
Sandi menarik napas, "Sandi juga tau om dan tante trauma sama masa lalu, tapi boleh sekali ini kasih Sandi kepercayaan buat ada disisi Kea? kalau om dan tante takut, Om dan tante bisa dateng keapartemen kapan pun om mau. lagian apartemen kami juga gak terlalu jauh dari kompleks. Sandi mohon om"
Lama kedua orang tua Kea itu terdiam, tapi ntah kenapa Sandi merasakan firasat baik menghampirinya.
Ah, Kea...
Selamat datang, sayang?
***
Biasanya suatu hari yang ditakutkan, dibenci dan tak diharapkan akan datang lebih cepat dari biasanya. Sebab itu lah yang dirasakan Kea sekarang.
Hari ini mereka pindah, yah, benar-benar pindah. Kea bahkan sudah lelah menangis bersama Kelli sejak tadi malam.
Mungkin, kepindahannya terkesan lebay untuk semua orang atau bisa dikatakan sangat berlebihan untuk kasus pindah dengan jarak kurang lebih 2 km yang bisa ditempuh mobil ataupun motor dengan nyaman.
Tapi, bagi Kea yang tak pernah jauh dari orang tuanya dan Orang tuanya yang tak pernah melepas Kea jauh dari mereka. Ntah kenapa hal itu terasa sangat berat.
"Lo nangis mulu perasaan gue deh, malem nangis, tadi waktu kumpul keluarga juga nangis. Lo itu mau ngasih tau kesemua orang kalau lo mau gue siksa atau gimana!" Kesal Sandi begitu keluarga Kea dan kelurganya pulang setelah membantu mereka berberes tadi.
Kea mendongak, "Emang iya kan?" Katanya tersedu.
Sandi tersenyum miring, "Emang iya sih, tapi gak terang-terangan jugalah bego."
Kea mengepalkan tangan, ah, jika diperhatikan baik Kea ataupun Sandi sekarang lebih senang mengepalkan tangan untuk menahan emosi dibanding melempar semua barang mereka jika marah.
Kea menatap kepalan tangannya, ia juga baru menyadari perubahan itu, apa tanpa sadar mereka sudah mulai mengurangi frekuensi untuk saling menyakiti?
"Kea!"
Bentakan Sandi itu mengagetkan Kea yang masih melamun, perempuan berkaca mata itu mendongak. Menatap Sandi yang kini berang.
"Gue kayaknya mulai curiga tuh alat dengar gak lagi fungsi dengan baik deh Ke, buat lo sempurna jadi manusia tuli" Dengus Sandi melempar dua tablet obat padanya.
Kea menatapnya, tablet itu adalah tablet vitamin dan juga obat penguat kandungan yang Kea konsumsi rutin sejak pulang dari rumah sakit. Bagaimana Sandi mendapatkannya?
"Nyokap lo bilang lo harus minum itu kalau lo mau tuh anak haram sehat," Kata Sandi sambil melatakkan segelas air putih dimeja. Mereka memang duduk dikursi makan sejak tadi.
Kea masih tak mengalihkan pandangannya. I
"Kenapa masih gak lo minum? Lo mau anak ha-
Trak
Sandi mengerjap saat gelas yang ia letakkan tadi sudah pecah karena disambar Kea.
__ADS_1
"Anak haram!? Lo itu sebenarnya punya otak nggak sih San?"
"Dia itu anak lo sia*an, apa gak ada hati lo kesentuh sedikit pun hah?" Teriak Kea keras.
"Lo- Bajingan!" Maki Kea sebelum menghentakkan kakinya menuju kamar. Perempuan itu bahkan tak lagi memperdulikan pecahan gelas yang sedikit menggores jari kakinya, meninggalkan bercak merah disepanjang lantai yang ia lewati.
Sandi masih diam sambil menatap kepergian Kea yang menuju kamar mereka, yah, kamar mereka. Diapartemen ini hanya ada satu kamar saja. Dan itu artinya mereka kembali tidur bersama.
Sandi mendengus sambil menatap pecahan gelas dilantai dan juga dua tablet obat yang mengusik perasaannya.
Sebanarnya, obat dan vitamin itu ia dapat berkat konsultasi dengan dokter yang sempat merawat Kea waktu itu. Sedangkan obat yang biasa Kea konsumsi tertinggal dirumah.
Sandi tak tau kenapa ia melakukannya, tapi Sandi dapat seratus persen yakin, ucapan Kea salah.
Karena sungguh, tanpa dicegah hatinya tergerak sendiri untuk melakukannya.
