
Aiko Geano adalah semua hal tentang cinta, tentang perjuangan, tentang pengorbanan dan tentang usaha melawan ego dari kedua orang tuanya.
Ia adalah harapan terbesar dari dua orang yang salah mengambil langkah dimasa lalu. Ia adalah doa dari sebuah ratapan dua orang yang akhirnya mangaku salah diwaktu lalu. Aiko, adalah segalanya. Untuk Kea, ataupun untuk Sandi.
Aiko, si bayi gendut yang lahir dengan sempurna bahkan diambang kematian mamanya itu tidak hanya mewarisi wajah bule papa dan kulit putih mamanya saja. Tapi juga kepintarannya. Kekeras kepalaannya dan semua sifat orang tuanya.
Diusia 15 bulan, Aiko juga belum bisa berjalan, ah, lebih tepatnya malas berjalan. Bayi gendut Geano itu lebih senang merangkak dibanding diajari berdiri mama papanya.
Bayi itu akan menangis kuat jika dipaksa berdiri oleh papanya, dan akan mengangkat kakinya tinggi-tinggi enggan menyentuh lantai ketika mamanya menurunkannya dari gendongannya.
"Aiko-chan, ayo dong jangan males.. Kamu itu uda tua untuk ukuran bayi ngerangkak tau." Dumel Sandi, sikepala keluarga sekaligus papa dari bayi Gendut yang kini memeluk lehernya karena enggan diturunkan kelantai.
"No-no-no huks, no-no-no pa" Tangis Aiko saat papanya memegang kedua kaki gemuknya dan memaksakannya berdiri diatas lantai.
"Nah, iya gitu berdirinya jangan-bruk
"Aiko-chan, kamu anak siapa sih. males banget" Omel Sandi kala Aiko yang sudah berdiri menjatuhkan pantatnya dengan bebas untuk duduk, nembuat usaha papanya sia-sia belaka.
"No-no pa" Rengek Aiko lagi ketika papanya mengangkat kedua tangannya, memaksanya berdiri.
"Nggak, kamu yang no-no, no duduk-duduk pokoknya" Kata Sandi melototkan matanya sok tegas.
"No-no pa" Tangis Aiko pecah saat papanya kembali mengangkat tubuhnya lalu memaksanya berdiri.
"No-no" Rengeknya dengan mata basah saat papanya memegangkan tangan kecil nan gemuknya pada pinggiran sofa, memaksanya berdiri dengan berpegangan pada Sofa.
"Mama huks, mama" Ratap si bayi gendut meminta pertolongan dari malaikat penolong dihidupnya.
Melihat si bayi gendut yang menoleh kanan-kiri mencari mamanya untuk meminta pertolongan, sandi berdesis kesal. Bayi ini tau saja kapan harus mengadu untuk menutupi kemalasannya.
"Ma-ma"
"Eh, gak boleh ngaduh ya Aiko, papa marah nanti sama kamu, gak papa kasih miruku(susu) lagi nanti kamu" Ancam Sandi agak panik saat Aiko kian kuat memanggil istrinya.
"Mama huks" Aiko menjatuhkan pantatnya kelantai dengan dramatis, lalu berguling-guling kelantai memanggil mamanya.
Sandi yang panik saat mendengar suara langkah mendekatpun mengangkat Aiko, memeluk si bayi malas itu dengan gemas. Mencoba menghentikan tangis kerasnya. "Aiko-chan, jangan nangis dong, nanti kita dimarah mama" bisik Sandi, namun terlambat saat akhirnya Kea, si malaikat penolong bayi malas itu datang dengan celemek didepan tubuhnya. Tampak kesal.
"Sandi, kamu apakan lagi si Aiko hm?" Tanya Kea melototkan matanya, lalu mengangkat tubuh gemuk Aiko saat bayi gendut itu merentangkan tangannya minta digendong.
"Aiko kenapa hm?" Tanya Kea menepuk-nepuk punggung Aiko, mencoba membuat bayi yang masih terisak-isak itu tenang.
"Papa, no-no" Adu Aiko.
