Salah

Salah
S-1 Salah (Kea)


__ADS_3

Kea kecil membenahi kaca matanya ketika ia melihat mama dan papanya yang pagi-pagi ini sibuk membenahi barang-barang mereka. Papanya bahkan sudah memasukkan boneka-boneka kesayangannya dalam bagasi mobil.


"Kita mau camping ya pa?" Tanya Kea tak dapat menutupi rasa penasarannya.


Kai yang masih menata barang dibagasi mobil itu menoleh, menatap putri kecilnya yang masih tampak mengantuk itu.


"Loh, Kea uda bangun?" Tanya Sandi menggendong Kea, mengabaikan tanya sikecil yang masih tampak berkerut bingung.


"Uda mandi belum hm?" Tanya Kai menciumi pipi Kea yang memiliki bau yang khas, bau bedak bayi dan juga bau asam keringat.


Kea menggeleng, gadis kecil berkaca mata itu meletakkan kepalanya pada leher papanya, matanya terpejam karena rasa kantuk masih menyerangnya.


"Boneka aku kenapa disimpen kemobil pa?" Tanya Kea sambil menahan kantuknya.


Kai tersenyum kecil, ayah satu anak itu mengelus punggung putri semata wayangnya. "Kea lupa ya, hari ini kan kita mau pindah kerumah baru. Jadi nanti Kea masuk sekolahnya dari rumah baru juga"


Kea memundurkan kepalanya, menatap papanya dengan mata sipit dari balik kaca matanya yang bulat. "Pindah?"


"Iya" Kata Kai sambil menarik kursi makan, meletakkan Kea dimeja makan.


"Kenapa?" Tanya Kea bergetar, mata beningnya mulai dilingkupi selaput air mata,


Kai yang mendapati putrinya hendak menangis itu berdehem, mengkode Kelli agar membantu menenangkan gadis kecil mereka.


Kelli yang masih sibuk memanggang roti untuk sarapan mereka pun menghampiri anak dan suaminya, Menciumi pipi gembil Kea yang mulai basah oleh air mata.


"Uh, kenapa ini anak mama kok nangis, hm?" Tanya Kea mengambil alih Kea kepangkuannya.


"A-aku anak papa ma hiks" protes Kea tak terima yang mendapat respon tawa kedua orang tuanya.


"Iya-iya anak papa, jadi kenapa anak papa Kaindra yang gemesin sendiri ini nangis hm?" Tanya Kelli menahan tawa.


"Kata papa kita mau pindah, hiks" tangis Kea sesenggukan didada mamanya.


Kelli tersenyum, "Loh, emangnya kenapa? Kan katanya Kea mau punya temen nantinya. Kalau dirumah sini kan Kea gak punya temen kalau gak kerumah Opa" Kata Kelli lembut, mengingatkan Kea kecil akan lingkungan rumahnya ini yang memang tak memiliki anak seusianya.


Kompleks perumahan elite ini memang memiliki banyak rumah, tapi mereka tak sering berinteraksi karena kesibukan masing-masing. Bahkan batas rumah dengan rumah lainnya dipasang pagar yang tinggi-tinggi. Kea tak memiliki teman kecuali datang kerumah Opanya dan bermain dengan sepupu kecilnya yang berusia dua tahun itu.


Bisa dibilang masa kecil Kea memang tak memiliki banyak interaksi dengan orang lain, selain karena Kea disibukkan dengan banyak pengobatan yang terus dijalaninya sejak ia bayi. Kea juga agak merasa terasingkan ketika berkumpul bersama banyak orang karena berbagai alat dengar yang menempel ditelinganya. Membuat si kecil itu lebih banyak diam dari anak kecil seusianya.


"Temen!" Tanyanya terdengar antusias.


"Iya, temen, nanti Kea bisa punya temen buat belajar, buat main, jadi Kea gak sendirian lagi. Mau?"


"Mau, mau!! Kea mau punya temen" Teriak Kea mengabaikan bekas air matanya yang tadi masih menetes dipipinya.


Kai dan Kelli tersenyum, mereka mencium pipi Kea sayang, merasa kepindahan mereka kali ini adalah keputusan yang tepat.


