Salah

Salah
S-1 Menerima takdir


__ADS_3

Kalimat Surya terhenti kala ia melihat darah yang menetes kelantai dibalik punggung Sandi.


"Kea?" panggil Kai khwatir.


Sandi membalikkan tubuhnya dan saat itu jugalah, Kea langsung masuk dalam pelukannya dengan tubuh yang sangat lemas. "P-perut aku sakit S-san" Adu nya sebelum memejamkan matanya. Jatuh kedalam pelukan Sandi seutuhnya.


Sandi tertegun, Tangannya mengepal.


ia marah


Marah ntah kepada siapa.


***


Sandi menunduk, ditatapnya tangan lemas Kea yang kini berada dalam genggamannya. Tangan putih ringkih itu dibalut beberapa perban bekas cabutan infus sebelumnya dan disebelahnya terdapat infus baru yang sudah dipasang dua hari yang lalu. Yah, dua hari, Kea sudah dirawat selama dua hari dirumah sakit ini dan belum ada tanda-tanda perempuan yang sempat mengalami pendarahan hebat itu sadar dari pingsannya.


"Sorry Ke" Bisik Sandi ntah pada siapa, nadanya rendah dan terdengar penuh penyesalan. Ia tak pernah berpikir bagaimana perasaan Kea sebelumnya. Sandi hanya berpikir, kehadiran anak diantara mereka akan menambah penderitaan dan kerumitan nantinya. Tanpa berpikir mungkin saja anak menjadi jembatan kebahagiaan mereka nantinya. Seperti Kelli dan Kai yang kini bahagia, seperti pasangan-pasangan lain yang kini bahagia.


Tatapan Sandi yang awalnya menunduk kini beralih pada perut datar Kea yang tertutup baju khas pasien rumah sakit. Ini sudah dua hari berlalu, dan selama itu juga Sandi mendapat wejangan yang luar biasa baik dari keluarganya maupun keluarga Kea. Membuatnya berpikir untuk menerima takdirnya, Menerima calon anaknya dan mungkin menerima kenyataan kalau ia akan menjadi papa muda nantinya. Menjadi papa dari anaknya dan juga anak- Kea.


Sandi mengusap wajahnya, kekita ucapan papanya dua hari yang lalu terngiang dimemorinya.


"Kalau kamu gak bisa menjadi sosok sempurna untuk Geano, gak bisa jadi suami yang mencintai Kea. Apa gak ada tergerak hatimu untuk jadi sosok ayah yang mencintai anakmu kelak. Menjadi pahlawan untuk anakmu kelak?"


Menjadi ayah,


Menjadi pahlawan?


Sandi memejamkan matanya dan tangannya bergetar saat mulai meraba perut Kea, ia menunduk, "Maafin gue," Bisiknya. "Maafin gue yang belum bisa nerima lo seutuhnya. Maafin gue" Bisiknya lagi.

__ADS_1


Hari itu, menjadi hari dimana seorang Geano Sandi mengakui kesalahannya, mengakui keberadaan anak dan istrinya. Juga... Mulai menerima takdirnya.


***


Sandi tersentak saat merasa tepukan dibahunya, ia lalu mendapati ayah mertuanya dan juga papanya yang baru datang.


"Kea belum bangun?" Tanya Kai dingin, memang semenjak dua hari yang lalu, Kai berkali-kali lipat lebih terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya pada Sandi.


Begitupun Surya yang tampak tak begitu peduli lagi pada Sandi, walaupun biasanya Surya dan Sandi memang tak memiliki hubungan harmonis layaknya ayah dan anak pada umumnya. Tapi Surya masih peduli, namun tampaknya masalahnya kali ini benar-benar membuat papa Sandi itu kecewa luar biasa.


"Belum om" Kata Sandi menyahuti Kai yang tadi bertanya.


Lalu keheningan menerpa ketiga laki-laki itu, mereka seperti terjebak pada pikiran masing-masing tanpa ada niatan membuka pembicaraan lagi.


"Sandi?" Panggilan Surya itu membuat Sandi agak terkejut. Dan tampaknya itu juga yang dirasakan Kai karena papa Kea itu hampir menjatuhkan botol minum ditangannya.


"Kamu benar-benar mau pisah sama Kea?" Tanya Surya serius.


