
Kea mengerang protes. memukul punggung Sandi untuk meluapkan kekesalannya. Dan Sandi semakin terkekeh akan hal itu. Ia tau Keanya sedang malu. Ah, seandainya jam pagi lebih panjang, Sandi enggan untuk melepas Keanya hanya untuk sekedar pergi kuliah dan lanjut bekerja.
Sandi tersenyum, ah inilah kehidupan barunya. Dinegara impian istrinya, dengan Keluarga kecilnya.
****
Hidup dinegara orang itu tak semudah yang dipikirkan orang-orang ataupun yang dipikirkan Sandi dan Kea sebelum memutuskan pindah dua tahun lalu. Dulu. Sandi berpikir, apa susahnya pindah Ke Jepang, ia akan dapat kehidupan baru, suasana baru dan kebahagiaan baru. Tanpa berpikir bagaimana mereka beradaptasi dengan sistem kerja dan sistem kegiataan Jepang yang hampir berbeda delapan puluh persen dari indonesia. Atau bagaimana mereka beradptasi dengan orang-orang disekitar mereka, bagaimana mereka bersosialisasi dengan tetangga yang memiliki cara berkomunikasi berbeda dalam artian mereka tak begitu suka bersosialisasi dan cenderung individualis.
Dulu, Sandi pikir semudah dan segampang ia pindah sekolah dari Bandung ke Jakarta . Atau mungkin hanya sekedar mengalami culture shock sejenak seperti kepindahannya dari Belanda ke Indonesia saat ia masih TK dulu.
Tapi ternyata tak semudah itu, apalagi Sandi sebagai mahasiswa baru , ia sering sekali mengalami kesukaran dalam kuliahnya. Tak jarang, laki-laki jangkung itu akan mengalami stres ringan yang membuatnya insomnia berkepanjangan tanpa Kea tau pastinya.
Atau saat Sandi mendapat pekerjaan tambahan dari atasannya, Ah, ya, Sandi sudah bekerja sebagai karyawan lepas dalam bidang sketsa bangunan. Pekerjaannya seperti seorang freelancer saat diindonesia dulu. Tapi bedanya jika dulu Sandi hanya mengerjakan pekerjaan jika ia senggang dan memang butuh. Disini Sandi harus mengerjakam pekerjaan tepat waktu walaupun tidak kekantor setiap hari layaknya karyawan.
Pekerjaan yang cukup menguntungkan ini ia dapatkan atas bantuan kakeknya pastinya. Oh, ayolah dizaman modrn yang semuanya dilihat dari ijazah dan akreditas sekolah, rasanya bohong jika ia bisa mendapat pekerjaan bagus padahal dirinya belum memiliki tamatan sesuai standart. Tanpa ada orang dalam yang membantu. Dan itulah yang dialami Sandi sekarang, tapi walaupun ia mendapat pekerjaan dengan 'sedikit' bantuan, pekerjaannya tetap berat tanpa pembedaan.
Seperti malam ini contohnya, Sandi mendapat tambahan pekerjaan dari atasannya untuk membuat sketsa kasar sebuah ruko, sebenarnya gampang sih, tapi Sandi yang sejak pagi telah dipusingkan banyak tugas kuliah merasa tekanannya kian besar.
"San" Panggilan khas disuasana hening itu membuat Sandi mengalihkan tatapannya dari ipad gambarnya.
Dilihatnya istri manisnya yang malam ini memakai piyama tebal yang senada dengannya menghampirinya sambil menguap. Ah, sekarang mereka memang segaring itu, bahkan Sandi tak dapat memungkiri dibeberapa kondisi ia merasa dirinya dan Kea adalah pasangan suami istri yang telat menikmati masa remaja. Diusia pernikahan mereka yang ke empat tahun lebih ini, Kea masih sering membeli barang couple dengannya, baik itu baju, piyama, handuk, sepatu, gelang ataupun jam. Semuanya berpasangan.
"Kamu kok belum tidur, udah jam tiga ini" Kata Kea merangkul Sandi dari belakang, meletakkan kepalanya yang lemas diceruk leher Sandi yang panjang.
Sandi mengelus kepala Kea, "Deadline kerjaanku besok jam 9 pagi, tapi jam delapannya aku ada kelas. Jadi dari pada besok kedandapan mending aku selesaiin malam ini" Kata Sandi terdengar lesu.
"Ini uda gak malam lagi San ini tuh hampir subuh, kamu harus inget kesehatan kamu tau" Dengus Kea kesal.
Sandi meringis, "Aku baru selesai kerjain tugas kuliah aku sebelum lanjut kerja Ke, jadi aku-
"Jadi lebih penting kerjaan kamu dibanding kesehatan kamu" Ketus Kea melepas rangkulannya.
__ADS_1
Sandi melepas oksigen diparu-parunya dengan perlahan, "Bukan gitu sayang, aku-
"Udah ah, ngomong sama kamu nguras emosi" Kata Kea mengerucutkan bibirnya.
