
Vidio yang disertai tawa perekam dengan agle yang menampilkan seolah-olah ciuman itu adalah ciuman yang mereka lakukan tanpa paksaan.
"Kalau vidio ini gue kirim ke grup sekolah, Gue jadi penasaran sama nasib lo selanjutnya deh Ke"
Kea menatap Sandi dengan gelengan ketakutan.
"Kayaknya setelah gue pikir-pikir hancur bersama lebih menyenangkan ya kan Ke?"
"Jadi gimana? Ini baru pembalasan awal gue loh Ke"
Dan Kea rasa, ia baru benar-benar mengakui kalau ia telah salah lawan.
***
Kea melirik Sandi, Laki-laki itu sedang duduk termenung dibangku taman belakang. Menatap bunga-bunga tanaman Kelli dengan pandangan kosong. Ini sudah seminggu berlalu semenjak Sandi benar-benar dikeluarkan dari sekolah.
Hari itu Surya benar, terlalu banyak foto diluar aturan Sandi yang membuatnya tak bisa kembali melanjutkan sekolah.
Dan Sandi tampak sering merenung semenjak itu, terkadang laki-laki itu benar-benar diam sepanjang hari.
Kea juga jarang bertatap muka dengan Sandi kecuali malam hari, Pagi-pagi mereka harus berpisah, Kea sekolah dan Sandi bekerja dibengkel sampai jam 7 malam. Begitu seterusnya. Dan malam ini sedikit berbeda. Jika biasanya Kea bersikap acuh dengan sibuk belajar atau menonton tv. Kali ini ia mendatangi Sandi ditaman belakang.
Kea tersenyum, Sandi tampak terpuruk akhir-akhir ini. Bukan hanya masalah sekolah, tapi juga tekanan keluarga dan lingkungan. Yang Kea tau, Sandi mendapat amukan dan ceramah secara personal dengan papanya beberapa hari yang lalu. Ternyata menjadi anak dan cucu tertua dikeluarganya membuat Sandi Ambisius dalam segala hal. Ah, atau lebih tepatnya dituntut menjadi ambisius. Sandi sangat mengutamakan sekolah karena nilai sekolah menjadi tolak ukur kakeknya. Dan sekarang ia dikeluarkan dari sekolah dengan tak terhormat.
Sandi tertekan ketika ia mendapat penghakiman dan semakin Sandi terpuruk ntah kenapa Kea merasa kian senang. Ia seperti berada diatas angin, rasanya begitu menenangkan sekaligus menyenangkan.
Kea merasa ia sudah seperti Psikopat saja, ah, apakah menjadi jahat memang semenyenangkan ini? Pantas saja Sandi senang menjadi jahat sejak mereka kecil.
"Lo gak kepikiran bunuh diri kan San?" ejek Kea ditengah keheningan.
Sandi meliriknya, "Gue gak sebodoh lo, omong-omong."
Kea diam, "Oya? Tapi lo semenyedihkan itu omong-omong"
Sandi menatapnya, "Menyedihkan? kaca dikamar kurang besar apa Ke?"
Kea mengepalkan tangannya, "Pertanyaan yang sama buat lo, Kaca dikamar kurang besar apa sampai manusia menjijikkan kayak lo masih berani hidup dikehidupa gue."
__ADS_1
Sandi tertawa, "Lo yang bawa gue ke kehidupan menjijikkan lo kalau lo lupa Ke"
Kea menipiskan bibirnya, "Tapi lo yang mulai, lo yang dari awal gangguin gue b*ngsat. Lo ngebuat gue menderita dari dulu" Teriak Kea kesal tak mau disalahkan.
Sandi diam, Lalu mereka benar-benar diam, tak ada lagi suara. Kea berusaha mengatur emosinya sedangkan Sandi kembali masuk dalam lamunannya.
"Besok minggu gue ke Bandung " Kata Sandi datar.
Kea mendengus, ia lalu tertawa, jenis tawa yang mengejek. "Lo lagi izin sama gue? "
Sandi melengos, "Besok minggu kakek gue ulang tahun, semua keluarga gue dateng. Dan lo juga harus ikut"
"Kenapa?"
"Karena-
"Kenapa gue harus ikut kumpul sama keluarga lo?" Tanya Kea tak habis pikir, selama hampir sebulan lamanya mereka menikah. Kea tak pernah dilibatkan dalam acara keluarga Sandi. Begitupun Sandi yang selalu tak dianggap ada diacara keluarga Kea. Mereka benar-benar seperti orang asing. Tak ada niatan antara kedua keluarga untuk saling mengenal dan berusaha dekat kecuali kedua orang tua dan kakek Sandi yang berusaha menerima keadaan.
Begitupun Sandi dan Kea, walaupun status mereka sudah dalam ikatan pernikahan. Tapi tak ada niatan keduanya untuk mengutuhkan arti ikatan itu sendiri. Mereka justru seperti mempermainkan ikatan sakral itu untuk saling menyakiti dan hanya menyakiti.
Saat mata mereka bertemu dalam segaris lurus. Kea mengerutkan keningnya. Sebenarnya ada apa dengan Sandi. Kenapa laki-laki itu benar-benar terlihat lebih terpuruk dari biasanya?.
