
"kamu gak apa kan Ke?" Tanya Sandi khawatir.
Kea mengangguk, ia balas memeluk Sandi dengan tubuh gemetar, ia ingin terus memeluk Sandi, setidaknya sebelum laki-laki itu membencinya nanti.
Kea bukan hanya membuat Sandi keluar dari sekolah, tapi juga merencanakan perselingkuhan darinya.
"Mau kemana lo njing, ngomong sama gue dulu lo bangs*t!" Teriak Sandi saat Robi melangkah mundur.
Robi menghela napas, "Oke" Katanya Santai, terlalu santai, sampai Kea semakin bergetar dibuatnya.
****
Sandi mengecup kening Kea sebelum menemui Robi, dan Kea menahan tangan laki-laki itu.
"S-san?" Panggil Kea enggan melepas pelukannya.
"Sebentar aja Ke" bisik Sandi menenangkan.
Kea menggeleng, "Nggak usah San hiks"
Sandi melepas pelukan Kea, lalu menangkup pipi gembil itu. "Kamu tidur aja dulu, sebentar lagi aku balik kok" Kata Sandi sayang.
Kea kembali memeluk Sandi, "Apapun yang dibilang Robi nanti tolong dengerin penjelasan aku dulu"
Sandi terkekeh, "Kok kesannya kamu yang bermasalah disini sih Ke, ini itu urusan aku sama Robi, palingan juga dia nantangi aku balapan. Oh, atau dia ngancem kamu?"
Kea menggeleng, Sandi tersenyum dan setelah memberi ciuman singkat dipipi gembil itu, Sandi menghampiri Robi yang sejak tadi melipat tangan didada sambil menyandar dekat pintu. Menatap dengan jengah.
***
Tanpa bersuara Sandi dan Robi menjauh beberapa langkah dari pintu apartemen,
"Apa mau lo?" Desis Sandi mendorong bahu Robi marah.
Robi yang tiba-tiba mendapat serangan itu terkekeh sinis.
"Gue cuma mau nemui calon adik ipar gue" Kata Robi santai.
Sandi mengepalkan tangannya, sedikit bingung sebenarnya. "Apa maksud lo, gak usah kayak bocah lo" Sinis Sandi.
Robi terekekeh pelan sebelum menampilkan raut serius. "Gue kakak kembar Yuda?"
Sandi menaikkan alisnya, baru tau dengan fakta itu. Mereka pernah satu SMP, Dan Sandi benar-benar tak tau satu fakta ini, Lagipula jika dilihat dari sisi manapun keduanya tak ada kemiripan. Kecuali tinggi dan perawakan badan yang agak kurus yang kemungkinan sama.
Jika bermusuhan, selama ini ia dan Robi bermusuhan karena Robi adalah ketua geng dari geng Tiger yang merupakan musuh dari geng motor yang ia ikuti. Sedangkan Yuda, mereka memiliki hubungan yang buruk murni karena Sandi tak menyukai Yuda yang selalu menjaga Kea.
"Kaget?" Ejek Robi.
Sandi berdecih, "Cih, lo pikir gue apa? Masalah kayak gitu Gak ada hubungannya sama gue bangs*t"
Robi mengangguk, "Iya sih, tapi mungkin berhubungan sama istri lo?"
__ADS_1
"Apa maksud lo bawa-bawa istri gue, dia gak ada hubungan lagi sama adek t*i lo itu Bangs*t!" Marah Sandi memberi pukulan pada pipi Robi.
Robi berdesis, memegangi pipinya yang luar biasa nyeri.
"Pulang lo! " Marah Sandi meludah disisi Robi. "Gue liat sekali lagi lo ganggu keluarga gue, mati lo ditangan gue-
"Kalau gue bilang, gue yang bantu Kea ngeluarin lo dari sekolah, apa lo masih nyuruh gue pulang?" Ejek Robi.
Sandi yang sudah berbalik hendak menemui Kea, termenung, "Apa maksud lo?"
Robi tersenyum sinis,
Tampaknya menyenangkan mempermainkan Sandi sebentar.
Lagi pula tak ada salahnya sedikit membalas dendam dengan Kea karena pengkhianatannya.
Robi merasa begitu dimanfaatkan oleh mantan pacar adiknya itu.
****
Kea masih menangis dikamarnya, ia begitu menyesal. Walaupun apa yang ia lakukan hanya untuk sekedar balas dendam pada Sandi dimasa lalu. Tapi kenapa hatinya setakut ini.
Kenapa juga dampak masalahnya datang diwaktu ia sudah mulai berdamai dengan keadaan. Saat dirinya mulai bisa menerima Sandi disisinya. Saat ia mulai menyerahkan hidupnya untuk Sandi.
Kea tau,
Ia tak salah!
