Salah

Salah
S-1- Luapan


__ADS_3

Setelah selesai barulah Sandi akan melanjutkan niatnya, tapi, Langkah kakinyai terhenti saat ia mendengar gumaman Kea, "Yuda hiks"


Sandi menipiskan bibirnya, ia terkekeh pelan. Jenis kekehan yang sering dikeluarkan para preman jalanan jika diremehkan lawannya. Oke, jadi kondisi menyedihkan Kea ini karena Yuda ya.


Sandi mengepalkan tangannya ketika ia merasa kepalanya sudah panas oleh emosinya sendiri.


"Yuda ya?" desisnya marah.


***


Kea bangun tengah malam dan ia tak mendapati Sandi disebelahnya. Omong-omong walaupun mereka tak akur mereka tetap saling berbagi tempat tidur karena tak mau ada yang mengalah untuk tidur dilantai. Ah, tidur nyenyak dikamar sendiri adalah sebuah keajaiban semenjak ada Sandi dihidupnya.


Kea merasakan matanya bengkak dan juga tenggorokannya kering, ya ampun mengingat penyebabnya Kea kembali merasakan irisan pedih dihatinya juga luapan emosi pada dalang dari putusnya hubungan manisnya dengan Yuda selama ini.


Kea tak perlu berpikir lama untuk mengetahui siapa dalang dari semuanya. Memang siapa lagi yang sejak dulu paling semangat untuk menghasut Yuda dan membuatnya terpuruk. Sudah pasti si Lucifer Geano itu.


Kea memegang kepalanya saat ia berusaha bangkit dan pusing menyerangnya. Walaupun agak oyong tapi Kea tetap berusaha bangun, ia mengambil alat bantu dengar dan juga kaca mata dimeja nakasnya.


Ia ingin mengambil minum.


Tapi tampaknya keinginannya untuk minum itu kembali terurung saat pintu kamarnya dibuka dari luar duluan. Dan muncullah sosok iblis berkedok manusia itu dengan mata sayu dan tubuh agak oyong.


Kea langsung bersikap waspada dengan mundur selangkah demi selangkah saat ia menyadari Sandi mabuk, Pikiran Kea langsung bercabang. Bagaimana Sandi bisa mabuk-mabukan saat orang tuanya ada dirumah, apa dia ke klub? bar? Tapi kenapa bisa lolos masuk rumah? Apa papanya tak mengetahuinya.


"Oh, hai Ke" Sapaan dengan kekehan kecil itu membuat Kea merinding. Sandi sedang bersadar pada daun pintu, berusaha menopang tubuhnya yang mungkin akan ambruk.


"Uda puas nangisin Yudanya?" Tanya Sandi berjalan sempoyongan kearahnya.


Kea mengkerut keatas tempat tidur, Sandi yang mabuk dengan akal hilang bukanlah lawannya.


"Hebat ya lo Ke, gue dijadikan budak sama bokap lo dengan alasan tanggung jawab sama anaknya. Gue harus sekolah dan bimbingan beasiswa lagi-lagi buat lo" Sandi tertawa, "Katanya biar gue gak susah cari kerja, ha.ha. bullshit" Sandi duduk dipinggir ranjang, dan dari jarak sedekat ini Kea bisa mencium bau alkohol dan rokok yang menyengat.


"Gue-" Sandi menunjuk dirinya, "Gue kerja, diatur, dibentak sama bokap lo dan lo-" Sandi menajamkan pandangannya saat mata merahnya menatap Kea.


"Lo enak-enakan sekolah dengan santai, pacaran sama pacar lo dengan bahagia, dan lo- nikmati akting lo sebagai istri yang tersakiti, sebagai istri yang menyedihkan. heh, asal lo tau njing, gue bahkan bisa ngebunuh lo dengan sekali cekikan."

__ADS_1


"S-san" Kea beringsut saat Sandi merambat ketas ranjang lalu mencekiknya.


"Lo mau mati sekarang, atau besok Ke" bisik Sandi seduktif.


Kea manangis, tubuhnya gemetar dan lehernya sakit sakali.


"Gue- uhk, bangsat-" Sandi melepas cekikannya dan lari kekamar mandi.


Kea dapat mendengar suara muntahan diselingi makin oleh Sandi, diam-diam Kea bersyukur untuk hal itu. Tapi..


Apa tadi Sandi berbicara jujur? Apakah Kea memang seketerlaluan itu?


***


Pagi ini pasangan muda itu bangun dengan kondisi yang tak baik-baik saja. Mata Kea masih bengkak karena banyak menangis sedangkan Sandi muntah-muntah karena efek mabuk tadi malam.


Tapi karena mereka harus sekolah, maka keduanya berusaha memperbaiki penampilan mereka masing-masing. Kea berusaha menebalkan bedaknya dengan blush on sebagai senjata keduanya. Sedangkan Sandi, laki-laki menenggak obat-obatan pereda mabuk, ia harus berusaha tampak sehat dan sarapan dengan kidmat jika ingin kelakuannya tadi malam tak ketahuan mertuanya.


