
Ps.
Dialog Aiko dan teman-temannya menggunakan bahasa jepang ya, tapi aku tulis pakai bahasa indonesia biar lebih dapet feelnya.
Cuma, kalau dialog Aiko dan Sandi dirumah, mereka pakai bahasa indonesia. Okee.. Paham kan, jadi jangan kaget kalau bahasa mereka agak kaku dan terkesan sopan banget ya.
***
Aiko , sibungsu Geano yang baru berusia jalan 18 tahun itu mengendap-ngendap menuju kamar sang papa. Mengintip apa yang dilakukan oleh si papa kesayangannya itu dijam 8 malam ini.
Dengan sedikit harapan kalau sang papa yang sejak semalam mengeluh pegal-pegal itu tertidur lelap setelah ia memijatnya tadi.
"Sttt" Aiko berdesis ketika membuka pintu kamar berwarna coklat itu. Dan senyumnya langsung mengembang begitu mendapati sang papa tidur dengan lelap, sesuai harapannya.
Menutup pintu dengan penuh kehati-hatian, Aiko berdesis senang untuk menunjukkan kebahagiannya. "Yesss, yess,, Arigatou God" Pekiknya tertahan sambil melangkah menuju kamarnya dilantai atas.
Begitu ia masuk kamar, Aiko tak tahan untuk tak berjingkrak kesenanangan, mengambil handphone keluaran tebarunya dengan senyum lebar, ia mengirim pesan suara pada kekasih beckstreetnya yang sudah ia pacari 2 tahun terakhir.
"Ryoma-kun, Apa kita jadi berkencan? Papaku sudah tidur."
Memeluk handphonenya dengan senyum tertahan, Aiko pun kembali menambahkan, "Ayo bertemu di Cafe dekat universitas Tokyo, aku dengar coffee lattenya mendapat rekomendasi yang bagus diinternet"
Setelah mendapat balasan kata 'Oke' dari sang kekasih, Aiko pun mulai mengganti baju dengan gerakan cepat, Mengganti piyama tidur panjangnya menjadi dress cantik berwarna putih yang pas ditubuhnya, lalu ia juga memoles wajahnya dengan make-up tipis, dan menghiasi rambut coklat panjangnya dengan pita berbulu berwarna putih yang sama cantiknya dengan dress yang ia pakai.
Aiko juga tak melupakan tas kecil dengan harga selangit itu untuk melengkapi penampilannya yang cantik dan kalem dalam sekali waktu. Gadis Cantik Sandi itu juga memakai sepatu kets yang lagi-lagi senada dengan baju dan pitanya.
Aiko benar-benar cantik, Ia seperti putri dari sebuah kerajaan yang bersinar dimalam minggu penuh kebahagiaan ini.
***
"Tada, sudah sampai," Kata remaja laki-laki Jepang itu dengan senyuman.
Aiko melepas gandengan tangannya, mata hijaunya berkilau kesenangan, malam ini ia berjalan-jalan dengan bahagia tanpa beban bersama sang kekasih. Dan tadi, Ryoma, kekasihnya itu dengan gantle mengantarnya pulang.
Padahal, jarak cafe kerumahnya cukup jauh, mereka harus menaiki shinjanken(Kereta api) untuk waktu yang agak lama. Ah, ya, mereka memang berkencan tanpa kendaraan. Ciri khas masyarakat Jepang. Mereka-para remaja- akan berkencan dan berlibur dengan berjalan kaki, kereta atau kendaraan umum lainnya.
Dan budaya mengantarkan kekasih pulang kerumah itu sendiri merupakan sebuah tindakan yang sangat-sangat manis karena jarang dilakukan para remaja laki-laki pada pasangannya.
Umumnya, para remaja akan berkencan dengan janji temu disuatu tempat, lalu berpisah distasium kereta untuk saling menghemat waktu. Makanya, Aiko sejak tadi tak dapat menahan senyum kebahagiaannya saat mendapati kekerenan kekasihnya itu.
"Arigatou Ryoma-kun" Kata Aiko malu-malu.
Ryoma tersenyum hangat, tangannya terjulur untuk mengacak pelan rambut coklat sang kekasih.
"Sama-sama Aiko-chan, sekarang masuklah, putri kecil dilarang terkena angin malam terlalu lama." Kata Ryoma yang membuat Aiko mengangguk semangat.
"Hai' , kamu juga hati-hati dijalan, tolong kabari aku kalau kamu sudah sampai."
"Hai'"
"Ah, Ryoma-kun!" Panggil Aiko saat sang kekasih akan berbalik badan.
"Ei"
"Terima kasih untuk hari ini" Kata Aiko menunduk, membuat rambutnya jatuh kedepan menutupi sisi kepalanya.
