
Kelli tersenyum, "Iya Ke, kamu kalau butuh apa-apa itu harusnya manfaatin Sandi dong, kamu jangan mau capek sendiri pokoknya. Dulu mama juga gitu, ah bahkan papa dan mama jadi lebih baik dan bersikap manusiawi waktu ada kamu diantara kami. Jadi, mama harap kamu sama Sandi juga ya.."
"Iya Ke, biasanya calon ayah itu bakal susah tau ngabaiin calon anaknya. Apalagi mamanya" kata Mia tertawa yang disambut kekehan Kelli.
Kea terdiam, tak ikut tertawa namun ia mengulas segaris senyum.
sebersit pikiran hinggap dikepalanya.
Apa Sandi juga merasakan sensasi menjadi calom ayah?
***
Hari minggu itu terasa sangat berbeda untuk Kea maupun Sandi. Ini adalah hari minggu pertama dimana Ia dan Kea benar-benar menghabiskan waktu bersama kecuali hari minggu saat mereka liburan ke Bandung dulu. Yah, kebersamaan mereka memang selangka itu,
Selain karena Kea yang sakarang suka mengurung diri, Sandi yang bekerja, kehadiran orang tua Kea memang sangat mengganggu kebersamaan mereka. Jika boleh jujur, sebenarnya sejak dulu Sandi begitu tertekan karena sikap kedua orang tua Kea yang selalu merasa dan ingin ikut campur dalam segala urusannya dan Kea.
Sandi sempat membicarakan hal ini pada papanya seminggu yang lalu sepulang dari bengkel . Menurutnya, kali ini hanya papanya yang bisa membantu. Dan Sandi hanya tinggal menunggu persetujuan Kea dan keluarganya saja untuk pindah ke apartemen orang tua Sandi dulu saat baru menikah. Apartemen lama yang bahkan sudah disewakan dan hampir dijual.
Minggu depan masa sewa penghuni apartemen akan habis, rencananya Sandi ingin segera pindah kesana. Ia sudah terlalu muak tinggal dirumah mertuanya.
Maka, disinilah dua sejoli itu sekarang, duduk diruang makan dengan pikiran kosong. Orang tua Kea sedang pergi undangan ke Surabaya dan akan menginap disana selama dua hari omong-omong. Itu juga sebab kenapa Sandi bisa sesantai ini pagi-pagi tanpa ada aura intimindasi disana-sini.
"Ke"
Kea hanya diam sambil sesekali mengernyit dan menutup mulutnya agar tak kembali memuntahkan bubur yang menjadi menu sarapan mereka pagi ini.
"Kea!" desis Sandi kesal karena istrinya tercintanya itu tak menyahut panggilannya.
Kea masih sibuk mangkuk buburnya. Sungguh ia ingin muntah sekarang, tapi Kea ingat sejak mama dan papanya pergi semalam Sore, ia belum makan apa-pun. Sandi tak sebaik hati itu untuk menyiapkan makan malam untuknya omong-omong.
Bubur yang mereka makan ini saja, atas dasar inisiatif pak Parlin yang kebetulan juga membeli bubur. Lalu memberikan dua bungkus untuk Kea karena ingat anak majikannya itu sedang hamil dan jarang mau makan.
Brak!
Kea terlonjak saat Sandi menggebrak meja dengan raut kekesalan yang tampak sangat jelas.
"Sebenarnya Alat dengar yang nyumpal telinga lo itu masih berfungsi nggak sih Ke?" Tanya Sinis Sandi.
Kea masih tak peduli, meladeni Sandi adalah suatu pilihan yang ia buang jauh-jauh semenjak kehamilannya.
"Kea!"
__ADS_1
Kea memejamkan mata saat emosinya tak dapat ditahan lagi ketika mendengar bentakan Sandi.
"Apa!"
"Bisa jawab juganya lo, kirain selain tuli lo juga bisu."
Kea diam, tapi netra cokelat dibalik kaca mata itu menatap Sandi penuh dendam.
"Gue males berurusan sama lo San, kepala gue uda mau pecah gara-
"Gua mau kita pindah" Potong Sandi datar.
Kea manaikkan alisnya bertanya. "Pindah?"
"Iya, ayo pindah rumah, gue gak mau nyusahin orang tua lo lagi, ah lebih tepatnya gue mau bebas dari orang tua lo sih." Kata Sandi jujur.
Kea tersenyum remeh, "Dan bebas mau nyakiti dan bunuh gue tanpa penghalang maksud lo?"
Sandi tertawa, "Salah satu tujuan gue sih itu, lo istri gue yang pengertian banget sih" Ejek Sandi pada kalimat akhirnya.
