Salah

Salah
S- 2 Cinta terbaik


__ADS_3

"Kamu jaga diri ya sayang, jangan terlalu percaya sama orang lain, terus bilang sama Han buat jaga kamu, jangan macam-macam. Kalau dia berani nakal sama kamu, bilang sama papa. Buang aja cincin tunangan kalian. Batalin. Habis itu kamu pulang nemuin papa di indonesia. Dengar Aiko Geano"


Dipagi buta, Sekitar jam 4 pagi, Sandi, sosok laki-laki paruh baya berusia 49 tahun itu merekam pesan suara untuk putri semata wayangnya. Menekan tombol kirim dengan tangan bergetar dan mata berembun.


"Oya, jangan lupa sarapan ya nanti, jam 7 jangan lebih jangan kurang. Makan makanan yang bergizi, jangan beli ramen atau spageti beku terus. Dokter juga harus jaga kesehatan. Dengar sayang?"


Lagi, Jari-jari tuanya menekan tombol kirim, setelahnya, Laki-laki itu menyanggah wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mata sayunya menahan kantuk, tapi juga rindu yang berat.


Sudah sebulan terakhir ia pindah kembali ke Indonesia dan itu artinya sudah sebulan juga ia berjauhan dengan putri semata wayangnya yang memilih tetap menetap di Jepang.


Aiko, gadis kecilnya itu kini sudah dewasa, sudah berusia 27 tahun. Sudah berhasil menggapai cita-citanya untuk menjadi dokter. Dokter hebat yang ingin membuat semua orang sehat, yang ingin membuat kasus mamanya tak terulang lagi. Cita-cita dadakan yang muncul setelah gadis kecilnya mengetahui semua kisah orang tuanya.


Dan juga, sekarang. Aikonya sudah memiliki tunangan. Namanya Han Nakamura. Mereka bertunangan sejak tiga tahun lalu, tapi Sandi belum juga mengizinkan keduanya menikah. Bukannya tak suka laki-laki pilihan anaknya. Kali ini Sandi suka, sangat suka malah. Han termasuk laki-laki idaman. Pekerjaannya bagus, ia seorang Dokter spesialis Saraf di salah satu rumah sakit besar. Tata kramanya bagus, ia bisa memaklumi banyaknya perbedaan budaya antara dua keluarga yang sangat mencolok . Ia juga bisa menyesuaikan diri dengan keluarganya.


Han adalah menantu idaman, Dokter muda berusia awal tiga puluhan itu sangat pengertian akan Sandi, bertanggung jawab, tegas dan tidak lembek.


Sandi sangat suka, hanya saja. Ntah kenapa ia belum bisa memberi izin keduanya menikah.


Sandi hanya takut kehilangan.


Ia takut putrinya akan meninggalkannya ketika nanti sudah menikah.


Pikiran kuno orang tua single itu terus bergelanyut. Membuatnya semakin takut melepaskan putrinya.


"Hah" Sandi menghela nafas, membaringkan tubuhnya. Laki-laki paruh baya itu meraih foto keluarga kecilnya. foto yang diambil 20 tahun yang lalu ketika Aiko berumur 7 tahun. foto usang dan buram itu ia letakkan didada.


Sandi, begitu rindu malaikatnya.


****


Menjadi orang tua tunggal itu tak pernah terbayangkan dibenak Sandi muda. Kehilangan Angela adalah kehilangan menakutkan yang pernah ia alami semasa masa mudanya. Dan Kehilangan Kea adalah kehilangan seluruh jiwanya. Sandi merasakan semangat hidupnya hilang begitu saja.


Sandi nakal, tapi baru kali itu ia merasa ingin begitu cepat mengakhiri hidup agar kembali besama Kea.


Hanya saja, saat melihat Aiko kecil terisak disudut kamar sambil memeluk foto istrinya. Sandi tau, ada yang harus ia jaga disisa hidupnya, ada yang harus ia limpahi kasih sayang diseumur hidupnya.


