Salah

Salah
S-2 Mama jangan iri ya


__ADS_3

Masih meringis, Kea mencoba bangkit dari posisinya. Mengelus perut besarnya yang kini sudah menghalau pandangannya. Saat merasa perutnya mengalami pergerakan, Kea tersenyum, melupakan rasa sakit didadanya.


"Nanti kamu harus mirip papa ya sayang," bisiknya dengan senyuman.


Dan pagi itu Kea jalani dengan rutinitas sehari-harinya. Dengan Sandi yang akhirnya jam 9 baru bangun dan terburu-buru pergi kekampus karena ada presentasi pagi.


***


"Arigatou, Arigatou gozaimasita " Sandi membungkukkan badannya sedikit sambil menerima resep vitamin yang baru saja mereka tebus pada apoteker.


(Terima kasih, terima kasih banyak)


Kea menahan senyum saat Sandi terus mengucapkan terima kasih ataupun tersenyum lebar pada siapapun sangking senangnya.


Kea melirik tangannya yang digenggam Sandi dan sebelah tangannya yang lain mengelus perut besar yang hari ini dilapis dress pendek dan cardigan hangat.


Dalam hati, terus bergumam syukur akan respon Sandi terhadap perkembangan janin mereka. Hari ini mereka melakukan chek up kandungan, dan diusia janin yang ke delapan bulan ini, Kea dan Sandi benar-benar mendapat berita bagus. Bayi mereka sehat dan besar, pertanda ia cukup nyaman didalam perut sang mama.


"Seneng banget kayaknya, padahal yang punya foto masih disini loh pa," Kata Kea membawa genggaman tangan mereka keatas perut besarnya.


Sandi menoleh, laki-laki beradarah Belanda dengan gaya pakaian mahasiswa khas jepang yang fashionabele itu tersenyum cerah, membuat Kea terus menganggumi ketampanan suaminya dalam diam.


Sandi benar-benar tampan, apalagi semenjak mereka pindah ke Jepang, Sandi tak lagi mewarnai rambutnya. Sehingga rambut coklatnya kembali menghiasinya. Jujur saja, Kea suka Sandi bergaya seperti itu, karena hal itu mengingatkan Kea dengan si Sandi kecil yang ia temui pertama kali dulu. Bocah berambut coklat yang gugup berbahasa indonesia. Sandi yang benar-benar tampan bahkan dimata minus Kea kecil sejak dulu.


"Jangan lebar-lebar senyumnya San, ih, serem" Desis Kea memukul pelan lengan atas suaminya.


Bukannya marah, Sandi justru terkekeh pelan sambil cengengesan, "Kenapa? Iri ya? Si adek mirip papanya" Kata Sandi menaik turun kan alisnya.


Kea menggembungkan pipi bulatnya, yah, sekarang mereka mulai membiasakan memanggil sicalon bayi dengan sebutan 'adek' bukan lagi si dia atau si bayi. Hal itu mereka lakukan untuk terus mengingat bahwa pernah ada Angela yang menjadi sosok kakak dari calon bayi kedua mereka ini.


"Ck, itukan baru foto USG, belum yang asli, nanti kalau yang lahir mirip aku kamu nanti sakit hati" Kata Kea menoel pipi tirus Sandi.


Sandi berdecak pelan, "Jangan terlalu percaya diri Ke, kamu kesannya ngeraguin DNA ku nih. Angela aja dulu dari USG umur 5 bulan aja uda mirip aku apalagi ini, Ck, gak bisa ngomong aku" Kata Sandi menggoda Kea.


"Ih, nyebelin, pokoknya si adek kali ini harus mirip aku, harus pokoknya. Angela dulu uda mirip kamu" Kata Kea, "Lagian kan anak cewek harusnya mirip mamanya" Kata Kea lagi.

__ADS_1


Oia, bayi mereka memang perempuan lagi, dan Kea benci mengakui ini, tapi foto USG bayi mereka kali ini benar-benar mirip Sandi, sekilas bahkan foto USG bayi mereka ini sama dengan foto USG Angela dulu.


Walaupun masih hitam putih, tapi Kea yakin anaknya nanti akan sangat cantik dengan wajah kebulean papanya.


"Mama mu dek, marajuk" Kata Sandi agak membungkukkan badannya untuk mengelus perut besar Kea yang langsung mendapat respon tendangan aktif dari sicalon bayi itu.