"Dan lo pikir gue mau?" Kata Kea datar.
"Lo mau jadi gelandangan? Kalau gue sih gak mau ." Kata Kea remeh, "Dengan penghasilan lo yang cuma bergantung sama pendapatan bengkel papa gue. Lo pikir-
"Kita tinggal di apartemen papa" Potong Sandi kasar.
Kea tersenyum mengejek, "Papa? Lo minta bantuan papa Surya? Ck, gak kaget sih, emang apa yang bisa dilakuin sama anak manja gak guna kayak-
"Kita pindah setelah orang tua lo balik, dan omong-omong Ke, pisau dapur gak jauh dari jangkauan gue kalau lo lupa. Ah, atau lo mau gue tusuk pakai garpu aja yang ada dimeja?" Ancam Sandi.
Kea mengetatkan genggamannya pada Sendok. "Gue gak mau"
"Dan lagi-lagi gue jawab, gue gak peduli Kea. "
"Gak usah ngatur gue, gue berhak milih gue mau tinggal diamana!" Bentak Kea.
Sandi mendengus geli, "Lo istri gue kalau lo lupa, dan emang lo mau jadi janda muda heh" Ejek Sandi, "Lo gak punya pilihan lain Kea" Tambah Sandi santai.
"Sandi-
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Baj*ngan lo!" Teriak Kea marah.
Sandi tertawa sebelum menyahut dengan jenaka, "Yes I am"
Kea mengumpat, ia lalu melempar sendok buburnya dengan kencang yang dibalas tawa kepuasan Sandi didepannya.
Iblis
***
Setelah orang tua Kea pulang, Sandi benar-benar menjalankan aksinya. Laki-laki itu baru pulang dari bengkel saat mendatangi orang tua Kea yang sibuk ditaman belakang. Sandi oulang sore karena ingin segera menyelesaikan keinginannya.
"Om, Tan" Panggil Sandi yang membuat sepasang suami istri menghentikan kegiatan mereka.
Sandi menarik napasnya, ia lalu mulai menjelaskan keinganannya untuk pindah keapartemen orang tuanya bersama Kea. Dengan alasan ingin mandiri, tidak tergantung, saling memahami dan lebih bertanggung jawab pastinya. Berbanding terbalik dengan ucapannya pada Kea minggu semalam yang terkesan jenaka dan penuh ejekan. Sekarang Sandi benar-benar seriua ketika berbicara pada orang tua Kea. Seolah-olah menunjukkan keseriusannya.
"Emang kamu bisa dipercaya, kalau dirumah saya aja kamu masih main tangan dan berlaku sesukamu. Apalagi dirumah mu sendiri nanti." Desis Kai tajam.
Sandi sempat tersentak ketika orang tua Kea tau apa yang ia lakukan pada Kea selama ini.
"Kenapa? Kaget kamu, kalau kami tau apa aja yang kamu lakuin sama anak saya? Bedak itu gak berfungsi buat nipu saya." kata Kai kian dingin.
Sandi menarik napasnya, ia harus berpikir cara lain agar orang tua Kea mengizinkan kepindahannya.
"Dan buat masalah tanggung jawab, kalau kamu emang mau tanggung jawab. saya rasa gak harus keluar rumah saya kan? Hal kayak gitu itu bisa ditunjukkan dalam segala situasi dan kondsisi" Kata Kai lagi kian tajam ,"Kecuali kalau kamu memang gak niat"
"Kenapa diam saja?" Tanya Kai remeh, " Uda gak punya alasan lagi buat bisa bebas dari rumah saya?" Kata Kai mengejek.
Sandi menghela napas, papa Kea itu sudah pasti tau keinginan terselubungnya.
"Maaf om, tan, Sandi tau kalau om dan tante ragu sama Sandi, Oke, Sandi akui Sandi memang pingin bebas dari pantauan om dan tante. Cuma Om, Sandi uda belajar buat berubah, Sandi uda belajar buat memperbaiki hubungan kami. Sandi ngerasa, kami gak gak akan ada perubahan kalau kami tetap bergantung ke om atau tante nantinya."
Sandi menarik napas, "Sandi juga tau om dan tante trauma sama masa lalu, tapi boleh sekali ini kasih Sandi kepercayaan buat ada disisi Kea? kalau om dan tante takut, Om dan tante bisa dateng keapartemen kapan pun om mau. lagian apartemen kami juga gak terlalu jauh dari kompleks. Sandi mohon om"
Lama kedua orang tua Kea itu terdiam, tapi ntah kenapa Sandi merasakan firasat baik menghampirinya.
Ah, Kea...
Selamat datang, sayang?
***
__ADS_1