
Dan Sandi menahan nafasnya saat bisikannya itu dibalas dengan suara alat detak jantung yang nyaring,
Sebelum akhirnya bergrafik normal, sangat normal.
Sampai membuat Sandi tak mampu melakukan apapun.
Apalagi saat akhirnya, mata sipit yang lama tertutup itu akhirnya mengerjap.
Sandi dikepung banyak harapan dalam setiap inci tubuhnya.
Harapan membuncah yang begitu ia harapkan.
***
Sandi hanya mematung ketika dokter menepuk pundaknya dan mengatakan selamat akan berakhirnya penantiannya.
"Dia belum bisa diajak bicara terlalu banyak, tapi temuilah"
Sandi mengangguk lalu membungkukkan badan sembilan puluh derajat berkali-kali. menggumamkan terima kasih sampai dokter yang merawat Kea sejak 3 bulan terakhir itu menghentikannya dengan pelukan singkat.
Dan begitu ia kembali masuk keruang rawat Kea, mata penuh kerinduan mereka langsung beradu, saling menyelami satu sama lain.
"Hai," Sapa Sandi gemetar.
Kea tersenyum, walaupun senyum itu tampak kaku karena masih ada masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnua.
"Hai" sapa Kea dengan gerakan mulut.
Sandi tersenyum, air mata haru yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes. Ia duduk, mencium kening Kea lama, membiarkan wajah pucat itu basah oleh air matanya.
"Aku kangen" Bisik Sandi terisak.
Kea memejamkan mata, menikmati ciuman itu dengan perasaan yang sama, walaupun sebenarnya ia tak mendengar apa yang dikatakan suaminya karena gerakan mulut Sandi terhalang oleh ciuman, tapi seolah Kea tau, Karena perempuan itu juga merasakannya, ia juga rindu, benar-benar rindu.
"S-san" Kea menyapa susah payah, tubuhnya masih kaku, walaupun dokter tadi sudah membantunya meregangkan sendi-sendinya. Tapi tetap saja terasa aneh.
"Ya, sayang. ya" Sandi mencium tangan Kea.
"S-san?" Kea kembali memanggil, karena ia tak mendengar jawaban Sandi,
"Ya sayang, ada-" Seolah tersadar kalau Kea tak dapat mendengar tanpa alat dengar dan tak dapat membaca gerakan mulutnya karena mata rabunnya. Sandi tersenyum, ia lalu mengambil kaca mata Kea, memasangnya dengan hati-hati.
Kea ikut tersenyum, lalu mata mereka kembali beradu, Kea menggumamkan kata terima kasih dan juga rindu.
Sandi tertawa, laki-laki itu menghapus air matanya kasar sambil mengatur posisi duduknya agar Kea dapat melihat dengan jelas gerakan mulutnya.
"Aku juga, dan jangan tinggalin aku ya?" Kata Sandi sambil memperlambat gerakan mulutnya.
Kea mengangguk dengan air mata yang mulai membasahi bantal.
Dan malam tahun baru itu, Kea nya kembali.
__ADS_1
***
"Mau gendong" Tawar Sandi saat paginya Aiko dan para neneknya datang.
Para perempuan yang sudah menyandang status nenek itu langsung heboh memeluki Kea karena sebenarnya Sandi tak mengabari keadaan Kea pada para orang tuanya. Itu karena Sandi ingin melepas rindu terlebih dahulu sebelum nantinya Kea akan dihebohkan semua orang seperti ini.
Kea mengerjap, ia menatap Sandi dengan air mata, "Boleh?"
"Bolehlah? Dia kan princess kita" Kata Sandi dengan telaten meletakkan bayi gendutnya itu kepelukan Kea.
Kea terdiam, ia menatap bayi bertubuh gempal dipelukannya dengan haru, "Namanya Aiko kan?" Tanya Kea pada Sandi.
Sandi mengangguk, "Hm, Aiko, anak tersayang" Kata Sandi menjelaskan arti nama anak mereka, sebenarnya, saat Kea hamil dulu mereka sudah membahas nama anak, dan dari sekian banyak pilihan hanya kata 'Aiko' yang tersisa.
"S-san?"
"Hm"
"Rambutnya coklat kayak punya kamu?"
Sandi tersenyum, Kea menangis.
"Matanya hijau San"
Sandi mengangguk,
"Hidungnya mungil banget" Kata Kea mencium hidung Aiko.
"Dia mirip kamu hiks" Kea menciumi pipi sibayi gendut yang tampak anteng dalam tidurnya.
"S-san"
"A-adek bisa dengar suara ku kan?"
Sandi tertegun, ia lalu mengangguk kuat, "Bisa Kea, bisa"
"Dia gak bakal pakai alat dengar kayak gini kan? " Kata Kea memegang telinganya yang sudah kembali terpasang alat bantu dengarnya. "Dia gak bakal sakit-sakitan kayak aku kan? Jantungnya baik-baik aja kan? Dia bisa nangis kuat kan? dia-
Sandi menggeleng, "Stt, Nggak sayang, nggak, anak kita sehat, Aiko kita sehat"
Kea tergugu, bersyukur dalam hati sambil menciumi pipi Aiko, ia lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Aiko yang masih anteng dalam tidur.
