Salah

Salah
S-1 Terima kasih (End)


__ADS_3

Dan untuk pertama kalinya, keduanya menangis bersama. Saling bepelukan dan saling menenangkan. Seolah mereka mengadu, kalau ternyata mereka sama-sama merasakan kehilangan yang sama. kesakitan yang sama pula. Dan untuk pertama kalinya juga. Kea berani memulai interaksi kalimat terlebih dahulu.


Kalimat pertama yang akan Sandi ingat sepanjang hidupnya.


"Ayo kita perbaiki San"


****


Kea memicing kan matanya kala tak mendapati Sandi disebelahnya. Perempuan berdarah Tionghoa itu mengucek mata rabunnya yang berair akibat dipaksa fokus padahal ia baru bangun dari tidur.


Mengambil kaca matanya dan mengaktifkan alat dengarnya, Kea mulai memanggil-manggil nama Sandi dengan kebingungan. Tak biasanya laki-laki yang menjabat sebagai suaminya itu pergi tanpa meninggalkan pesan.


Bahkan dapur yang biasanya menjadi spot favorit laki-laki yang baru lulus ujian paket C itu menampilkan suasana yang hening.


Kemana perginya laki-laki itu.


Kea berdecak kesal, Menghentakkan kakinya yang tak beralas apapun itu. Mengambil ponselnya masih sambil menggerutu.


"Ck, kemana sih? masih pagi-pagi juga" Desis Kea menempelkan ponselnya ketelinga setelah mendial nomor sang suami.


Tapi raut kekesalan perempuan muda itu berganti menjadi kernyitan bingung saat mendengar suara dering ponsel milik Sandi dari balik meja makan.


Dan Kea tak dapat untuk tak mengangakan mulut kecilnya saat mendapati si 'suami' yang ia cari itu sedang menyengir sambil memegangi tiramisu yang sudah dihias dan ponsel yang sudah kotor oleh krim dari tiramisu.


"San? Kamu- ngapain?" Tanya Kea masih tak dapat menutupi keterkejutannya.


Sandi cengengesan, "He.He. Ketauan aku pikir-


Dugh


-akh!"


Kea semakin tak dapat menutupi keheranannya saat Sandi terantuk meja ketika mencoba keluar dan membuat tiramisu yang ada ditangannya penyok karena terkena baju bagian depannya.


"Kejutan!" Teriak Sandi sambil berusaha merangkak keluar dari kolong meja.


"San-"


"Selamat ulang tahun Ke. Hehehe, " Laki-Laki jangkung itu meletakkan ponselnya kemeja lalu menyodorkan Tiramisu penyok yang bacaannya sudah hilang, meninggalkan angka 19 disana yang itupun mulai kabur.


"Ulang tahun?" Nganga Kea makin bingung.


"Iya, ini tanggal 7 kan?" Tanya Sandi ikut bingung, jadilah sepasang suami-isteri itu tatap-tatapan dengan kebingungan.


"Iya, Tapi ulang tahunku tanggal 7 bulan depan San! Ih, gimana sih" Marah Kea.


"Hah! Bulan depan!!!" Teriak Sandi tak santai.


"IYA! 7 Oktober bukan September, Oktober sama September itu gak ada mirip-mirip nya tau!!" Marah Kea tanpa sadar ikut berteriak-teriak.


Sandi menahan nafasnya, Ia mengerjapkan matanya. "Yang bener Ke?"


"Ya benerlah, Yang gak bener itu otak kamu tau!" Marah Kea kesal.


Sandi meringis, ia menatap tiramisu penyok ditangannya itu, kue yang ia pesan jauh-jauh hari, ia bawa dengan kehati-hatian dan ternyata salah bulan.


"Kamu gimana sih, ulang tahun isteri sendiri gak tau, uda berapa tahun sih kita barengan. Dua tahun tau San, Dua tahun ihk" Kesal Kea menarik tiramisu penyok itu dari tangan Sandi, Marah tapi juga sayang dengan kue kesukaannya itu.


Sandi menghela nafas, "Namanya juga kejutan Ke" nelangsanya.

__ADS_1


Kea melototkan mata sipitnya, " Bilang aja kamu emang gak inget bulan kelahiran ku kan, kamu-hmp


Kea melototkan matanya saat sandi membungkam bibirnya dengan ciuman manis laki-laki itu, Hanya Ciuman singkat yang tak menggebu. Ciuman yang memang sering Sandi beri kalau Kea sudah meromet sepanjang waktu.


