
"Ke"
"Ha"
"Lo liat apa si-
Kea kembali memeluk Sandi, menahannya agar tak menoleh pada laki-laki yang sekarang tersenyum mengejek padanya.
Kea gemetar.
Dia Robi.
Ketua geng Tiger yang merupakan musuh Sandi dan teman-temannya.
Juga...
Orang yang membantunya mencari informasi untuk mengeluarkan Sandi dari sekolah.
****
Sejak pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu, Kea yang awalnya sempat menjadi periang dan cerewet, kali ini kembali menjadi pemurung. Walaupun sifat manjanya semakin parah, tapi rasanya ada yang aneh dari perubahan Kea ini.
Perempuan itu bahkan tampak sering melamun dan tiba-tiba memeluk Sandi dengan erat,
Sandi yang awalnya tak begitu merasa heran lama kelamaan curiga juga. tingkah Kea ini.. Seperti pasangan yang takut ketahuan selingkuh.
Selalu gelisah dan waspada,
Bahkan beberapa kali dalam satu kesempatan, Kea menjadi lebih aktif dengan ponsel digenggamannya.
Sandi tak ingin meruntuhkan rasa percaya yang mulai terbangun dengan Kea selama ini, tapi sungguh, tingkah Kea ini membuatnya mau tak mau memikirkan kemungkinan terburuk.
Apalagi ketika Sekelebat potongan-potongan adegan Kea dan Yuda yang selingkuh darinya waktu itu berkeliaran. Jika dulu Sandi tak masalah dengan hal itu, tapi sekarang berbeda, Sandi mulai mengakui ada yang tak beres dengan perasaannya. Ia mulai tamak akan Kea. Sandi tak ingin Kea berpaling darinya. Sandi enggan mengakuinya, tapi tampaknya ia mulai goyah akan keberadaan Kea disisinya.
"San"
"Hm"
" kok belum tidur?" Tanya Kea dengan suara serak, mereka memang sedang berada dikamar. Dan sekarang sudah menunjukkan jam 11 malam.
"Gak papa. tadi gue bales chat Mario" Bohong Sandi, padahal sejak tadi laki-laki itu bimbang antara ingin membuka dan memeriksa ponsel Kea atau tidak. Sungguh ia sangat penasaran. Apakah Kea kembali menjalin hubungan dengan Yuda? atau Kea kembali merencanakan hal jahat untuknya?
Gelisahnya dari tadi.
__ADS_1
"Mario? Oh, kamu masih kominikasi sama temen-temen mu?" Kata Kea sambil merapatkan tubuhnya kesisi Sandi, mendusel-duselkan wajahnya didada Sandi yang lumayan bidang untuk remaja seusianya.
Ah, sekarang mereka juga mulai membiasakan diri untuk mengganti kata ganti panggilan dengan 'Aku-kamu' Semenjak pulang dari rumah sakit. Itu karena Sandi yang begitu exited akan kelahiran anak mereka. Sandi bahkan beberapa kali mulai menyematkan panggilan 'papa' untuk dirinya sendiri ketika mengelus perut Kea.
Tingkah Sandi itu kadang membuat Kea meringis, Kea saja belum sepercaya diri itu untuk menyebut dirinya mama selama ini. Jika mengajak kandungannya berbicara, Kea lebih menyematkan posisi sebagai teman daripada calon mama.
"Masih lah,"
Kea mendongak, tampaknya ia mulai tenggelam dengan pikirannya sampai tak paham apa yang dikatakan Sandi.
"Apanya?"
"Aku sama Mario masih kominikasilah, sama temen-temenku yang lain juga. Kita kan satu geng motor" Sahut Sandi menjelaskan.
"Sama Deni?"
Sandi kembali mengangguk. "Emang kenapa?"
Kea mengerucutkan bibirnya, "Aku jadi kangen Ninda sama Sheril" Katanya dengan mata merah.
Sandi menunduk, menatap Kea yang kini kembali menduselkan wajahnya kedadanya. "Emang kalian beneran putus komunikasi?"
"Nggak juga, tapi mereka kayak agak menjauh gitu, ini aja dari semalam aku chat, katanya sibuk, mereka mau ngurus persiapan masuk kampus katanya"
Sandi merasa dadanya basah, Kea menangis.
Dan Sejujurnya Sandi juga ingin melakukan yang sama, dulu, seandainya ia masih sekolah, ia pasti tak akan merasakan apa itu namanya lelahnya bekerja diusianya, tak akan merasakan namanya makian pelanggan yang tak puas, atau rekan kerja yang tak bisa diajak kerja sama. Dulu, seandainya ia bisa menyelesaikan tamatan SMA nya, pasti sekarang ia sedang sibuk untuk mengurus beasiswanya ke Jepang, bukannya mencari kerja dan berusaha mencari uang tambahan untuk kelahiran anak mereka.