Aiko adalah alasan kenapa Sandi masih mau menjalani kehidupannya yang berat.


Harus laki-laki itu akui, kehilangan Kea adalah kehilangan paling menyakitkan, paling mengerikan dan paling ia ratapi tiap saatnya.


Bahkan, beberapa minggu setelah kepergian Kea, Sandi masih sering berlari kedapur sambil membawa dasinya.


Menyodorkan dasi itu dengan terburu,


"Ai, tolong pakaikan aku dasi-" Diam, Sandi diam, Ia tersadar kalau saat itu ia sendirian.


Menarik dasinya dengan lesu, laki-laki itu duduk dikursi makan, menatap dapur yang masih bersih dan belum ada disentuh sama sekali.


Sandi menunduk, ia terisak-isak merindukan Keanya.


Hanya saja, saat mendengar langkah kaki mungil mendekatinya. Sandi langsung menghapus air matanya, berpura-pura terbatuk agar menyamarkan tangisannya.


"Ohayo, Aikoo, Uda mau berangkat sekolah?papa belum buat sarapan, gimana kalau kita- Grep.


Aiko memeluknya, selalu. Selalu seperti itu bahkan sampai berbulan-bulan kemudian.


Mereka masih sering termenung menatapi ruang dapur ataupun ruang tengah yang notabenya tempat yang paling sering dikunjungi Kea dulu dengan tatapan rindu.


Perlahan namun pasti, Sandi dan Aiko mulai bangkit dari keterpurukan. sepasang ayah dan anak itu mulai menikmati hari bersama berdua. Mereka mulai menetapkan kerja sama, saling membantu membuat sarapan, saling membantu membereskan rumah dan saling menenangkan kala keduanya disergap rindu.


Sandi selalu menatap Aiko dengan cinta, Aiko mungkin mirip dengan dirinya, wajah bule dan semua yang ada dalam diri gadis kecil itu adalah fotokopian dirinya. Tapi, Sifat dan cara gadis kecil itu bersikap benar-benar milik Kea.


Sandi selalu merasa, Aiko adalah kado terindah yang diberikan Tuhan untuk nya dan Kea. Selalu, selalu seperti itu.


Aiko adalah anaknya yang paling cantik. paling pintar dan paling pengertian, Sandi tau, cita-cita gadis kecilnya itu adalah menjadi pianis terhebat. Tapi saat mereka berkunjung ke Indonesia untuk berziarah kemakam Kea. Aiko menanyakan apa penyakit yang menyakiti ibunya.


Sandi sambil tersenyum getir menyahut, "Jantung"


Setelah itu, Hening menyelimuti keduanya. Sandi ingat saat itu ia memimpin doa, mengirim doa untuk cintanya. Dan setelah itu, ketika mereka akan pulang. Tiba-tiba Aiko mencium nisan sang mama. Menciumnya lama sambil menangis. "Mama, Aiko Rindu, Benar-benar rindu. Maaf selama ini Aiko gak tau mama sakit. Maaf Aiko belum bisa ngobatin mama. Tapi hari ini Aiko janji, Aiko bakal jadi dokter yang bisa ngobatin sakit yang pernah mama derita. Biar nggak ada Aiko-Aiko lain diluar sana yang ngerasain rindu tak berbalas. Ya ma, Mama pasti senang nanti. Aiko bakal buat semua orang sehat. Aiko mau jadi dokter jantung buat mama"


Sandi menghapus air matanya diam-diam saat itu, rasa haru dan bangga pada Aiko membuat Sandi tau, ia harus menjaga Aiko dengan sepenuh jiwanya. Ia tak mau kehilangan lagi. Tak mau.


***


Sandi selalu melihat Aiko seperti anaknya, si bayi gendut yang lucu. Yang cerewet dan selalu membutuhkan bantuannya.


Tak peduli sebesar dan sepintar apa Aiko, Sandi selalu merasa anaknya masih sangat anak-anak.