Sandi terpekur,


Sandi menggenggam tangan Kea yang ada digenggamannya. Berpisah ya? Apa kah kesalahannya sudah sangat fatal, apa tak ada lagi kesempatan untuknya menjadi- pahlawan nantinya?


"Baik papa dan juga papa mertuamu gak mau maksa kamu lagi, kalau kalian memang mau berpisah kami gak akan larang lagi. Karena papa pikir, kalau kalian bersama tapi terus saling menyakiti juga buat apa kan." Kata Surya menarik nafas pelan.


"Tapi kalau masalah menggugurkan kandungan. Papa dan semua orang disini gak akan setuju. Mau bagaimana pun dia anak kamu kan.. Uda seharusnya kamu dan Kea ngasih dia penghidupan, ngasih dia cinta, ngasih dia kesempatan. Kayak yang selama ini mama-papa kasih kekamu, kayak yang orang tua Kea lakuin sama Kea. Kayak yang dilakuin semua orang tua didunia. Uda kewajiban kita ngasih mereka kesempatan hidup. Dan itu termasuk anak kamu." Kata Surya lagi sedangkan Kai diam saja disana, papa Kea itu hanya mendengarkan besannya bicara dengan pandangan hanya pada putri kesayangannya yang belum juga sadar.


Ah, sebenarnya Kea sudah sadar sehari yang lalu, tapi karena shock perempuan itu kembali pingsan dan belum ada niatan bangun. Pendarahannya juga parah semalam. Mungkin efek tekanan mental dan juga akibat praktek olahraga sebelumnya.


"Sandi"

__ADS_1


Sandi menoleh, menatap papanya dengan pandangan penuh penyesalan.


"Kalau papa bilang papa sayang kamu, kamu bakal percaya atau nggak?" Tanya Surya gamang.


Sandi terpekur, Jantungnya berdetak kencang. Selama ini hubungannya dengan Surya begitu renggang. Lebih tepatnya tak lagi bersinggungan semenjak Sandi mulai dituntut dan ditekan keluarga ayahnya untuk jadi penerus perusahaan keluarga.


Semanjak itu, Sandi tak pernah lagi mendengar papanya itu tertawa, bercanda, memuji dan juga mengapresiasinya lagi. Surya terlihat menuntut walaupun tak secara langsung.


Dan sekarang, papanya mengatakan menyayanginya. Bolehkah Sandi sedikit berharap untuk satu hal itu.


"Kalau papa bilang, selama ini papa begitu sayang dan peduli sama kamu, kamu percaya?"


Sandi menatap papanya dengan sorot kosong.


"Melihat respon kamu, kayaknya kamu kaget banget tau papa sayang kamu" Kata Surya tertawa. "Tapi San, didunia ini gak ada seorang ayah yang benci anaknya. Setidaknya ada sedikit rasa mengasihi itu walau gak pernah diumbar melalui kata. Dan sebentar lagi kamu ada diposisi itu. Papa harap kamu gak bersikap bodoh kedepannya."


"Papa harap, kamu gak akan jadi salah satu dari papa ataupun papa mertuamu ini yang menyesal karena uda gak ngasih kesempatan anaknya secara benar."


Sandi menatap papanya dalam diam, ia paham maksudnya. Surya ingin ia membuka hati dan mulai menerima keberadaan anaknya kelak.


Dan Tidak menjadi seorang ayah yang merasa gagal dan penuh penyesalan seperti mereka berdua dimasa depan.


"Tapi, semua kembali kekeputusan kamu, kamu kepala keluarga dikeluarga kecilmu, papa cuma-


"Sandi gak mau pisah pa" Kata Sandi memotong ucapan papanya.


Ia lalu tersenyum saat melihat keterkejutan dimata papanya dan juga papa Kea. "Setidaknya Sandi harus jadi pahlawan buat anak Sandi dulu kan?" Kata Sandi yakin.


Surya tersenyum, "Yah, kamu harus jadi pahlawan untuk anak mu." Kata Surya terdengar lega.

__ADS_1


Kai menatap Sandi, "Om harap itu bukan cuma bualan kamu doang, tapi juga kesadaranmu untuk nerima takdir." Kata Kai serius.


Sandi kembali diam, tapi setelahnya ia mengangguk yakin. Yah, ia harus bisa menerima takdirnya.


__ADS_2