***
Hari minggu itu benar-benar tiba dengan cepat. Dan disinilah mereka sekarang, Dirumah kakek Sandi yang sangat luas. Didalamnya terdapat banyak manusia bermarga Geano yang langsung memberinya tatapan menilai. Dari atas kebawah. Setelah puas menilai mereka akan membuang muka dan saling berbisik.
Kea tak begitu mengenal keluarga Sandi walaupun mereka bertetangga hampir seumur hidupnya. Yang Kea tau Keluarga Geano adalah keluarga yang hidup berkecukupan. Bisa dibilang keluarga Geano adalah keluarga kaya, lebih kaya dari pada kakek Kea dari pihak mamanya. Mereka mempunyai perusahaan besar dibidang perhotelan dan memiliki beberapa pusat perbelanjaan.
Tapi, Kea tak begitu tau kalau ternyata keluarga Geano ini tak lebih hanya kumpulan manusia-manusia gila kekuasaan yang saling merendahkan. Merek Benar-benar definisi keluarga kaya yang berperangai buruk, Kecuali kedua orang tua Sandi yang tampak terpihat sederhana dan 'Kalem' dalam berbagai suasana, begitupun dengan kakek Sandi yang tampak bijak walaupun Kea tau, laki-laki tua itu memiliki mulut yang tajamnya luar biasa. Terbukti dari beberapa kali Sandi mendapat sindiran dan makian waktu itu.
"Lo Kea kan" Tanya dengan nada retoris itu menusuk alat dengar Kea yang hari ini terpasang rapi.
Kea mengangguk kaku, sudah hampir setengah acara dan baru kali ini ada yang mengajaknya berkomunikasi kecuali mertuanya beberapa saat yang lalu. Itupun orang tua Sandi itu hanya menyapanya sekilas karena harus kembali bergabung dengn yang lainnya.
Sedangkan Sandi duduk dibangku para orang tua, iya. Sandi duduk dilingkaran meja para orang tua. Dimeja itu hanya Sandilah yang tampak muda. Sedangkan kea dan para sepupu serta sudara Sandi yang lainnya duduk dimeja lain. Mereka membuat banyak permainan. Bermain tebak-tebakkan, TOD, bercanda dan lainnya, tentunya tanpa Kea terlibat disana.
"Oh, rupanya elo istrinya Sandi," Kata Perempuan sebaya Kea itu menilai.
__ADS_1
Kea mengangguk, "Ya" Sahutnya pendek.
"Kayaknya lo lugu deh, tapi gak nyangka ternyata lo iblis juga ya." Kata perempuan itu lagi.
Kea menatapnya tak suka. "Maksud lo apa?"
"Eh, lo denger? Sorry ya. Gue pikir lo tuli" Kata perempuan itu lagi. Mengejek.
Kea tersenyum miris, ia mengambil jus jeruk disampingnya lalu dengan sengaja menyiramkannya kewajah Perempuan yang baru Kea ingat bernama Elsa, sepupu sekaligus cucu kedua tertua setelah Sandi. "Eh, sengaja"
Elsa melototkan matanya saat muka dan baju bagian depannya basah. "B*ngsa* maksud lo apa hah!" Teriak Elsa mengundang perhatian semua orang, termasuk Sandi yang awalnya mendengarkan perkembangan bisnis dari om nya.
"Oh, bisa basah. Gue pikir bedak tebel lo itu anti air" Kata Kea sinis.
Elsa berang, perempuan dengan tinggi seperti model itu mengambil gelas berisi sirup miliknya dan balas menyiramkannya ke Kea.
Ganti Kea yang terkejut, dan ia semakin terkejut saat Elsa akan memukulnya dengan gelasnya. Kea memejamkan matanya.
Namun sebelum itu, ia bisa melihat Sandi berlari kearahnya. Melindunginya.
"Lo uda gila Elsa!" Teriak Sandi marah sambil memeluk Kea. Kea semakin mengkerut saat Sandi mengusap kepalanya.
Elsa mamaki, "Iya gue uda gila, kenapa! Mau apa lo! Eh, asal lo tau ya San. Istri lo itu yang mulai duluan. Dia yang nyiram muka gue gila!" Teriaknya marah.
Sandi berdecak, Laki-laki itu melepas jasnya, lalu melingkupkannya kedada Kea karena bagian itu yang tampk sangat basah dan menerawang. Mengingat baju yang dipakai Kea berwarna putih.
"Ayo" Ajak Sandi menarik Kea, malas membalas teriakan Elsa. Karena Sandi tau, masalah itu akan berlanjut sampai tahap perselisihan antar orang tua. Dan ujung-ujungnya nanti juga Sandi dan orang tuanyalah yang salah. Yah, nasib menjadi cucu dan anak tertua dari Geano, selalu dituntut mengalah dan sempurna.
Saat Sandi dan Kea sudah akan melangkah, teriakan Elsa sempat menghentikan keduanya.
"Lagian lo jangan sok berkuasa deh San, Ngurus isteri aja lo gak bisa, apalagi ngurus perusahaan nantinya. Dih, dih, Menyedihkan!"
Dan Kea merasa, kelanjutan dari masalah ini akan berakhir buruk padanya karena Sandi yang berdesis marah dan genggamannya yang terlalu kuat dilengannya.
***
Yes, semangattttttt
__ADS_1