
Bodoh!
Kenapa Sandi melupakan fakta akan penyakit lahir Kea ini.
Rasanya semua orang pun tau, bagaimana beresikonya perempuan hamil yang memiliki riwayat jantung.
Salah satu penyakit yang membuat Kea koma cukup lama setelah lahiran Angela waktu itu.
Sandi terkulai lemas.
Kenapa ia tak pernah memikirkannya.
***
Lagi, lagi dan lagi, Sandi harus menunggu Kea sadar dari pingsannya. Rasanya baru semalam Kea pingsan kekurangan darah saat melakukan percobaan bunuh diri karena ketakutannya. Sekarang perempuan itu kembali terbaring lemah. Namun bedanya kali ini bukan karena Kea ingin mengakhiri hidupnya. Tapi, karena penyakit bawaan lahir yang sempat terabaikan oleh keduanya.
Sandi ingat dan Sandi juga tau, Kea adalah satu pengidap penyakit jantung bawaan lahir akibat kelahiran prematur perempuan itu dulu.
Penyakit itu juga sebenarnya yang membuat mereka sempat menunda punya anak, sebenarnya sih bukan menunda, tapi lebih tepat disebut keengganan Sandi karena setelah kasus Angela yang meninggal sebab Dehidrasi dan Kea yang koma lebih dari dua hari karena serangan jantung itu. Sandi jadi tau apa bahaya hamil untuk pengidap penyakit mematikan seperti yang diderita Kea itu.
Mungkin, itu juga sebab Kea ingin melakukan bunuh diri waktu itu, karena Sandi yang sempat melarang kea hamil sebelum pindah ke Jepang.
"Huh" Sandi mengusak rambut coklatnya kebelakang. Pikirannya benar-benar penuh saat ucapan dokter yang menangani Kea terngiang dikepalanya.
Kea mengalami lemah jantung yang parah atau yang disebut penyakit jantung Ventrikel tunggal, dimana jantung hanya memiliki satu bilik yang memompa darah keluar dari jantung, bukan dua seperti seharusnya.
Sejak dulu, Kea memang menjalani perawatan untuk penyakitnya, tapi semenjak menikah dengan Sandi, Kea hanya mendapat pengawasan dan kontrol sekilas oleh dokternya dulu, hal itu disebabkan selama ini baik Sandi dan keluarganya lebih mengutamakan kesehatan mental dan psikis Kea dibanding yang lain. Tanpa berpikir kalau Kea juga memiliki kelemahan fisik yang cukup serius.
"Apa keputusan aku buat ngeyakinin kamu untuk pertahanin si adek adalah sebuah keputusan yang salah Ke?" Kata Sandi gamang, mata laki-laki itu berkaca-kaca, hatinya sakit sekali.
Apalagi ketika lagi-lagi ucapan dokter kandungan Kea terngiang dikepalanya. Resiko keselamatan Kea dan si calon bayi berada diujung tanduk jika kondisi Kea tak kian membaik.
Hal itu dikarenakan, Kea yang membutuhkan obat-obatan untuk penyembuhannya sedangkan sudah pasti obat-obatan itu menjadi larangan utama untuk si calon bayi.
Sandi benar-benar bingung, ia seperti dihadapkan pilihan antara ingin menyelamatkan si calon bayi yang selama ini ditunggunya dengan sepenuh hati atau justru menyelamatkan istri yang begitu ia cintai.
Atau bahkan sebenarnya pilihan itu bukan hanya sekedar kata 'seperti' tapi memang sudah terjadi.
Sandi menunduk, ia merasa dunianya berputar, kepalanya sakit dan hatinya remuk redam. Sandi perlu pegangan sekarang, ia butuh dukungan, benar-benar butuh dukungan.
__ADS_1
Dan begitu ia merasakan usapan lembut dibahunya, Sandi tak tahan untuk tidak menangis. Ia tergugu, tak lagi memperdulikan Akira-teman kuliahnya dan juga Ayumi-Tetangga apartemennya yang siang itu baru datang berkunjung. Menatapnya penuh rasa iba yang tak dapat didiskripsikan.
***
Pagi itu menjadi pagi yang paling membisukan untuk Sandi dan Kea selama mereka memutuskan untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Kea menunduk dengan nafas tersendat-sendat menahan tangis begitu ia mengetahui kondisi tubuh dan kandungannya dari Sandi.
Perempuan itu memeluk perut besarnya dengan posesif, seolah-olah melindungi si calon bayi dengan pelukannya.
"Kea"
"Huks, nggak San, nggak hiks, Kalau kamu mau bilang buat lahirin si adek secara prematur buat keselamatan aku, aku gak mau hiks" Tekan Kea menepis tangan Sandi yang tadi berusaha menyentuh tangannya.
"Kea, kamu-
"Nggak, kamu gak sayang si adek apa? Kamu tega ngeluarin dia dari perut aku hiks, kamu tega hiks, kita kan uda janji hiks uda janji San, buat ngelindungi dan ngebahagiain si adek hiks" Tangis Kea tal terkontrol.
Sandi baru saja menawarkan untuk melakukan operasi secar secara prematur agar Kea dapat segera menjalani pengobatannya, setidaknya meminum obat pereda nyeri dosis tinggi untuk mengurangi rasa sakitnya. Tapi Kea menolak dengan tangisan yang meyayat hati.
Sandi bahkan tidak tidur semalaman untuk mengambil keputusan ini.