Sandi mengulum senyum gemas, "Jangan marah dong, hei, sini" Kata Sandi menarik Kea untuk dibawa kepangkuannya.
Kea masih mengerucutkan bibirnya, "Gak usah ngerayu, gak mempan" Katanya ketus.
Sandi kian tergelak, "Sini duduk yang bener" Kata Sandi sabar.
Kea mendengus, tapi tak ayal perempuan berambut pendek ala dora tanpa poni itu membenahi posisi duduknya. Sekarang posisi mereka saling berhadapan dengan kaki Kea yang melingkari pinggang Sandi.
Saat Kea menenggelamkan wajahnya didada Sandi dengan nyaman, barulah Sandi bertanya dengan lembut, "Kenapa bangun hm? Dingin?"
Sandi merasakan Kea mengangguk didadanya, "Hm, gak ada yang pelukin aku" Katanya manja.
Sandi tergelak pelan, "Mulai berani ya"
Kea mengerang malu.
"San"
"Hm"
"Kamu pasti capek ya?" Tanya Kea tiba-tiba sambil memainkan kancing piyama Sandi.
Sandi menghentikan gerakannya, "Aku capek? Kenapa tiba-tiba kepikiran kearah sana sih? Aku gak papa sayang" Kata Sandi menenangkan, Kea itu overthinkingnya luar biasa. Dan saat pikirannya sudah terlalu berat, Kea akan stres dan mulai memaksa mengonsumsi obat penenang.
Suatu kebiasaan dan fakta yang Sandi benci adalah, walaupun Kea sehat dan mulai banyak berubah akan sifatnya. Namun hal itu tak dapat mengubah kalau Kea tetaplah seseorang yang dua kali mengalami depresi berat dan harus mendapat penanganan psikolog dan psikiater sejak kecil. Jiwa Kea tak baik-baik saja sejak itu. Itu juga sebabnya Kea dilarang melanjutkan pendidikan layaknya Sandi melanjutkan pendidikannya.
Kea tak sekuat itu.
__ADS_1
"Aku sering liat kamu lembur sampai pagi, pasti berat banget buat kamu, kamu harus kuliah, kamu kerja, dan nanti dirumah aku ngerecoki kamu sama banyak hal, aku minta ini, aku minta itu, aku suruh ini, aku suruh itu. pasti kamu capek kan?" Kata Kea terdengar kian lesu.
Sandi menghela nafas, ia lalu memeluk Kea gemas, berusaha memberi gesture bahwa ia baik-baik saja. "Kalau aku bilang aku gak capek, aku bohong banget,"
"Tuh kan-
"Stt, tapi- hei, dengerin aku dulu jangan nangis dulu Ke" Kata Sandi menghapus air mata Kea yang ntah bagaimana bis langsung merembes begitu saja.
"Dengerin aku baik-baik dan kamu ingat ini dengan baik, aku gak pernah nyesel lakuin ini semua buat kamu, buat aku, buat kita. buat impian kita, buat kebahagiaan kita. Aku bakal tetap kuliah, aku bakal tetap kerja dan aku bakal tetap lakuin itu karena aku sayang sama kamu, aku sayang sama keluarga kita. Paham"
"Tapi aku huks- Aku, belum buat kamu bahagia huks" Kea tersedak tangisnya Sendiri.
Sandi tersenyum, mengecup bibir Kea sekilas, "Kamu gak perlu lakuin apa-apa, karena kamu itu uda jadi kebahagiaan mini ku" Kata Sandi yakin.
Kea tersenyum, hatinya berdesir saat Sandi mengatakan hal garing seperti itu, ia lalu kembali memeluk Sandi, menangis tersedu dipelukan suaminya itu.
"Stt, udah dong jangan nangis, ini musim dingin loh Ke, bajuku ntar basah terus kita gak bisa couple-couple lan lagi ntar." Kata Sandi menyindir.
Kea bedecak, perempuan itu lalu menghapus air matanya. "Ish, orang sedih juga"
Sandi terkekeh. " Aku udah selesai, mau lanjut tidur nggak biar aku pelukin"
Kea mengangguk semangat, "Hm"
Sandi mematikan ipadnya, mematikan laptopnya dan semua barang-barangnya sebelum mengangkat Kea yang kini sudah memeluknya bagai bayi koala.
"Kamu kok akhir-akhir ini makin manja sih Ke, jangan-jangan ada maunya nih, nempelin aku mulu." Kata Sandi sambil membawa Kea kekamar mereka.
Senyum Kea yang awalnya lebar perlahan meredup ketika mendengar ucapan Sandi. Ada sesuatu yang teringat olehnya. Dan tampaknya itu kemungkinan yang buruk. Setidaknya untuk saat ini.
***
__ADS_1
kemungkinan apa hayoo?
.