Salah

Salah
S-1 Salah yang menghantui


__ADS_3

"Selamat jalan sayang, putri papa dan mama. Selamat jalan. Papa mama, kami semua sayang kamu, Angela Geano. Malaikat papa dan mama, makasih kamu uda hadir diantara kami,Angela"


Dan begitu bayinya lepas dari tangan besarnya, Sandi jatuh tergugu.


Putrinya sudah pulang.


Putrinya sudah tenang.


Angela nya sudah pulang.


***


Sandi menghela napas dengan raut lesu, tubuhnya lemas luar biasa dan laki-laki itu merasa matanya kembali memanas begitu ia melihat tanah basah bertabur bunga itu.


Hari ini putrinya datang.


Tapi hari ini juga putrinya pulang.


Sandi meremas tanah basah itu ketika ia mengingat bagaimana giatnya ia bekerja dengan harapan akan dijuluki pahlawan nantinya. Percaya tidak percaya, hari dimana Kea mengindam burger waktu itu, Sandi sudah merasakan hatinya telah jatuh.


Jatuh pada istri dan anaknya.


Ia mulai berpikir, bagaimana caranya agar ia mendapatkan uang lebih dan tidak tampak lemah didepan mertua dan keluarganya.


Sandi mulai memutar otak tiap harinya. ia ingin anaknya bangga padanya suatu hari nanti.


Sandi bahkan masih ingat bagaimana ia memesan pakaian dan perlengkpan bayi ditoko yang nantinya akan ia kejutkan untuk Kea sebagai hadiah tujuh bulanan.


Tapi bahkan, Sandi belum sempat mengambil barangnya dan memberikannya pada Kea ketika Tuhan mengambil putri kecilnya kembali.


"Ikhlas San" Bisik Beni menepuk-nepuk pundak Sandi yang bergetar. Ketiga teman-teman Sandi memang datang kepemakanan putri pertamanya. Sebenarnya hampir semua teman-teman geng motornya datang begitu Beni, selaku ketua mengabari anggotanya.


Tapi semua langsung bubar untuk kembali melanjutkan aktivitas, mengingat bulan-bulan ini sedang sibuk-sibuknya pendaftaran kuliah. Sandi juga tak terlalu memperdulikan, ayah Angela itu masih betah meratapi kesalahannya.


Jika saja,,


Jika saja...


Pikiran laki-laki itu benar-benar sudah buntu.


"San, Tabah San lo-


"Anak gue pergi Ben, pergi.. Lo tau nggak sih sebenarnya artinya itu apa? Anak gue meninggal Ben, meninggal.. Lo nggak tau, ah, lo nggak bakal tau rasanya jadi gue.. Dia satu-satu harapan gue, dia... Yang bikin gue waras selama ini.. Lo ngerti nggak sih Ben?" Isak Sandi tak memperdulikan teman-temannya.


Mungkin, ini adalah kali pertama mereka melihat Sandi menangis semengerikan ini.


"ELo-Kalian gak tau rasanya, gak tau.. Gue rasanya mau mati Ben, mau matiii asal lo tau, dan lo nyuruh gue tabah hah!"Sandi memukul-mukul tanah disebelah makam kecil itu.

__ADS_1


" Dia anak gue, dia anak gue Ben, gue mau denger suara tangisnya.. Gue mau denger rengekannya.. Hiks, Gue mau denger waktu dia panggil gue papa.. Gue mau sambut dia, gue mau nenangin tangisnya, gue mau Angela Ben, Gue mau Angela gue.. Apa salah!?" Teriak Sandi menggebu.


"Pulang!" Kata Deni yang sejak tadi diam bersama Mario.


Sandi mengatupkan mulutnya, "Nggak!"


"San, mau lo senyesel apapun, mau lo segak rela apapun, Angela lo itu uda pulang, biar dia-


"Nggak, Kalian kalau mau pulang, Pulang gue masih mau nemeni anak gue, " Kata Sandi datar, ia lalu mendongak, menatap ketiga temannya yang setengah berjongkok disampingnya. "Lo tau Den, waktu gue gendong dia tadi-" Nafas Sandi tercekat, "Dia kecil banget, dia dingin banget, dia-


Bugh


Mario yang matanya sudah basah oleh air mata itu memukul Sando dengan kuat.


Sandi tak membalas, laki-laki itu seperti orang linglung, terus membicarakan Angelanya. Terus seperti orang bodoh yang kehilangan arah.


"Pulang lo"


Bugh


"Kalau lo gak bisa jadi bapak yang berguna buat anak lo itu,"


Bugh


"Setidaknya lo, mikirin Kea anj*ng! Istri lo itu hampir mati bangs*t"


bugh.


Namun, Sandi memang tak dapat memungkiri ketiga temannya benar, Kea sempat pendarahan parah tadi, dan perempuan itu memang belum sadarkan diri bahkan sampai hari menjelang siang ini. Tapi..Apa yang harus Sandi katakan pada Kea jika perempuan itu menanyakan Angelanya.


