
"Gue kerja siang malam itu buat lo, buat kita Kea! Dan lo ngatain temen-temen yang uda bantu gue, bisa nggak, sekali aja lo mikir positif tentang gue?" Kesal Sandi membanting pintu kamar. Marah.
Kea mengerjap, ia menatap kartu khas bank itu dengan pandangan redup.
Apa Sandi memikirkannya?
Kea meletakkan tangannya diperutnya, ia tersenyum bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
***
Kea melirik Sandi yang masih mendiamkannya setelah perdebatan siang tadi. Jika biasanya Kea akan bersikap biasa saja oleh amarah Sandi, tapi ntah kenapa sekarang ia sedikit merasa terganggu dengan amarah Sandi. Rasanya ia seperti merasa bersalah, mungkin.
Sekarang sudah jam makan malam, Kea menyiapkan makan malam yang bermenu tumis kangkung dan telur dadar. sebenarnya, jika boleh jujur Kea tak terlalu bisa memasak, ia hanya mencoba-coba saja selama ini. Tapi untungnya Sandi tak pernah protes sama sekali. Ntah memang selera laki-laki itu yang aneh atau karena memang sekedar menghargai.
Tapi diam-diam Kea mengernyitkan keningnya. Rasanya aneh saat Sandi bersikap menghargainya. Itu seperti bukan Sandi sama sekali.
Kea meletakkan nasi dan menu makan malam didepan Sandi yang masih sibuk dengan laptopnya. Ntah laptop dari mana, setau Kea laptop dan beberapa barang penting Sandi sudah disita Kakeknya sebagai hukuman karena hampir menggugurkan kandungan Kea waktu dirumah sakit dulu. Bahkan saat pindah ke apartemen, laki-laki itu hanya membawa baju-baju yang berada dirumah Kea sebelumnya, lalu membawa motor dan ponsel sebagai barang berharganya.
"San"
"Hm"
"Lo nggak makan?" Kata Kea mencicit, sebenarnya Kea merasa geli pada dirinya sendiri karena beberapa kali memulai komunikasi, tapi, seperti tadi, Kea merasa begitu bersalah, ntah kenapa ia ingin hubungan yang lebih baik lagi kedepannya.
Kea merasa malu, tapi juga kesal, tapi juga ingin memperbaiki, ntahlah, tapi satu hal yang Kea tau, Sandi peduli padanya dan mungkin juga.. pada calon anak mereka.
"San"
Sandi berdecak, laki-laki itu mendongakkan kepalanya dari laptop. "Apa!" Ketusnya.
"Lo nggak makan?"
Sandi tak menjawab, tapi tangannya mengambil piring dan mulai mengisinya dengan menu makan malam.
Kea diam, dan Sandi pun demikian. Mereka terlalu gengsi untuk kembali saling membuka suara, walaupun terkadang Sandi mencuri-curi pandang pada Kea, Tapi laki-laki tetap tak mau bicara, ia masih sangat kesal.
Tapi saat ia melihat Kea yang beranjak dari meja makan menuju kamar padahal belum mencicipi makan malam sama sekali, Sandi kehilangan gengsinya, ia mulai menatap Kea secara terang-terangan.
Namun, tak ada kata yang terucap, sampai akhirnya Kea kembali dari kamar dengan pandangan menunduk.
Sandi masih diam, tapi ia mulai memperhatikan Kea secara jelas,
__ADS_1
"San, Maaf buat yang tadi" Kata Kea menyodorkan pelan kartu khas bank kearah Sandi.
"Gue gak tau kalau lo peduli sama kita, gue pikir selama ini lo cuma cari pengalihan dari masalah, gue pikir lo pulang malam karena-
"Lusi?" Potong Sandi datar,
Kea menatap Sandi kaget, tak menyangka Sandi memotong kalimat yang sudah ia susun beberapa jam sebelumnya.
"Kalau lo pikir gue masih sama Lusi lo salah, walaupun gue belum bisa kasih kehidupan sama lo selayaknya suami, setidaknya gue gak mengotori harga diri gue sendiri sama perselingkuhan" Desis Sandi agak menyindir Kea yang waktu itu selingkuh.