Tapi, hari itu, dimalam hari sepulang kerja. Sandi melihat gadis kecilnya yang sebentar lagi berumur 14 tahun itu memeluknya. Lalu berbisik dengan nada malu-malu.


"Papa, Aiko datang bulan. Cara pakai itunya gimana?"


Sandi terkesiap saat itu, ia menatap anaknya horor, tapi saat melihat wajah malu Aiko, Sandi tau, Putrinya pasti kebingungan sampai akhirnya nekat bertanya padanya.


Sandi mengelus kepala putrinya, lalu keduanya membuka internet untuk mengetahui cara pakai dari benda bulanan yang sudah dibeli Aiko sebelumnya.


Saat itu juga, Sandi menyadari. Putrinya sudah tumbuh dewasa.


***

__ADS_1


Saat Aiko beranjak dewasa, Sandi semakin tak tenang. Papa muda itu selalu mengawasi Aiko, melarang ini-itu, menuntut ini itu, yang tanpa ia sadari ia sudah menjadi papa yang toxic untuk Aiko. Ia menjadi papa yang over protective dan over posesif.


Kala itu, saat masalah Aiko pergi berpacaran dengan Ryoma Tanaka. Dan berakhir dengan pertengkaran nya dengan putrinya. Sandi mengakui. Ia salah besar.


Putrinya kesepian, putrinya tertekan. Sandi menyadari, Ia bukan papa yang terbaik.


Namun, masalah itu beralalu dengan dramatis, Aiko menyadari maksud papanya, Aiko menyadari cinta yang diberikan papanya. Dan Sandi, menyadari perasaan putrinya. Menyadari kesalahannya.


Masalah itu, akhirnya menjadi jembatan baru untuk kedekatan keduanya. Kedekatan yang lebih dekat, kedekatan ayah dan anak yang lebih sehat.


***


Hal yang paling Sandi cemaskan adalah ketika Aiko akhirnya lulus dari universitas. Rasa cemas yang lebih mengganggu Sandi daripada kecemasannya ketika Aiko meminta izin berpacaran dengan Han sebulan lalu.


Aiko harus menjalani masa koasnya dan mulai sibuk di Rumah sakit. Lalu dilanjut dengan pendidikan spesialis nya.


Aiko semakin jarang terjangkau dari pandangannya.


Bahkan, Sandi mulai merasa, Ia tinggal sendiri dirumah.


Aiko jarang pulang karena gadisnya lebih sering menginap dirumah sakit ataupun apartemen dekat kampusnya.


Sandi mulai kesepian, ia selalu meneror Aiko dengan telepon dan pesan singkat yang selalu dibalas beberapa jam kemudian dengan satu alasan tak terbantahkan.


"Maaf Pa, Aiko tadi bantu Dokter Tomo operasi dari jam 10 sampai jam 3 ini, Ini juga Aiko baru keluar dan mau makan."


Atau.


"Maaf ya Pa, Hp Aiko di loker, Aiko ada jadwal operasi nanti malam bantu Dokter Tomo, jadi kayaknya Aiko gak pulang malam ini"


"Maaf pa, Aiko lupa balas pesan semalam. Aiko diapartemen. Ini mau kerumah sakit."


"Maaf pa, Aiko ketiduran. Aiko usahain malam nanti pulang"


Lalu setahun setelahnya. Sandi benar-benar merasa kesepian ketika akhirnya putrinya pindah Ke Rumah sakit Kyoto, jauh meninggalkannya yang masih betah menetap di Tokyo.


"Papa, Aiko dipindah tugaskan ke Kyoto."


Tak lama setelah itu, Sandi hanya bisa memandangi foto putrinya kala ucapan Aiko terngiang dikepalanya.