Kea menghela nafasnya, jika si bayi sudah mengatakan No-no yang artinya penolakan. Sudah pasti bayi itu enggan belajar berjalan.
"Cup-cup, anak mama disuruh papa jalan ya" Tenang Kea menciumi pipi gembil Aiko yang langsung membuat bayi itu tertawa, dan seolah melupakan kesedihannya, bungsu Geano itu langsung menurut ketika diturunkan mamanya kelantai yang penuh mainannya.
"Hehehe, aku cuma-" Sandi menggaruk rambutnya sekilas, gugup saat kea meliriknya penuh dendam. "Aku cuma ajari si gendut jalan loh sayang" Kata Sandi memeluk Kea sayang, "Jangan marah ya, Kawai (lucu) deh mama Aiko ini" Rayu Sandi yang membuat Kea menahan senyum.
"Jangan gitu lagi San, Kalau kamu paksa terus nanti Aiko semakin males."
Sandi kian cengengesan, papa muda itu menciumi pipi Kea gemas, "Winter kali ini dingin banget ya, jadi mau peluk" Kata Sandi kian mengeratkan pelukannya.
"Gombal" Desis Kea malu-malu.
Sandi tersenyum, dan Kea mencoba menikmati panas tubuh suaminga yang hangat. Melupakan si bayi gendut yang menatap mama papanya penuh iri dengan mainan bebek-bebekan ditangannya.
"Apa liat-liat, bayi gendut gak boleh iri ya" Kata Sandi saat tak sengaja matanya menangkap tatapan iri anaknya.
"Ma-ma"
"Mama ku ini, wlee bayi gendut gak ada mamanya" Ejek Sandi pada Aiko yang merentangkan tangannya kearah Kea.
"Huaaaa,, Mama huks"
Sandi tertawa dan Kea hanya menghela nafas menghadapi kelakuan suami dan anaknya itu.
"Jangan dibantu ma, biarin aja bayi keberatan lemak itu nangis disana"
__ADS_1
Kea melototkan matanya, memukul lengan Sandi kesal sedangkan Aiko yang akhirnya merangkak menghampiri mamanya memeluk kaki mamanya, bergumam "No-no papa" Saat Sandi hendak menggendongnya.
Kea tersenyum.
Dan seiring dengan kemalasan si bayi gendut itu, akhirnya diusia 16 bulan Aiko bisa berjalan, menghampiri mama dan papanya dengan kaki gemuknya.
***
Diusia 2 tahun, Aiko sudah bisa membeo semua ucapan orang tuanya. Gadis kecil Geano itu juga menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa utama. Walaupun sesekali baik Kea maupun Sandi menyelipkan bahasa Jepang untuk selingan.
Diusia dua tahun juga, akhirnya Aiko mendapat ruang bermain yang lebih luas. Orang tuanya memilih pindah dari apartemen dan sekarang tinggal disebuah rumah minimalis yang elegan ditengah kota Tokyo.
"Ohayo Mama, Ohayo bayi gendut" Sapa Sandi saat baru saja keluar dari kamar, laki-laki yang sedang menenteng dasi itu tampak segar dan semangat dimusim semi ini.
Kea menoleh, "Ohayo" Katanya masih sibuk menata salad sayur yang pagi ini menjadi menu sarapan mereka.
"Hayo" Beo Aiko yang tampak anteng dikursi makannya.
"Bayi gendut makan apa ini pagi-pagi?" Tanya Sandi mencium pipi gembil Aiko.
Aiko merengut, sibungsu Geano itu mendorong wajah papanya enggan dicium. "No-no pa" katanya dengan jari bergoyang-goyang. Memberi larangan selayaknya mamanya melarangnya mengacau rumah.
"Ish, pelitnya. Yaudah ah, papa mau sama mama aja"
"Ma aja?" Beonya yang diabaikan sang papa. Aiko yang merasa diabaikan pun kembali sibuk pada roti bayi ditangannya. Menyemil tanpa peduli lagi kegiatan orang tuanya.
"Ai, pasangin dasi dong" Kata Sandi menyodorkan dasi berwarna biru bergaris pada Kea.