"Hai, Aiko, ini mama"
Dan Sandi meruntuhkan pertahanannya, Ia menangis terisak.
Tidak lagi, tidak lagi ia biarkan Kea pergi dari sisinya dan juga Aiko. Sandi berjanji dalam hatinya.
****
Tak terasa tiga bulan berlalu begitu saja semenjak Kea sadar dan bisa kembali pulang kerumah mereka, para orang tua juga akhirnya kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Aiko sudah berusia empat bulan, bayi gendut itu semakin gempal semenjak sang mama yang mengurusnya. Pertumbuhannya juga cepat, ia sudah mulai bisa memiringkan tubuhnya dan beberapa kali berhasil telungkup dengan usaha sendiri.
Sandi juga sudah lulus sidang dan akan mengikuti acara kelulusan minggu depan. Mereka hidup dengan baik selama ini, bahagia, ceria dan penuh cinta.
Begitupun Kea, kesehatannya pun tampak baik-baik saja, setidaknya itulah yang Sandi dan para teman-teman mereka tau. Tanpa mereka sadari kesehatan Kea tetaplah seperti itu, tanpa perubahan.
Memangnya apa yang diharapkan dari penderita jantung kronis itu. Sehat bugar, beraktivitas sebagaimana mestinya begitu?
Kea kadang merasa benci dengan kelemahannya itu, ia semakin tak bisa banyak beraktivitas, Sandi juga banyak melarangnya ini itu. Kea marah, ia tak suka diperlakukan seolah-olah ia nenek-nenek yang tak bisa apa-apa, namun, Saat Kea curhat dengan Ayumi, Ayumi justru menyarankan Kea untuk menerima semua perlakuan Sandi, karena mau bagaimanapun Sandi pasti trauma akan kehilangan Kea.
Maka, sekarang, Kea sudah bisa terima jika Sandi banyak membantu dan juga ikut mengurusnya, alih-alih Kea yang mengurus Sandi dan Aiko. Seperti pagi ini contohnya, Kea yang sejak tadi malam merasa nyeri didadanya tak bisa untuk segera bangun dari tempat tidur.
Dan Sandi yang tak ada kegiataan apa-apa itu memaksa untuk memandikan Aiko, awalnya Kea menolak karena ia merasa ngeri dengan cara Sandi yang memegang Aiko, ayah muda itu memegang Aiko layak nya boneka, mengunyel-nguyel dan juga melompat-lompatkan keatas, seolah bayi gempal itu tak akan terluka jika jatuh. Tapi saat mengingat kondisi tubuhnya yang tak fit, akhirnya mama kesayangan Aiko itu membiarkan bayi gemuknya di bawa papanya kekamar mandi.
"Jangan disirami Aikonya San" Kesal Kea saat ia mengecek kekamar mandi dan bertepatan dengan itu Sandi dengan sengaja menyiprati Aiko yang kini duduk dibak mandinya. Bayi berumur empat hampir lima bulan itu memang sudah mulai bisa didudukkan sendiri walaupun terkadang masih oyong, kalau kata Sandi mungkin Aiko keberatan lemak.
Sandi tertawa, begitupun Aiko yang ikut terkekeh dengan menggumamkan kata ba-ba.
"Nggak mama, Aikonya cuma mau main air ini, ya kan dek" Kata Sandi menciumi pipi gembil Aiko yang basah.
Kea berdecak, mama muda itu bersedekap dada didepan pintu kamar mandi, mengawasi anak dan suaminya. "Ya tapi kan-
"Stt, ma.. Sini mama ikut main sama papa sama adek yuk" Kata Sandi menarik-narik piyama Kea.
Kea berdecak, "Nggak ih"
"Oh, jadi mau main sama papa aja gitu? Yaudah, nanti habis papa mandiin Adek, gantian mama ya dek,"
Kea melototkan matanya tak terima, "Sandi ih, ngomongnya ada Aiko juga ih,"
"Loh, emang aku ngomong apa sih?" Tanya Sandi pura-pura tak tau. "Ya kan dek, mama ngomong apa"
"Ba-ba-ba"
"Mama Aiko, mama, ih kamu papa mulu yang diinget, padahal mama yang jagain kamu terus" Kata Kea masih merajuk.
Sandi tertawa kuat, sedangkan Aiko yang kaget karena suara tawa papa nya itu sempat tersentak sebelum akhirnya ikut berjingkrak kegirangan sambil ikut tertawa.
"Ba-ba-ba-ba" Celotehnya memukul-mukul air.
Sandi terkikik, sedangkan Kea yang awalnya mau melanjutkan merajuknya itu tak dapat menahan gemas. Perempuan itu ikut tertawa.
Dan akhirnya pagi dimusim semi itu, keluarga kecil itu habiskan didalam kamar mandi, saling menyiram dan tertawa.
Kea bahkan melupakan nyeri didadanya, juga melupakan bagaimana lemasnya ia sebelumnya. Ia terlalu bahagia untuk merasakan apa itu kesakitannya.
Dan Kea selalu berharap begitu, melupakan sakit dengan kebahagiaan keluarga kecilnya.
***
Note:
__ADS_1
Eh, kaget aku tuh kalian tim happy Ending semua.
Memang menurut kalian standar happy ending untuk keluarga kecil mereka itu kayak mana? hm?