"Stt, Iya-iya aku lupa, Aku ingetnya september, Aku lupa, beneran lupa, bukan karena gak sayang. Cuma aku memang ingetnya kamu lahir bulan September. Maaf ya.." Bisik Sandi memeluk Kea dari belakang setelah merubah posisi mereka agar Sandi tak mengenai tiramisu penyok yang dipegang Kea.


"Maaf, ini itu persiapan aku sendiri tau.. Lagian kan ini kali pertama aku ngerayaain ulang tahun mu, jadi maafin aku ya" Bisik Sandi penuh penyesalan, mengendus leher wangi khas isterinya itu.


Kea tertegun, benar juga, selama dua tahun mereka bersama. Mereka belum pernah merayakan ulang tahun salah satu dari mereka. Bahkan saat Sandi ulang tahun yang ke 20 di April semalam, Kea tak mengucapkan apapun. Membuat hari spesial itu berlalu begitu saja. Dan kali ini Sandi berusaha memberinya kejutan.


Kea terharu.


"Kamu pesen sendiri?" Kata Kea dengan nada bergetar, merujuk pada tiramisu penyok ditangannya.


Sandi menggeleng dileher Kea, "Nggak, aku pesen kebakery dari seminggu yang lalu, aku ambil subuh tadi karena takut ketauan kamu. Waktu aku pulang dan mau siap-siap aku panik karena kamu uda bangun dan manggilin aku. " Sandi menarik nafasnya pelan, "Terus, aku ngumpet dimeja, tapi ternyata persembunyianku gagal karena kamu nel- hmp"


Kali ini bukan Kea yang melototkan matanya, tapi Sandi, laki-laki itu ngeblank seketika begitu Kea membalikkan tubuhnya dan merasakan bibir lembut Kea mencecap bibirnya dengan menggebu.


Sandi tak mampu berbicara ketika Kea menekan tengkuknya dengan tangan kiri sedangkan tangan yang lain menahan mika tiramisu didepannya.


Sandi tersenyum dalam ciuman mereka ketika ia mendapatkan kesadarannya, laki-laki itu balas menahan tengkuk Kea, memperdalam ciuman tak beraturan Kea menjadi ciuman dalam yang menghanyutkan. bahkan mereka sudah tak lagi memperdulikan mika tiramisu diantara mereka yang akhirnya jatuh kelantai.


Yah, Dulu Kea yang pernah memergoki kedua orang tuanya dalam posisi ini.


Dan Kea tak menyangka, ia yang mengalaminya sekarang. Bersama suaminya.


****


"Jadi apa kado buat aku," Tagih Kea setelah mereka selesai membersihkan lantai yang kotor, mandi, sarapan dan duduk Santai.


Hari ini kebetulan hari Sabtu, Sandi mengambil cuti dari bengkel, tak mengambil pekerjaan sebagai freelancer dibeberapa perusahaan hanya untuk merayakan ulang tahun Kea yang ternyata salah bulan itu.


Sandi menoleh, laki-laki yang sejak tadi senyum-senyum sendiri ketika mengingat ciuman panas mereka tadi itu agak meringis saat mendapati mata sipit isterinya yang memicing. Mengancam.


Sandi berdehem, laki-laki itu mengambil posisi, meletakkan kepalanya kepangkuan Kea dan membiarkan kaki panjangnya menjuntai ditangan Sofa.


"Kan bulan depan ulang tahunnya" Kata Sandi memegangi pipi Kea yang sekarang mulai kembali tembam.


"Tapi kan kamunya ngerayainnya bulan ini, seharusnya kadonya pun bulan ini" Desis Kea agak menunduk karena Sandi yang masih betah menarik-nari pipinya.


Sandi berdehem, laki-laki itu memeringkan tubuhnya untuk memeluk perut Kea. " Aku uda siapin kadonya, tapi gak tau kamu suka apa nggak" Bisik Sandi agak teredam karena laki-laki itu memeluk perut Kea.


"Apa kadonya?" Tanya Kea sedikit antusias.


Sandi mendongak, laki-laki itu memegang tengkuk Kea, memakasa Kea untuk menunduk sebelum kembali mengulang ciuman panas yang beberapa waktu lalu mereka lakukan.


"Sebelum kasih kadonya, Sore nanti ketempat Angela dulu yuk, aku kok tiba-tiba kangen,"


Kea yang masih menunduk itu tersenyum, "Ya, aku juga kangen" Bisiknya.


Dan lagi,


Keduanya mengulang ciuman itu, kali ini dengan kelembutan yang begitu terasa.


