Salah

Salah
S-1- Bisa jauhin dia?


__ADS_3

Kai mengangguk, "Dan om harap dua sampai tiga bulan ini, Kamu dan Kea fokus kesekolah dan ujian kalian dulu. Om harap juga.." Kai tampak ragu mengatakannya, "Kalian bisa menunda untuk memiliki anak"


Uhuk-uhuk, Sandi tersedak ludahnya sendiri.


Anak?


Maksudnya memiliki anak dengan Kea?


Dengan manusia tak berguna itu?


Cih Sandi harap hal itu tak akan pernah terjadi dalam kehidupannya.


***


Hari ini tumben-tumbenan sekali keluarga kecil Sandi tak memulai perdebatan yang berujung KDRT pagi ini. Sandi yang biasa selalu recok memprotes ini itu pun kali ini lebih banyak diam, Laki-laki itu memakai seragam, tas dan sepatu sekolahnya tanpa mendebat, bahkan saat Kea tak sengaja menyenggol ponselnya hingga jatuh pun Sandi terkesan cuek. Laki-laki itu benar-benar berniat menghemat energinya untuk hari pertama kerjanya kali ini.


Sedangkan Kea lebih tampak linglung, perempuan berkaca mata itu terus terngiang-ngiang ucapan Sandi semalam. Sebanarnya setelah Sandi membahas Lucifer kecil itu, Kea langsung pergi ke apotek untuk membeli pil pencegah kehamilan. Ia bahkan meminumnya lebih dari seharusnya. Tapi setelah hampir dua hari apa pil itu masih berfungsi seperti seharusnya?


"Kea" Panggil Kelli saat pasangan muda itu sudah akan pergi kesekolah.


Kea menoleh, menatap mamanya dengan kening mengkerut, sedangkan Sandi sudah ada didepan untuk memanasi motornya. Omong-omong mereka pergi dengan kendaraan berbeda tiap harinya untuk memutus kecurigaan pihak sekolah.


"Ya ma?"


"Kamu kenapa? Kok kayaknya galau terus dari semalem sore?" kata Kelli dengan pelan-pelan takut menyinggung.


"Ma.." bisik Kea tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


"Kenapa?"


"Kea itu," Kea mamalingkan wajahnya, matanya memerah menunggu banyak kemungkinan tak pasti dalam kepalanya. Jujur saja kabar kehamilan bukanlah kabar yang membahagiakan untuknya dan mungkin juga untuk Sandi, Ini seperti ketakutan yang mengerikan. Kea tak mau melibatkan anak dalam kehidupan rumah tangganya untuk sekarang ataupun sampai kapan pun, karena jujur saja... Kea agak belajar dari pengalaman orang tuanya. Ia tak mau anak menjadi korban dari hubungan tak sehat kedua orang tuanya. Dan jika dilihat dari hubungannya dan Sandi, sampai kapanpun ia tak akan siap akan kehadiran seorang anak.


"Kea kenapa?" Tanya Kelli khawatir.


Kea menarik mamanya mundur, ia lalu berbisik ketelinga mamanya, "Ma.. Temeni Kea ke Rumah sakit nanti ya."

__ADS_1


"Loh, Kea kenapa? Kamu-


"Hiks ma.. Kea takut, Kea gak mau hamil, temeni Kea periksa yah ma yah, Kea gak mau ada hubungan yang lebih sama Sandi. Kea hiks, mama"


Wajah Kelli memucat saat mendengar jawaban Kea, dunianya seakan runtuh, jangan sampai, jangan sampai ceritanya kembali terulang"Kea, hei, tenang dulu."


"Pokoknya mama temeni Kea, Kea gak mau tau hiks" Kea sesenggukan sendiri.


Kelli yang berniat bertanya lebih pun mengurungkan niatnya saat Sandi kembali masuk kedalam rumah, "Iya nanti mama temeni" bisik Kelli pelan.


"Loh, Sandi kok balik lagi?" Tanya Kelli tersenyum, ia bertanya untuk mengalihkan perhatian Sandi dan sekaligus memberi tau Kea akan keberadaan suaminya itu. Kea tersentak, perempuan itu segera melepas kaca matanya dan mengelap air matanya. Sandi tak boleh tau masalah ini atau.. Laki-laki itu akan tertawa jahat karena nantinya bisa mengendalikannya melalui hal yang tak bisa Kea prediksi ini.


Sandi yang awalnya berniat memanggil Kea karena disuruh ayah mertuanya itupun memberi senyum ibu mertunya, "Sandi, disuruh Om panggil Kea Tan" Katanya mencoba mengabaikan rasa penasarannya.


Kelli tersenyum, Kea segera membalikkan tubuhnya, lalu melewati Sandi dengan mata fokus kedepan.


Sandi mengikuti langkah Kea, ntah kenapa rasa penasarannya bertumpuk sampai memenuhi kepalanya.