"Pa. Han lamar aku, Besok kami mau ke Tokyo buat jumpa papa"


Dan semua itu sudah berlalu tiga tahun. Sandi semakin kehilangan waktu bersama Aiko kecilnya. Sampai akhirnya, sebulan lalu. Setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai arsitek. Sandi memutuskan pulang ke Indonesia. Menetap dirumah orang tuanya yang sekarang semuanya sudah berpulang. Menyisahkan Kai, Papa Kea yang mulai masuk keluar rumah sakit itu lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sendiri tanpa mau Sandi ajak tinggal bersama.


Sandi enggan memaksa, karena faktanya. Ia dan mertuanya itu tak ada bedanya.


****


Sandi mengusap nisan Kea dengan lembut, Nisan disebelah makam Mama mertuanya itu membuat Sandi mengucap salam sebentar sebelum kembali fokus melepas rindu pada cintanya.


Hari ini Sandi berziarah kesemua makam orang terkasihnya setelah sebulan lebih menatap di Indonesia.


Tadi sebelum ke makam Kea, Sandi sempat mendatangi makam kedua orang tuanya dan putri pertamanya. Angela. Di pemakaman keluraga Geano. Sedangkan Sekarang Sandi berada dipemakaman umum kompleks yang sejuk.


"Apa kabar Ai?" Bisik Sandi mencium nisan Kea, ia mengelus pelan ukiran nama sang istri dengan perasaan rindu.


"Bagaimana surga? Indah?" Tanya Sandi dengan mata berembun. Ia menatap makam sang istri yang sangat terawat itu dengan mata buram.


"Kamu tau ini hari apa hm?"


"Kamu nggak rindu aku? Aku rindu kamu, sangat-sangat rindu."


"Sekarang, aku uda pindah ke Indonesia, aku juga uda pensiun. Tapi Aiko kita masih tertinggal disana. Atau mungkin akan selalu tinggal disana."


Sandi menghapus air matanya.


"Kamu tau, Aiko kita, si bayi gendut yang dulu males belajar jalan itu. Sekarang uda besar. Uda jadi dokter. Uda jadi dokter yang bisa buat orang sembuh. Harusnya. Harusnya kamu mau bertahan untuk bisa diobati Aiko kita hehe hiks" Sandi terisak pelan.


"Aiko kita juga uda punya calon suami, namanya Han Nakamura. Mereka uda pernah kesinikan tahun lalu."


"Aiko kita sudah besar, dia uda mau nikah. Tapi aku belum rela. Aku takut dia nggak bahagia, aku takut dia tersakiti, aku takut dia terluka, aku takut Aiko kita sedih, Aku takut Aiko nangis. Aku takut kehilangan Aiko."


"Nanti kalau dia sudah menikah, Aku takut Han gak sayang sama dia, aku takut Han gak bisa cintai dia kayak aku yang sayang dan cinta sama dia. Aku takut Kea. Aku takut."


Lama Sandi menangis, menumpahkan keluh kesahnya, tak menyadari sosok gadis cantik berdress biru yang sudah tiba sejam lebih dulu dari sang papa yang kini terdiam kaku disebelah pohon Ceri yang ditanam dipiggir pemakaman.


Ia tersenyum, dengan air mata yang sudah basah.


Semalam, setelah papanya mengirimi banyak pesan rindu dan juga banyak nasihat dari Han. Akhirnya Aiko memutuskan untuk resign dari rumah sakit tempatnya bekerja di Jepang. Aiko ingin pulang ke Indonesia menemani masa tua papa dan kakeknya di indonesia.


Memulai karirnya sebagai dokter di negara kelahiran mamanya.


Aiko sudah pulang, ia sampai pagi tadi, tapi belum mengabari papanya karena ingin berkunjung kemakam mama dan neneknya terlebih dahulu. Dan saat akan pulang, Aiko melihat sosok papanya yang datang sambil membawa sebuket bunga lily.


Dan hal itu berakhir dengan Aiko yang mendengarkan semua curhatan papanya dan saat itu juga Aiko langsung menyadari. Bagaimana rindu papanya, bagaimana khawatirnya papa padanya, bagaimana bangga papanya dan bagaimana cinta papanya padanya.