***


Sorenya, pasangan suami isteri muda itu Benar-benar datang menemui Angela, mereka berdoa dan sedikit bercerita tentang keseharian mereka yang ntah bagaimana menjadi kebiasaan keduanya. Seolah mereka ingin Angela selalu tau kegiatan mereka. Seolah Angela ada disisi mereka setiap saat.


"Mama kesel hari ini" Mulai Kea setelah mereka berdoa, "Papa mu salah ngerayain ulang tahun mama, uda gitu bikin kue mama penyok lagi. Krimnya nempel dibaju papamu semua tau nggak sayang, Kan mama sebel nyucinya. Krimnya berminyak susah dihilangi" Adu Kea menggebu, mengabaikan senyum geli Sandi.

__ADS_1


"Marahin aja papa mu itu sayang, Mama masih kesel" Tutup cerita Kea, perempuan itu melirik Sandi penuh permusuhan.


Sandi terkekeh, "Jangan marah dong Sayang, papa kan beneran lupa" Kata Sandi melirik Kea.


"Tapi sebagai permintaan maaf dan hadiah, papa mau kasih sesuatu buat mama" Kata Sandi tiba-tiba.


Kea menolehkan kepalanya cepat menatap sandi, tak menyangka laki-laki itu akan mengatakan hal itu.


"S-san?"


Sandi tersenyum, laki-laki itu merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak beludru yang berisi sepasang cincin pernikahan.


Mata Kea terpaku, tapi ada bening haru dibalik kaca matanya.


"S-san i-ini?"


"Selamat ulang tahun yang ke 19 Kea, walaupun mendahului satu bulan. Tapi nggak papa kan?"


Kea tak mampu menjawab, matanya sudah mulai menjatuhkan bening-beningan kristal dimatanya.


"Hari itu, di tanggal 9 bulan Mei dua tahun lalu, kamu resmi jadi bagian hidupku, juga aku yang jadi bagian dari hidupmu. Tapi.. selama itu, aku belum pernah benar-benar bahagiain kamu seperti janjiku dalam pernikahan kita waktu itu, Aku tau ini uda telat, dan aku tau ini gak seberapa, tapi Kea.. Kamu mau kan tetap jadi bagian hidupku sampai nanti maut memisahkan?"


Sandi mengangkat kotak itu, "Aku gak janji kalau aku bakal kasih kehidupan rumah tangga yang indah buat kamu Ke, tapi aku janji aku bakal selalu kasih kamu tempat pulang terindah dihidupmu, Jadi kamu mau kan Ke?" Tanya Sandi meragu.


Kea menghapus air matanya kasar, ia mengangguk kuat tanpa harus berpikir dua kali.


Dan Sandi tersenyum karenanya, Laki-laki itu memeluk Kea, "Makasih Ke, makasih uda mau bertahan sama aku, dan makasih uda kasih Angela diantara kita. Aku hiks, Sial- Aku gak ngerti harus ngomong apa lagi" Tangis Sandi memeluk Kea.


Kea tertawa, ia balas memeluk punggung sandi yang kini agak kurus, "Makasih juga uda mau bertahan sama aku san.. Makasih uda jadi sosok suami dan papa yang terbaik buat aku dan Angela. Makasih"


Keduanya berpelukan, dengan tangan yang saling bertaut, dengan jari yang mulai tersemat cincin dan dengan Ego yang mulai runtuh.


Mereka bersama, dengan Angela kecil sebagai saksinya.


END


***


Note:


Yess akhirnya kita uda berada dibab terakhir cerita Sanke, aku tau cerita ini masih jauh dari kata layak untuk dibaca, dan aku juga tau terlalu banyak hal-hal negatif yang ada dalam cerita ini untuk ditiru.


Tapi aku harap, kalian bisa ambil hal positif dari banyaknya hal negatif yang ada, beberapa diantaranya adalah.


-Jangan melakukan tindakan pembulian dimanapun.


- jangan selalu termakan Ego


- Jangan berpikir pendek tanpa memikirkan dampaknya.


-Utamakan pendidikan.


-Jangan terlalu mengandalkan logika.


-Jangan nikah saat kita terlalu muda dan belum mampu


-Dan terakhir, jangan terlalu mendendam pada apapun dan siapapun.


Karena semua hal pasti ada dampaknya..

__ADS_1


Sebagai penutup cerita, aku bakal kasih 2 bab Extra , Bab yang berisi sudut pandang antara Sandi dan Kea sejak kecil, serta alasan dendam tak berujung dimasa lalu itu berlanjut..


So, See youu..


__ADS_2