
"Cukup om, cuma Sandi mau cari lebih buat tabungan soalnya-
Kea menarik tangan Sandi yang masih memegang garpu tiramisu, mengabaikan keterkejutan semua orang Kea mengarahkan tangan Sandi agar menyuapinya tiramisu terakhir.
Saat Sandi melotot kaget, Kea tersenyum lebar. "Makasih papa" Kata Kea meniru suara anak kecil.
Sandi terkesiap, begitupun semua orang.
Sandi berdehem, ia tak merespon, tapi telinganya memerah karena semua orang menahan senyum untuk menggodanya.
***
"Sandiiii"
Sandi yang masih keramas dikamar mandi sempat tertegun sesaat, memastikan yang memanggilnya memang Kea, istrinya.
"Geano Sandiii"
Oke, Sandi berdecak kesal, ia menyiram rambutnya asal, mengambil jubah mandi dan segera keluar untuk mendatangi perempuan hamil yang semenjak usia kandungannya menginjak 5 bulan penuh itu semakin manja dan luar biasa malas.
"Apa Ke!" Kesal sandi sambil mengikat tali jubahnya agar tak tersingkap.
Kea yang masih tiduran disofa langsung duduk, mata sipit dibalik kaca mata itu melotot, "Lo ngebentak gue!" Teriaknya tak terima.
"Ck, jangan mulai deh Ke, gue masih mandi ini, ntar tambah malam tambah dingin." decaknya menggebu, ia kesal luar biasa, Ia baru pulang dari bengkel jam 6 sore dan lanjut membahas pekerjaan sampingannya dengan omnya Beni dan baru pulang jam setengah delapan tadi. Sandi gerah, ia hanya ingin mandi dan keramas, lalu tidur. Tapi ntah kenapa perempuan hamil itu selalu saja mengganggunya.
Bukan satu dua kali saja Kea bersikap begitu, bisa terhitung semenjak mereka berbaikan dua bulan yang lalu, Kea semakin terang-terangan bersikap manja padanya. Bahkan, jika melihat sifat Kea yang sekarang. Rasanya aneh ketika mengingat kalau mereka pernah hampir seumur hidup menjadi musuh bebuyutan yang bahkan hampir mengarah ke sifat psikopat.
"Jadi apa sekarang!" Bentak Sandi tanpa sadar, pasalnya Ada saja yang dilakukan perempuan hamil itu untuk mengganggu jam istirahatnya, yang membangunkannya jam 2 pagi hanya untuk menemani buang air kecil lah, merengek meminta dibuatkan camilan di subuh-subuh buta, mengajaknya bergadang untuk menonton drama China, minta dipijat kakinya, minta disuapi, minta dibelikan ini itu ketika pulang kerja, bahkan meminta hal- hal yang kadang luar biasa menjengkelkan,
Sebenarnya Sandi tak masalah akan hal itu, itu berarti Kea mulai percaya padanya, mulai membuka diri padanya dan mulai bergantung pada dirinya, tapi... Ya ampun, tidak bisakah Kea mengerti pekerjaannya yang menumpuk.
"Kea" Panggil Sandi melembut kala mata perempuan itu memerah. Siap menangis.
Kea menggeleng, perempuan itu mengusap air matanya dengan dramatis. Seolah menumpahkan kesedihannya yang luar biasa.
Sandi menghentakkan kakinya sambil mengacak-acak rambut basahnya yang bahkn masih ada sedikit sampo diatasnya.
Menarik napas pelan, Sandi menghampiri Kea, mengusap rambut pendek perempuan itu sayang. "Kenapa hm? Lo minta apa?" Kata Sandi lembut mencoba tersenyum
"Gue minta maaf oke, kalau gue uda ngebentak lo tadi, gue kebawa emosi tadi. Kea... Uda dong nangisnya, lo bikin gue serba salah" Kata Sandi menarik Kea kepelukannya.
Ah, semenjak mereka berbaikan, skinship ringan juga sudah bukan menjadi hal asing untuk keduanya, seperti berpelukan, mengusap rambut, mengacak rambut atau bahkan bergandengan. Mereka benar-benar berusaha memperbaiki hubungan rapuh mereka untuk menjadi suatu hal yang lebih baik.
Kea menduselkan wajahnya didada Sandi yang masih sedikit basah, ada wangi sabun yang juga jelas dipenciumannya.
"Lo mau apa hm? Makan?Lo belum makan atau gima-
"Gue kangen tau"
"-na" Lanjut Sandi ketika Kea tiba-tiba memotong perkataannya dengan ungkapan yang sialnya membuat jantungnya berdebar.
Sialan!
__ADS_1
Maki Sandi dalam hati, semenjak hubungan mereka membaik, Sandi juga mulai menyadari satu hal,
Ada yang tak beres dengan perasaannya.
"Lo-apa?" Gagap Sandi.
"Gue hiks, kangen tau, lo kerja mulu sih San, gue kan juga hiks, ih, udah lah, mandi sana!" Bentak Kea mendorong Sandi.
Sandi menghela napas. "Kea.. "
"Gak usah ngomong sama gue!" Kesal Kea semakin menjadi.
Sekali lagi Sandi mengusap wajahnya, ia lalu menarik tangan Kea. Tampaknya Kea harus diberi nasihat lebih.
"Lepas San-
"KEA!" Bentak Sandi, "Ngomong yang jelas Ke, lo kenapa, jangan bikin gue pusing, oke lo kangen, tapi kan tiap sabtu minggu gue sama lo, jangan gini dong. Gue juga kerja buat kita kan." Kata Sandi terdengar frustasi.
Kea mengerjap, agak kaget karena didua bulan terakhir, ini adalah kali pertama Sandi kembali membentaknya.