Dan jujur saja, kadang ada sebercik kemarahan dalam dirinya ketika mengingat Kealah dalangnya, Karena mau bagaimana pun ceritanya, mau bagaimana pun pintarnya, dan mau bagaimana pun usahanya, Sandi tetaplah seoarang remaja yang ingin bebas dari jeratan.
kadang kala, ketika pengeluaran bulanan mereka cukup menguras, apalagi sekarang, ketika Kea mulai mengidam ini-itu, atau Ketika Kea memarahinya untuk tak mengambil banyak kerjaan dan banyak istirahat, rasanya Sandi ingin memaki, berteriak pada Kea. ',Gue gak lulus sekolah juga salah siapa!"
Tapi, lagi, tampaknya metode tarik napas dan berusaha tersenyum merupakan cara ampuh untuk meredam emosinya, setidaknya saat ini.
"Sttt, jangan nangis Ke" Kata Sandi mengusap rambut Kea yang sekarang mulai agak panjang dari sebelumnya, sudah tidak seperti dora lagi.
"T-tapi kan, hiks, sebel San, mereka gak pernah berusaha bales chat ku" Kata Kea sesenggukan, Sandi mulai agak risih oleh basah didadanya. Tapi tampaknya ada yang lebih penting dari itu.
Sandi Menagkup wajah Kea, menatap mata sipit namun jernih yang sekarang tak memakai kaca mata, walaupun Sandi tau Kea tak dapat melihatnya dengan jelas. Sandi menunduk.
"Jadi kamu sibuk main hp dari semalem karena mereka, karena Ninda dan Sheril" Tanya Sandi agak berharap.
Kea menangguk dengan mata basah, "I-iya emangnya kenapa, kamu hiks mikirnya a-hump"
__ADS_1
Kea membelalakkan matanya ketika Sandi mencium bibirnya dalam. Kea mengerjap,
"Gue-ah, aku gak tau, tapi makasih uda hilangain rasa gelisahku Ke" Kata Sandi setelah ciuman mereka terlepas.
Kea masih membeku, ketika Sandi kembali mencium bibirnya, kali ini lebih lembut. Dan ketika Sandi ingin lebih memperdalam ciuman itu, Kea menahannya.
"S-san,"
Sandi agak mengerang kesal, tapi ia melepas ciumannya.
"Tidur Ke" Bisik Sandi membalikkan badannya, memunggungi Kea.
Kea berdecak, ia lalu menarik tangan Sandi, meletakkan tangan besar itu kepinggang belakangnya. sehingga posisi mereka kembali seperti berpelukan ditempat tidur.
"Elusin pinggangnya, aku pegel tau" Kesal Kea.
Sandi berdecak kesal, tapi, lagi, ia menarik napasnya pelan dan mulai mengusap pinggang Kea yang ntah mulai sejak kapan menjadi kerjaan tambahannya sebelum terlelap tidur.
Saat Sandi mulai terlelap, elusan dipinggang Kea pun melemah. Kea membuka matanya hendak protes, tapi saat melihat wajah ngantuk Sandi, Kea tak berani kembali membangunnya.
Tampaknya Sandi memang butuh tidur dan begitu lelah, dan apa maksud kata gelisah yang Sandi ucapkan tadi, apa Sandi mulai menyadari gelagatnya yang tampak berubah.
Sejujurnya, Kea juga mulai waspada saat beberapa kali Sandi seperti ingin memeriksa ponselnya, atau menatapnya seperti ingin bertanya, atau beberapa kali menanyakan perihal Yuda yang sudah lama sekali tak mereka bahas.
Sandi seperti orang curiga.
Dan sebenarnya, Kea agak berbohong ketika ia galau karena Sheril dan Ninda tak membalas chatnya. Karena mau bagaimana pun, Mereka berdua adalah temannya. Walaupun hubungan terakhir mereka ketika disekolah tampak buruk dan berakhir cercaan dan makian. Tapi, mereka kembali berkomunikasi dengan baik. Bahkan dua temanya itu sudah tau kalai ia sudah menikah dengan Sandi.
Kea mencium kening Sandi, sebelum kembali bangun untuk mengambil ponselnya.
Ada pesan dari orang yang selama ini membuatnya terus waspada.
Robi.
'*Lo bilang, lo mau balikan sama Yuda setelah hancurin Sandi, '
'Tapi kalian kayaknya makin akur'
'Lo gak khianati sepupu gue kan Ke*?'
***
Hayoloh Kea,,,
__ADS_1