Ia tak tau apa ini karena sekedar gerakan hati seorang calon ayah seperti yang dikatakan Kea? Atau.. hanya sekedar tanggung jawab semata? Sandi tak tau, tapi ia juga tak ingin tau. Rasanya ia belum siap untuk mengakui jawabannya.
***
Sandi menatap Kea yang kini tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Hari sudah beranjak sore, bahkan bisa dikatakan menjelang malam. Tapi Kea belum juga keluar dari kamar sejak percekcokan mereka tadi siang. Perempuan itu bahkan belum makan apapun semenjak pagi tadi karena sibuk menangis bersama mamanya.
Sebenarnya Sandi berniat tak ingin peduli, tapi ketika ingatannya melayang pada bekas luka dikaki Kea, mau tak mau Sandi merasa iba juga. Luka itu, walaupun kecil pasti sakit sekali.
Perhatian Sandi langsung jatuh pada telapak kaki Kea yang jari-jarinya terdapat darah mengering. Mengambil kotak P3K dimeja dekat lemari dan juga botol air putih dekat nakas. Sandi mulai membersihkan luka itu sebelum memerbannya. Sebenarnya, Sandi tak tau cara memerban. ia hanya mengikuti insting saja.
Setelah selesai, Sandi kembali pergi kedapur, ia mengambil seporsi makan malam buatannya. tumis brokoli.
Omong-omong Sandi memasak sayuran hijau itu karena pernah melihat Kea lahap memakannya saat dirumah perempuan itu waktu itu.
"Ngapain lo?" Tanya dengan nada lemah itu membuat Sandi hampir menjatuhkan nampannya karena terkejut.
"Lo gak berniat mogok makan kan?" Kata Sandi kalem.
Kea beringsut, ia membanahi posisi tidurannya menjadi duduk bersandar. Keningnya mengkerut saat menyadari kakinya diperban.
"Lo yang obati kaki gue?"
Sandi diam, ia meletakkan nampan itu didepan Kea. Tapi Kea mengabaikannya.
"Makan Ke!" Desis Sandi.
Kea memalingkan muka.
__ADS_1
"Gak usah kekanakan bisa?" Sentak Sandi menarik tangan Kea. Membuat perempuan yang memang sejak awal kondisinya lemah itu hampir terjerembab karenanya.
"Gak"
"Kea Ankara Tan!"
"Apa!"
"Makan!"
"Gak!"
"Lo mau nguji kesabaran gue?"
Kea diam.
"Lo mau buat Gue dibunuh sama bokap lo- KEA!" Bentak Sandi saat Kea berniat turun dari ranjang.
"Anj*ng lo Kea" Kesal sandi saat Kea meringis ketika kakinya menyentuh lantai.
"Mau lo itu apa sih?" Kesal Sandi kian menjadi. Ketika Kea menyentak tangannya.
"Kea-
"G-gue mual San, Gue mau muntah hiks, lo bisa gak, gak ngehakimi gue hiks" Kea menutup wajahnya saat air matanya mulai berjatuhan. Ia benci ketika harus tampak lemah didepan Sandi, tapi ia tak mampu melakukan apapun saat fisik dan mentalnya terasa sangat lemah dan sensitif.
Sandi tertegun, tangan yang tadi ia gunakan untuk menarik Kea pun ia tarik kembali. Mata laki-laki itu yang awalnya menyala emosi meredup. Ntah kenapa melihat tangisan Kea membuat hati Sandi agak tersentil. Ah, Sandi benci keadaan seperti ini.
"Makan Kea" kata Sandi lebih lembut walaupun masih terkesan datar.
Kea menggeleng,
Sandi mendengus, apa itu artinya usahanya untuk memasak dan sedikit menurunkan Ego akan sia-sia.
"Makan, gue yang suapin" Kata Sandi mengambil piring makan Kea. Lalu menyodorkan satu suapan sendok kearah Kea.
Kea masih menggeleng, "Mual San" Rengeknya tanpa sadar.
Sandi menarik kedua tangan Kea yang menutupi wajahnya. Ia lalu menyodorkan sendok itu lagi.
"Makan atau lo yang gue makan !" Sentak Sandi.
Kea mengerjap. ia menerima suapan itu walau masih dengan tangisannya.
Sandi menahan decihannya ketika Kea bahkan sudah menghabiskan semua makananya. Laki-laki itu mendengus.
__ADS_1
Memaki Kea dalam pikirannya. Tapi tak dapat dipungkiri, ia cukup menikmatinya.
Sandi tak tau kenapa ia melakukan hal gila ini, tapi.. Ternyata mencoba bertanggung jawab akan Kea tak seburuk perkiraannya.