"Pasang sendiri deh San, aku masih nyusun sarapan ini,"
"Aiii~" Rengek Sandi menarik-narik tali celemek Kea.
Kea menghela nafas kesal, mama muda itu lalu berbalik badan dan mengambil sodoran dasi Sandi, memakaikan dasi itu pada suami manjanya.
Sandi cengengesan, "Makasih sayang, makin cantik deh mama Aiko ini" Kata Sandi mencium pipi Kea.
"Ih gak percaya, liat nih, cantiknya" Sandi mencium bibir Kea, agak ******* dengan pelan.
"Sandiii" Kesal Kea saat Sandi melepaskan lumatannya dan berlari kembali kekamar dengan tawa menyebalkannya yang terdengar.
Aiko yang sejak tadi sibuk pada camilannya pun tersantak, "Candiii" Beonya ikut meneriaki papanya.
Kea yang baru tersadar ada anaknya itupun mengerjap, "Eh, papa sayang, bukan Sandi gak boleh gitu ya?"
"Candii"
Dan sejak itulah, Panggilan papa-mama tersemat untuk Sandi dan Kea. Bayi gendut mereka mulai meniru semua ucapan dan tingkah kedua orang tuanya.
***
Diusia 3 tahun, Si bungsu Geano itu mulai tau cara berinteraksi dengan teman-teman di daycare nya.
Kea juga mulai mengajari si bungsu untuk lebih mengenal lingkungan, mengenal teman-teman, mengenal tetangga, dan mulai mengenalkannya pada huruf dan angka dalam bahasa jepang, dan juga, mulai mengajarinya berbahasa Jepang tanpa menghilangkan bahasa indonesia sebagai bahasa dasar mereka.
Diusia tiga tahun juga, Aiko akhirnya memiliki adik bayi baru yang merupakan anak dari aunty Ayumi dan uncle Akira.
Diusia tiga tahun juga, Aiko mulai pandai merengek dan merayu papanya untuk membelikannya es krim.
**
Diusianya yang keempat tahun, Aiko mulai kesusahan menggunakan bahasa indonesia untuk berinteraksi karena ia mulai memasuki sekolah PAUD, dimana komunikasinya banyak menggunakan bahasa Jepang.
Namun, ia diusia keempat tahun juga, Aiko menunjukkan kepintarannya, ketenarannya dan kepiawaiannya bermain alat musik. Ia bahkan menjuari lomba piano antar sekolah dan mulai mengikuti les biola dan balet.
***
Diusia kelima tahun, Aiko sudah masuk TK, tubuh gendutnyapun menyusut dan tumbuh tinggi dengan cepat, Aiko adalah murid perempuan tertinggi dikelasnya. rambut coklat dan mata hijaunya tampak mencolok diantara teman-teman Jepangnya. Dan tak sulit untuk mengakui, kalau anak bungsu Geano itu menjadi anak terpopuler disekolahnya. ditempat les ataupun dimanapun ia berada.
Aiko juga sangat disenangi teman dan gurunya, pembawaannya yang ramah, ceria dan pintar dalam segala hal membuat daya tariknya semakin menjadi.
__ADS_1
***
Diusia keenam tahun, Aiko masuk Sekolah dasar, Kea dan Sandi agak kesusahan memasukkannya kesekolah dasar negeri karena statusnya adalah WNI, tapi akhirnya Aiko bisa menikmati masa sekolahnya dengan bahagia di sekolah dasar Swasta terkenal di Tokyo.
Kea dan Sandi bahkan bingung bagaimana harus menunjukkan rasa bangga pada putri semata wayang mereka lagi saat Aiko pulang membawa piala besar sebagai hadiahnya karena memenangkan lomba bahasa inggris dasar.
"Mama, iam the Winner!" Teriaknya kala itu, dan Kea tak sanggup menahan air matanya untuk satu teriakan membanggakan itu.
Tak sampai disana, hampir tiap acara sejak itu, Aiko selalu membawa piala dan hadiah atas kepintarannya. Baik itu dalam sekolah, les bahasa inggris dan indonesia, les piano, biola atapun balet.
