Salah

Salah
S-1 Ragu


__ADS_3

"Sandi gak mau pisah pa" Kata Sandi memotong ucapan papanya.


Ia lalu tersenyum saat melihat keterkejutan dimata papanya dan juga papa Kea. "Setidaknya Sandi harus jadi pahlawan buat anak Sandi dulu kan?" Kata Sandi yakin.


Surya tersenyum, "Yah, kamu harus jadi pahlawan untuk anak mu." Kata Surya terdengar lega.


Kai menatap Sandi, "Om harap itu bukan cuma bualan kamu doang, tapi juga kesadaranmu untuk nerima takdir." Kata Kai serius.


Sandi kembali diam, tapi setelahnya ia mengangguk yakin. Yah, ia harus bisa menerima takdirnya.


****


Malam itu menjadi malam yang aneh untuk Sandi, ini adalah malam dimana ia sudah bisa-mencoba- menerima semuanya.


Tangan Sandi perlahan terulur untuk menyentuh perut rata Kea, lagi.


Kali ini dengan yakin laki-laki itu mengusapnya perlahan.


Gemetar.


Sandi gemetar, ia tak tau gemetar karena efek apa. Karena anaknya kah? atau karena keputusannya? Ntah lah, Sandi tak mau memikirkannya terlalu jauh. Kali ini ia hanya berusaha memperbaiki sifat dan sikapnya saja.


"Lo- ah, kamu, makasih uda mau hadir diantara kami, diantara kacaunya hidup kami, Gu- aku, gak tau kedepannya, tapi ayo rubah semuanya. Buat perubahan untuk semua hal. Untuk kondisi ini, untuk kekacauan ini, untuk kekasarannya diriku dan juga-


Sandi terdiam, ia lalu menatap wajah Kea, Sandi sudah tau kalau Kea sudah sadar saat ia makan malam tadi, perempuan itu hanya pura-pura tidur saja. Mama Kea yang memberi tau. Tapi Sandi juga tau, pasti canggung jika mereka berbicara saling bertatap muka ketika biasanya mereka saling memaki dan adu menyakiti.


"- Perubahan untuk kebahagiaan mama mu" Lanjut Sandi melanjutkan kalimatnya dengan sangat pelan. Bahkan telinga Sandi pun meragukan apa ia mendengar ucapannya sendiri atau tidak.


Sandi masih betah meletakkan tangannya disana dan mungkin akan sampai pagi tiba, jika saja, Tangan kecil Kea tidak menghempaskan tangannya dengan kasar.


Sandi terkejut, saat ia menoleh kearah wajah Kea, disanalah mata mereka langsung bertemu. Walaupun Sandi tau, Kea tak bisa melihatnya dengan jelas karena kerabunannya, tapi ntah kenapa Sandi seolah bisa melihat kebencian menyala dari dua bola mata itu.


"Kea" Panggil Sandi setelah mereka hanya saling diam.


"Kenapa berubah pikiran?" Tanya Kea dengan suara bergetar.

__ADS_1


Sandi diam, ia hanya menatap Kea tanpa niatan menjawab.


"Kenapa lo langsung nerima dia setelah semalem lo maksa gue gugurin dia?" Kata Kea lagi.


"Kenapa lo bertingkah seolah-olah lo jadi sosok seseorang yang mengharapkan anak ini." Kea memalingkan wajahnya.


"Lo coba mainin gue kan? Lo coba nipu gue kan? Kali ini apa? Bales dendam? Lo mau nyakiti dan nyiksa gue melalui anak ini kan"


Sandi mengepalkan tangannya, ia paling tak suka diragukan. Dan Kea sudah meragukan keputusannya.


"Kea" Desis Sandi.


"Apa!" Bentak Kea, Sandi tertegun saat ia melihat air mata yang menetes dari sudut mata perempuan itu.


"Lo ngeraguin gue?"


Kea terkekeh sinis, "Buat orang yang uda beberapa kali ngelakui percobaan pembunuhan, pembullyan, dan pemerkosaan sama gue. Apa gue gak pantes ragu sama lo?"


Sandi mengepalkan tangannya, mata nya mulai memerah, ia seperti marah dan juga menahan emosi. Marah pada dirinya sendiri.


"Lo bahkan berani nyakiti gue dan hampir bunuh anak ini didepan semua keluarga lo! Lo itu iblis San. Iblis. Dan apa gue gak pantes buat ragu sama lo?"


