlalu pergi setelah melihat Sandi yang terbatuk-batuk, ada darah disudut bibirnya, menandakan Kai tak main-main ketika menghajarnya tadi.
Sandi dibantu bangkit oleh Joni, satu-satunya montir yang berhubungan baik dengannya.
"Lo bisa bangun San?" Tanya Joni sedikit prihatin.
Sandi mengangguk sambil memegangi pipinya, "Thanks"
"Lo mau balik?"Tanya Joni sambil menahan tubuhbSandi yang agak oleng.
"Yaiyalah balik Jon, lo gak liat bapak mertuanya uda ngamuk gitu? Ngapain anaknya lo San?" Ejek salah satu montir, Yoga namanya, dia adalah orang yang sama yang mengatai Kea hampir sebulan lebih yang lalu.
"Paling juga selingkuh, main apai nih ye" Ejek Toni, sahabat karib Yoga dibengkel.
"Maka kalau gak sanggup nikah dan nafkain anak orang jangan-
Sandi mengelap sudut bibirnya, ia sudah akan berbalik untuk memberi pelajaran pada dua sekawan itu saat Joni menghadang dada dengan tangan.
"Balik lo, selain masalah lo dulu, mereka biar gue yang urus" Kata Joni tegas, umur yang dewasa membuatnya disegani, termasuk Sandi yang langsung menurut.
__ADS_1
Sandi berdecih, ia mengganti baju montirnya dengan kaos lalu mengambil jaket dan mengambil motor untuk pulang. Saat memakai helm, Sandi meringis.
Sial, sakit sekali.
***
Ketika sampai dirumah mertuanya, Sandi hanya menemui pak Parlin, satpam rumahnya yang mengatakan kalau semua isi rumah sedang berada dirumah sakit karena Kea pingsan disekolah.
Rasanya Sandi ingin memaki saja, kenapa ayah mertua terhormatnya itu menyuruhnya pulang jika ia sendiri tak dirumah.
Sial.
Dan sialnya lagi, kedua orang tuanya sedang di Bandung dan rumahnya terkunci, membuat sandi tak punya pilihan lain selain menyusul Kea kerumah sakit yang alamatnya diberikan Pak Parlin.
Selama perjalan, Sandi hanya mampu memaki Kea dan ayah mertuanya, sepasang anak dan ayah itu benar-benar selalu menguji kesabarannya.
Begitu sampai diruang rawat Kea, Sandi langsung meringis saat kedua mertuanya menatapnya.
Kai sudah akan melontarkan amarah, tapi Kelli memeluknya dan menariknya keluar. Menyisahkan Sandi yang kebingungan dan Kea yang duduk termenung seperti orang- Depresi.
Sandi baru melangkahkan kakinya mendekat ketika suara parau Kea membuatnya terpaku.
"Gue hamil"
hamil? Kea hamil? Sandi terkekeh sambil berdiri tepat disamping ranjang Kea. "Jangan becanda lo Ke, kepala gue uda mau pecah sama banyak kerjaan dan kelakuan papa tercinta lo, jangan bikin gue-
"Gue beneran hamil San" Kata Kea terdengar seperti mengadu, persis seperti ia mengadu pada mamanya tadi.
Kea meraih tangan Sandi yang terjuntai, seperti orang ketakutan, Kea memeluk Sandi sambil menangis. Mata perempuan itu bergerak liar dan tangannya mencengkram punggung Sandi, memeluk laki-laki itu dengan posesif.
Kea benar-benar seperti orang dengan gangguan jiwa.
Sandi melepas pelukan Kea, tapi Kea kembali memeluknya. "S-san, lo gak ninggalin gue kan, kata mama hiks, kata mama-
"Ayo gugurin Ke"
Kea terpekur dipelukann Sandi ketika laki-laki itu membalas pelukannya.
"Ayo gugurin dia Ke," Bisik Sandi dengan suara bergetar. Kea tercekat.
***
Sory for typo guys,
aku males ngoreksi wkwkwk
__ADS_1