****


Kea tak pernah merasa seantuasia ini sampai akhirnya mereka tiba dikompleks perumahan yang baru, rumah barunya tampak lebih kecil dari rumah lamanya, tapi rumah barunya ini tampak lebih asri dan ramai. Tak ada lagi pagar-pagar menjulang tinggi untuk menutupi privasi.


Intinya, Kea suka rumah barunya.


Dan ia suka rasa membuncah didadanya ketika akhirnya ketika malam tiba mama dan papanya mengajaknya kerumah tetangga mereka untuk berkenalan.


Dirumah pertama Kea langsung mendapat kenalan bocah yang dua tahun lebih tua darinya, namanya Kak Lira.


Lalu dirumah kedua, Kea mendapat teman setahun lebih muda darinya namanya Sella.


Dan dikunjungan rumah terakhir malam ini, Kea tak dapat menahan senyumnya saat seorang anak laki-laki tinggi dengan rambut kecoklatan lah yang membukan pintunya.


Kea bahkan langsung berlari menghampiri bocah laki-laki yang tampak bingung dengan kehadirannya. "Haii, aku Kea, kamu siapa?" Tanya Kea menyodorkan tangannya, mengabaikan panggilan mama dan papanya yang masih tertinggal dibelakangnya.


"Hai.. Kamu siapa? Aku yang tinggal dirumah baru itu. itu mama aku, kalau yang itu papa aku, mama aku bawa Tiramisu kesukaan aku loh. Rasanya enak banget" Kata Kea bersemangat yang dibalas kernyitan bingung bocah laki-laki didepannya.


Dan begitu Kai dan Kelli berada dibelakang Kea barulah bocah laki-laki itu memberi respon dengan kerjapan matanya.


"Hai. Ganteng banget kamu sayang," Kata Kelli ramah, "Mama sama papa kamu kemana? Tante bawa oleh-oleh buat kamu ini" Kata Kelli mencoba ramah. Memberi sekotak tiramisu buatannya yang memang ia buat untuk salam perkenalan pada para tetangga.


Bocah laki-laki itu menerima kotak sedang itu, ia lalu bergumam "Thank you" Dengan lirih sebelum berbalik badan dan berteriak memanggil orang tuanya.


"Mama, er is een gast! (Ma, ada tamu!)" Teriak bocah itu yang membuat Kea dan orang tuanya mengerutkan keningnya.


"Ma, dia ngomong apa?" Tanya Kea berbisik pada mamanya.


Kelli menggeleng, Tapi Kai berdehem, "Belanda bukan sih Kell?" Tanya Kai yang juga tak mendapat jawaban dari isterinya itu.


"Bezoekers? Who? (Tamu? Siapa?)" Teriakan dari dalam rumah itu lagi-lagi dengan bahasa Asing, kea semakin tak paham, selama ini ia hanya tau bahasa Isyarat dan Bahasa indonesia, itupun masih tebata. Kea jadi pusing sendiri.


"Ik weet het niet, tante geef me Tiramisu, (Aku gak tau, tapi tantenya kasih aku tiramisu)" Sahut bocah itu lagi.


Tak ada sahutan lagi, sebelum sepasang suami isteri yang tampak bule itu menghampiri mereka,


Kea mengerjap, merasa kagum dengan orang tua calon temannya itu, mereka memiliki tubuh tinggi yang imbang seperti papanya, papa calon temannya Itupun memiliki rambut coklat yang sama seperti teman barunya, matanya juga berwarna hijau.


"Oh, Hai, Saya Kaindra, dan ini istri saya Kelli, ini putri kami, Kea, kami orang baru disini. Baru pindah tadi pagi" Kata Kai memperkenalkan anggota keluarganya yang disambut ramah oleh sepasang suami istri bernama Alexander Surya dan Mia itu.


Mereka juga memperkenalkan anak laki-laki mereka, Namanya Geano Sandi. Bocah laki-laki yang ternyata tak fasih berbahasa indonesia karena baru pindah dari Belanda itu tampak tak suka saat mamanya menciumi Kea.

