
"Mama hiks" Kea merangkul mamanya, "Mama kenapa ngomong gitu hiks, Kea sayang mama"
Kea tersedu, kedua perempuan beda usia itu menangis bersama, menangisi takdir mereka yang kelam.
"Jadi.. Kea mau kan pikirin semuanya lagi dengan jernih?"
Kea terdiam dalam tangisnya, ia hanya memeluk mamanya, menerima masukan itu dengan hati yang ketakutan.
Apa kah jalan yang ia ambil salah?
***
Ps : Narasi 70%
***
Biasanya penyesalan itu datangnya diakhir, karena itu jugalah yang dialami Kea, perempuan itu baru menyadari caranya salah dalam memberi pelajaran untuk Sandi.
Setelah berbicara dengan Kelli, Kea langsung meminum banyak pil yang pernah diberikan pada dokter dulu ketika ia konsultasi dengan Kelli.
Kea tak tau apa kah itu berfungsi, tapi sungguh, ia terlalu malu untuk kembali berbicara dengan Sandi tentang masalah ini.
Ini sudah sebulan lebih berlalu, dan Kea bersyukur tak ada hal-hal yang ia takutkan, atau sebenarnya belum?. Ah, ntahlah Kea tak lagi dapat memikirkan hal itu ketika ujian sudah didepan mata.
Tiga minggu lagi adalah ujian kelulusan, dan mulai minggu ini sudah mulai dilakukan banyak ujian praktek dan try out . Belum lagi penambahan jam belajar dan juga pengerjaan latihan yang gila-gilaan.
Kea bahkan merasa, tidurnya tak dapat nyenyak karena tekanan belajar dari sekolah. Ia merasa gugup, takut tapi juga senang dalam waktu bersamaan karena berpikir, ini adalah tahap terakhir sekolahnya. Ah, Kea benar-benar merasa sangat bersemangat.
Tapi, tampaknya apa yang dilakukan Kea dengan begitu bersemangat berdampak buruk dengan kesehatannya. Perempuan itu mengalami penurunan berat badan, tampak lebih pucat dan lebih mudah lelah.
Dan semua orang menyadari itu, termasuk Sandi, walaupun terkadang laki-laki itu tak berbohong ketika ia melihat Kea duduk fokus dimeja belajarnya, ia merasa keirian yang luar biasa.
Seandainya, ia masih sekolah pasti ia juga merasakan hal yang sama. Tapi, apa lah daya dirinya sekarang, Bahkan, yang hanya bisa berhadapan dengan oli, mesin dan sejenisnya tiap harinya.
Seperti saat ini contohnya, jam sembilan malam Sandi baru pulang dari bengkel karena lembur, tubuhnya lelah luar biasa, apalagi masalah mesin Sandi harus lebih banyak belajar lagi untuk penanganannya. Bisa dibilang bekerja menjadi asisten montir adalah pekerjaan banting setir yang jauh dari kemampuannya. Walaupun Sandi suka dengan motor atau mobil untuk balapan dan sering memodifikasinya, tapi, jujur saja, pekerjaannya lebih dari itu, pengalamannya dalam dunia montir memang sangat minim.
__ADS_1
Tapi, seperti diawal, Sandi tak dapat berkata apa-apa, semua orang mendonkrinnya kalau ia harus berkerja. Dan pekerjaan apa lagi yang bisa ia dapat dengan ijazah smp ditangannya.
Bergabung dengan bisnis keluarga nya?
Ah, Sandi tak seberuntung itu untuk mendapatkannya, masalahnya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mundur teratur dari persaingan perebutaan kepimpinan perusahaan. Lebih tepatnya ia tak mau kehidupannya semakin sukar karena sepupu-sepupunya nantinya.
Jika didepan keluarga besar saja Elsa dan sepupunya yang lain berani memberi intimindasi untuknya dan Kea, lalu bagaimana jika Sandi nekat merebut kepimpinannya nanti? Ah, sudah lah, Terlalu banyak yang harus Sandi pikirkan dan hal itu membuat kepala nya penuh. Ia hanya ingin beristirahat untuk meneangkan otaknya, tapi tampaknya hal itu harus tertahan ketika pemandangan Kea yang tertidur dengan posisi terduduk dikursi belajar lah yang ia lihat pertama kali begitu masuk kamar.
Melepas jaketnya, Sandi terduduk dipinggir ranjang, menatap Kea yang tertidur pulas.
Sandi akui, Kea tampak cantik jika tertidur begini, perpaduan wajah Kelli yang berdarah tionghoa dan Kai yang berdarah bali benar-benar membuat Kea memiliki fitur wajah yang mengangumkan.