"Tuh kan Ke, kamu dengar nggak tuh kata si adek apa?" Kata Sandi mendongakkan kepalanya. Menampilkan wajah serius seolah-olah ia baru saja mendapat sekutu.


Kea mengulum senyum, ia menggeleng. "Nggak, emang adek bilang apa?"


Masih menampilkan raut serius, Sandi menjawab dengan nada anak-anak yang dibuat-buat, "Katanya, Mama jangan iri ya kalau aku sama kak Angela mirip papa"


Kea terkekeh, dan Sandi yang masih menampilkan raut seriusnya itupun tak tahan untuk tak tertawa.


Mereka benar-benar bahagia hari ini.


"Kita mau langsung pulang atau mau jalan-jalan ke Shibuya dulu" Kata Sandi saat mereka sudah keluar dari lobi rumah sakit.


"Shibuya? Ngapain kesana?" Tanya Kea menanyakan alasan pergi kekota pusat perbelanjaan itu.


Kea terkekeh, "Duh, duh, papa emosian mulu kan mama cuma nanya ya kan dek" Kata Kea menoel-noel lengan Sandi.


Sandi cengengesan saat Kea sudah menyematkan nama mereka menjadi 'mama papa' rasanya ada yang membuncah didada si papa muda itu.


"Kamu sih nyebelin" Gerutu Sandi, tapi tak dapat dipungkiri ada senyum bahagia yang menghiasi bibirnya.


Mereka lalu berjalan santai menuju stasiun kereta, menuju Shibuya yang jaraknya cukup jauh, kata Sandi sekaligus jalan-jalan karena semenjak Sandi mulai sibuk dengan kuliah pertengan akhirnya dan Kea yang mulai kesulitan bergerak karena kehamilannya. Mereka jadi tak pernah pergi berjalan-jalan menikmati suasana indah negara impian Kea ini.


Kea meng-iya-kan saja ajakan suaminya itu karena ia pun merasa suntuk didalam apartemen dengan Ayumi yang juga tak bisa diganggu karena sedang sibuk menyusun skripsi.


Sandi melepaskan tautan tangan mereka saat mereka masuk kedalam kereta karena laki-laki itu sibuk dengan bawaannya, oya, sebelum naik kereta tadi mereka sempat membeli beberapa mantel dan cardigan baru untuk Kea karena suasana dingin yang kata Sandi tak cocok dengan dres pendek Kea itu.


Saat mereka sudah duduk dan Sandi sudah kembali menggandeng tangan Kea, Sandi merasakan telapak tangan perempuan hamil itu basah berkeringat. Agak aneh tak seperti biasanya.


"Ke" Panggil Sandi khawatir.

__ADS_1


Kea tersenyum, senyum pucat yang dipaksakan.


"Kamu kenapa? Kea jangan bikin panik?" kata Sandi spontan, mengabaikan tatapan terganggu orang-orang dikereta karena ia hampir berteriak dengan bahasa asing ditelinga mereka.


"Kea, apa yang sakit sayang, k-kamu mau lahiran?" Tanya Sandi kian panik.


"Sumimasen, saya lihat dari tadi anda sangat panik, ada apa?" Tanya seorang perempuan dengan campuran bahasa Jepang dan inggris, mungkin mengira Sandi dan Kea tak dapat berbahasa Jepang.


"Apa anda mau melahirkan?" Tanya seorang lagi yang mulai mengerubuni mereka.


Dan baru Sandi sadari kalau para penumpang kereta dilorongnya mulai ikut sama paniknya dengan dirinya.


"K-kea, jawab aku dulu, kamu kenapa Ai? kok pucet banget apa yang sakit?"


Kea meringis, perempuan itu menekan dada, Rasa nyeri yang panas mulai menjalari dadanya. Wajah putih pucat semakin pucat saat rasa sakit itu semakin membuatnya kesulitan bernafas.


"Da- Dada aku sakit banget San hiks, J-jantung aku k-kambuh hik" Saat Kea mengatakan kata-kata terbata itu.


Sandi langsung membeku.


Jantung?


Bodoh!


Kenapa Sandi melupakan fakta akan penyakit lahir Kea ini.


Rasanya semua orang pun tau, bagaimana beresikonya perempuan hamil yang memiliki riwayat jantung.


Salah satu penyakit yang membuat Kea koma cukup lama setelah lahiran Angela waktu itu.


Sandi terkulai lemas.


Kenapa ia tak pernah memikirkannya.


****

__ADS_1


__ADS_2