Kea diam, sebelum kembali berucap "Sori buat yang tadi" Kata Kea menekan egonya berkali-kali untuk kembali mengulang permintaan maaf nya.
"Gue salah sangka sama lo dan temen-temen lo" Kata Kea sebelum bangkit dari duduknya setelah meletakkan kartu ATM itu tepat didepan Sandi.
"Ke?" Panggil Sandi saat Kea sudah akan membuka pintu kamar.
"Gue juga say sorry uda ngebentak-bentak lo tadi" Kata Sandi tetap menatap makanannya. Gengsi untuk menatap Kea.
Kea mengangguk sebelum benar-benar masuk kamar dan menutup pintunya.
Setelah Kea pergi kekamar, Sandi baru menatap pintu kamar mereka, ia menghela napas, Rasanya aneh saat berbicara secara normal dengan Kea tanpa membentak atau berteriak, tapi ntah kenapa juga ada sedikit senyum tertahan dibibirnya. Sandi merasakan rasa baru diperasaannya.
Mengacak rambutnya dengan tangan kiri, Sandi mempercepat acara makannya, menutup layar laptop hasil menyicil dengan Beni beberapa bulan lalu dan segera mengambil piring makan untuk Kea.
Sandi rasa, menghadapi Kea yang mengamuk lebih gampang dari pada menghadapi Kea yang manja seperti ini .
****
"Ke"
Kea mendengar panggilan pelan serta langkah kaki suara Sandi.
"Kea" Panggilan itu semakin dekat disertai tarikan pelan pada selimutnya.
Kea menatap Sandi, "Apa?" Katanya serak, mungkin karena efek ia yang menahan tangis sejak tadi.
Sandi menarik kursi meja hias didekatnya, duduk disamping ranjang Kea.
"Lo belum makan" Kata Sandi datar.
Kea menarik selimut untuk menutup wajahnya, "Gue gak laper"
__ADS_1
"Kea, lo belum makan nasi dari siang"
"Nanti gue makan" Kata Kea kian pelan.
"Ke, kenapa?" Kata Sandi saat bahu Kea bergetar.
"Kea" Panggil Sandi, kali ini selain menarik selimut, laki-laki itu juga menariknya untuk bangun.
"Kenapa hm?" Tanya Sandi melembut, ia bahkan meletakkan piring dimeja rias agar bisa menangkup pipi Kea yang baru Sandi sadari semakin gembil.
"Kangen mama hiks" Kata Kea menangis, ia bahkan sudah tak lagi memikirkan gengsi didepan Sandi. Sejak pertengkaran siang tadi, Kea selalu berharap mamanya ada disampingnya, pasti Kea tak akan setertekan ini. Ditambah, rasa bersalah yang terus menggerogotinya.
Sandi menghela napas, ia lalu menghapus air mata Kea dengan ibu jarinya. "Besok kan hari minggu, ntar gue pulang dari bengkel kita kerumah mama lo ya" Kata Sandi lagi.
Kea mengangguk-anggukkan kepalanya,
"Sekarang, lo makan ya. "
"G-gue belum laper" Kata Kea masih sesenggukan sambil menghapus air matanya, ia bahkam sampai melepas kaca matanya karena berembun.
"Yah, lo yang belum laper, tapi anak gue-
Sandi diam, ia mengalihkan tatapannya, begitupun Kea yang membeku.
Tadi Sandi bilang apa?
"Anak lo?" Kata Kea menahan senyum
Sandi berdecak, "Gue males ngakui ini, tapi emang siapa yang mau sama lo selain gue kan?"
Kea berdecak.
Sandi tersenyum, "Hm, anak gue ke, jadi ayo makan sekarang" Kata Sandi menyodorkan satu suapan sendok kedepan Kea.
Kea mengucek-ngucek matanya sebelum menerima suapan itu.
Dan, Ntah mereka sadari atau tidak, sejak tadi nada bicara mereka selalu pada nada normal. Tak ada bentakan dan tak ada makian.
****
Huftttt.... SanKe mulai berlayar wkwkwk
__ADS_1