"Nggak San, nggak hiks, nggak, kamu uda janji kalau kejadian Angela gak bakal keulang lagi.. Kamu pikir aku bakal rela kehilangan anak aku lagi San, lagi San, Lagii hiks, kamu uda janji, kamu uda janji kalau nggak ada Angela-Angela lain yang ngerasai apa yang dirasai Angela ku hiks" Kea memukul-mukul dadanya. Seolah merasa jengkel dengan organ vital terlemahnya itu.
Sandi yang melihat itu menahannya, "Kea kamu gila hah!"
Kea terperanjat saat Sandi membentaknya, sejenak Kea merasakan rasa nyeri didadanya sebelum ia menatap mata suaminya dengan bengis.
"Iya! Iya aku uda gila, aku memang gila San, aku manusia gak berguna yang pernah ngedekam di Rumah sakit jiwa, aku hiks, aku memang uda gila San, aku uda gila hik, Tapi aku mohon , sekali ini aja hiks, biarin perempuan gila ini meluk anaknya San, anaknya yang sehat anaknya yang cantik mirip papanya, anaknya berisik, anakanya nangis kencang hiks, biarin San, biarin, aku sanggup kok-" Kea menghapus air matanya, mengabaikan rasa nyeri didadanya, Perempuan sicalon ibu dua anak itu memegang lengan Sandi dengan keseriusan yang penuh tekad.
"A-aku kuat kok nahan sakit San, Aku kuat, aku uda biasa sakit dari kecil, aku uda biasa nahan sakit, aku pasti kuat, aku mohon ya. Jangan ambil paksa anak aku hiks, aku lebih baik nahan sakit daripada aku harus kehilangan si adek San, aku mohon" Kea menangkupkan tangannya memohon.
Sandi mengalihkan tatapannya, enggan menatap permohonan menyakitkan istrinya.Matanya sudah berkaca-kaca. Tangannya mengepal.
"Kamu uda janji san, Uda janji sama kami dulu hiks" Kea kian tergugu.
Sandi menarik tangannya yang tadi dijadikan bahan tumpuan permohonan Kea, laki-laki itu mengusap wajahnya agar menghalau tekanan emosionalnya untuk tak ikut menangis seperti istrinya.
"Tapi kamu harus sehat Ke-"
__ADS_1
" Dan biarin anak aku menderita!" Teriak Kea.
"Menderita apa! Adek gak bakal menderita, aku janji setelah dia lahir nanti aku bakal sediain perawatan khusus buat dia, aku janji dia gak akan kekurangan apa-pun, aku janji dia bakal sehat Kea, aku janjii, tapi aku mohon sayang, aku mohon, kamu mau sembuh untuk kami, kamu-
"Apa kamu pikir segampang itu?" Tanya Kea dengan nada menyakitkan.
Sandi terdiam kaku.
"Kalau aku mau operasi secar kayak yang kamu bilang" Kea menjeda kalimatnya. " lalu apa bedanya aku sama anak aku nanti, kamu pikir lahir prematur itu gampang hah, kamu nggak bisa lihat aku sekarang hah, aku lahir prematur San, aku lahir prematur, aku nikmati perawatan terbaik rumah sakit, tapi apa hah, aku tuli, aku buta, aku penyakitan. Kamu pikir aku mau anak aku ngulang kisah lama ku, kamu pikir aku mau hiks" Teriak Kea tak terkendali.
"Kea-" Sandi kehabisan kata-katanya.
"Aku mau anak aku sehat, aku mau anak aku mirip kayak papanya, yang kuat, yang hebat, yang pintar yang pantang menyerah yang-
"Kea - udah" Sandi langsung menarik Kea dalam pelukannya.
"Aku gak mau anak aku lemah kayak mamanya, aku gak mau anak aku ngerasain heningnya keramaian, gelapnya siang tanpa kaca mata, nyerinya jarum inpus yag hampir melilit aku tiap saat. hiks, aku gak mau San, gak mau"
Sandi tak menjawab, laki-laki itu tergugu dipuncak kepala Kea, hatinya sakit, benar-benar sakit.
"Kalau rasa sakit ku yang pingin kamu hilangi karena buat aku menderita, kamu salah San, kamu salah, rasa sakit yang paling menyakitkan adalah waktu aku harus kehilangan anak ku, dan aku gak mau itu. hiks, "
"T-tapi kamu-
"Sandi," Kea melepas pelukan mereka, perempuan bermata sipit itu menatap Sandi serius, "Aku uda bilang kan, aku kuat, aku bahkan bisa nahan sakit selama dua puluh dua tahun untuk ada diposisi ini, dan nahan sakit selama kurang dari dua bulan bukanlah suatu hal yang masalah buat aku hik" Kata Kea menggigit bibirnya saat dadanya terasa nyeri.
Sandi memejamkan matanya, membiarkan air matanya jatuh bebas mengenai istrinya. "Kenapa kamu gak bilang selama ini Kea, kenapa kamu gak bilang kalau kamu kesakitan, kenapa kamu bohongi kami, kenapa kamu-
"Karena itu kalian hiks, karena itu kalian San, jadi aku mohon, biarin aku setidaknya berguna buat kamu dan adek," Kea terisak.
"San, ayo bulatkan tekad, apapun yang terjadi, Adek adalah prioritas kita, kamu uda janji sama aku dulu" Kata Kea semakin kuat mencengkram baju Sandi.
Dadanya sakit sekali.
***
Sejauh ini, kalian bingung gak sih sama jalan ceritanya, aku sadar banget kadang penyampaianku agak membingungkan dan berbelit,
Jadi kalau kalian belum paham, bisa tanyakan dikolom komentar ya, biar dibab selanjutnya aku jawab sebisa ku.
__ADS_1