
Sandi memejamkan matanya, membiarkan air matanya jatuh bebas mengenai istrinya. "Kenapa kamu gak bilang selama ini Kea, kenapa kamu gak bilang kalau kamu kesakitan, kenapa kamu bohongi kami, kenapa kamu-
"Karena itu kalian hiks, karena itu kalian San, jadi aku mohon, biarin aku setidaknya berguna buat kamu dan adek," Kea terisak.
"San, ayo bulatkan tekad, apapun yang terjadi, Adek adalah prioritas kita, kamu uda janji sama aku dulu" Kata Kea semakin kuat mencengkram baju Sandi.
Dadanya sakit sekali.
***
"Hei, kenapa nangis?" Tanya Kea mencoba tersenyum kala matanya sendiripun terasa panas. Perempuan itu mengusap air mata Sandi dengan tangan gemetar.
Tubuhnya lemas, Dadanya sakit, nafasnya sesak, pandangannya buram, dan suara-suara disekitarnya mulai terasa samar walaupun alat bantu dengar masih terpasang.
"Kea hiks" Sandi tergugu, ia memegang tangan kurus Kea dengan erat.
Kea yang memang sudah lemas dan pucat itu hanya mampu membalas genggaman Sandi dengan lemah, seolah meyakinkan si Calon papa itu bahwa ia baik-baik saja. Walaupun tentu saja hal itu merupakan suatu kebohongan.
"Kamu janji bakal terus sama aku hik" Kata Sandi tersendat. Laki-laki itu sudah tak memperdulikan gengsi lagi, ia benar-benar butuh keselamatan Kea dan anaknya saat ini.
Kea tersenyum lemah, ia meremat tangan Sandi, "Kamu jangan nangis, nanti aku ikut nangis" Kata Kea dengan suara bergetar.
Perempuan yang saat ini terbaring dibrankar rumah sakit dengan baju khas pasien yang akan operasi itu mencoba menahan tangisnya mati-matian.
Hari ini, tepat diusia kandungannya yang kesembilan bulan, Kea akan melahirkan secara secar. Dan ia berusaha mengatur rasa emosional hatinya untuk menjaga kenormalan jantungnya. Tapi terasa sangat sulit saat Sandi menerobos masuk keruangan yang akan dipakai beberapa menit lagi untuk operasi itu dengan tangisan meyayat hati.
Kea pernah melihat Sandi menangis, terutama saat mereka baru-baru saja kehilangan Angela dulu, Tapi, Kea belum pernah melihat Sandi berputus asa seperti ini. Laki-laki yang sebentar lagi menyandang gelar ayah dari dua anak itu bahkan sampai terisak-isak memintanya untuk selamat.
Permintaan yang tak bisa Kea jawab, karena ia pun tak tau bagaimana akhirnya nanti.
"San, udah"
"Nggak, kamu harus janji dulu, jangan tinggalin aku" Kata Sandi memohon, "Jangan tinggali kami Ai, jangan, aku-aku gak bakal sanggup tanpa kamu"
"Sandi, kita uda janji, apapun yang terjadi, Adek prioritas kita" Kata Kea menahan lelehan air matanya walaupun gagal.
Sandi menggeleng.
"Kamu uda janji San hiks,"
Sandi mencium tangan Kea, masih dengan gelengan sebagai responnya.
"K-kamu mau aku kesakitan?"
Sandi kembali menggeleng,
__ADS_1
"Kamu mau aku kesakitan?"
Sandi diam.
"Kamu mau aku menderita hm,?"
Sandi masih diam, menciumi punggung tangan Kea yang kurus, sebulan terakhir Kea kehilangan banyak berat badannya. Membuat tubuh yang dulunya gembil itu menjadi kurus dengan tulang menonjol dibeberap bagian. Pertanda kalau sakit yang diderita istri Sandi itu tak main-main.
"Hampir, hampir tiap detik aku ngerasain sakit san" Kata Kea mengelus pipi Sandi yang basah.
"Apa kamu mau nyia-nyiain usaha ku dan si adek?"
Sandi menunduk, meresapi belaian tangan kurus itu diwajahnya.
"Aku kesakitan San, rasanya sakit banget untuk hanya sekedar menghabiskan satu menit dengan mata tebuka"
Sandi tergugu dengan mata terpejam.
"Jadi,, Kasih kesempatan buat si adek ya, aku gak sanggup" Kata Kea bersamaan dengan air matanya yang meleleh deras.