__ADS_1


Kea yang tak begitu paham pembicaraan orang tuanya, maka, bocah perempuan yang terlalu semangat dengan teman barunya itu mendekati Sandi, tersenyum ramah dengan tangan menoel-noel lengan Sandi.


"Ck, Jangan gangguin aku" Desisnya dengan bahasa indonesia yang kaku.


Kea refleks tertawa saat alat dengarnya memproses suara Sandi. Ia merasa geli karena Sandi terdengar sangat kaku dan memaksakan. Yang sayangnya refleks tawa itu mendapat geraman tak suka laki-laki kecil berdarah Belanda itu. Sandi tak suka diremehkan. Dan Kea seolah meremehkan kemampuan berbahasanya.


Para orang tua muda yang mendengar tawa Kea pun mengalihkan atensi mereka. Mereka saling tersenyum karena sebagai orang yang sama-sama baru pindah, baru kali ini anak mereka saling berkomunikasi satu sama lain.


"Kea umur berapa Kell? Uda sekolah? Kayaknya kecil banget ya?" Kata mama Sandi kala itu ,


Mama Kea menyahut kalau Kea berusia 5 tahun dan baru akan masuk sekolah tahun ini.


Kea ingat, kala itu mama Sandi berteriak heboh, Mengatakan kalau Kea terlalu kecil dan lucu untuk ukuran bocah 5 tahun, mungkin karena Sandi bertubuh bongsor maka perbandingannya terlihat sangat jauh.


Kea juga ingat, kala itu mama Sandi memegang bahu Sandi, menatap kedua bocah itu dengan lembut. " Say hello dong sama Kea San"


Sandi berdecak tak suka, tapi menurut kala papanya berdehem, "Hello, mijn naam Sandi(Namaku Sandi)" Katanya malas.


Kea mengangguk-angguk karena tak paham, ia memegangi tangan Sandi, sangat lengket. Ia begitu penasaran dengan bocah jangkung itu.


"Nah, Kea is jonger dan Sandi, Sandi moet in de toekomst voor Kea zorgen, oké? (Nah, Kea itu lebih muda dari Sandi jadi Sandi harus jaga Kea terus ya)" Kata mama Sandi saat Kea semakin lengket dengannya.


Kea tak tau apa arti ucapan mama teman barunya itu, tapi saat itu Kea dapat melihat kilatan tak suka dimata coklat teman barunya.


Sandi mendendam saat itu.


Kea tak tau karena apa.


Tapi, Sandi benar-benar menjadi teman yang menakutkan untuk Kea, bahkan sampai mereka dewasa.


Kea pernah masuk rumah sakit jiwa karena Sandi membullinya disekolah. Mengucilkannya dilingkungan pertemanan mereka.


Dan puncaknya saat Sandi menabrak Kea, berniat membunuh Kea karena Kea telah membuatnya putus dari pacaranya.


Kea yang dulunya lemah dan selalu menerima mulai tak suka, Ia mulai memutar otak untuk membuat Sandi menderita. Dan tak ada yang dipikir Kea selain mengatakan kalau Sandi telah memperkosanya dan harus menikahinya.


Kea tak tau, ajang balas dendamnya itu menjadi boomerang untuknya, setidaknya untuk beberapa tahun setelahnya, karena sekarang Kea seolah tak lagi mengingat kenangan buruk itu kala Sandi, Suaminya itu mendatanginya dengan raut kesal.


"Ke, kamu taruh berapa banyak cabai sih dimartabak asin mu itu!" Marahnya sambil mengerang memegangi perut menahan mulas.


"Aku- Haishh, Kea Ankara Tan awas aja kamu aku bales nanti, haishhh!" Teriak Sandi sebelum kembali masuk kedalam kamar mandi.


Kea tergelak, tadi pagi ia membuat martabak asin untuk bekal Sandi. Dan dengan usilnya Kea memasukkan beberapa cabai utuh kedalam kulit martabak yang membuat Sandi pulang jam 2 siang dengan wajah pucat pasi.


Kea bahkan tak dapat menahan senyum gelinya ketika Sandi terhuyung-huyung menuju kamar mandi karena lemas.


"San"


"Masih mulas banget ya?"