Kea tau, itu adalah tindakan wajar dari rasa sakitnya. Tapi Kea Akhh.. Kepalanya pusing hanya untuk memikirkan masalahnya. Ia ingin membela dirinya, tapi dilain sisi hatinya menyesali perbuatannya. dan sisi kecil yang lainnya takut Sandi meninggalkannya.
Kea mengusapnya, ada kegetiran dihatinya. Biasanya Sandi yang mengelusnya jika perutnya sakit, jika pinggangnya nyeri. Kea takut, setelah amarah Sandi nanti dipicu oleh Robi. Kelembutan Sandi tak akan lagi ia dapat.
Kea memeluk perutnya, menangis tergugu untuk hal yang belum pasti menimpanya.
***
Sandi membuka pintu apartemen dengan pandangan kosong. Pikirannya penuh dengan percakapannya dan Robi beberapa menit yang lalu.
Jadi, selama ini Kea berencana mengkhianatinya. Jadi selama ini Kea masih berharap kembali pada Yuda, jadi selama ini tingkah manis Kea, hubungan mereka yang membaik hampir dua bulan terakhir tak ada gunanya.
Jadi selama ini, Kea masih dendam padanya?
Selama ini, Sandi yang salah oleh perasaannya sendiri.
Sandi terkekeh, laki-laki itu menatap dapur yang masih berantakan oleh bahan-bahan membuat tiramisu. Sandi ingat Kea tadi pagi bilang, kalau perempuan itu akan membuat Tiramisu untuk dirinya.
Apa usaha Kea membuat kue kesukaannya itu juga karena ajang balas dendam.
Apa Kea sebegitu bencinya pada dirinya?
Sandi menatap pintu kamar, ia tau Kea menangis didalam, tapi pikirannya sendiri sedang kacau.
__ADS_1
Sandi kecewa. Ia benar-benar kecewa.
Keanya berkhianat.
Ia sakit hati, kepalanya pusing, benar-benar pusing. Dilain sisi ia ingin memaklumi tindakan Kea, tapi dilain sisi lagi, Sandi tak dapat membohongi perasaannya yang hancur berkeping-keping.
Sandi butuh ruang berpikir, ia butuh kesendirian untuk meredam amarahnya.
Laki-laki itu menghampiri pintu kamar, ia berniat mengganti baju karena tadi ia masih memakai seragam montir karena terburu-buru. Melangkah kan kakinya, Sandi sempat tertegun saat melihat Kea yang menangis sambil memeluk perutnya. Penampilan perempuan itu kacau, benar-benar kacau.
Kea yang mendengar pintu kamar terbuka langsung mendongakkan kepalanya, mata sipitnya mengerjap untuk menghalau air mata yang menggenang dikelopak matanya.
"S-san?"Panggil Kea bergetar.
Sandi menatapnya sekilas, laki-laki itu mengambil kaos ganti dan juga celana jins, masuk kekamar mandi, mengabaikan Kea.
Kea kian terisak, sampai nafasnya terasa sesak ketika ia mendengar teriakan dan pukulan Sandi pada dinding kamar mandi. Laki-laki itu sedang meluapkan emosinya.
Tak lama, Sandi keluar dengan penampilan yang lebih segar. Ada ruam-ruam merah dikepalan tangannya.
"S-san, kamu mau kemana hiks" Tangis Kea mengejar Sandi yang akan membuka pintu kamar.
Sandi menatapnya dingin. "Minggir!" Bentak Sandi marah.
"Nggak hiks! kamu harus dengerin hiks penjelasan ku dulu- Sandi hiks" Tangis Kea saat Sandi melewatinya sambil mencengkal tangannya agar tak menghalangi langkahnya.
"S-san!"
"Gue gak mau ngomong sama pengkhianat kayak lo" Desis Sandi.
"Hiks" Kea terisak,
"S-san, perutku kram" Kata Kea tiba-tiba mendudukkan dirinya dipinggir ranjang.
Sandi menatapnya, ada rasa khawatir tapi ada rasa marah dikilatan matanya.
"Kalau lo aja berani rencanain pengkhianatan waktu lo uda nikah sama gue, Gue jadi beneran ragu- Dia anak gue atau bukan?" Kata Sandi getir.
Kea terisak, perempuan itu memeluk perutnya untuk meredakan kramnya. Sedangkan Sandi melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Mereka berdua hancur. Harapan mereka benar-benar hancur bahkan sebelum terwujud.
****
Yaps, selamat weekdays guys...
Duh, Sori banget buat yang uda nunggu di hari senin semalam.
Ini tuh uda mau masuk puncak konflik. Jadi aku butuh waktu buat nulis part ini. Dan perkiraanku kayaknya episode 'Salah Season 1' ini bakal berakhir diepisode yang kurang lebih 10 episide lagi. Seandainya lebih juga gak banyak.
Tapi.. Walaupun senin gak update, boleh dong hari ini kasih SanKe, tanda suka, Komen, hadiah, dan votenya wkwkwk.
__ADS_1
Kalau boleh masukkan daftar favorit juga ya..
See youu...