Ah, mengingat tadi malam. Sandi memang pergi secara diam-diam saat rumah Kea itu sudah sepi, yang tau kepergian dan kepulangannya hanya pak Parlin, satpam rumah Kea.


"Hm" Sahut Sandi menyandar pada pintu kamar mandi, sungguh kepalanya pusing sekali.


"Kenapa lo bilang sama Yuda kalau kita uda nikah?"


Sandi membuka matanya yang tadi terpejam untuk menetralisir pusingnya, "Kenapa? diputusin kan lo?" Ejek Sandi. "Mampus"


Kea mengepalkan tangannya, "Kenapa lo lakuin itu? Lo gak tau kalau lo uda hancurin gue ataupun Yuda sampai-


"Sampai apa?" Desis Sandi tajam. "Eh, " Sandi mendorong kening Kea kebalakang. Bukan jenis dorongan gemas atau lainnya. Tapi dorongan dalam artian sebenarnya.


"Lo pikir, cuma lo yang hancur? Apa kabar sama kelakuan lo yang buat Lusi benci sama gue."


Gantian Kea yang terkekeh, "Lusi benci sama lo? Pantes. lo emang berhak dibenci sampai keurat nadi." Kata Kea menantang, rasa sakit hatinya berubah menjadi perlawanan.


"Oh, lo nantangi gue. Asal lo tau ya Ke, gue bisa buat semua orang didunia ini benci dan natap lo rendah sampai lo berpikir kematian adalah suatu hal yang lo harapkan." Desis Sandi mencengkram dagu Kea.

__ADS_1


Kea terkekeh, walaupun kaca matanya sudah berembun oleh air matanya yang mulai berjatuhan, tapi tak ada rasa takut sama sekali dihatinya. Ternyata rasa sakit hati mampu membuatnya bertindak layaknya iblis.


" Terus gimana sama gue yang bisa buat lo terkekang dan tertekan seumur hidup sampai kematian adalah suatu hal yang terlalu istimewa buat lo hiks, Oya," Kea memegang lengan Sandi saat cengkraman Sandi semakin kuat.


"Oya? Dengan cara apa lo ngekang gue? Lo pikir apa gue sesetia itu sama sama Lo? Sadar Ke, lo itu gak lain gak bukan cuma seonggok daging gak berguna. Bahkan gue berani bertaruh, Yuda yang katanya cinta mati sama lo itu pasti juga pernah ngelakuin kesalahan sama lo, selingkuh misalnya." Kata Sandi terkekeh, sungguh, sepasang suami istri itu sudah seperti pasangan psikopat yang mengerikan. Saling mengancam, saling mendoakan kematian dan saling menyakiti.


Kea menancapkan kukunya ke lengan Sandi, membuat Sandi meringis, tapi tetap ingin melepas cengkramannya. Mereka memang benar-benar sudah gila.


"Berani lo selingkuh dari gue?" Desis Kea semakin kuat menancapkan kukunya.


"Kenapa nggak? Lo aja berani selingkuh sama Yuda secara terang-terangan, lalu apa kabar sama gue? Gue laki-laki Ke, gue bisa cerain lo dengan sekali kata. Dan saat waktu itu tiba gue bisa say good bay sama manusia gak berguna kayak lo"


Kea tersenyum, "Apa lo menderita tinggal dan hidup sama gue?" Kata Kea terdengar senang, aneh memang.


"Apa perlu gue jawab?"


"Apa lo pengen pisah sama gue San? lepasin gue dan balik sama Lusi?"


"Apa perlu gue jawab?"


"Apa lo gak takut keluarga lo marah sama lo karena lo lepas tanggung jawab sama gue, "


Sandi melepas cengkramannya dengan kasar dan secara otomatis cakaran Kea pun terlepas karena sentakan kuat itu.


"Siapa bilang gue yang mau lepas tanggung jawab gue , " Kata Sandi tersenyum remeh, " Gue yang bakal buat lo nyerah dan mohon kekeluarga gue biar lo bisa lepas dari gue."


Kea tertawa keras, mengabaikan pemikiran mungkin saja orang tuanya mendengarnya."Apa lo pikir gue selemah itu? Waktu gue tau hidup sama gue adalah sebuah penderitaan buat lo, gue justru makin semangat buat lo kian terikat sama Gue, pakai cara apa-pun itu."


Sandi mengerutkan keningnya, tangannya mengepal dan tatapan matanya tajam kearah Kea yang kini tampak tak gentar dengan dirinya. Apa secara tak langsung Kea ikut mengajaknya bersaing untuk saling menyakiti, wah.. kenapa kehidupan rumah tangganya semakin semenyenangkan ini.


***


Yuhuuu saya update lagiiiii


Tolong jangan lupa kasih aku like, komentar pastinya dan jugaa~ vote mingguannya kalau boleh. janji deh nanti sering ekhem- diusahakan- Up.

__ADS_1


__ADS_2