Salah

Salah
S-2 Mama ga mewosamasu


__ADS_3

"Mama.. Jangan tidur terus ya,, kami kangen" Kata Sandi kembali mencium tangan Kea, kali ini agak lama dengan banyak tetesan air mata ketakutannya.


Sedangkan, dibalik pintu ruangan mereka, dua pasang suami istri dewasa itu menahan tangis. Merasakan dada mereka yang sesak karena setalah tiga minggu akhirnya Sandi mau banyak bicara.


Dan itu hanya pada Kea.


***


Sandi melanjutkan kuliahnya, ia sudah memasuki semester akhir dan akan sibuk mengurus skripsi akhir-akhir ini dengan target bulan maret tahun depan ia sudah lulus dan wisuda.


Awalnya, Sandi menolak melanjutkan kuliah, toh apa gunanya kuliah saat orang yang menjadi alasannya berjuang seolah tak peduli dengan kehidupan mereka.


Tapi, Saat papa dan papa mertuanya menasehatinya dengan pikiran terbuka, Sandi pun akhirnya berpikir juga. Setidaknya kalau ia tak bisa menjadi suami terbaik untuk Kea selama ini, ia harus bisa menjadi pahlwan dan ayah terbaik untuk anaknya kan?


Namun, dengan banyak kegiatan akhir yang melelahkan juga tanggung jawabnya sebagai ayah, akhirnya Sandi harus melepaskan gengsinya untuk tak bekerja dan menggantung hidup dan biaya pengobatan Kea pada orang tua dan mertuanya.


Sandi bukannya tak mau berusaha, tapi itu semua karena paksaan orang tua dan mertuanya, itu karena Sandi pernah mimisan dan berakhir pingsan dimeja belajarnya ketika sedang menyelasaikan deadline kantor yang menumpuk karena kelelahan dan kurangnya istirahat. Para orang tua itu bilang, saat ini yang terpenting adalah Aiko, jangan sampai hanya karena setitik gengsi mereka akan menyesali keputusan mereka akan Aiko dan Kea untuk kedepannya.


Dan Sandi menyetujuinya,


Percaya lah, untuk ukuran seorang laki-laki dengan gengsi tinggi seperti Sandi, melepas suatu pekerjaan dan menggantungkan hidup pada orang lain adalah sebuah hasil dari tekanan kerendahan ego dan gengsi yang berhasil ia injak sekuat yang ia bisa.


Tapi, lagi, bukan itu poin utamanya.


Karena sekarang, Sandi bukan lagi laki-laki berumur 18 tahun yang kekanakan dan penuh dendam. Tapi, Sandi adalah Sandi, laki-laki berusia 23 tahun dengan gelar suami dan sosok ayah sekaligus ibu untuk Aiko.


Laki-laki yang sudah berjuang penuh tekanan untuk tetap bisa berdiri tegak saat presentasi akhir kuliah.


Laki-laki yang sudah berjuang untuk bangun sepanjang malam hanya agar memastikan anak dan istrinya tak pergi dengan tiba-tiba, walaupun akhirnya ia akan ketiduran dengan posisi yang pasti menyakitkan untuk tulangnya.


Sandi juga bukan lagi bocah SMA yang penuh ambisi, ia hanya laki-laki yang menyandang sosok orang tua untuk bayi gendutnya, yang akan melangkah dan bergerak dengan cekatan jika bayinya menngis meminta susu.

__ADS_1


Sandi tak pernah begitu peduli dengn kondisi tubuhnya.


Tak juga peduli dengan lelahnya.


Ia juga tak ambil rasa oleh tangannya yang hampir melepuh karena pernah tersiram air panas dari termos persediaan susu Aiko.


Sandi juga mulai kehilangan rasa jijiknya saat akhirnya ia bisa membersihkan Aiko dari kotorannya.


Sandi bisa, ia bisa. Ia tak pernah mengeluh. Tapi, dimalam tahun baru dengan banyak kemeriahan kembang api dilangit malam, Sandi akhirnya tak sanggup juga. Laki-laki yang sudah ditinggal istrinya koma selama sebulan penuh itu akhirnya menangis tergugu dengan banyak harapan dan resolusi yang ia utaran dengan khidmat.


