Salah

Salah
S-1 Terbiasa


__ADS_3

Sandi menarik kedua tangan Kea yang menutupi wajahnya. Ia lalu menyodorkan sendok itu lagi.


"Makan atau lo yang gue makan !" Sentak Sandi.


Kea mengerjap. ia menerima suapan itu walau masih dengan tangisannya.


Sandi menahan decihannya ketika Kea bahkan sudah menghabiskan semua makananya. Laki-laki itu mendengus.


Memaki Kea dalam pikirannya. Tapi tak dapat dipungkiri, ia cukup menikmatinya.


Sandi tak tau kenapa ia melakukan hal gila ini, tapi.. Ternyata mencoba bertanggung jawab akan Kea tak seburuk perkiraannya.


***


Kea mengerjap kan matanya berkali-kali ketika seberkas cahaya menusuk matanya yang masih mengantuk. Perempuan berdarah tionghoa itu memegangi perutnya yang mulai sesak.


Usia kandungannya sekarang sudah menginjak 3 bulan, itu artinya sudah hampir dua bulan pula Ia dan Sandi tinggal bersama diapartemen milik papa Sandi ini.


Kea mendudukkan dirinya, pikirannya masih kosong karena bangun tidur. Tapi perempuan itu langsung mengernyitkan matanya kala tak menemukan Sandi disebelahnya. Bahkan, tempat tidur bagian Sandi masih terlihat sangat rapi.


Apa itu artinya laki-laki itu tak pulang semalam?


Kea tak pernah tau kalau Sandi pulang kerja karena pasti ia sudah tidur terlebih dahulu, apalagi semenjak mereka pindah tampaknya Sandi menambah jam kerjanya. Yang biasanya pulang jam 6 atau jam 7 menjadi jam 10 malam keatas. Kea tak tau kenapa demikian, ntah karena memang jam kerjanya bertambah atau mungkin Sandi membual dan pergi bersama teman-temannya. Ntahlah, Kea tak terlalu peduli juga..


Tapi...


Melihat Sandi yang tidur disebelahnya ketika bangun pagi adalah suatu keharusan semenjak mereka pindah. Maka, tak dapat dipungkiri ada rasa mengganjal dihati Kea saat tak menemukan manusia iblis satu itu disebelahnya..


Kea bukannya mulai menerima Sandi dalam hidupnya, hanya saja~ Selama hampir dua bulan menggantungkan hidup pada Sandi. Kea mulai merasa terbiasa.


Ya, hanya terbiasa.


Setidaknya itulah perasaan dan pikiran Kea saat ini.


Kea meraih memasang alat bantu dengarnya, dan perempuan itu mengernyit saat mendengar suara yang sangat dikenalinya.

__ADS_1


"Serius lo? Emangnya om lo itu gak masalah sama tamatan gue?"


Dari Suaranya tampaknya Sandi berada didapur atau ruang makan yang bergabung dengan dapur. sepertinya laki-laki itu sedang berbincang ditelepon karena beberapa kali mengucap kata 'Halo' untuk mengulang kata yang tak jelas. Dan, Kea berterima kasih pada apartemen papa Sandi yang tak terlalu besar ini sehingga membuat pembicaraan menyebalkan Sandi masuk ke alat dengarnya.


Dan sedikit merusak moodnya.


"Gue sih gak masalah sama permintaan om lo itu, tapi.. jangan besok juga lah deadlinenya, gue masih harus kerja dibengkel, ada Kea juga dirumah yang harus diurus"


Kea menurunkan kakinya dan berniat menguping dengan lebih jelas setelah mengambil kaca mata dan menaikkan volume dengar alat dengarnya. Memang alat dengar Kea masih terbilang manual yang harus pasang dan atur sendiri, Kea belum mau menjalani operasi koklea atau menanamkan alat dengar dalam telinga yang membuatnya bisa mendengar secara otomatis karena jujur saja, Kea menyukai keheningan.


Walaupun ia membenci takdirnya, tapi tak dapat Kea pungkiri menjadi tunarungu sejak lahir membuatnya nyaman dengan keheningan. Setidaknya Kea tak harus mendengar banyak ejekan temennya ketika ia TK dan SD dulu.


Kea berdesis saat suara tawa Sandi berderai, jarak yang semakin dekat membuat Kea mau tak mau merasa pengang juga. Ah, sekarang Kea berada dibelakang Sandi yang masih berbincang didepan kulkas, membelakanginya.