"Pulang San, jangan buat lo kehilangan Angela aja hari ini. Gue mohon" Kata Beni lagi.


Sandi tertegun.


"Pulang lo! Setidaknya lo harus nerima balasan dari Kea dulu kan sebelum lo mati buat nyusul Angela" Kata Mario menyepak kaki Sandi. Ia benar-benar emosi pada temannya itu.


Sandi kian tertegun, tapi perlahan.. Tangan kotor penuh tanah itu mengepal. Yah, ia harus menerima balasan Kea dulu jika ia ingin mati menyusul Angelanya.


***


Sudah berapa kali Sandi menunggui Kea dibrankar rumah sakit. Terhitung sudah belasan atau bahkan puluhan kali ia menunggui Kea sadar dari pingsannya. Sejak dulu, Kea memang selemah itu, dan orang-orang yang tau kalau sandi adalah tetangga Kea akan dengan yakin menyuruhnya untuk merawat manusia tak berguna didepannya. Mau itu disekolah, ditempat reakreasi atau bahkan ketika mereka dirumah. Semua orang seperti memanfaatkan Sandi untuk menjaga Kea ketika orang tua perempuan itu sedang tak bisa menunggui.


Biasanya, Dulu Sandi akan memaki Kea, menahan hasratnya untuk tak mencabut infus dan tabung oksigen. Berharap Kea cepat mati dan tak kembali merusak moodnya.


Tapi..


Baru kali pertama ini, Sandi mengharapkan kesadaran Kea. Ia ingin Kea sadar, ia ingin Keanya sadar. Tak ikut meninggalkannya seperti Angelanya yang meninggalkan mereka.

__ADS_1


"K-kea?"Panggil Sandi serak, mungkin karena terlalu lama diam. Hari ini sudah tengah malam omong-omong. Dan artinya Kea sudah tak sadarkan diri hampir satu hari penuh. Kata dokter hal itu wajar, mengingat selain fisik Kea yang lemah, perempuan itu juga mengalami pendarahan hebat saat operasi Angela tadi dan juga.. Dehidrasi parah karena tak mengonsumsi apapun selama dua hari.


"K-kea, maafin aku" Bisik Sandi menciumi tangan kurus Kea.


"Angela uda pulang, dia merajuk kayaknya" Dan menangis lagi, Sandi benar-benar melankonis sekarang. Itu semua karena rasa bersalah akan kehilangan anak pertamanya.


"Dia mirip aku, kamu pasti iri" Isak Sandi dengan bahu bergetar.


Lama keheningan menerpa, hanya suara isakan, suara alat pengukur detak jantung milik Kea dan juga jam dinding dikamar yang terdengar saling mendominasi pendengaran.


Sekarang jam 2 dini hari, dijam itu semalam Keanya menangis terisak-isak diponselnya. Dan Sandi terlalu bodoh untuk tak cepat tanggap. Ia hanya memperdulikan egonya, seolah ia yang paling tersakiti, tak menyadari selama ini ia selalu menyakiti orang lain.


"S-san"


Sandi tersentak dari acara lamunanannya, ia menatap Kea yang kini menatapnya dengan mata sayu. Ada masker oksigen dimulut dan hidungnya, pasti membuat perempuan itu tak mampu bicara banyak.


"Kea" Sapa Sandi ceria, laki-laki itu bahkan menghapus air matanya kasar dan bangkit dari duduknya untuk memberi kecupan pada kening Kea.


"Makasih uda kembali Kea, makasih sayang" Bisik Sandi penuh syukur, istrinya pulang, Keanya pulang.


Kea terlalu lemah untuk merespon, tapi ia menyadari Sandi menangis.


"H-haus" Bisik Kea.


Sandi dengan sigap mengambil gelas dinakas. Membantu Kea melepas masker oksigennya, lalu membantunya menahan gelas.


"Aku panggil dokter ya?" Kata Sandi hendak memencet bel disebelah ranjang Kea.


Tapi..


Kea menahan tangannya, perempuan itu mengerjap.


"S-san, anak aku mana?"


Dan lagi, Sandi terjebak dalam belenggu rasa bersalah yang menghantuinya.


***


Mungkin Di Episode ini, lambat banget alurnya.(Atau cuma perasaanku doang), Tapi kedepannya aku usahain gak ngebosenin.


Duh, Serasa diterror aku tuh kalian nanyain aku up atau nggak. Sampai ke ApK orange lagi nanyaknya. Hayo siapa itu yang nerror disana.


Sebenarnya guys, aku punya kebiasaan update itu, kalau pagi, ya pagi-pagi banget kalau malam ya malam-malam banget. Kayaknya siang jarang deh, satu atau dua kali.


Jadi aku mau tanya kalian, bagusnya..


Update pagi atau malam?

__ADS_1


Atau siang?


Pilih satu aja... See youuu.


__ADS_2