"Ya, aku juga, terima kasih karena kamu sudah mau berkencan bersamaku dengan dandanan yang sangat cantik, mungkin lain kali kita bisa kembali pergi-
__ADS_1
"Tidak!" Bentakan itu membuat sepasang kekasih muda itu terlonjak kaget.
Sandi berdiri didepan rumahnya, mata nyalangnya menatap dua remaja itu dengan datar.
"Papa" Lirih Aiko ketakutan. Tanpa sadar si gadis jelita Sandi itu memundurkan tubuhnya, berusaha menutupi tubuh sang kekasih.
"Selamat malam om, saya Ryoma Tanaka, teman dekat Aiko-chan" Ryoma membungkukkan badan hormat, sebenarnya ia agak ketar-ketir juga, selama ini ia tak pernah bertemu dengan papa dari kekasih bulenya itu.
"Selamat malam, dan tolong segera pergi, saya harap ini kali terakhir kalian berhubungan"
"Papa!" Bentak Aiko tak terima.
Sandi menyipitkan matanya, tanda ia benar-benar dalam mode tak bisa dibantah. "Pulang!" Bentak Sandi pada Ryoma yang masih diam.
"Papa, papa gak boleh gitu, Ryoma itu-
"Masuk"
"Pa!"
"Aiko Geano"
"Nggak!"
"Kamu berani bantah papa!" Bentak Sandi tanpa sadar, dan Sandi langsung menyesali tindakannya itu saat mata hijau jernih sang anak memerah, dan serta menatapnya penuh kebencian.
"Aiko-
Aiko mengepalkan tangannya, Ia lalu berlari masuk kerumah, meninggalkan papa dan sang kekasih yang menatapnya dengan pandangan berbeda.
Sandi yang merasa menyesal dan Ryoma yang menatapnya datar.
***
Selama 18 tahun ia menjadi papa, Sandi tidak pernah sekalipun membentak Aiko seperti itu, selama ini, walaupun Sandi sangat jahil pada Aiko, tapi ia berusaha sebaik mungkin menempatkan diri sebagai sosok pahlawan untuk anaknya. Tak sekalipun, tak sekalipun Sandi berani membentak Aiko, karena laki-laki itu tau, hanya Aiko lah yang ia punya. Hanya Aikolah harapannya dan mendiang sang istri. Hanya Aiko lah lenteranya.
Tapi, tadi-, bukan hanya membentak Aiko, tapi Sandi juga enggan mendengarkan penjelasan putri kecilnya itu.
Tadi, Sandi benar-benar sangat panik saat ia terbangun dijam 9 malam dan tak ada Aiko dirumah. Tak biasanya anak gadisnya itu pergi tanpa pamit. Dan saat melihat Aiko pulang bersama remaja laki-laki, emosinya langsung tersulut begitu saja.
Berjalan dengan penuh penyesalan, ia mendekati si gadis cantik kesayangannya yang sedang tergugu sambil memeluk foto sang mama.
"Aiko sayang" Panggil Sandi memeluk bahu sang anak yang langsung mendapat penolakan.
"Aiko- maafin papa, papa gak maksud bentak kamu, papa cuma gak suka kamu pergi tanpa kabar, dan juga, Teman kamu itu bukan-
"Bukan apa "Kata Aiko tiba-tiba, "Bukan orang baik-baik gitu? Bukan orang yang bisa ngelindungi aku gitu, -Bukan Apa pa, apa!!! Ryoma itu pacar aku, pacar aku dari 2 tahun yang lalu. Dia baik pa, dia baik sama akuu kalau itu yang mau papa tau hiks, Papa selalu ngekang aku, gak boleh pacaran lah, gak boleh main sama laki-laki, papa itu-
"Papa cuma mau yang terbaik but kamu Sayang, Ryoma, ataupun laki-laki diluaran sana gak ada yang sebaik yang kamu kira. Papa takut kamu terjerumus sayang, papa takut-
"Termasuk papa kan?"
Sandi terdiam,
"Laki-laki gak ada yang baik dan itu termasuk papa kan, Pantes mama dulu gak betah sama papa, pantes dulu mama ninggalin aku gitu aja, pantes mama dulu sering sakit, pantes mama dan kak Angela pergi ninggalin aku, itu semua karena papa kan, karena papa jahat kan, karena papa bukan laki-laki baik kan, papa itu egois, papa egois, benar-benar egois. Aku benci papa!" Bentak Aiko melempar semua barang disekitarnya, tas, buku dan apapun itu,
Sandi terdiam kaku, tubuhnya gemetar. Seolah seluruh indra tubuhnya menghakiminya, Yah, itu semua salahnya.
