
Kai ingin mengamuk, tapi ia juga tak mampu berbuat apapun ketika ia melihat menantunya tak kalah menyedihkannya.
Kai mungkin harus kehilangan cucu pertamanya, Dan Kai mungkin harus bersabar untuk kesembuhan putrinya.
Tapi Sandi, laki-laki jangkung yang kini tampak sangat kurus dan diapit kedua orang tuanya itu merasakan lebih dari apa yang Kai rasakan.
Sandi bukan hanya kehilangan anaknya, tapi ia juga kehilangan kepercyaaan dan kewarasan istrinya. Juga kehilangan kendali keluarga kecilnya.
Sandi benar-benar merasakan apa itu kehilangan yang sesungguhnya.
***
"Aku gak mau ma.. Sandi itu jahat, nggak! Aku gak mau jumpa dia" Teriak Kea begitu Kelli mengatakan kalau Sandi ingin menemuinya.
Kelli menghela nafas, ia memeluk Kea yang kini kian kurus, tak ada lagi pipi tembam yang menggemaskan, tak ada lagi Kea yang manja dan lucu. Sekarang hanya tertinggal Kea yang kurus, bertubuh lemas dan berpenampilan acak-acakkan , selalu ketakutan saat orang-orang mendekatinya. Kecuali, Dokter, seoarang perawat, Kelli dan Kai.
Selain dari itu, Kea akan berusaha menyakiti dirinya sendiri. Kea mengidap borderline personality disorder atau BPD Yaitu suatu gangguan tekanan mental yang membuat sipenderita menyakiti dirinya sendiri untuk melampiaskan kemarahannya.
Kea juga mengidap Depresi berat, Sebuah gangguan yang membuat penderita merasa kehidupannya yang paling tertekan didunia, merasa hidupnya yang paling tak berguna didunia.
"Nggak sayang, Sandi sekarang uda baik tau. Coba mama tanya deh sama Kea, siapa yang selama ini beliin Kea es krim. Kea.. Hei fokus ke mama dulu matanya jangan kemana-mana" Kata Kelli saat mata Kea bergerak-gerak tak tenang.
"Kea mau ambil Angela dulu mah, dia nangis" Kata Kea menarik boneka beruang berwarna kuning, boneka itu adalah boneka pemberian perawat untuk Kea ketika suatu malam Kea menangis dan menjerit-jerit karena ingat Angelanya yang sudah meninggal.
Kelli menghela nafas, perempuan dewasa itu menahan tangis saat membenarkan posisi boneka beruang itu dalam pelukan Kea. Hatinya hancur berkeping-keping ketika Kea sudah bertingkah seperti ini.
"Kea"
"Stt, mama jangan berisik ah, Nanti Angela bangun. Terus nangis, Terus nanti papanya marah" Kea tersentak, perempuan berseragam pasien rumah sakit jiwa itu menatap bonekanya lama. Seolah mengingat siapa papa dari Angelanya.
__ADS_1
Kea membanting boneka kuning itu dengan marah, "Nggak! Dia anak aku ma! Dia bukan anak Sandi.. Akh, Sandi bunuh anak aku ma.. Dia marah hiks"
Dan lagi,
Sandi yang memperhatikan Kea sejak tadi memelorotkan tubuhnya kelantai.Sudah Berapa lama ia mendengar makian Kea? Satu bulan kah? Dua bulan? Yah, Kea sudah dirawat dirumah Sakit jiwa sejak dua bulan yang lalu karena kejiwaan perempuan itu semakin tak terkontrol. Kea bahkan pernah mengiris nadinya secara tiba-tiba. Katanya hatinya sakit, dan ia ingin rasa sakit ditubuhnya mengalihkan sakit dihatinya.
"Nggak Kea,, udah yah iya, mama minta maaf, sekarang Kea tidur ya, uda siang" Suara dari dalam kamar itu masih dapat Sandi dengar. Kelli berusaha menenangkan Kea yang masih melantur, perempuan itu bahkan kian menangis,
Sandi mengepalkan tangannya, ia sudah bosan hidup penuh dengan duka seperti ini, Sandi harus menyadarkan Kea, Sandi harus menemui Kea dan menjelaskan semuanya, meminta maaf dengan jelas dan mencoba memulai semuanya dengan hal yang baru.
Maka tanpa bisa dicegah, Sandi mendorong kamar rawat Kea. Dan sebagai sambutannya, Kea menangis histeris ketika melihatnya, seolah ia adalah setan yang mengerikan. atau.. memang iya.
