
Setidaknya untuk satu jam kemudian.
Sandi hampir kehilangan fungsi organ tubuhnya saat akhirnya mendengar suara tangisan bayi, tangisan putrinya.
Tangisan Si adek.
Tangisan kuat yang mereka ingin kan.
Tangisan yang selalu mereka hayalkan.
Sandi kian terisak,
Putrinya lahir.
Malaikatnya kembali hadir.
Aiko nya telah lahir.
***
Sandi memeluk bayi merah itu dengan kehati-hatian dan penuh syukur begitu dokter menyerahkan bayi bermata hijau mirip sang kakek itu kepelukannya.
"Cantiknya" Bisik Kelli dan Mia untuk yang kesekian kalinya. Kedua nenek baru itu Benar-benar terlalu besemangat untuk menyambut cucu kedua mereka itu.
"Uluh-uluh, si kembarannya papa Sandi ini ngantuk berat ya" Kata Kelli begitu bayi mungil itu mengerjapkan matanya menahan kantuk.
Sandi tersenyum, tak mampu mengatakan apapun, ia bahagia. Sangat bahagia, tapi.. Saat kembali melihat ruang operasi yang juga belum berganti warna, hatinya kembali bedenyut nyeri.
Kea nya belum kembali.
Dan itu berlangsung sampai empat jam kemudian.
Sebelum akhirnya dokter dan tim medis mrnyatakan Kea koma, dan hal itu terjadi karena komplikasi pada Jantung dan organ pernafasannya, membuat ibu dari dua anak itu tak sadarkan diri untuk waktu yang lama.
***
Sandi tak suka anak kecil, apalagi bayi. Menurutnya mereka itu sangat merepotkan. Hanya bisa menangis dan menangis.
Rasa tak suka itu karena Sandi terlahir menjadi si anak tunggal dan cucu pertama keluarga besar mama dan papanya. Sandi bahkan tak segan untuk membuat adik-adik sepupunya menangis dengan sekali bentakan.
Sandi memang tak sesuka itu pada anak kecil.
__ADS_1
Setidaknya dulu,
Karena setelah ia menggendong Angela tiga tahun yang lalu, Sandi langsung menyukai sosok bayi itu.
Dan sekarang, Aiko, si bayi kecil itu membuatnya lupa akan semua hal, Aiko Geano adalah semua hal tentang perjuangan dan pengorbanan cinta orang tuanya.
Sandi tersenyum, ia mencium pipi gembil Aiko, gadis kecil Sandi itu lahir dalam kondisi sehat, tak ada penyakit bawaan dari orang tuanya, bayi gendut yang lahir dengan berat 4 Kg itu Benar-benar sehat dan sempurna, seolah, ia tak mengalami kesulitan apapun selama dalam perut mamanya yang beberapa kali drop selama mengandungnya.
"Adek haus nggak?" Tanya Sandi setelah lama memandangi bayi perempuan yang ada dalam gendongannya itu.
Aiko menceotkan bibirnya, mengeluarkan suara gumaman yang tak jelas sebagai respon dari pertanyaan sang papa.
Sandi tersenyum menahan gemas, ayah baru itu tak tahan untuk tak kembali mencium bayi gendutnya.
"Papa ambilin Miruku (Susu) buat adek ya" Kata Sandi meletakkan bayi yang dibalut kain biru lembut itu kesamping tubuh Kea.
Mencium kening Aiko sayang dan menepuk-nepuk sisi paha si bayi agar membuatya tenang, bayi berusia 3 minggu itu mulai 'bau tangan' dalam artian, sudah tau rasanya digendong dan ditimang. Sangat susah meletakkannya dalam tempat tidur.
Hal itu dikarenakan para kakek dan neneknya yang memanjakannya, selalu menggendong dan menimang, membuat si bayi Sandi itu terbiasa akan hal itu.
Begitu Aiko tenang, Sandi langsung cekatan membuat susu formula rekomendasi dokter dan mencampurkannya dengan air hangat yang pas untuk bayi seusia Aiko.
"Sebentar sayang, papa siap sebentar lagi" Kata Sandi ketika Aiko mulai merengek,
"Haus banget ya dek?" Tanya Sandi begitu Aiko mengenyut pucuk botolnya.
Aiko tak menyahut tak juga merespon, bayi itu terlalu fokus pada minumannya. Dan begitu Aiko tenang dan mulai memejamkan matanya. Sandi tersenyum.
Ia bersenandung pelan,
Senandung sebuah nyanyian dengan suara tak jelas ia lantunkan untuk mengiringi tidur putri kecilnya.
Dan begitu Aiko lelap, Sandi baru merasakan apa itu keheningan.