"Kea" Desis Sandi lagi, "Bisa lo diem dan gak usah mancing emosi gue" Kata Sandi mengepalkan tangannya kian kuat.


Kea tersenyum sinis"kenapa? Merasa terpojok? Mulai sadar diri?"


"KEA!" Bentak Sandi diluar kendali, emosinya yang sejak tadi berusaha ia jaga hilang sudah ntah kemana."Mau lo itu sebenarnya apa sih hah! Semalem lo baru aja maki-maki gue buat gue tanggung jawab, buat gue nerima anak sial*n itu dihidup gue. Tapi sekarang- Lo sendiri yang ngeragui gue, mau lo itu apa sih sebenarnya? Dan ya-


Sandi menunjuk wajah Kea, " Jangan seolah-olah gue yang salah sendiri disini. Jangan mojokin gue sama semua kesalahan gue kalau lo sendiri lakuin hal yang sama buat bales dendam sama gue brengs*k"


Kea mengepalkan tangannya yang masih terasa lemas, "Anak sial*n?" Tanyanya. Ah, ternyata Kea tak fokus oleh kalimat makian Sandi kecuali satu kalimat simpel yang langsung menghunus jantungnya itu. Kea pikir Sandi benar-benar sudah menerima anak mereka.


Kea hanya memancing emosi laki-laki itu saja, tapi- Tanpa diduga Sandi bahkan membalas kalimatnya dengan sama menyakitkannya. Disaat seperti ini? Bisakah Kea tak meragu oleh iblis didepannya ini.


Kea pikir Sandi sudah teguh dengan penyesalannya. Kea pikir Sandi tak membalas kalimatnya, Kea pikir Sandi akan berusaha meyakinkannya. Tapi, Ah, apa salah Kea yang berharap? Apa salah Kea ingin memastikan? Walaupun sudah menduga kemungkinan respin buruk Sandi, tapi.. Tetap saja hati Kea nyeri ketika mendengarnya.

__ADS_1


Jadi.. Sandi tak semenerima takdirnya ya?


Sedangkan Sandi yang sudah dikalap emosi menatap Kea bengis. Tak menyadari raut wajah Kea yang menunjukkan banyak kekecewaan."Yah! Dia emang sial*n kan? Sama kayak lo, Ngehancurin hidup tenang gue aja bisanya, Kalian itu sama aja"


Kea merasakan air matanya kian deras, tapi ia tak mau kalah, ia tak mau Sandi merasa menang diatas awan. Kea tak mau tampak lemah dimata iblis itu.


"Kalau lo lupa, lo ayahnya" Desis Kea tak terima disela tangisnya.


Sandi tersenyum mengejek, "Siapa yang tau kan? Kayak yang lo bilang sama gue tadi. Lo ragu sama tanggung jawab dan penerimaan gue karena kejahatan gue sebelumnya. Dan-" Sandi menggantung kalimatnya.


Matanya menyorot kebencian yang nyata, seolah-olah pernyataan dan niatan untuk mengubah sikap tadi siang hanyalah sebuah bualan semata.


"-Dan, kayaknya gue ragu apa dia beneran anak gue atau nggak, mengingat lo yang berani selingkuh secara terang-terangan sama gue sebelumnya. iya kan?"


"Menurut lo? Cuma lo yang bisa ragu?"


Kea tergagap, ia tak mampu menjawab ketika hatinya berdenyut. Sandi memang iblis. Bagaimana bisa ia meragukan anak yang ia kandung saat laki-laki itu sendiri lah yang mengambil mahkotanya. Saat hanya laki-laki itulah yang menyentuhnya.


"Pertama bukan berarti terakhir kan?" Ejek Sandi seolah mengerti pemikiran Kea.


Kea memaksa jari-jari tangannya mengepal saat ia merasakan dadanya bergemuruh, Kea pernah merasakan kebencian, tapi ia belum pernah merasakan kebencian sampai ditahap ia membenci Sandi saat ini.


***


Dua-duanya ragu,


Kea yang ragu sama keseriusan Sandi.


Dan Sandi yang ragu sama hal bodoh dikepalanya.


Dua-duanya sama-sama sumbu pendek, pikiran dangkal dan penuh dendam. Dan dua-duanya punya alasan disegala tindakannya. So, makanya kadang ada yang tim Kea garis keras karena ia ngerasa alasan Kea benar.


Ada juga yang tim Sandi garis keras, karena nganggap alasan dan keadaan Sandi benar.


Aku gak bisa ngomong apa-apa kecuali-

__ADS_1


So, Enjoy guys.


__ADS_2