Salah

Salah
S-1 Pembicaraan


__ADS_3

Kea bangun saat matahari sudah lengser keperaduannya. Perempuan itu masih menangis ketika Sandi menghampirinya dengan nampan makan malam.


Laki-laki itu menghela napas, lalu meletakkan nampan itu didepan Kea. Menatapnya sebentar sebelum kembali keluar dan kembali membiarkan Kea larut dalam tangisannya.


Sandi menutup pintu kamar hotel, laki-laki itu mengusap wajahnya dengan frustasi, dalam diam, ia menyesali perbuatannya. Menyesalinya untuk yang kedua kalinya...


***


Suasana hening menyelimuti perjalanan pulang Kea dan Sandi disenin pagi ini. Mereka tak lagi pamit pada para orang tua atau kakek Sandi. Mereka langsung pulang karena Sandi tau masalah yang ditimbulkan Kea semalam pasti masih berlanjut.


Mengingat Elsa dan orang tuanya adalah orang yang ambisius dan sejak dulu berusaha menjatuhkannya.


"Kea, lo mau makan buah nggak?" Tanya Sandi saat ia mengingat Kea yang tak mau sarapan dihotel tadi.


Kea bergeming, perempuan berkaca mata itu menatap kaca luar dengan pandangan kosong. Melihat respon Kea, Sandi pun ikut diam. Sandi tak tau kenapa, tapi Sandi akui ia mulai merasa sedikit terganggu dengan tangisan Kea.


Ntah lah, Sandi lupa sejak kapan, tapi ini terasa aneh dan juga agak mengganggu. Sandi tak mau mengatakan kalau ia mulai peduli, karena rasa yang ia rasakan lebih cocok disebut rasa sesal. Sesal karena telah memaksa Kea bahkan untuk yang kedua kalinya.


"Kea-


"Jangan sok peduli " Desis Kea parau, mungkin efek terlalu banyak menangis.


Sandi meliriknya, lalu ntah apa lagi yang dipikirkan Sandi tapi laki-laki itu memelankan kecepatan mobilnya. Perjalanan pulang Ke Jakarta masih jauh. Tapi laki-laki itu justru membelokkan mobilnya kesalah satu minimarket.


Kea sudah akan protes, tapi Sandi segera turun dan menutup pintu, benar-benar mengabaikan kehadirannya.


Kea berdesis, ia lalu melepas kaca matanya, mengusapnya karena berembun. Kea juga berusaha tersenyum, ia mencoba menikmati harinya. Membuka ponselnya dan membalas pesan-pesan sahabatnya yang menanyakan ketidak hadirannya hari ini.


Ia mencoba terhanyut dalam curhatan Sheril dan Ninda ,Kea hanya berusaha melupakan kejadian semalam. Ia benar-benar membenci Sandi dari apapun didunia ini. Tak peduli bagaimana Sandi melindunginya dari para sepupunya semalam, atau bagaimana Sandi bersikap manis setelah menghancurkannya semalam. juga Melupakan bagaimana Sandi bersikap hari ini yang tampak lembut,menawarinya sarapan, membantunya berkemas dan tampak benar-benar peduli hari ini.


Tapi Kea terbuta oleh kebencian, Sandi tetaplah Sandi, manusia iblis yang menghancurkannya dengan sangat.


Pikiran Kea terhenti ketika pintu mobil terbuka, manmpilkan Sandi dan sekantung besar belanjaannya.


Laki-laki itu memberinya pada Kea, "Gue gak tau apa yang lo suka, tapi gue beli camilan sama roti yang bisa ganti sarapan lo"

__ADS_1


Kea berdecih, "Gak"


"Kea!" Desis Sandi marah,


"Apa!"


"Lo bisa nggak sih nuruti gue sekali aja, lo belum makan dari tadi malam. Lo pikir nyokap bokap lo gak bakal nyerca gue kalau lo pulang sama tampang diambang kematian gitu" Gertak Sandi.


"Kalau gue gak mau?" Tantang Kea, "Lagian bagus dong kalau tampang gue kayak gini, biar gue ceritaiin gimana kelakuan bejat lo semalem sama mama. biar mama sama papa gue-


Brak!


Kea terkejut saat Sandi memukul setir dengan keras,


"Sekali aja lo pikirin posisi gue bisa Ke?" Tanya Sandi terdengar serius, Kea sempat tertegun saat pandangan mereka bertemu.


"Gue cuma nyuruh lo makan, hapus air mata lo, gue gak masalah lo bales gue pakai apapun nanti, tapi sekali ini aja, lo pikirin posisi gue. Posisi gue itu posisi tersulit Ke, Lo tau keluarga gue kayak mana kan? Jadi please jangan bikin gue semakin gak berguna." Kata Sandi serius.


