
Kea meremas tangannya saat perkataan dokter yang mengatakan ia tak bisa menjalani operasi transplantasi atau yang lebih dikenal dengan operasi cangkok jantung terngiang dikepalanya. Hal Itu semua karena masalah fisik Kea yang tak memungkinkan.
Fakta bahwa Kea tak hanya menderita jantung kronis sebagai masalah utamanya menjadi alasan utama kenapa operasi yang kata orang bisa memperpanjang usia setidaknya 10 tahun lagi itu tak bisa dilakukan.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memutuskan menjalani operasi Transplantasi ini, selain masalah tekad dan biaya, Operasi itu juga harus mempertimbangkan kesehatan mental pasien , karena ketidak seimbangan mental seseorang dapat mempengaruhi kinerja jantung, dan itu sangat berbahaya.
Kedua, Kea juga penderita pernafasan buruk, ada masalah dengan paru-parunya. Hal yang membuat Kea sejak bayi sering mengalami henti nafas secara tiba-tiba.
Dan juga, Kea pernah menjalani operasi jantung berkali-kali ketika masih kecil. membuat presentase kegagalan operasi lebih dominan dibanding keberhasilannya.
Dan masih banyak hal-hal yang begitu menghambat operasi Kea. Dengan kata lain, Kea harus menikmati sakitnya sampai akhir hayatnya.
"Hei, mama"
Kea menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah basah dari Sandi ketika laki-laki itu merangkul bahunya.
"Hei. kenapa nangis hm?"
"Aku gak bisa sembuh?" Ratap Kea nelangsa.
Sandi memeluk Kea, menenggelamkan tubuh mungil istrinya itu kedalam pelukannya. " Sayang," Sandi mengelus rambut Kea yang kini mulai agak panjang, "Kamu gak bisa ngikuti prosedur operasi Bukan berarti kamu gak bisa sembuh. Kamu pasti sembuh."
"T-tapi
"Stt, Kamu percaya aku kan?" Tanya Sandi menghentikan bantahan Kea.
"Tapi gak segampang itu San hik, aku gak sehebat itu, aku sakit, kalau aku sakit gimana aku ngurus kamu dan Aiko hiks, aku mama yang gak baik kan? Dulu aku gak bisa jaga Angela, sekarang, hiks, sekarang aku bahkan gak sanggup gendong Aiko lama-lama a-aku-
"Stt sayang, kenapa kamu bisa menilai diri kamu kayak gitu, kamu itu-
"Nggak San, aku-
" intinya kamu percaya aku atau nggak hm?" Tanya Sandi,
Lama keheningan menyapa, hanya suara isakan Kea yang terdengar menemani. Lalu Sandi merasakan anggukan didadanya.
Sandi tersenyum, "Nah, kalau gitu. kamu percaya kan kalau kamu pasti sembuh, kalau kamu pasti bisa sehat, bagaimana pun caranya. "
Kea kembali mengangguk, dan setelahnya keheningan kembali menerpa keduanya. Pasangan muda yang baru pulang dari rumah sakit itu saling memeluk, saling menguatkan tanpa kata.
"Ma-ma"
Baik Kea maupun Sandi langsung menoleh begitu suara khas itu menyapa indera mereka.
Dan bayi gendut dengan fisik bule itu menghampiri mereka dengan cara merangkak.
Sandi dan Kea tersenyum.
"Haiii,,, Gendut kamu-Aduh" Sandi memegangi pinggangnya yang dicubit sang istri.
"Apa sih Ke?"
"Jangan panggil Aiko gitu," Marah Kea,
"Ih, kenapa, orang Aiko memang gendut kok, " Kata Sandi mengerut bingung, ia lalu merentangkan tangannya saat Aiko memegangi kakinya. Mengangkat bayi berusia 8 bulan itu layaknya boneka.
"Gendut, gendut, kamu itu body shaming tau San, nanti kalau Aiko insecure gimana, itu lagi ih, jangan gitu megang Aikonya, kamu pikir anak kamu itu boneka apa yang bisa kamu jinjing, nanti kalau tangannya patah gimana" Omel Kea saat Sandi mengangkat Aiko dengan hanya memegang tangan bayi itu, lalu memutar-mutar tubuh gempal sang bayi. Layaknya komedi putar.