***


Sandi ikut melirik Kea saat Mario berkata seperti itu. Kea memang tak terlalu mencolok disekolah, selain dikenal teman seangkatan hanya karena ia yang penyakitan dan juga pernah hampir mengambil beasiswa kejepang, Kea benar-benar bukan siapa-siapa. Begitupun Yuda, yah walaupun laki-laki bisa dikatakan cukup terkenal karena kapten tim voli sekolah tahun lalu. Tapi tetap saja, Sandi rasa kedua orang yang mengaku pasangan kekasih itu tak seterkenal itu untuk selalu digosipi. Ntah kenapa Sandi tak suka hal itu. Ia hanya merasa tak terima kenapa orang setakberguna Kea mendapat banyak perhatian banyak orang.


"Ini kah yang dinamakan cinta sejati?" Ujar Deni tertawa, "Napa lo pada liatin gue emang iya kan?" Kata Deni saat kedua temannya menatapnya aneh.


"Ck, Man serius lah, kadang gue itu sering iri sama pasangan Yuke"


"Yuke?"


"Yuda Kea, njing, gitu aja gak ngerti, ck, tapi gue serius ini, Mereka berdua uda pacaran dari SMP ya gue denger-denger, gila nggak tuh berapa tahun? Uda gitu mereka saling melengkapi lagi, Gue akui Kea cantik, tapi yah you know lah kekurangan Kea. gue kadang mikir kalau seandainya gue ada diposisi Yuda sanggup gak gue. iya nggak?" Kata Deni berdecak iri.


Mario manggut-manggut, "Iya juga, susah kayaknya misahin mereka."


Deni manggut-manggut, "Dan Makin susah juga kesempatan Sandi mendapat kesempatan nih." Kata Deni melirik Sandi yang sejak tadi tak mengalihkan tatapannya dari Yuda dan Kea yang masih asik mengobrol, padahal jika dilihat-lihat Yuda dan Kea bukanlah objek yang kiranya menarik diantara berjubelnya kantin siang ini.


"Gue?" Desis Sandi tak suka.

__ADS_1


"Ck, santai man , santai, lo sih, akhir-akhir ini sering liatin Kea mulu, katanya gak suka, katanya benci sampai ubun-ubun, katanya jijik tapi gue liat-liat sering juga lo ketangkep curi-curi pandang." Kata Mario nyinyir.


Sandi menatap kedua temannya, lalu berdecih, "Gue curi-curi pandang? Cih, gak salah orang lo?"


"Gak lah, eh asal lo tau ya Man, gosip kalau lo orang ketiga diantara putusnya Kea sama Yuda itu mulai berhembus lo. Lo juga akhir-akhir ini jarang bahas Lusi, gue curiga.. Lo ini mulai-mulai terjebak cinta Kea nih," kata Mario lagi,


Deni tertawa, "Iya kan gak lucu nanti kalau cerita lo dijadikan judul sinetron, 'cintaku terjebak tetangga sebelah yang kubenci' ngakak gue"


Saat kedua temannya tertawa, Sandi justru berdesis. Kenapa saat hubungannya dan Lusi kandas bagai tak bersisa, hubungan Kea dan Yuda justru kian banyak dukungan semua orang.. Ini seperti ketidak adilan yang Sandi benci sejak dulu.


Sandi kembali melirik Kea dan Yuda yang kini saling tertawa dengan saling bersulang-sulangan minuman. Ah, keduanya tampak manis sampai membuat Sandi berpikir untuk memperkeras tegurannya pada pasangan manis itu.


***


Bugh


"Anjing, uda berapa kali gue bilang, jauhin Kea" marah Sandi menarik kerah kemeja Yuda yang kini terbatuk-batuk karena mendapat serangan mendadak.


Yuda terkekeh, "Bukannya seharusnya gue yang ngomong kayak gitu bangsat! Bukannya gue yang harusnya ngancem lo buat gak deket-deket sama cewek gue hah!" Amuk Yuda memberi pukulan balasan untuk Sandi


Sandi memalingkan wajahnya, pipinya terasa nyeri.


"Apa? Diem lo? Sadarkan lo, yang harusnya bersikap kayak lo itu gue, Oh, atau gosip diluar sana bener. Lo suka sama Kea tapi Kea gak suka sama lo."


Sandi berdecih, "Najis"


"Kalau gitu, lo yang harusnya jauhin Kea." Kata Yuda mengambil tasnya yang sempat terjatuh, berniat pergi dari kecekcokan yang tak bermutu ini.


Sandi kembali memalingkan wajahnya, saat langkah Yuda semakin jauh, Sandi berdesis pelan. "Bukannya lo yang bilang buat gue tanggung jawab? Gue uda tanggung jawab secara kekeluargaan kalau itu yang lo mau tau, jadi.. bisa lo jauhin dia?


Dan Yuda merasa kepala memberat seketika, hal itu berbanding terbalik dengan Sandi yang kini menahan senyum culas dibalik ringisan kesakitannya.


***


Yessss...

__ADS_1


Kayaknya satu-satu masalah harus diselesaikan nih wkwkwk.


__ADS_2