Kalau saja-
Ah, Sandi mengusap wajahnya untuk membuang semua pikiran aneh dari kepalanya. Laki-laki itu menghela napas, mengambil handuk dan pergi mandi, mengabaikan Kea yang mungkin akan merasakan sakit dipunggung dan lehernya dengan posisi tidurnya.
Tapi tampaknya pengabaian itu tak bertahan lama, ketika Sandi keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lebih santai, laki-laki itu tertegun sambil menatap Kea yang tampak kelelahan.
Berdecak kesal, Sandi mendekati Kea, "Cantik kalau gak guna buat apa?" Desisnya, tapi tak ayal tangannya menarik Kea lembut kepelukannya.
***
Kea bedesis pelan ketika ia merasakan pusing yang teramat sangat ketika ia menundukkan kepalanya. Rasanya seperti mabuk perjalanan yang memusingkan dengan perut yang mual luar biasa. Kea ingin muntah.
"Ke, lo kenapa?" Bisik Sheril yang baris disebelahnya untuk melakukan pemanasan. Posisi mereka yang sedang menunduk untuk pelemasan leher itu berbisik pelan.
Hari ini mereka memang sedang melakukan praktek untuk pelajaran penjas, praktek terakhir yang mengharuskan mereka melakukan beberapa latihan fisik dasar, seperti pull-up, sit-up, push-up dan lari sprint. setelah minggu lalu melakukan praktek Bola basket, voli dan juga lompat tinggi serta lempar peluru.
"Gue pusing" Desis Kea hampir tak terdengar.
"Pusing? Lo belum sarapan?" Tanya Sheril lagi yang kali ini sudah mengangkat satu kakinya.
"Uda, tapi gue bener-bener pusing, kayak mau muntah" Desis Kea lagi mengikuti gerakan teman-temannya.
"Izin aja," Kata Sinta, teman sekelas Kea yang baris dibelakangnya. "Lo dari tadi emang keliatan pucet," Katanya lagi.
__ADS_1
"Iya izin aja" Kata temannya yang lain,
Kea tersenyum, teman-teman sekelasnya memang baik padanya, Kea tau mereka bersikap baik karena kasihan dengan kekurangannya, tapi ntah kenapa Kea menikmatinya, diperhatikan oleh orang-orang terdekat adalah suatu hal yang harus dibanggakan.
"Gak ah, ntar nilai gue turun, kalian lagi ngalahin nilai gue." Bisik Kea yang masih didengar semua orang.
"Dih, pelajaran olahraga lo memang selalu kalah ya Ke" Bisik Sheril yang disetujui yang lain.
Kea terkekeh, Olahraga adalah pelajaran tersulit untuknya, ah, tidak maksudnya terlalu sulit untuk fisiknya yang lemah dan ringkih.
Kea menggigit bibirnya kala rasa pusing itu kembali datang, hal itu membuat wajahnya tampak begitu pucat, guru olahraganya pun beberapa kali menegurnya untuk istirahat, tapi Kea tak mau, ia ingin praktek, ia ingin nilainya memuaskan nantinya.
Alhasil, Kea harus menahan rasa pusing dan mual itu bahkan sampai pelajaran penjas selesai.
"Kea ke uks aja yuk, Buk Berta pas ngerti kok kalau lo belum bisa ikut latihannya dia ntar" Bujuk Ninda yang tak tega melihat wajah pucat Kea setelah jam pelajaran penjas tadi.
Kea bahkan mulai mengeluh sakit perut setelah praktek, tapi perempuan berkaca mata itu terlalu keras kepala untuk diajak beristirahat ke UkS karena tak ingin meninggalkan mata pelajaran yang lain.
"Kea, yuk ah" Ajak Sheril ikut membujuk, teman-teman Kea itu bahkan menarik-narik tangan lemas Kea agar mengikuti mereka.
"Eung" Kea membekap mulutnya saat mual itu kembali datang.
"Tuh, kan, uda yuk" Tarik Sheril tak mau dibantah.
Kea pun akhirnya mengangguk lemas, ia benar-benar kelelahan.
Sampai akhirnya Kea tak dapat menahan rasa sakit ditubunya saat menuruni tangga, ia kembali merasa mual dan pusing ketika melihat kebawah, perempuan itu bahkan mulai menyadari dunianya berputar sebelum akhirnya kegelapan dan teriakan kedua temannya sebagai pengantar terakhirnya.
Disaat ia merasa tubuhnya terjerembab kelantai, dengan bagian perut yang ikut kram, Kea merasakan ketakutan yang luar biasa.
Apa ketakutannya terjadi?
***
Ketakutan apa yang terjadi guys? wkwkw?
__ADS_1