Sandi yang mendengar omelan sang istri bukannya merasa bersalah, justru tertawa kuat.
"Aiko, insecure? Dih, kamu pikirannya jauh banget. Mana ngerti dia, lagian nih yah Ke, anak mu ini gak bakal patah tangannya" Kata Sandi sambil meringis saat menghentikan kegiatan putar-putarannya. Kepalanya pusing.
"Gak patah gimana, orang kamu ajak dia putar-putar gitu, ih, sini Aikonya"
Sandi berdesis, ia lalu memberikan bayi dengan tubuh gempal itu pada mamanya.
"Gak bakal patah, orang tulangnya kebalut lemak gitu- aduh. Kea.. Kamu ini KDRT mulu, heran"
"Anak mu ini loh San, heran deh. mulut mu itu nyinyir banget, ya kan Dek," Kata Kea pada Aiko yang diam saja, tampaknya pusing setelah diputar-putar papanya tadi.
"Pa-pa," Katanya lesu, ah, tampaknya bayi gendut itu benar-benar pusing.
"Iya, papa mu gak waras dek, sakit ya tangannya, kepalanya pasti juga pusing duh, duh. anak mama"
"Pa-pa"
"Mama, dek, mamaaa, ini mama loh yang pelukin Aiko, bukan papa, papa jahat" Hasut Kea pada si kecil yang sejak dipelukannya merentangkan tangan minta digendong sang papa.
__ADS_1
Sandi yang melihat itu, tertawa, ia lalu menjulurkan lidahnya mengejek Aiko yang mau menangis. Mempermainkan si kecil yang ingin segera ditolong.
"Wlee, papa gak mau gendong, papa gak mau gendong Aiko.. Aiko bauuu"
"Pa-pa-pa" Aiko berusaha menggapai wajah sang papa yang masih saja mengejeknya.
"Gak mau ah, papa mau main sama mama aja, gak mau main sama Aiko, Aiko berat.. pinggang papa patah nanti"
"Pa-pa-pa huks. pa-pa" Tak tahan dengan tingkah menyebalkan sang papa, Si bayi gendut itu akhirnya menangis juga. Ia mengepalkan tangannya jengkel minta segera diraih sang papa.
Kea yang melihat anak dan suaminya itu hanya memutar bola matanya, merasa jengah, tapi juga geli, tapi juga gemas, ntalah,
"Gak mauu, gak mauu, Aiko bau, Aiko belum mandi, papa gak mau main sama Aiko"
"Huks, pa-, huks huaa" Dan pecahlah tangis si bungsu Geano itu.
Sandi terpingkal, merasa puas dengan tangis sang anak yang kini terisak-isak dipelukan sang mama sampai seluruh tubuhnya memerah karena menangis kuat.
Sedangkan Kea hanya mampu mengelus dada, berharap, emosinya tetap tak terkontrol untuk tak mematahkan leher suami tersayangnya itu.
***
"Aiko-chaaan, " Teriak Ayumi begitu si bayi dengan tubuh gempal itu keluar dari pintu apartemen dengan sang papa.
"Ayumii Auntyyy" Sapa Sandi ceria, memang semenjak adanya Aiko, Sandi benar-benar berubah, papa muda itu bahkan tak segan bertingkah kekanakan didepan teman-teman kuliahnya saat bersama Aiko.
"Eh, baka (Bodoh) aku itu panggil Aiko tahu" Kata Ayumi ngegas, gadis yang pernah tinggal di Amerika itu memang sekasar itu aslinya, sangat-sangat bertolak belakang dengan orang-orang khas Jepang yang kalem.
"Baka-baka, denger Kea, habis kamu" Kata Sandi ikut-ikutan ngegas.
Ayumi memutar bola matanya, gadis Jepang itu lalu mencium pipi Aiko yang masih basah itu digendongan sang papa.
"Loh, Aiko nangis ya? Aiko kenapa hm? Sama Aunty yuk" Ajak Ayumi.