Tapi, Mendengar ucapan Sandi, Kea juga mulai menyadari sikapnya yang berlebihan. Sebenarnya Kea merasa kesepian, itu sebabnya ia sering mengganggu Sandi, apalagi semenjak musimnya pendaftaran kuliah dibulan-bulan ini membuat Kea semakin down, Jujur saja Kea iri, ia hanya butuh waktu hampir satu bulan lagi untuk tamat SMA waktu itu.
"Kea.."
Kea memgerjap saat merasakan sentuhan jari Sandi dipipinya. "Maaf ya"
Ah, satu lagi yang mulai mereka jadikan kebiasaan selain skinship ringan, Mereka juga mulai sering mengucapkan maaf dan terima kasih.
Kea mengangguk, "Gue juga.. Gue- cuma, gue- Kesepian, Lo kerja dari pagi sampai malam, waktu pulang lo keliatan capek banget, terus tidur, gue- gue kesepian tau." Kata Kea sesekali terlihat tersendat.
"Emm, sorii Ke, ah, gimana kalau besok kita jalan-jalan, sambil periksa dia juga" Kata Sandi.
Kea mendongak, "Lo nggak kerja? Besok kan hari rabu"
Sandi menggeleng, "Kayaknya Om Kai gak keberatan deh kalau gue libur buat nemeni anak cucunya."
Kea memberengut, ia lalu memukul dada Sandi untuk melampiaskan kekesalannya.
Sandi tertawa, jenis tawa yang benar-benar tertawa. Ia bahagia.
***
Kea memeluk lengan Sandi, mereka baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan dengan dua lembar kertas hitam putih ditangan Sandi. hasil USG.
Akhirnya, setelah sekian lama, mereka benar-benar memeriksa kandungan secara bersama setelah biasanya Kea yang pergi dengan mamanya.
"Menurut lo dia nanti mirip sama siapa?" Tanya Sandi ceria, laki-laki itu mengangkat foto USG kedepan Kea.
Kea menelengkan kepalanya, geli juga sebenarnya melihat Sandi seceria ini. "Mirip lo kayaknya" Tebak Kea, karena jujur saja, ia tak tau bayinya itu mirip siapa, bukankah foto bayi itu terlihat sama semua? Apalagi ini foto USG kandungan usia 5 bulan penuh. Kea agak bingung dibuatnya.
"Yang bener?" Kata Sandi mengharap.
Kea mengangguk, agak ragu sebenarnya.
__ADS_1
Sandi terkekeh, ia lalu merangkul pundak Kea dengan gemas. "Kok gue jadi gak sabar ketemu kembaran gue nantinya, " Kata Sandi tertawa.
Kea mendengus, Malas mennggapi karena tak ingin melihat kekecewaan Sandi, sejujurnya mereka belum tau apa jenis kelamin bayinya. Tapi Sandi sudah sangat optimis bayinya akan mirip dirinya. Tidakkah laki-laki itu berpikir bayi itu juga anaknya.
"Ya ampun Ke, lo pernah jatuh cinta nggak?" Pertanyaan absurd Sandi itu terlontar ketika mereka sudah ada diparkiran hendak menaiki motor.
"Ya pernah lah, gue sama Yuda-
Kea berdehem, tak berani melanjutkan ketika Sandi menyipitkan matanya. Kesal.
"Emang kenapa?" Tanya Kea memeluk Sandi yang membantunya memakai helm. Sejujurnya helmnya sudah sempit karena pipi dan berat badan Kea yang semakin naik.
Kea merasakan Sandi menggeleng, "Lo pernah sebahagia ini nggak? Gue degdegan waktu tadi denger suara detak jantung bayinya. Tau gitu dari bulan lalu gue yang nemeni lo" Kata Sandi terdengar ceria, tampaknya laki-laki itu benar-benar dalam kondisi baik karena langsung melupakan ucapan Kea tentang Yuda.
"Lo bahagia?" Kening Kea mengerut sambil melepas pelukannya. Perempuan itu mendongak untuk melihat wajah Sandi.
"Iya lah!" Kata Sandi terlalu semangat.
Kea tersenyum, tapi senyum itu langsung meredup kala melihat seorang laki-laki yang baru keluar dari lobi rumah sakit.
dan seolah menyadari kalau Kea menatapnya, laki-laki berperawakan tinggi seperti Sandi itu menoleh, menatapnya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa detik sebelum laki-laki itu tersenyum kecil, senyuman remeh.
"Ke"
"Ha"
"Lo liat apa si-
Kea kembali memeluk Sandi, menahannya agar tak menoleh pada laki-laki yang sekarang tersenyum mengejek padanya.
Kea gemetar.
Dia Robi.
Ketua geng Tiger yang merupakan musuh Sandi dan teman-temannya.
Juga...
Orang yang membantunya mencari informasi untuk mengeluarkan Sandi dari sekolah.
***
Hai-hai.
Gimana sama bab kali ini?
Btw, aku baru ngeh, rata-rata episode di Noveltoon itu memang ratusan ya. Waktu itu aku kaget banget pas ada dari kalian yang bilang babnya harus ratusan.
Aku kayak... What?
Padahal sebenarnya cerita Sandi Kea ini aja uda luar jalur dan kepanjangan banget. -Perasaanku-
45 bab lebih dan belum ending loh, jauh banget dari cerita Ego, Obsesi sama gengsi lah yang babnya dibawah 45. Wkwkwk.
__ADS_1
Tidakkah kalian merasa bosan sejauh ini?🤣
Ya ampun aku gak bayangin kalau sampai ratusan bab kalian akan sebosan apa wkwkwk.