
Sandi menngernyit tak setuju, Kea mengorbankan hidupnya untuk dirinya. Cih, mamanya tak tau saja bagaimana gilanya Kea itu pada kenyataannya.
Tapi lagi.
Sandi mengangguk meng iyakan, ia tak tega melihat mamanya yang menangis itu.
Mama Sandi itu tersenyum, ia lalu memeluk Sandi, berbisik pelan. "Usia kandungan Kea itu trimester awal. Kamu harus banyak dampingi dia ya San. Janji sama mama pokoknya. "
Lagi Sandi mengangguk. Kali ini dengan decihan sinis dalam hati. Merasa geli dan jijik dalam sekali waktu saat membayangkan ia harus mengurus anak sialan itu dimasa depannya.
***
Kea bersandar pada dinding kamar mandi sambil memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Kebiasaan ini sudah terjadi sejak satu bulan yang lalu. Usia kandungannya juga sudah masuk dibulan kedua, tapi sungguh Kea belum terbiasa dan tak akan pernah biasa oleh morning sickness yang menyiksa ini.
Kea kembali menunduk dan bertumpu pada wastafel saat gelombang mual itu kembali datang. Kea rasa lehernya terasa perih karena ia berusaha memuntahkan sesuatu padahal perutnya sudah kosong dimuntahan pertama tadi.
Sandi yang mendengar Kea muntah dikamar mandi pun menatap pintu kamar mandi dengan tatapan sulit diartikan.
Sudah satu bulan berlalu, dan Sandi sudah mulai terbiasa dengan tradisi pagi ibu hamil itu, namun ntah kenapa Sandi belum juga terbiasa oleh rasa kasihan yang tiba-tiba menyusup hatinya. Sandi tak tau kenapa, tapi melihat Kea berwajah pucat yang bahkan pernah pingsan karena dehidrasi, Sandi tak dapat untuk tak sedikit khawatir pada perempuan itu.
Seperti pagi ini contohnya, diam-diam Sandi sudah bangun dan mrngawasi pergerakan Kea.
Saat dirasa Kea belum juga keluar padahal suara muntahan sudah tak terdengar, Sandi pun turun dari ranjang dan menghampiri perempuan itu.
Sandi mengernyit saat pemandangan Kea yang terduduk disamping wastafel dengan tubuh bergetar dan tampilan acak-acakan, perempuan itu menangis lagi dan selalu.
"Ke"Panggil Sandi tak dapat mencegah rasa paniknya, ia menghampiri Kea, menatap wajah kuyu yang basah oleh air mata itu sekilas sebelum membawa perempuan itu kepelukannya.
Kea hanya diam, ia tak berusaha menolak ketika Sandi memeluknya. Perempuan itu mencoba menikmati perlakuan Sandi walaupun sebenarnya enggan.
__ADS_1
Kea terlalu lemas untuk melawan, jadi ia melanjutkan tangisnya sambil sesekali mencuri hirup aroma citrus Sandi yang ntah sejak kapan mulai terasa candu dipenciumannya.
"Gue berharap lo mati, tapi nggak secepat itu juga Ke, gue belum siap mental buat dapet perlakuan kasar bokap lo lagi, dan jangan salah paham, gue cuma gak mau lo mati disekitar gue dan nuduh gue jadi pelakunya nanti." Bisik Sandi ketika ia menyadari tingkahnya itu salah, Ia tak ingin Kea salah paham, kata orang perempuan hamil itu lebih mudah baper dan sangat sensitif masalah perasaan. Dan Sandi tak mau itu, ia tak mau ada perasaan selain benci diantara mereka. Baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk Kea nantinya.
"Bisa lo keluar sekarang? Gue mau mandi" Kata Sandi tanpa perasaan bangkit dari acara jongkoknya, sehingga Kea terpaksa melapas pelukan mereka.
Kea mengerjap, ia lalu berusaha bangkit dan keluar dari sana. Kea masih terlalu malas menghadapi Sandi saat ia selalu hampir mati ditiap paginya.
Sedangkan Sandi terpekur ketika melihat Kea yang gampang mengalah sejak hamil. Dan ntah kenapa Sandi merasa Kea yang suka melawan dan menantangnya itu lebih baik dari pada Kea yang gampang mengalah dan tampak begitu lemah.
***
Kea masih menangis saat tiba-tiba mamanya dan mama Sandi datang kekamarnya. Perempuan muda itu tampak begitu terkejut, Ia bahkan berusaha menghapus air matanya dengan cepat walaupun itu sia-sia karena kedua perempuan dewasa itu sudah melihatnya.
"Ke" Mamanya memanggil pelan lalu memeluknya sayang.
