Salah

Salah
S-1 Jadi gimana?


__ADS_3

Sandi menurunkan ponselnya, "Dikeluarkan" gumamnya.


"Iya, buka grup angkatan anjing, bukan cuma lo tapi gue, Deni sama beberapa anak-anak yang lain juga kenak. Gila!"


Sandi langsung membukanya dan tubuhnya terasa mati sesaat saat ia mendapati foto dirinya dan juga beberapa temannya yang sedang mabuk memegang alkohol disebuah klub. Foto ini-


adalah foto yang sama yang membuat ia dan Lusi putus waktu itu..


Jangan bilang-


Bangsat!


***


**Im so sorry guys, Episode ke 26 aku tulis ulang karena gak sengaja kehapus, huhuhu😭. Aku beneran nangis waktu gak sengaja hapus episode ini.


Aku harap kalian gak keberatan baca ulang hiks**.


***


Sandi menunduk dengan pikiran kosong. Ketika semua keluarganya dan keluarga Kea menatapnya penuh penghakiman, bahkan kakeknya yang sudah pulang ke Bandung pun kembali hadir malam ini. Tak lagi memperdulikan penampilannya, tak lagi memperdulikan bagaimana kotornya kaosnya. Sandi terdiam kaku.


Ia mengepalkan tangannya, ketika papanya maju kedepan dan sebelum Sandi sempat memproses semuanya. Suara tamparan menggema diruangan keluarga rumah Kea itu.


Plak


Papanya, Laki-laki dewasa yang terkenal dengan pemikiran jernih dan tak pernah main tangan dengannya itu menamparnya. Menamparnya dihadapan semua orang. Dan Saat pipinya tertoleh kesamping, saat itulah Sandi menangkap senyum tertahan Kea.


Senyum mengejek yang Kea sembunyikan dibalik pelukan pada mamanya dengan topeng wajah tersakiti, Sandi berdecih, Kea sangat pandai memainkan perannya sebagai istri tersakiti ternyata.


"Gimana? Puas kamu sama kelakuan kamu itu San?"


"Tau kamu apa akibat kelakuan bodoh kamu itu hah! Dikeluarkan dari sekolah! Dikeluarkan! Puas kamu!"


Sandi menatap papanya dengan keterkejutan yang tak dibuat-buat. "Di keluarkan?" Sandi mengusap wajahnya, "Jangan becanda pa, 2 bulan lagi aku ujian!" Tambahnya dengan agak berteriak.


Plak


Sandi menoleh kesamping, Tangannya terkepal menahan emosi.


"Taunya kamu kalau 2 bulan lagi ujian" Sindir kakeknya dengan pelan setelah papanya menamparnya.

__ADS_1


"Kalau kamu!-" Surya menunjuk Sandi tepat diwajahnya, "Kalau kamu tau kamu 2 bulan lagi ujian kenapa masih berlaku bodoh hah! Bukannya uda papa bilang sama kamu dari awal Geano Sandi! Fokus sama sekolahmu, fokus sama ujianmu, fokus sama isterimu, fokus sama tanggung jawabmu, Bukan malah mabuk-mabukkan kayak sampah kayak gitu"


Sandi menatap papanya, " Pa-"


"Apa! Mau ngelawan kamu! Mau bela diri kamu!-


"Pa Dengerin aku dulu! Itu foto lama pa, dan apa-apaan sekolah ngeluarin aku cuma gara-gara foto sepele kayak gitu!" Teriak Sandi frustasi,


oh ayolah, Jangan bilang sekolah mengeluarkannya begitu saja tanpa keringanan. Jangan bilang nilai ujian yang berusaha ia pertahankan hilang begitu saja, Jangan bilang beasiswa yang ia rebut mati-matian dari Kea hangus begitu saja, jangan bilang tingkah baiknya selama disekolah tak berguna sama sekali. Dan jangan bilang banyaknya mendali yang ia sumbangkan kesekolah tak berfungsi sama sekali.


"Cuma gara-gara foto itu hah, cuma kamu bilang-" Surya memundurkan tubuhnya, mengambil beberapa foto dekat meja lalu melemparkannya tepat didepan wajah Sandi.


Sandi menunduk, menatap tiga atau empat foto yang jatuh dikakinya.


Foto pertama adalah foto dirinya yang berada dalam arena balapan liar, Sandi lupa kapan foto itu diambil, tapi yang pasti sebelum pernikahannya dengan Kea.


Difoto kedua, foto ia yang sedang berciuman mesra dengan seorang perempuan yang ntah siapa. Sandi ingat itu adalah ciuman dadakan yang diberikan seorang perempuan sebagai ungkapan selamat atas kemenangannya setelah balap liar.


