Salah

Salah
S-2 Ketakutan tak beralasan


__ADS_3

"Kamu kok akhir-akhir ini makin manja sih Ke, jangan-jangan ada maunya nih, nempelin aku mulu." Kata Sandi sambil membawa Kea kekamar mereka.


Senyum Kea yang awalnya lebar perlahan meredup ketika mendengar ucapan Sandi. Ada sesuatu yang teringat olehnya. Dan tampaknya itu kemungkinan yang buruk. Setidaknya untuk saat ini.


***


Kea mengerang saat ucapan Sandi tadi subuh terngiang dikepalanya. Kea bukannya tak menyadari, dirinya memang merasa lebih manja kepada Sandi lebih dari biasanya. Dan Kea tak bodoh untuk bersikap tak peduli.


Ia bukan lagi remaja berumur 17 tahun seperti dulu, ia sudah berusia 21 tahun. Dan rasanya masalah keterlamabatan datang bulan, sifat manja dan malas sudah memperkuat dugaannya.


Hanya saja, Kea takut untuk mengakuinya. Takut semua ketakutannya terjadi, ia takut mengulang kisah lamanya.


"Please,, Jangan, please, satu, satu, satu" Bisik Kea menggenggam benda pipih itu penuh harapan. Jangan, jangan, batinnya penuh doa saat pikiran buruknya sudah berpencar kemana-mana.


Kea membuka genggaman tangannya, sejenak Kea merasa jantungnya berhenti berdetak sebelum kembali berdetak dengan ritme kuat yang bersamaan dengan itu tetesan air matanya langsung jatuh begitu saja.


Dua garis.


Ya ampun, dua garis, Kea memelorotkan tubuhnya, tangisnya terdengar menyedihkan.


Sungguh, Kea ketakutan, benar-benar ketakutan. Sekelebat bayangan-bayangan saat ia kehilangan Angela dimasa lalu berputar dikepalanya. Bagaimana kalau Sandi menolaknya lagi, Bagaimana kalau Sandi marah padanya, bagaimana kalau mereka belum siap menjadi orang tua, bagaimana merawatnya, Sandi masih kuliah, bagaimana kalau laki-laki itu kian tertekan, lalu bagaimana Kea membesarkan anaknya kelak dinegara orang ini, bagaimana caranya menjaga anaknya kelak padahal ia mengidap gangguan jiwa, lalu bagaimana dan bagaimana lainnya menyerang Kea, Perempuan itu ketakutan, Benar-benar ketakutan.


"Kenapa hiks, kenapa kamu dateng lagi hiks, a-aku gak siap, m-mama gak siap sayang, Mama gak mau kamu kayak kak Angela, nggak- hiks, mama hiks"


Kea menjambak rambutnya, menatapkan kepalanya kedinding berkali-kali saat pikiran buruk terus menusuk pikirannya, Kea gemetaran, ia bangun dari posisinya, menyeret tubuhnya kedapur untuk mencari apapun yang bisa membantunya keluar dari masalah. Apapun itu.


Kea benar-benar sudah kehilangan akal saat tangan gemetarnya menarik pisau.


Ia gila, benar-benar gila.


***


Sandi mendesis saat ponselnya terus bergetar disaku celana, giginya bergemeletuk jengkel sebelum mengangkat tangan. Meminta izin dosennya keluar, "Sumimasen, Toire e ittemo ii desuka?" Tanya Sandi yang diangguki dosennya.


(Maaf, boleh saya izin ketoilet?)


Sandi segera keluar kelas, masih dengan rasa jengkel ia mengangkat telepon dari Ayumi, tetangga apartemennya yang kebetulan sebaya dengannya.


"Moshi-moshi" Sapa Sandi yang diabaikan oleh penelpon karena perempuan Jepang itu bernafas ngos-ngosan dan terdengar panik.


"Doko ni iru no!?" tanya yang lebih tepat disebut bentakan itu membuat Sandi berjengit, tak biasanya tetangganya ataupun orang jepang lainnya menaikkan nada bicara mereka saat berkomunikasi.


(Dimana kamu!?)


"Ey, Ayumi-chan wa ochitsuite, watashi wa kyanpasu ni imasu, nani ga mondaina nodesu ka?" Sahut Sandi menenangkan.


(Ey, calm down Ayumi. aku dikampus, ada apa?)

__ADS_1


"Baka-"


(Bodoh)


Sandi sudah akan protes saat kalimat Ayumi selanjutnya membuatnya membeku.


"Sandikun, isoide byōin ni itte, anata no tsuma wa jisatsu shita" Teriak Ayumi ngos-ngosan.


(Sandi, cepat kerumah sakit, istrimu mencoba bunuh diri)


"Hah, N-nande-"


(Hah, a-apa?)


Sandi masih memproses keadaan saat kalimat Ayumi yang meneriakinya alamat rumah sakit berdenging.


Sandi terkekeh, lelucon macam apa ini? Istrinya bunuh diri? Istri manisnya itu kan, Kea nya? Bagaimana bisa Ayumi mengatakan Keanya bunuh diri saat tadi pagi saja mereka masih bercanda tawa sambil sarapan, dan bagaimana bisa Sandi percaya saat Kea saja bersikap begitu manja dengannya tadi malam.


Sial.


Sandi menjambak rambutnya,


Sandi tak tau bagimana, tapi kakinya sudah melangkah cepat dan Sandi tak tau bagaimana, tapi air matanya sudah jatuh tanpa ia sadari.