Kea mengalihkan tatapannya saat secuil hatinya merasa iba, bagaimana pun, Kea adalah sosok protagonis dalam hidupnya. setidaknya masih ada sisi kasihan ketika melihat tatapan putus asa Sandi.


Sandi meliriknya, Laki-laki itu berdehem, "Kita masih muda Ke, lo minum itu ya?" Kata Sandi terdengar kaku.


"Gue cek google, katanya pil itu bisa bekerja kalau belum 24 jam kok," Sandi mengalihkan tatapannya keluar jendela. ""Gue- Sori buat masalah tadi malem Ke, gue kelewatan dan gue-


"Kenapa?" Tanya Kea gamang, ia meremas tablet itu dengan gemetar.


Sandi menatapnya, "Ke- mungkin ini pembahasan yang sensitif dan memalukan, but, kita harus mikirin kemungkinan buruknya kan. kita-


"Emang kenapa kalau gue hamil?" Tanya Kea lagi,


Sandi mematung, ia lalu tertawa canggung, "Apa sih Ke, "


"Lo takut?" Tanya Kea saat melihat tangan Sandi agak bergetar ketika memegang setir.


Sandi diam, ia tak merespon apapun. Tapi sungguh, ia benar-benar ketakutan. Banyak pikiran buruk masuk dalam kepalanya, berputar dan menyerangnya dengan membabi buta.

__ADS_1


Kea yang melihat wajah pucat dan ketakutan Sandi tersenyum kecil, "Lo beneran takut?"


Sandi menatapnya, lalu terkekeh pelan "Emang lo gak takut? hamil loh Ke, lo bakal punya anak, gue bakal punya anak, kita bakal punya anak. Anak Ke. Lo pikir dengan kehadiran anak bisa buat kita membaik. Bullshit Ke, Ngurus diri sendiri aja belum bisa. Dan Gila! Mikirin kita punya anak aja uda jadi musibah buat gue." Sandi mengacak rambutnya, "Dan lagi pula anak itu bakal buat kita terkekang nantinya Ke, Lo juga gak mau terikat terus sama gue kan Ke, Kita-


"Gue gak mau minum pilnya" Kata Kea datar.


Sandi terperangah. "Ke- Lo-"


"Ngeliat muka ketakutan lo, gue justru pingin apa yang lo takuti itu terjadi, Lo- Bakal terkekang sama gue seumur hidup lo" kata Kea bengis, ia lalu meremat pil itu dan membuangnya dari kaca jendela.


Sandi kaku, tak tau harus merespon apa.


"Lagian, anggep aja itu sebagai teguran biar lo-" Kea menunjuk wajah Sandi, "Gak berani macem-macem sama gue lagi,"


Sandi mengusap wajahnya, ia tertawa, jenis tawa frustasi dan putus asa. "Jangan gila Ke, jangan sangkut-pautkan semua hal sama dendam Ke. Lo pikir masalah ini nanti gak berujung panjang? Lo pikir gak ada akibatnya hah!"


Kea tersenyum, ia lalu mengambil rotinya, membukanya dan memakannya dengan lahap, mengabaikan amarah Sandi disebelahnya.


"Ambil Ke," Kata Sandi pelan, "Ambil pil itu dan minum, atau lo mau kita kedokter, gue gak mau ambil resiko Ke, gue- Lo bisa hukum dan bales dendam apapun ,dalam hal apapun, tapi kalau masalah ini, Gue gak bisa, lo- Kita harus berpikir jauh Ke- Bangsat KEA ANKARA TAN! " Bentak Sandi saat Kea benar-benar mengabaikannya.


Saat Sandi sudah akan kembali meluapkan emosinya, kaca jendela mobilnya diketuk. Sandi menahan emosinya, lalu menurunkan kaca mobilnya.


"Ya" Katanya parau,


"Maaf mas, kenapa tadi teriak, dan juga, ini mas uda dari tadi kok gak keluar juga mobilnya?" Kata Seorang ntah siapa, mungkin penjaga parkir gadungan. Ntahlah Sandi tak peduli dia siapa.pikirannya sedang kacau sekarang.


Tapi Sandi mengangguk kan kepalanya, lalu bergumam maaf dan mulai mengeluarkan mobilnya, untuk melanjutkan perjalanan.


"Kita kedokter nanti" Desis Sandi yang diabaikan Kea sepenuhnya.


***


Gilaa, bab ini isinya dialog semua wkwkwk, jangan bosen guys.


See you

__ADS_1


__ADS_2