"Sandi!" Bentak Kelli tanpa sadar, Selama dua bulan ini, Sandi memang dilarang menemui Kea secara langsung karena mau bagaimana baiknya Sandi sekarang, laki-laki itu adalah dalang utama kegilaan Kea.
Dokter khawatir Kea akan semakin sulit bangkit dari ketakutannya kalau Sandi muncul didepannya. Makanya, Kelli langsung membentak begitu Sandi nekat masuk.
"Bajingan! Iblis, dia jahat ma... Sandi yang buang tas aku ke peceran ma.. Hiks, Dia juga yang ngejekin aku kayak gajah mah, katanya aku juga mirip capung karena pake kaca mata .. Dia injak Kaca mata aku semalam." Teriak Kea histeris.
Terkadang Kea bisa menangis sambil menunjuk-nunjukkannya seperti tadi, mengatakan semua kenakalan Sandi ketika kecil. Yah, harus Sandi akui, ia memang senakal dan sejahat itu saat kecil. Tapi, jahatnya hanya pada Kea, hanya Kea.
Lalu terkadang dalam sekali waktu, Kea tiba-tiba mengingatnya kalau mereka sudah menikah dan kehilangan Angela, Kea akan memakinya pembunuh, memakinya dengan sumpah sarapah dan lain-lain.
Kea sudah sulit terkontrol.
"Sandi, keluar kamu!" Bentak Kelli, perempuan tionghoa yang biasanya kalem itu tiba-tiba membentak sambil memeluk Kea yang menangis.
"Nggak Tan, please sekali ini biarin Sandi ngomong sama Kea, Sandi mohon, kalau nanti Sandi harus dibunuh sama om Kai, Sandi juga gak bakal ngelawan. Tapi, Sandi mohon tan, sekali ini aja." Mohon Sandi terisak, yah, ia menangis.
Kelli mrngerjap, selama ini ia tau Sandilah yang paling menderita, maka perlahan Kelli pun melunak, ia melepas pelukannya dari Kea yang ketakutan dengan gerakan pelan yang teratur.
__ADS_1
" Tante mohon Sandi.. Jangan buat anak tante makin parah" Mohon Kelli saat ia melepas pelukan Kea secara paksa, karena Kea yang memeluknya kian erat.
Sandi mengangguk, dan begitu Kelli berhasil melepas pelukan Kea, Sandi langsung memegang tangan Kea yang hendak mencakarnya.
"Kea!" Desis Sandi ketika Kea memberentak dicekalannya.
"Jahat, kamu jahat, Penjahat, kamu buang bekal aku ke tong sampah kemarin lusa.. kamu jahat hiks. " Lalu Kea tertawa, "Kamu juga yang buat Angela pergi kan.. Kamu jahat, aku uda suruh kamu pulang semalam hiks, aku sudah suruh kamu pulang, aku uda bilang perut aku sakit." Lalu menangis.
Sandi memeluk Kea sambil menahan tangan Kea agar tak memukulnya ataupun menyakiti dirinya sendiri.
"Maafin aku Kea, maaf" Bisik Sandi sambil mengencangkan pelukannya, sungguh, ia merindukan Keanya. Sandi merindukan isterinya.
Dan betapa ia menyesal telah menyakiti hati Keanya semasa kecil.
Sandi yang menghancurkan Kea dulu, dan sekarang Kea menghancurkan dirinya sendiri didepan Sandi.
Sandi tergugu, ia terus bergumam maaf, dan maaf.
Sampai teriakan dan makian Kea mereda, tergantikan dengkuran halus didada lebar Sandi yang tampak kurus.
Kea tertidur, tertidur dipelukan musuh bebuyutannya.
Sandi membaringkan Kea ketempat tidur masih dengan memeluknya. Sandi benar-benar merindukan Keanya.
Dan Sandi tak mau melewatkan kesempatan itu, satu hari ini saja, biarkan ia melepas rasa rindunya pada isterinya. Sebelum ia harus ditampar kenyataan kalau ia harus sadar diri bahwa sebenarnya ialah yang menghancurkan Keanya. Bahkan, sejak dulu.
Sandi membaringkan Kea ketempat tidur masih dengan memeluknya. Sandi benar-benar merindukan Keanya.
***
__ADS_1
Please,, Eps kali ini biarkan Sandi berkubang dipenyesalan. wkwkwk.
Anyway, walaupun aku sering ngangkat tema 'Gangguan psikologi' diceritaku, sebanarnya aku kurang tau secara detail tentang itu. So correct me if im wrong, oke