***


Rasanya Sandi ingin berteriak pada tetangganya itu, bagaimana bisa ia tenang saat istrinya mencoba mengakhiri hidupnya.


Dan bagaimana bisa ia tenang saat anak dan istrinya hampir hilang dari genggamannya jika saja Ayumi tak menyelamatkannya lebih cepat.


Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa, Keanya melakukan hal keji ini saat sedang mengandung buah hati mereka.


Sandi tak habis pikir dengan hal itu.


"Oya, aku mendapatkan ini dikamar mandi kalian, tampaknya Kea masih trauma dengan masa lalu kalian saat kini ia harus mengalami awalan yang serupa" Kata Ayumi menyodorkan benda pipih bergaris dua itu.


Sandi menerimanya, ia mencoba tersenyum walaupun justru kesannya tampak aneh, "Arigatou Ayumi chan"


Ayumi kembali menepuk-nepuk pundak Sandi menenangkan, "Saat ia sadar, jangan menghakiminya, cobalah tanya baik-baik, aku yakin salah satu sebab ia melakukannya karena ia takut kamu kembali menolak mereka" Kata Ayumi tenang.


Hubungan Ayumi dengan Sandi dan Kea memang dekat, bahkan bisa dikatakan sangat dekat mengingat Ayumi merupakan teman pertama Kea sekaligus mahasiswa psikologi yang selama ini menjadi teman curhat Kea, jadi wajar kalau Ayumi mengetahui hampir semua kisah masa lalu pasangan muda itu.


Ayumi juga tetangga yang Santai, tak mengahakimi dan berkomunikasi sangat dekat, seolah-olah mereka sudah mengenal berbelas-belasan tahun yang lalu, lagi-lagi mungkin karena Ayumi pernah tinggal dan menetap di Amerika, membuat mereka sangat klop dalam banyak hal.


"Sekali lagi, terima kasih Ayumi chan, aku akan berbicara baik-baik dengannya" Sahut Sandi pelan.

__ADS_1


Ayumi mengangguk, sebelum ia pamit pulang karena masih ada jam kuliah. Meninggalkan Sandi dengan banyak pikiran buruk dikepalanya.


***


Malam harinya, Kea berdesis, ia membuka matanya dengan beberapa kali kerjapan mata, merasa dunia berputar karena rasa pusing dan juga pandangannya yang buram tanpa kaca mata.


"Sshh" Kea merasakan tangan kirinya kebas dan mati rasa sampai bahu, ia tau sekarang ia dirumah sakit, Kea sudah terlalu hapal dengan bau dan suasananya.


"Mau minum?" Tanya Sandi yang tadi diam saja,


Dan seolah baru menyadari keberadaan suaminya, Kea berjengit kaget, mata sipitnya membulat ketakutan, "S-sandi?"


"Hm, pasti haus, minum dulu ya" Kata Sandi menyodorkan gelas kebibir Kea. Kea meneguknya beberapa kali.


Lalu hening,


Sandi berusaha mengatur perasaan emosionalnya sedangkan Kea berkutat dengan ketakutannya. Apa Sandi sudah tau, apa Sandi menolak mereka lagi? Apa Sandi-


"Hei, jangan banyak berpikir" Kata Sandi menyentil dahi Kea yang mengkerut itu dengan pelan. "Kamu mau makan? Pasti laper karna kamu uda pingsan seharian, bayi kita juga laper nanti ya kan?" Kata Sandi tersenyum.


Kea membeku, Sandi tak marah. Ntah kenapa melihat perilaku Sandi yang baik itu membuat Kea terenyuh. "San hiks, m-maaf"


Sandi yang awalnya mencoba menahankan senyum palsunya pun perlahan memudar, menjadi dingin namun tetap berusaha menjaga emosi, ia harus ingat, mental Kea tak baik-baik saja sejak dulu.


"Kenapa kamu gitu hm, padahal aku berharap dapat kejutan yang lebih baik, " Kata Sandi menciumi tangan Kea.


Kea terisak, "A-aku takut, takut kamu-


"Shh, nggak, Aku seneng Kea, benar-benar senang dengan kehadiran dia, aku uda berubah, apa kamu lupa kalau kita uda janji gak bakal menghamiki diri kita masing-masing hm"


"Maaf hiks, maaf"


"Jangan diulangi lagi ya, Aku sayang kamu, aku sayang kalian, bener-bener sayang sampai urat nadiku Kea. Jadi jangan diulangi lagi ya Ai, Karena apa yang kamu takuti itu, ketakutan tak beralasan , Kita jaga dia bareng-bareng ya." Kata Sandi lembut.


Kea terisak, ia mengangguk dengan hati dan perasaan lega, dalam hati menyesali karena meragukan Sandinya.


Yah, lagi-lagi karena ketakutan tak beralasannya.


***


Guys, maaf semalam gak up,


Aku heran banget semalem, NT ku error terus sampai gak bisa up, bahkan dari dua hari yang lalu aku gak dapet notif apa-apa. Sampai aku pikir eh bab yang semalem sebenernya ke up gak sih.


Aku lihat di ceritanya banyak yang komen tapi diakunku gak ada pemberitahuan, hm.. Tarik nafas, hembuskan.


Btw, selamat hari selasa guys, jangan lupa vote nya ya.

__ADS_1


__ADS_2