Aiko mencebikkan bibirnya, lalu memeluk leher papanya, memberi gesture menolak dengan lucu.
Ayumi berdesis kesal, namun tetap berusaha merayu bayi bule itu dengan berbagai cara.
"Kenapa nangis?" Tanya Ayumi pada Sandi.
Sandi cengengesan, "Aku gangguin,habis itu Kea marah karena Aiko nangis kuat, terus kami berdua diusir keluar" Kata Sandi tak merasa bersalah.
"Oya, kamu mau kemana?" Tanya Sandi saat melihat pakaian Ayumi yang rapi.
"Aku mau ke ketaman"
"Ngapain?"
"Ngedate lah, "
"Sama Akira?"
"Yaiyalah, yaudah aku pergi dulu yah.. Dah, Sandi-kun, dah Aiko-chan" Lambai Ayumi pergi.
"Ayumi-chan" Panggil Sandi saat Ayumi sudah berbalik.
Ayumi menaikkan alisnya, "Nande?"
"Nanti sore, aku mau ngomong sesuatu,tentang Kea"
Ayumi terdiam, ia lalu mengangguk kuat sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Sandi menghela nafas, ia lalu menepuk-nepuk punggung Aiko yang masih betah mengigit-gigit lehernya, mungkin gusinya gatal karena akan kembali tumbuh gigi.
"Aiko, kamu nanti bantuin papa buat mama gak sedih yuk" Ajak Sandi pada bayinya sambil mencoba menjauhkan si bayi dari lehernya. Dan Aiko hanya meresponnya dengan rengekan.
Sandi menghela nafas, yah, tampaknya ia akan membiarkan Aiko puas hari ini.
***
Malam hari itu, Aiko merengek mencari Kea saat Sandi mengganggu bayi gempal yang sudah mengantuk itu.
"Duh, duuh, anak mama jangan nangis, ngantuk yah." Kata Kea memposisikan tubuhnya menyamping untuk memberikan Aiko ASI, ah, yah, si bayi gempal itu memang mengonsumsi ASI sang mama dan juga susu formula, belum lagi, Aiko juga cukup senang mengemil ataupun makan-makanan MPASI yang dibuatkan sang mama untuknya. Mungkin. itu sebab berlebihnya berat badan bungsu Geano itu.
"Pa-pa huks," Adu Aiko saat sebelum menerima ASI pemberian sang mama.
"Iya, papa nakal ya kan dek, adek uda ngantuk tapi masih digangguin aja" Kata Kea memihak si bayi.
__ADS_1
Sandi yang masih betah mengganggu dan belum kehabisan energi itupun menoel-noel pipi Aiko yang mendapat rengekan si bayi.
Kea yang awalnya berusaha tak memperdulikan tingkah Sandi, lama-lama jengkel juga. "Jangan digangguin San, ih, uda ngantuk dia"
"Gendut, main sama papa yuk,"
"Ma-ma huks ma-ma," Aiko kian merengek saat Sandi kembali mengganggunya.
"Geano Sandi!" Desis Kea kesal.
Sandi cengengesan, papa muda itu lalu ikut tidur disamping Aiko. melihat anak dan istrinya yang yang saling curhat akan tingkahnya.
Dan saat Aiko sudah terlelap, Sandi melihat Kea melamun, mama muda itu mengelus pipi Aiko dengan mata berkaca-kaca. Sebelum terisak disamping Aiko.
"Hei, Ai, kenapa nangis" Tarik Sandi pada Kea, membuat perempuan itu bangkit dari acara baringnya. Sandi membawa Kea keluar kamar.
Mereka duduk disofa, Membiarkan Kea terisak-isak dipelukannya. Sandi mencoba memberi Kea ketenangan. Tadi sore, setelah berbincang dengan Ayumi tentang masalah operasi, Ayumi meminta Sandi bersikap siaga dan selalu mencoba menenangkan Kea, dan berusaha membuat mood mama muda itu terjaga. Kea pasti terpukul karena harapan untuk sembuhnya hilang begitu saja.
"Kenapa nangis hm?"
