Salah

Salah
S-1- Yuda patah


__ADS_3

Sandi berdecih, "Najis"


"Kalau gitu, lo yang harusnya jauhin Kea." Kata Yuda mengambil tasnya yang sempat terjatuh, berniat pergi dari kecekcokan yang tak bermutu ini.


Sandi kembali memalingkan wajahnya, saat langkah Yuda semakin jauh, Sandi berdesis pelan. "Bukannya lo yang bilang buat gue tanggung jawab? Gue uda tanggung jawab secara kekeluargaan kalau itu yang lo mau tau, jadi.. bisa lo jauhin dia?


Dan Yuda merasa kepala memberat seketika, hal itu berbanding terbalik dengan Sandi yang kini menahan senyum culas dibalik ringisan kesakitannya.


***


Yuda menelpon nomor Kea berkali-kali , ini sudah satu jam beralalu dari jam pulang sekolah. Dan itu artinya sudah hampir sejam juga Yuda duduk seperti orang bodoh disamping bangunan sekolah. Laki-laki itu merokok, ia bahkan sudah tak memperdulikan bagaimana nantinya jika ia kepergok guru atau adik-adik kelasnya yang sedang ekschool.


"Halo"


Yuda melepas rokoknya, ia lalu mendekatkan ponselnya saat suara sahutan dengan nada lembut itu mengayun ditelinganya. itu suara Kea.


"Kamu dimana Ke?" Tanya Yuda.


"Hah, a-aku, aku ada di rumah iya rumah." Kata Kea gelagapan.


Yuda berdesis, berpacaran hampir 5 tahun membuat Yuda langsung mengetahuai Kea tengah berbohong sekarang.


"Maksud lo, rumah mana? Jangan bohong" Kata Yuda menahan geraman marahnya.


lama hening tak ada sahutan dari Kea, sampai akhirnya suara ribut dan seperti panggilan dalam rumah sakit membuat Yuda menguatkan speaker ponselnya. Ia ingin mendengar jelas apa yang dilakukan kekasihnya itu.


"Giliran kamu Ke, kamu ngapain aja sih? Nelpon siapa? Suami mu?"


Yuda terkekeh pelan, suami? Oh, jadi apa yang dikatakan Sandi tadi siang benar


mereka sudah menikah...


Bajingan.


"Sebentar ma, Kea matiin hp dulu--Yuda--"

__ADS_1


Yuda langsung membanting ponselnya kuat, menginjaknya sambil menyumpah sarapahi apapun yang ada dikepalanya. Ia harus meminta kejelasan dengan Kea hari ini juga.


***


Kea menatapi pil ditangannya dengan gemetaran, ya ampun Kea tak pernah menyangka dalam hidupnya ia harus mengonsumsi pil ini secara rutin diusia ke tujuh belas ah tidak hampir delapan belas tahunnya. Ini semua salah Sandi, yah kalau saja laki-laki itu tidak berbuat hal tak senonoh padanya. Kea pasti tak mungkin separno ini. Sungguh, Kea tak ingin ada anak dikehidupan mereka. Sampai kapan pun, Kea bahkan rela tak menyicipi dirinya untuk dipanggil mama seumur hidupnya jika Sandi masih suaminya.


"Ke, ada Yuda didepan."


Kea tersentak, ia segera menyimpan botol pil yang diberi dokter untuk jaga-jaga itu kemeja riasnya. Kea tak perlu menata penampilannya lagi karena ia baru saja pulang dari rumah sakit, dan kira-kira buat apa Yuda datang sore-sore begini?


"H-hai" Kea merasa canggung saat raut wajah Yuda tak secerah biasanya. kekasihnya itu memiliki lebam dipipinya, sekelebat Kea mengingat wajah Sandi yang tadi juga agak membiru, apa keduanya berkelahi atau hanya kebetulan. Tapi, jika memang berkelahi, apa penyebab masalah yang-


"Kenapa lo gak jujur sama gue?"


Kea kembali tersentak saat nada bicara Yuda sangat tak bersahabat. Dan apa tadi, lo-gue? Kenapa Yuda bukan seperti Yuda sama sekali.


"Jujur a-apa? Aku-


"Kenapa lo gak jujur kalau lo uda nikah sama Sandi?"


Melihat respon Kea, Yuda tertawa, jenis tawa yang menyakitkan. Kea bahkan bisa melihat mata laki-laki itu memerah.