"Menurutmu?" Sahut Sandi dari kamar Mandi.


Kea berdehem menahan geli, "Aku buatin air hangat ya, sama aku beli obat nanti"


"Hm" Sahut Sandi kesal.


Kea menggigit bibir bawahnya, lalu perempuan itu melakukan apa yang ia katakan sebelumnya, membeli obat dan membuat air hangat untuk Sandi, tentunya dengan perasaan yang girang gembira.


***


Kea berdehem untuk menyamarkan tawa saat Sandi bergelung dibalik selimut.


"Sayang" Panggil Kea ditelinga Sandi, berbisik dengan nada seduktif.


Sandi menggeram. "Jangan mancing deh Ke"


"Mancing apa orang aku- Akh, Sandi!" Kea memekik heboh ketika Sandi menarik tangannya dan membuat perempuan berdarah tionghoa itu jatuh kedalam pelukan Sandi.


"Nakal banget kamu ya, his" Sandi menggelitiki Kea yang membuat perempuan itu tergelak memohon ampun.


"Bilang dulu, Ampun Sayang gitu!!" Kata Sandi saat ia rasa Kea kelelahan.


Kea menggeleng, "Gak mau akh hahaha, Sandi hiss.. Ampun,"


"Bilang Ampun sayang dulu"


"Hahaha, iya-iya , Ampun Sayang his, udah tangannya jangan gelitiki lagi.." Kata Kea ngos-ngosan.


Sandi berdecak, ia lalu mencium bibir Kea sekilas ketika ia juga merasa lelah.


"San?" Panggil Kea ketika Sandi memeluk tubuhnya sambil memejamkan matanya.


"Hm"


"aku minta maaf ya,"


"Hm, tapi jangan diulangi lagi, perut aku sakit banget"


Kea mengangguk. ia lalu membalikkan tubuhnya, dan kian masuk kedalam dada Sandi yang sekarang menjadi tempat favoritnya.

__ADS_1


Lama mereka dalam posisi seperti itu. Kea agak mendongak saat Sandi hampir memejamkan matanya.


"San"


"Hm,"


"Kenapa rambutmu kamu cat hitam sejak kita SMP, padahal kan bagus coklat"


Sandi berdehem, antara sadar dan tak sadar,


"San"


"Ya sayang"


"Kenapa"


"Biar gak nampak bule" Kata Sandi asal.


Lalu mereka kembali diam, Sandi sudah hampir masuk kedalam mimpi saat Kea lagi-lagi memanggilnya.


"San"


"Hm"


"Gak jadi"


Sandi mengeratkan pelukannya, matanya benar-benar terpejam saat Kea kembali memanggil.


"San"


"Ya ampun, apa sayang, Aku ngantuk banget, perut aku mules sayang"


"Tadi katanya uda maafin aku, kok diungkit"


Sandi menggeram, "Nggak sayang, nggak, udah yah, aku mau tidur"


"San"


"Astagfirullah Kea, Aku ngantuk banget, aku pikir-


"Wo Ai ni"


"Hah, Apa?"


Kea menggeleng, Ia lalu memeluk Sandi, "Uda yuk tidur katanya ngantuk"


"Tadi kamu bilang apa?"


"Apa sih?"


"Kamu bilang apa tadi"


"Wo ai ni, udah"


"Apa itu artinya?"


"Rahasia"


"Kea"


"Rahasia Sayang, rahasia, uda yuk tidur" Kata Kea memeluk Sandi,


"Tapi- Hmp" Kea mencium bibir Sandi.


"Tidur, katanya ngantuk tadi" Kata Kea dengan wajah merah.


"Tapi-"


Cup


"Tadi-


Cup.


"Aku-


Cup


"Denger-


"Ck, tidur sayang" Bisik Kea manahan kesal. Sandi tergelak.


Dan saat mata mereka berada dalam satu garis lurus. Kea merasa, Sandi benar-benar takdirnya.


Bukan mereka yang salah, bukan takdir mereka yang salah, Tapi, langkah awal mereka yang salah.


*****


Coba tebak, Apa arti Wo ai ni yang diucapin Kea?

__ADS_1


__ADS_2