"A-aku bukan mama yang baikkan San, hiks, Aku gak tega ninggalin Aiko nantinya, dia pasti-
"Hei, kenapa ngomong gitu? Kamu pasti sembuh, kamu pasti bisa lihat Aiko dewasa, besar, jatuh cinta, menikah dan kasih kita cucu. Kamu pasti bisa Kea, Kamu gak bakal ninggali Aiko ataupun aku semudah itu" Kata Sandi mencium mata Kea yang basah.
"Tapi kata dokter umur aku gak bakal panjang kalau aku gak bisa ikuti prosedur operasi, aku-
"Nggak Kea, kami gak bakal biarin kamu pergi gitu aja, kamu masih harus ngurus Aiko, kamu masih harus dampingi aku. Kamu belum boleh pergi dan kemanapun tanpa kami. Dokter cuma nakut-nakuti kamu doang"
"Tapi,
"Kamu percaya dokter botak jelek itu, atau lebih percaya aku?"
Kea tersenyum, "Kamu"
"Kalau gitu, lupain kata-kata dokter jelek itu, kamu cuma boleh percaya sama aku"
Kea mengangguk, "Tapi kalau seandainya umurku memang gak panjang, tolong carikam mama pengganti yang baik untuk Aiko ya San, aku gak mau dia besar tanpa sosok mama nantinya"
Sandi mengerjap, "Kamu kok ngomong gitu? kamu mamanya, harusnya kamu yang-
"San, kita gak boleh egois, Aiko butuh sosok mama, aku yakin Aiko bisa nerima kok. Aku ingat-ingat Aiko juga lebih lengket sama kamu dibanding sama aku, dia bahkan gak nangis waktu aku tinggal, tapi coba kalau kamu yang pergi, dia pasti nangis misek-misek, Jadi aku pikir-
"Kea, "
"Aku pikir, kalau seandai aku pergi, aku-
"Kea Ankara Tan" Desis Sandi marah
Kea diam, mama muda itu lalu melepas pelukannya, menangis terisak.
Sandi mencoba mengatur nafas dan emosinya yang tadi memburu dan sempat terpancing. "Kamu gak bakal pergi kemana-mana sayang, dan gak akan ada mama lain selain kamu dihidup Aiko hari ini bahkan sampai kapanpun. Cuma kamu mamanya, dan cuma kamu. "
"Dan gimana kamu bisa bilang kalau Aiko gak butuh kamu, coba ingat ulang, siapa orang yang bakal bocah itu cari waktu dia nangis dan sedih hm? Kayak tadi contohnya, sedekat dan selengket apapun dia ke aku, ke Ayumi, ke Akira, ataupun ke kakek neneknya sekalipun. Tempat ternyaman untuk Aiko cuma kamu, tempat yang buat dia tenang cuma kamu, dan cuma kamu. "
Kea menangis,
"Kea, kamu memang bukan perempuan yang sempurna, kamu mungkin bukan mama dan istri terbaik didunia, tapi kamu, adalah perempuan, adalah mama dan istri terbaik untuk keluarga kecil kita. Jadi berhenti nganggep diri kamu gak ada artinya dikehidupan kami. Dikehidupan Aku, Aiko ataupun Angela. Ya?" Kata Sandi memegang kedua sisi pipi Kea.
Kea terisak, perempuan itu lalu mengangguk kuat, "Ya"
"Janji gak bakal sedih lagi,"
"Iya, janji"
Sandi tersenyum, ia lalu membawa Kea kembali kepelukannya. Sedangkan Kea mengeratkan pelukan mereka. Kea tak tau kenapa ia harus berpikir tak berguna dan tak bahagia, saat arti sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya itu sendiri ada dalam genggamannya.
****
Panjang banget wkwkwk.
Tapi aku senang akhirnya Seasion 2 ini berakhir...
Gimana sama kalian? Puas untuk bab terakhirnya?
Atau perlu ekstra part untuk memperjelas kondisi Kea selanjutnya?
Hehehe, Aku siapin dua bab untuk kamu yang ingin tau lebih dalam akhir cerita mereka, dan akan aku unggah perbab tiap harinya.
__ADS_1
Are you readyyyyy!!!!