"Kea mau tiramisu?" Tanya Mama Sandi mengambil kotak yang sempat ia tenteng tadi. "Mama sama mamamu ini loh yang buat, jadi dimakan ya" Kata mama Sandi itu membuka kotak mikanya.
Kea tersenyum, ia lalu mengangguk. Jika diingat-ingat, semenjak hamil Kea bukan hanya lebih tampak mengalah dan gampang menngis tapi juga lebih banyak diam.
Kelli yang biasanya selalu menjadi tempat curhatan Kea pun kini sudah tak lagi. Terakhir kali Kea bercerita adalah ketika putrinya itu menangis tersedu karena ingin ikut ujian saat mereka dirumah sakit waktu itu.
Kea memakan sepotong tiramisu itu, ia memakannya dengan sedikit lahap karena sejak pagi belum makan akibat morning sicknessnya.
Saat Kea sudah selesai makan, barulah kedua perempuan dewasa itu saling pandang sebelum kembali membuka pembicaraan.
"Kea mau sharing nggak sama mama dan mama Kelli?" Tanya Mia dengan hati-hati.
"Iya, Kea mau berbagi cerita nggak, kayak tentang kehamilan misalnya, Atau tentang apa aja deh, mama sama mama Mia pasti bakalan dengerin Kea" Kata Kelli mengelus rambut Kea yang kini tampak pendek. Padahal sebelum kecelakaan dulu rambut Kea sangat panjang dan bergelombang mirip rambut Kelli ketika muda.
__ADS_1
Kea menatap mama dan mertuanya dengan pandangan buram, semenjak hamil memang Kea jadi super cengeng. "Me-menurut mama, Kea salah nggak sih ma kalau pertahanin anak ini" Katanya dengan suara bergetar.
Kelli dan Mia saling pandang dengan raut bingung, "Kea kok ngomong gitu sih Ke? " Kata Kelli memeluk Kea, membawa Kea kepelukan nya.
"Sandi Nekan kamu atau gimana sayang, tapi- Sandi kan uda berubah masak tiba-tiba kamu ngomong gitu" Kata Mia terdengar bingung, memang semanjak drama yang dilakukan Sandi dan Kea waktu itu mampu mengubah presepsi semua orang. Mereka percaya kalau kedua sejoli itu sudah baik-baik saja. Jadi wajar saja Mia agak bingung dengan pertanyaan yang terdengar putus asa Kelli itu.
Kea menggeleng, ia lalu merebahkan kepalanya kepangkuan sang mama karena ia merasa pusing.
"Nggak papa, Kea cuma tiba-tiba kepikiran aja." Kata Kea memaksakan sebuah senyum yang justru terlihat aneh.
"Nggak mungkin kalau cuma tiba-tiba kepikiran. Kenapa sih sayang, Sandi gak peduli sama kamu atau gimana?" Kata Kelli y ang masih tak percaya.
"Iya, Atau Sandi acuh tak acuh, dia nyakitin kamu lagi? " Tanya Mia ikut tak percaya.
Kea menggeleng, ia lalu menatap mamanya, "Kea cuma tiba-tiba kepikiran aja ma, morning sickness bikin Kea jadi over thinking. "
Kelli dan Mia saling pandang sebelum tersenyum, "Harusnya kondisi kayak gini kamu manfaatin buat manja sama Sandi Ke." Kata Mia tiba-tiba.
"Dulu mama waktu hamil Sandi juga gitu kok, mama bahkan sampai harus dirawat dirumah sakit waktu trimester pertama dulu. Tapi waktu kondisi kayak gitu tuh, mama manfaatin buat manja-manja sama papamu, soalnyakan papamu itu gila kerja. Jadi secara gak langsung itu mama minta papa ikut ngerasain tanggung jawab waktu hamilnya Sandi dulu" Kata Mama Sandi itu bercerita.
Kelli tersenyum, "Iya Ke, kamu kalau butuh apa-apa itu harusnya manfaatin Sandi dong, kamu jangan mau capek sendiri pokoknya. Dulu mama juga gitu, ah bahkan papa dan mama jadi lebih baik dan bersikap manusiawi waktu ada kamu diantara kami. Jadi, mama harap kamu sama Sandi juga ya.."
"Iya Ke, biasanya calon ayah itu bakal susah tau ngabaiin calon anaknya. Apalagi mamanya" kata Mia tertawa yang disambut kekehan Kelli.
Kea terdiam, tak ikut tertawa namun ia mengulas segaris senyum.
sebersit pikiran hinggap dikepalanya.
Apa Sandi juga merasakan sensasi menjadi calom ayah?
__ADS_1