Foto ketiga adalah foto yang ia lihat digrup sekolah tadi, foto ia dan beberapa temannya yang sedang tertawa dengan minuman alkohol ditangannya.


Dan foto terakhir adalah foto hitam putih hasil tangkapan layar CCTV yang menampilkan dirinya merokok disamping sekolah.


"Dan setelah melihat semua kelakuan sampah kamu ini-" Surya menunjuk foto-foto dilantai. " Apa Kamu pikir masih ada sekolah yang mau nerima murid dengan sifat berandal yang terjerat banyak kasus kejahatan Geano Sandi?" Sindir papanya.


Sandi terdiam kaku, tak mampu menjawab sindiran dengan banyaknya penghakiman dari semua orang. Ia kalah telak.


***


"Jadi.. Gimana nih serangan pertama gue?"


Sandi baru masuk kekamar ketika suara perempuan berkaca mata itu menusuk telinganya.


Sandi menoleh, "Kayaknya biarin lo hidup adalah sebuah kesalahan ya Ke?" Kata Sandi menyandarkan tubuhnya kedinding kamar, menatap Kea yang kini menatap remeh kearahnya.


"Wah,.. Gue rasa itu kesalahan yang menyenangkan" Ejek kea.


"Oya? Jadi~ Gimana sama penemuan ajal dimalam ini Ke?" Desis Sandi,


Kea terkekeh, "Apa lo berani? Omong-omong masih ada keluarga kita didepan loh, lo gak takut dapat penghakiman yang lebih dari-"


"Dan lo pikir gue takut? masuk penjara dengan kasus bunuh baj****n kayak lo, kayaknya gak masalah deh" sepersekon detik setelah kalimat itu terucap. Kea terkejut saat Sandi tiba-tiba melangkah kearahnya dan mencekik lehernya.

__ADS_1


" S-san?" Kea tergagap. Lehernya terasa akan putus ketika Sandi semakin kuat mencengkram nya.


"Kenapa Ke? Takut? padahal gue belum bales dendem lo?"


Kea berusaha menelengkan kepalanya menantang, walaupun nafasnya mulai tersengal tapi ia tak mau kalah dominasi dengan lucifer didepannya. "B-bales dendem uhuk- Apa lo-uhuk mampu?"


Sandi terkekeh,"Mampu? Oh, manisnya istri gue?"


"Akh" Kea memegang lehernya ketika Sandi mendorongnya dengan tiba-tiba. Sandi menunduk, "Kayaknya lo salah pilih lawan deh Ke, kalau gue waktu TK aja bisa buat lo hampir bunuh diri, gimana sama sekarang. Lo- bahkan cuma debu yang yang gak layak gue sentuh"


Kea terdiam, Dominasi Sandi ternyata mampu membuatnya terintimindasi dengan mudah.


Saat melihat wajah kaku Kea, Sandi terkekeh. Ia lalu melepas kaosnya, melempar seragam, dan kaosnya yang kotor dengan oli itu kewajah Kea yang masih pucat.


Dan tawa Sandi mulai terdengar ketika Kea memalingkan wajahnya saat melihatnya bertelanjang dada.


"Jangan sok munafik lo Ke, giliran sama Yuda aja lo dijamah sana-sini melotot. Sama gue jual mahal. J****g"


Kea mendongak, menatap Sandi dengan marah," Gue bukan J****g bangs*t"


Sandi menelengkan kepalanya pura-pura berpikir, "Eh iyakah? Terus gimana sama vidio ini" Sandi mengambil ponselnya yang masih kotor dengan oli. lalu menjambak rambut Kea agar melihat vidio yang ia tunjukkan.


Vidio dengan awalan yang buruk, tak fokus dan terdengar berisik khas klub. Menandakan vidio itu diambil dengan amatir.


lalu beberapa detik kemudian Kea membelalakkan matanya kala ia melihat adegan selanjutnya. Itu adalah rekaman ia yang berciuman dengan Sandi diklub waktu itu.


Vidio yang disertai tawa perekam dengan agle yang menampilkan seolah-olah ciuman itu adalah ciuman yang mereka lakukan tanpa paksaan.


"Kalau vidio ini gue kirim ke grup sekolah, Gue jadi penasaran sama nasib lo selanjutnya deh Ke"


Kea menatap Sandi dengan gelengan ketakutan.


"Kayaknya setelah gue pikir-pikir hancur bersama lebih menyenangkan ya kan Ke?"


"Jadi gimana? Ini baru pembalasan awal gue loh Ke"


Dan Kea rasa, ia baru benar-benar mengakui kalau ia telah salah lawan.


**


Hiks, soriiii, aku lupa sama episide 26 yang lalu, jadi aku kembangin ulang idenya. Secara garis besar sama kan? huaaa... Aku mau lanjut nangis dulu.. babay..

__ADS_1


__ADS_2