***
Diusia ketujuh tahun, Aiko mulai mandiri, ia memakai seragam sekolah, sepatu dan mengucir rambutnya sendiri,
Mengambil makan, minum dan meletakkan sepatu serta pakaian kotor ketempatnya sendiri.
Diusia ketujuh tahun juga, ia mulai peka akan keadaan sekitar. Ia tak hanya pintar dalam pelajaran, tapi karena didikan orang tuanya, ia juga pintar dalam bersikap dan bergaul.
Mulai paham akan keadaan, tak ingin selalu memberatkan kedua orang tuanya. Dan diusia itu jugalah, akhirnya Aiko mengerti, mamanya tak sesehat yang ia kira.
**
Diusia kedelapan tahun, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat mamanya pingsan sambil memegangi dadanya. Dan diusia itu jugalah Aiko mengalami ketakutan yang begitu mengerikan.
Papanya menangis sepanjang malam diranjang mamanya yang tertidur dengan banyak pasang alat penyambung kehidupan untuk mamanya.
**
Dan diusianya yang kesembilan tahun, Aiko mengalami apa itu artinya kehilangan. Mamanya pergi untuk selamanya. Meninggalkannya dengan sang papa yang saat itu meraung memanggil mamanya.
Diusia itu juga Aiko mengalami apa yang dinamakan rindu tanpa bisa bertemu.
Diusia itu juga ia hanya bisa duduk diam memandangi setiap sudut rumah untuk melepas rindu, membayangkan, mamanya yang sedang menyapu rumah, membuat sarapan, menggosok baju, memakaikan dasi untuk papanya, menyiapkannya bekal, atau bahkan memeluknya ketika ia akan tidur.
Diusia itu juga, Aiko hanya bisa menangis didepan pintu rumah saat tak ada lagi yang menyambutnya pulang.
Dan diusia itu juga akhirnya, Aiko benar-benar kehilangan malaikat penolongnya. Tak ada lagi yang memarahinya ketika membuat rumah kacau, tak ada lagi yang membantunya menyiapkan pr, tak ada lagi yang mengantarkan ketempat les. tak ada lagi yang menolongnya dari gangguan menyebalkan papanya yang usil, dan tak ada lagi yang memarahi ia dan papanya ketika mereka banyak makan mi instan.
Aiko kesepian, ia hanya punya papa yang saat itu sama rapuhnya dengannya.
***
Diusia kesepuluh, Aiko mulai bisa menerima, ia mulai berperan layaknya gadis dewasa untuk papanya, mulai membantu papa menyiapkan sarapan walaupun itu hanya sekedar menyiapkan piring dan sumpit.
Mulai berani ditinggal sendiri dirumah sampai malam ketika papa harus lembur.
Aiko, belajar jadi gadis mandiri sejak itu.
**
Diusia kesebelas, Saat Aiko berkunjung ke Indonesia akhirnya ia mengetahui semua kisah orang tuanya, tentang kakaknya yang bernama Angela, tentang mamanya yang rela manahan sakit untuk melahirkannya, tentang mamanya yang selama ini berpura-pura sehat untuknya dan tentang papanya yang bekerja dan mencintai mereka tanpa lelah.
**
Diusia kedua belas, tepat dimalam tahun baru, Aiko akhirnya berani merangkul papanya yang saat itu menangis merindukan mamanya.
Mengusap dan memeluk papanya dengan rasa rindu yang sama membuncahnya. Aiko ingin papanya bersandar padanya, layaknya ia yang bersandar pada papanya.
Dan ditahun ke 3 kepergian mamanya, akhirnya Aiko dan papa bisa tersenyum menatap kembang api pergantian tahun dengan saling berpelukan dan bergandengan tangan.
Aiko memejamkan matanya, berharap dimalam pergantian tahun ini, mamanya datang kealam mimpinya untuk melepas rindu.
Karena sungguh, Aiko merindukan mamanya.
Dan dimalam pergantian tahun itu juga, akhirnya Aiko bisa mengatakan 'selamat jalan' untuk mamanya, dengan rasa rindu yang membuncah.
****
Haiii minasannn, Kalian siap untuk bab terakhir cerita Geano ini?
__ADS_1