Aiko.mengerti.


"Ai.. Selamat ulang tahun pernikahan ke 30, terima kasih uda ada untukku selama hidupmu, makasih uda kasih Angela dan Aiko untukku, makasih sayang, makasih."

__ADS_1


"Makasih ma"


Sandi tersentak laki-laki paruh baya itu menoleh dengan gerakan cepat saat mendengar suara anaknya. Sandi sangat hapal itu. Suara Aiko yang beraksen Jepang yang khas itu langsung dapat Sandi kenali.


"Aiko-


Aiko tersenyum, ia merangkul papanya, mencium pipi papanya yang basah.


"Ma.. Aiko balik lagi. heheh"


"Kamu pulang?" Tanya Sandi dengan mata kembali basah.


Aiko tersenyum, mata hijaunya berpendar jernih. "Gimana aku bisa tetap tinggal jauh kalau cinta terbaikku ada di Indonesia. Ada sama papa dan mama"


Sandi tergugu. ia memeluk Aiko dengan haru.


"Oya, selamat ulang tahun pernikahan ketiga puluh ma, pa, makasih uda kasih Aiko dan kak Angela cinta terbaik kalian..Makasih.." Aiko tersenyum dan sekali lagi memeluk papanya.


Mereka tertawa geli bersama setelahnya.


"Kamu beneran mau tinggal sama papa?" Tanya Sandi saat keduanya berjalan keluar makam.


"Iyalah" Sahut Aiko manja, gadis dewasa itu bergelanyut dilengan papanya.


"Gimana sama pasienmu yang banyak itu"


"Papa cemburu sama pasien ku"


"Nggak"


"Cie cemburuu"


"Nggak"


"Hahah, papa lucu deh, Oya Aku uda mengundurkan diri, paling nanti aku lamar kerja di rumah sakit dekat sini"


"Beneran"


"Hm"


"Terus Han gimana, kamu tinggal"


Aiko tersenyum, "Hm, kami LDR"


"Kamu yakin,"


"Hm, Kalau dia cinta Sama aku, aku selalu yakin sih"


"Pd banget"


"Pd itu apa pa"


"Percaya diri"


"Dih papa, sok Jaksel banget"


"Yeh, orang papa memang anak Jaksel kok. kamu aja yang sok kejepangan"


"Ih papa"


Mereka tertawa saat akan masuk kedalam mobil. Lalu perjalan pulang itu merela isi dengan canda, tawa dan kebahagiaan yang nyata.


Mereka mungkin pernah merenggang dan memang harus merenggang karena siklus kehidupan dan pendewasaan. Tapi ikatan mereka nyata. Ikatan ayah dan anak yang tak bisa terkikis oleh jarak, waktu dan usia.


Bahkan, Sampai setahun kemudian ketika akhirnya Sandi melepaskan Aiko menikah dengan kekasih hatinya.


Hubungan mereka tetap membaik.


Dan sekarang, Sandi bisa tertawa lebar dimasa tuanya bersama dua cucunya yang lucu dan aktif. Cucu perempuan dan laki-laki yang memiliki warna mata hijau seperti mamanya. Dan fitur wajah Jepang seperti papanya.


Ia bahagia.


Aiko dan keluarga kecilnya juga bahagia.


Dan Ia harap Angela dan Keanya juga begitu.


***


End.


Kali ini benar-benar end, yeayyy.


Tapi sebelum aku ngubah status cerita ini menjadi tamat.


Ada yang mau kalian tanya tentang cerita ini nggak, kayak misalnya. Apa alasan Kea meninggal, apa alasan mereka gak pulang ke indonesia setelah Kea meninggal, atau pertanyaan-pertanyaan yang kalian pertanyakan selama cerita ini berlangsung.


Ayo tanya yuk, karena bab depan aku bakal jawab semuanya.


Yeyyy... See you guys. Mari saling menyapa dikarya ku lainnya.

__ADS_1


__ADS_2