__ADS_1
"Kenapa! Papa baru sadar kan! Kalau papa selalu ngedkorin aku buat gak deket sama laki-laki lain itu karena takut aku ngalamin apa yang dialamin mama kan, papa takut sama dosa papa sendiri kan, iya kan. Pa- Berhenti lakuin itu sama aku, berhenti selalu ngebentak semua teman-teman ku, papa pikir aku senang hah? Papa pikir aku bahagia, gak pa, nggak, nggak ada yang mau main sama aku karena mereka takut sama papa, karena papa selalu memandang semua orang buruk. Padahal- papa yang buruk, papa yang jahat"
Sandi mengepalkan tangannya, hatinya sakit,
"Jadi, aku mohon, jangan selalu berpikir, semua orang itu jahat kayak papa yang uda jahat sama mamaku dulu" Kata Aiko, mengelap air matanya.
Gadis itu lalu mengambil foto mama dan papanya dinakas, membuka figuranya.
Sandi mengamati tindakan anaknya.
"Mama pergi karena papa, papa jahat!" Teriak Aiko lalu mengoyak foto itu menjadi dua bagian, memisahkan foto mama dan papanya dengan sadis.
Sandi kian membisu. Matanya menatap nanar fotonya dan mendiang sang istri. Hatinya pilu, tapi tak ada yang sanggup ia keluarkan sebagai pelampiasan emosinya.
"Oya? Berhenti selalu ngelabrak semua teman sekolah ku, aku bukan anak bayi yang selalu butuh dilindungi, dan berhenti sok tau sama kehidupan ku, Papa bahkan gak pernah ada dirumah waktu aku butuh papa disisiku" Kata Aiko lalu membanting pintu kamarnya,
Berlari pergi menuju ruang belajarnya, memeluk album foto mamanya dengan hati yang tersayat.
"Mama, Aiko rindu mama, papa jahat ma"
***
Lain dengan Aiko yang mengadu sambil memeluk album foto mamanya, Sandi hanya menunduk sambil menatap kertas foto ia dan Kea yang dikoyak oleh Aiko.
Matanya memerah, ia enggan menangis, hatinya sakit sekali, tapi ia bingung harus mengekspresikannya bagaimana.
Tanpa kata, papa satu anak itu memunguti semua barang putrinya, menyusun buku, tas dan barang-barang putri kecilnya ketempat semula dengan bahu yang lemas.
Aiko itu anak yang pengertian, tak pernah protes, tak pernah mengamuk, tak pernah memaksakan kehendaknya, Sifatnya cenderung lemah lembut namun tegas dan mandiri seperti Kea. Keras kepala namun terarah, ambisius namun tau aturan, Aiko adalah gadis kecil Sandi yang polos dan penuh logika mengejutkan.
Dan kali ini, Aikonya meluapkan amarah dan protesnya. Sandi menggigit bibirnya menahan tangis saat menyadari selama ini ia terlalu mengekang Aiko, Bahkan, Sandi mengakui, ia akan melabrak teman-teman Aiko, baik itu perempuan ataupun laki-laki untuk tak membuat Aikonya sedih.
Selalu mendatangi guru sekolahnya untuk tau perkembangan putri kecilnya, selalu meneror satpam sekolah untuk mengawasi putrinya yang pergi dan pulang sekolah.
Selalu memaksa Aiko tes kesehatan tiap bulannya. Selalu mengikuti Aiko kemana pun gadisnya itu pergi saat malam hari, memberi pesan pada para tetangga untuk mengawasi Aikonya.
Memesan makanan secara teratur agar Aiko tak kelaparan ketika ia bekerja, Menelpon dan selalu mngecek barang-barang Aiko sebelum gadisnya itu bepergian.
Sandi akui, ia memang seposeaif itu, tapi itu semua Sandi lakukan, karena ia takut kehilangan.
Ia takut Aikonya ikut pergi meninggalkannya seperti Angela dan Kea yang meninggalkannya.
Sandi takut Aikonya tersakiti, Sandi takut Aikonya terluka. Sandi ketakutan.
Memungut lembaran foto yang sudah menjadi dua bagian itu dengan gemetar. Sandi mengambil lem kertas dari laci lemari Aiko,
Laki-laki itu mengelem fotonya dan foto Kea menjadi satu,
Dan begitu foto itu tertempel kembali,
Sandi akhirnya tak dapat menahan tangisnya. Laki-laki itu tergugu sambil memeluk foto itu.
"Maafin aku Kea, maafin aku, aku buat Aiko kita tersakiti, maafin aku. Tolong jangan marah. Tolong tenangkan Aiko kita.. Keaa.. Kami butuh kamu,"
***
Gak tau kenapa tiba-tiba kepikiran scane ini, Ini bagian 1, apa kalian mau bagian 2.
__ADS_1
Please komen buat aku tau keantusiasan kalian,