"Bangs*t emang lo Ben, Mudah-mudahan lo jadi bapak rumah tangga juga deh kedepannya. Biar mampus lo" Maki Sandi pada telepon sebelum kembali tertawa setelah mendengar jawaban dari temannya, mungkin.


"Yehh,, Lo aja yang belum pernah ngerasai enaknya jadi bapak rumah tangga, makanya-


Kalimat Sandi tercekat saat ia membalikkan badan dan ada Kea yang menatapnya dengan tatapan datar.


"Sejak kapan lo disitu?" Kata Sandi terdengar canggung.


"Sejak lo bertingkah seolah-olah lo jadi suami yang ngurus isterinya dengan baik? Selain iblis, kayaknya lo sekarang buat gue makin nampak rendah didepan temen-temen lo ya." Sinis Kea. "Lo mau temen-temen lo itu mandang rendah gue, oh- Atau lo sering pulang malam itu karena ngegosipi gue sama temen-temen gak guna lo itu. "


Sandi menyipitkan matanya, "Gue pulang malam itu kerja, buat beli makanan buat lo, beli susu hamil buat lo ,Dan sejak kapan lo peduli sama gue dan teman-teman gue?" Sinis Sandi.


Kea terdiam.


Sandi tersenyum kecil, laki-laki itu lalu menuju dapur, memasak makanan untuk sarapan karena Kea yang belum bisa mencium aroma masakan akibat mual saat pagi hari, maka ntah sejak kapan juga pembagian tugas itu terlaksana dengan alami, Sandi membuat sarapan pagi dan Kea yang membuat makan siang dan malam. Walaupun kadang Sandi jengkel karena ia lelah dan buru-buru dipagi hari, tapi laki-laki itu tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


Lagi-lagi, mungkin mereka mulai terbiasa.


Kea berdehem, "Lo gak pulang tadi malem?" Tanya Kea setelah keheningan menerpa mereka cukup lama.


Sandi yang baru selesai menumis brokoli yang ntah bagaimana menjadi masakan andalannya, sampai Kea berpikir tak ada yang bisa laki-laki itu masak selain brokoli.

__ADS_1


"Nggak" Sahutnya.


Kea sudah mengepalkan tangannya, "Ngapain lo gak pulang? Main sama ******? Minum-minuman atau balapan?"


"Gue kerja"


"Kerja apa yang sampai gak pulang, Jadi gig*lo lo?"


Tak.


Sandi meletakkan segelas susu hamil didepan Kea dengan kasar, ah, sebulan terakhir Kea memang mulai meminum susu. Awalnya karena mama Sandi yang membawakannya, tapi ntah bagaimana juga sekarang justru menjadi kebiasaan dan bahkan menjadi pengeluaran wajib Sandi tiap bulan. Kea ingat Sandi bahkan pernah mencak-mencak dan memakinya karena pengeluarannya semakin banyak untuk Kea seperti periksa kandungan, kontrol kesehatan, membeli buah-buahan dan sayuran yang baik untuk ibu hamil, membeli susu dan masih banyak lagi.


Sandi harus membiayai semua hal itu saat mereka harus berhemat untuk kehidupan mereka sehari-hari, bahkan, diam-diam Sandi sudah memakai uang tabungannya dulu karena beberapa kali terdesak.


"Minum dan gak usah nyampuri hidup gue, bisa?" Desis Sandi agak marah, atau sebanarnya sudah marah.


"Kenapa? Lo takut kebusukan lo itu kebongkar!"


"KEA!"


"APA!"


"Gak usah ikut campur urusan gue, urus aja anak sialan lo itu. Dan pikirin caranya biar lo gak cuma jadi benalu dihidup gue. Bisa?" sentak Sandi membuat Kea terdiam.


Pembicaraan Anak memang sangat sensitif untuk Kea, perempuan itu akan langsung diam jika sudah membahas anak, paling parah menangis ketika Sandi sudah ketelaluan.


Sandi memaki, tapi setelahnya, laki-laki itu mengacak rambutnya. Menghela nafas kasar dan menyiapkan sarapan untuk Kea.


"Makan Ke" Kata Sandi melembut,


Ah, satu lagi kebiasaan yang ntah mereka sadari atau tidak.


Kea sarapan pagi dengan selalu dan hanya selalu disuapi oleh Sandi.


***

__ADS_1


Happyyy weekend guys...


__ADS_2