"Kea, tahun ini, aku hanya berharap satu hal, berharap Tuhan mau kasih aku keajaiban. Aku mau kamu bangun, buka mata kamu, peluk aku dan Aiko, hidup bersama sama kami. Kami rindu Kea.. Sangat-sangat rindu." Sandi mencium tangan Kea yang kian hari kian kurus, padahal Kea mendapat perawatan yang sangat bagus dirumah sakit ternama yang ada di Tokyo ini.


Tapi, seolah semua biaya, semua fasilitas dan semua kinerja perawatan rumah sakit tak ada artinya untuk tubuh Kea yang kian hari kian mengecil dengan berat badan turun.


Sandi menangis, ia juga tak bodoh saat beberapa kali alat pendeteksi denyut jantung Kea akhirnya berdenging nyaring sebelum akhirnya kembali bergerak dengan grafik lemah.


Sandi tak bodoh, ia tau artinya itu. Ia tau kalau Kea mungkin sudah tak sanggup dengan sakitnya.


Terkadang, Sandi tau ia begitu egois, melarang dokter menghentikan perawatan Kea karena ia ingin Kea sembuh, tapi, ketika mengingat bagaimana rintihan Kea yang mengeluh sakit sebelum kelahiran Aiko, Sandi tergugu.


Tapi ia juga tak ingin Kea pergi meninggalkannya.


"Kea.. Bangun yuk, Sebentar lagi tahun bakal berganti loh. dan masih banyak hal yang belum kita lakuin bareng-bareng"


"Kamu ingat? kita pernah buat list keinginan sebelum kamu tau kalau kamu hamil Aiko dulu hm"


"Kamu mau jalan-jalan keliling Jepang, ke Hokkaido, ke Kyoto, ke Hiroshima, terus masih banyak lagi, dan aku cuma ngedengngkus sebagai responnya, bilang pasti itu mahal banget, dan kamu merajuk sama aku seharian karena itu"


"Kamu juga mau belanja sesuka kamu di Shibuya, gak peduli sama tabungan kita yang waktu itu menipis karena banyaknya biaya tugas kuliahku. "


"Kamu juga mau kita coba ngedaki gung fuji dan liat sunrise langsung dari sana, Kamu bilang aku harus gendong kamu biar kamu gak kecapean" Sandi tertawa.Ia lalu terisak.

__ADS_1


Malam ini, Aiko dirawat oleh kedua neneknya yang akhirnya ikut menetap di Jepang bersama mereka. Sedangkan para kakek kembali ke Indonesia karena banyaknya pekerjaan yang mengejar mereka setelah tiga minggu menemani keluarga kecilnya.


Dan, bohong jika Sandi tak senang untuk hal itu.


Disituasi seperti ini, kehadiran sosok ibu adalah keajaiban yang begitu ia dambakan. Makanya, begitu para orang tua membuat keputusan itu, Sandi tak berhenti untuk tak berterima kasih.


"Dan sebenernya,, kamu inget nggak, waktu itu karena kamu yang merajuk sama aku, aku belum kasih list impian aku kekamu."


"Dulu, list aku itu mau pulang ke Amsterdam sama kamu, aku kangen banget sama kota masa kecilku itu. Terus di list ku juga, aku mau kita jalan-jalan keliling kota Amsterdam, liat kincir angin, liat taman bunga yang bagus banget disana, liat masa-masa kecilku sebelum ketemu kamu .Tapi.. Kali ini aku tarik listnya. Sekarang list keinginanku cuma mau kamu bangun dan hidup sama aku Ke..."


Lama keheningan menerpa. hanya suara terompet dan kembang api yang terdengar nyaring dilangit malam.


"Selamat tahun baru mama dan- Mama, ga mewosamasu, kami mohon" bisik Sandi penuh harapan.


(Mama, lekas bangun)


Dan Sandi menahan nafasnya saat bisikannya itu dibalas dengn suara alat detak jantung yang nyaring,


Sebelum akhirnya begrafik normal, sangat normal.


Sampai membuat Sandi tak mampu melakukan apapun.


Apalagi saat akhirnya, mata sipit yang lama tertutup itu akhirnya mengerjap.


Sandi dikepung banyak harapan dalam setiap inci tubuhnya.


Harapan membuncah yang begitu ia harapkan.


***


Tim happy atau tim sad Ending nih.

__ADS_1


Jujur dari awal aku nulis judul dicerita ini, aku uda nemuin Ending akhirnya .


Tapi, sebelum 2 bab akhir ini , aku mau tau kalian tim mana nih dan ayo tebak bagaimana akhirnya kisah mereka.


__ADS_2