"Aku titip adek ya,,, Bilang aku sama Angela sayang dia kok"
Sandi menggeleng, Menangis tergugu, bahkan ketika tubuhnya ditarik keluar dari ruangan, Sandi tak mampu berbicara,
Jiwanya telah melayang ntah kemana.
****
Sandi lupa berapa lama ia berdoa pada Tuhan, terus menengadahkan tangan dengan keputus asaan, ia memohon, setidaknya kali ini biarkan keluarganya bahagia dengan anggota lengkap tanpa harus kehilangan salah satunya.
Sandi bahkan tak memperdulikan matanya yang bengkak karena banyak menangis, atau tubuhnya yang lemas karena belum mendapat asupan makanan, Sandi tak bosan, ia terus memohon pada Tuhan, setidaknya biarkan ia dan keluarga kecilnya bahagia, Ia hanya ingin keajaiban.
Sandi menunduk, membiarkan air matanya jatuh begitu saja, disaat seperti ini, semua penyesalan akan kelakuan dimasa lalunya terngiang dimomerinya.
Memori buruk yang menjelaskan bagaimana cara ia membuly istrinya itu dulu, mengejek, menghina, dan merendahkan kekurangannya yang rabun, yang tuli. yang sesak nafas. juga bagaimana ia menghancurkan kaca mata Kea kecilnya, bagaimana ia menyobek kertas ulangan Kea kecilnya, membuang buku pr Keanya. Menjahui Keanya, Melakukan percobaan pembunuhan berkali-kali atau bahkan melakukan diskriminasi secara terang-terangan.
Jika dilihat dari kenangannya, bukan kah ia yang salah, bukan kah Sandi yang harusnya mendapat hukuman menyakitkan itu? Tapi kenapa? Kenapa harus istri dan anak-anaknya.
Demi Tuhan, Kea sangat kesakitan.
Sandi menyesal, benar-benar menyesal.
"San" Tepukan lembut namun tegas itu membuat Sandi mengangkat wajah basah penuh linangan air matanya.
"Om, Papa?" Panggilnya tak percaya saat mendapati ayah dan mertuanya itu ada disampingnya.
__ADS_1
"Kenapa gak ngabarin papa hm?" Tanya Surya gamang.
Sandi tak mampu mengatakan apa-pun.
"Bukannya sebelum kalian pindah ke Jepang, saya sudah pernah bilang untuk selalu mengabari kami San?" tanya Kai tegas.
Sandi tergugu. "Ma-afin Sandi Pa, maafin Sandi, Kea-Kea hiks, Sandi gak guna"
Kai dan Surya menghela nafas berat, agak kecewa saat disituasi genting seperti ini mereka tak mendapat kabar apapun, jika saja Ayumi dan Akira tak mengabari mereka tiga hari yang lalu, mungkin mereka tak akan pernah tau kondisi anak dan menantu mereka sebenarnya.
Mereka tau Jepang dan Indonesia itu tidak sedekat rumah mereka yang bersebelahan, tapi tetap saja, apa salahnya memberi kabar, apalagi kondisi Kea ini sudah parah sejak sebulan lebih yang lalu.
Tapi saat melihat kondisi Sandi yang memprihatinkan ini, mereka menelan kekecewaan dan amarah mereka, berganti menjadi kata-kata motivasi yang kiranya dapat membuat jiwa Sandi sedikit teredam.
"Ayo keruang operasi, kamu harus ada disetiap perjuangan kea" Kata Kai menepuk pundak Sandi.
Mereka memang ada diruang kecil tempat berdoa, bukan ruangan yang memiliki tempat berdoa sebuah agama yang khusus, seperti kepercayaan agama Shinto, misalnya.
Ruangan kecil ini benar-benar ruangan kosong tanpa aksesoris yang seolah memang diperuntukkan untuk semua orang yang butuh penenang diri.
Dan begitu mereka kembali kedepan ruang operasi, Sandi dapat melihat mama dan mama mertuanya yang menangis, memeluknya dengan bisik-bisikan penenang.
Sandi kian tergugu,
Sampai akhirnya suara isakannya menemani lampu merah operasi yang juga tak berganti.
Setidaknya untuk satu jam kemudian.
Sandi hampir kehilangan fungsi organ tubuhnya saat akhirnya mendengar suara tangisan bayi, tangisan putrinya.
Tangisan Si adek.
Tangisan kuat yang mereka ingin kan.
Tangisan yang selalu mereka hayalkan.
Sandi kian terisak,
Putrinya lahir.
Malaikatnya kembali hadir.
Aiko nya telah lahir.
***
__ADS_1
Note:
Shinto : Agama etnis masyarakat Jepang.