"Kamu pernah ada diposisi aku Ke? Disaat aku cinta mati sama seseorang tapi seseorang itu khianati aku dengan cara yang paling keji. Dia selingkuh." Kata Yuda mengepalkan tangannya, mata laki-laki itu memerah, menahan tangis kecewa dan juga emosi dalam sekali waktu.


"Y-yud- a-aku-" Kea tergagap sendiri dan ntah ia sadari atau tidak tapi air matanya sudah bercucuran dipipinya.


"Aku bisa nerima semua kekurangan kamu Ke, aku bisa terima semua hal yang ada dikamu, bahkan aku masih bisa terima kamu waktu aku tau kalau kamu uda gak sesuci yang kayak ada dipikiran aku. Aku masih bisa terima kamu walau aku tau Sandi uda nyentuh kamu.. Tapi-


Yuda menengadahkan kepalanya, "Aku gak terima sebuah kebohongan."


"Yuda hiks" Kea tergugu.


"Aku paling anti yang namanya dibohongi dan dibodohi, dan kamu lakuin itu dalam sekali waktu. Kamu tau Ke, gimana aku dendam sama Sandi karena aku ngerasa dia nyentuh milikku yang sayangnya tanpa aku sadari justru aku yang nyentuh milik dia."


Kea kian tergugu, hatinya teriris saat mendengar semua rentenan kalimat Yuda.

__ADS_1


"Jadi.. Kita akhiri aja hubungan kita ya Ke, dan sampaiin maafku sama suami mu karena uda berusaha ngerebut kamu dari dia."


Kea menggeleng, matanya berpenjar ketakutan, napasnya bahkan sudah tak beraturan karena tak mampu mengontrol tangisnya.


"Sekali lagi selamat ya Ke"


Kea menggeleng, ia lalu memberanikan diri memeluk Yuda, menangis tersedu-sedu didada laki-laki yang ia cintai itu.


Yuda membiarkan saja, bahkan perlahan tangannya ikut membalas pelukan itu. ia menciumi kepala Kea. Berusaha menyalurkan rasa sayangnya melalui ciuman terakhir itu. "Yu-yuda hiks, ma-maaf, a-aku hiks a-aku-


"Sttt, aku uda maafin, sekarang uda ya, aku pulang dulu." Kata Yuda melepas pelukan Kea dengan agak keras karena Kea yang tak mau melepaskan tangannya.


Kea terjatuh, ia terisak-isak sambil terus mengikuti langkah Yuda yang menjauh. Ini begitu menyakitkan.


Begitupun Yuda, laki-laki itu memakai helmnya dan bersamaan dengan itu air matanya jatuh begitu saja. Kea adalah satu-satunya perempuan yang pernah ia hayalkan hidup dengannya sampai akhir hayatnya. Tapi sayang, tampaknya harapannya itu patah saat itu juga.


-


Sandi menegerutkan keningnya saat mendapati Kea yang tertidur dengan sesenggukan, pertanda kalau perempuan itu baru menangis dengan menyedihkan sebelumnya.


Mencoba tak peduli walaupun sangat penasaran, Sandi memutuskan untuk mandi saja karena tubuhnya yang terasa lengket. Ah, mengingat penyebab tubuhnya lengket parah ini membuat Sandi mengingat hari pertamanya kerja tadi. Menyebalkan, bukankah para karyawan Kai itu tau kalau ia menantu bos mereka, tapi kenapa mereka melakukan perbudakan secara terang-terangan.


Saat sudah sampai pintu kamar mandi, Sandi membalikkan badannya, ia membenarkan letak selimut Kea, menambah bantal agar mendapat posisi lebih Tinggi, Sandi bukan peduli, ia hanya malas mendapat sindiran kedua mertuanya karena menelantarkan manusia menyedihkan ini.


Setelah selesai barulah Sandi akan melanjutkan niatnya, tapi, Langkah kakinyai terhenti saat ia mendengar gumaman Kea, "Yuda hiks"


Sandi menipiskan bibirnya, ia terkekeh pelan. Jenis kekehan yang sering dikeluarkan para preman jalanan jika diremehkan lawannya. Oke, jadi kondisi menyedihkan Kea ini karena Yuda ya.


Sandi mengepalkan tangannya ketika ia merasa kepalanya sudah panas oleh emosinya sendiri.


"Yuda ya?" desisnya marah.


-


Masalah Yuda selesai, waktunya kemenu utama cerita oke..

__ADS_1


__ADS_2