Keheningan dan kesenyepan yang ia rasa ketika menatap anak dan istrinya memejamkan mata dibrankar yang sama namun tak memiliki interaksi apapun.
Bahkan ironisnya Sandi bisa merasakan Salah satu dari kedua orang yang disayanginya itu bisa pergi begitu saja, tanpa ia sadari. Membuat Sandi enggan merasa nyaman dalam semua posisinya.
Bahkan diruang rawat dengan kelas VIP ini tak mampu membuatnya nyaman barang sedikitpun.
Sandi melihat sekelilingnya, mendongak keatas ataupun mengalihkan tatapannya kesegala arah asal tak menatap istrinya. Tak menatap Keanya yang tampak menderita dengan berbagai alat penyambung kehidupan ditubuhnya.
__ADS_1
Sudah tiga minggu semenjak Aiko lahir, dan itu artinya sudah tiga minggu juga Kea nya tertidur meninggalkannya dengan tak mau tau akan rengekan bayi mereka.
Sandi menggenggam tangan Kea yang terpasang infus itu dengan hati-hati. Mencium tangan ringkih itu dengan penuh kasih sayang.
"Kea- Bangun sayang," Bisik Sandi pelan.
"Uda tiga minggu loh, kamu apa gak rindu sama kami"
"Bangun Kea, sekali ini aja aku mohon bangun, setidaknya peluk Aiko sekaliii aja. Aku mohon, sekaliii aja. Aku mohon sayang, aku mohon bangun"
Sandi mengerjap saat air matanya jatuh, " Aiko butuh kamu, apa kamu nggak mau liat Aiko barang satu kalipun?" Tanya Sandi agak menuntut, "Jawab Kea, apa kamu gak mau ketemu sama adek walaupun sebentar hiks, kamu jahat Kea, kamu beneran jahat, kami bakal benci kamu kalau kamu bersikap kayak gini," Sandi tergugu.
"Apa kamu gak mau dengar suara tangisnya yang melengking itu haha hiks" Sandi tertawa ditengah isakannya.
"Suara tangisnya luar biasa loh Ke, " Sandi tersenyum, "Aiko kita tumbuh sehat" Katanya lagi,
"Kamu tau, dia benar-benar mirip aku," Sandi terkekeh, "Badanku gemetar waktu pertama kali peluk dan dengar suara tangisnya loh Ke"
"Badannya gemuk banget, 4 kilo" Sandi kembali tertawa sambil menangis, "Kayaknya semua lemak kamu dibawa sama si Adek deh Ke, badannya bulet gitu" Kata Sandi lagi, ia tersenyum, tapi siapapun yang melihatnya akan tau bahwa senyuman itu begitu menyakitkan.
"Kea.. Aiko kita beneran cantik loh, kamu mau dengar nggak gimana putri kita itu? Kali ini, aku bisa jawab semua keingin tahuan kamu tentang anak kita, " Sandi mengusap air matanya saat tiba-tiba ingatan tentang tangisan Kea yang menanyakan warna bola mata Angela dulu berputar dikepalanya.
"Aiko kita, punya rambut coklat kayak aku sama papa, cuma warnanya lebih gelap, tapi sayang, sama papa seminggu yang lalu rambutnya dipangkas habis. Jadinya Aiko gundul deh" Sandi kembali terkekeh, ia mengusap kepala putrinya yang memang gundul setelah Surya memangkas habis rambut cucu pertamanya itu sebagai salah satu istiadat mereka dalam menyambut kelahiran bayi dalam acara syukuran yang mereka adakan dengan tamu tak lebih dari sepuluh orang itu.
"Alis Aiko tebel, bulu matanya lentik, Hidungnya mancung tapi mungil, mirip kamu" Kata Sandi tersenyum,
"Oya bola matanya hijau, mirip papa" Kata Sandi lagi.
"Kulitnya putih pucat kayak punya kamu," Kata Sandi menepuk-nepuk pelan paha Aiko saat bayi itu agak kaget karena suaranya.
"Aiko Benar-benar Cantik Kea, kamu gak mau lihat hm?"
"Jangan tidur terus ya, emang kamu gak kasian sama Aiko, dia minum susu formula loh, kan dulu kamu bilang mau kasih dia ASI eksklusif" Kata Sandi agak terisak.
"Mama.. Jangan tidur terus ya,, kami kangen" Kata Sandi kembali mencium tangan Kea, kali ini agak lama dengan banyak tetesan air mata ketakutannya.
Sedangkan, dibalik pintu ruangan mereka, dua pasang suami istri dewasa itu menahan tangis. Merasakan dada mereka yang sesak karena setalah tiga minggu akhirnya Sandi mau banyak bicara.
Dan itu hanya pada Kea.
*****
__ADS_1
Happy Mondayyyyy...
Jangan lupa Vote nya ya.